Share

68. Langkah Berikutnya

Author: Blue Ice
last update publish date: 2026-10-05 11:36:26

Langkah kaki Valerie yang beralaskan high heels terdengar ketok-ketok halus di atas marmer lorong kediaman utama Sutedja. Jas kerja yang melekat di tubuh anggunnya terasa membatu pasca-seharian mengurus kesibukan kantor. Namun, niatnya untuk langsung menuju kamar terhenti seketika begitu melintasi depan pintu kayu jati tebal ruang kerja ayahnya yang sedikit renggang.

Dari balik pintu, terdengar gema suara bariton tinggi yang sarat akan amarah. "Aku tidak akan menikah sekarang, Ayah!"

Valerie
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Duh, Kelepasan Sama Anak Magang!    98. Aku Tahu Konsekuensinya, Mas

    Pagi baru saja merambat di pelataran parkir kantor Buana Alam Mandiri. Sebuah sedan hitam mewah berhenti halus di dekat lobi utama. Dari balik kaca jendela, Kinara mendengus pelan sebelum melangkah keluar. Pria muda itu benar-benar tak bisa dibantah. Leo bersikeras mengantarkan Arkana ke sekolah sekalian mengantar Kinara ke kantor demi memastikan keselamatan mereka. Kinara merapikan blazer kerjanya dan melangkah menuju pintu masuk. Namun, baru beberapa tindak berjalan, langkahnya terhenti kaku. Radit berdiri di dekat pilar lobi dengan wajah tegang, matanya menatap tajam ke arah sedan hitam yang baru saja berlalu, lalu beralih penuh emosi pada Kinara. Tak jauh dari sana, Sarah melangkah menghampiri dengan senyum miring yang sarat akan provokasi. "Kinara!" panggil Radit dengan suara menekan, memangkas jarak di antara mereka. Di tangannya, sebuah lembaran cetak siaran pers dari Jakarta tergenggam erat. "Kamu masih mau diantar oleh pria itu setelah berita ini tersebar luas?!" Radit m

  • Duh, Kelepasan Sama Anak Magang!    97. Buktikan Ucapanmu!

    pintu apartemen terrbanting keras. Kinara melempar tas kerjanya ke atas meja konsol dengan napas memburu kencang. Raut wajah dewasa yang biasanya selalu tenang dan terkontrol kini dipenuhi oleh amarah yang membakar serta luka mendalam yang berusaha ia sembunyikan rapat-rapt. Klek. Pintu utama terdorong lagi. Leo melangkah masuk dengan setelan jas kustomnya yang terpasang rapi. Binar mata hitam pria itu tidak memancarkan rasa bersalah sedikit pun, melainkan kegelapan posesif yang amat pekat. Ia melangkah tegap, memangkas jarak di antara mereka tanpa ragu. "Kinara, dengarkan aku dulu—" "Dengar apa lagi, Valentino?!" potong Kinara tajam, memutar tubuhnya dan menatap Leo dengan pandangan menusuk. Bibirnya tersenyum sinis, sebuah senyuman pahit yang sarat akan kekecewaan. "Dengar bagaimana kamu merancang pernikahan megahmu dengan Giselle Chen di Jakarta?! Atau mendengar kebohongan manis apalagi yang mau kamu suapkan padaku setelah semalam berpura-pura menjadi pria paling setia?!" Leo

  • Duh, Kelepasan Sama Anak Magang!    96. Retakan Besar

    "Aku yang mengantar kalian," ujar Leo tegas seraya meraih kunci mobil dari atas meja. Pria bertubuh tegap itu berdiri menghalangi jalan menuju pintu keluar apartemen, menatap Kinara dengan binar mata posesif yang tak bisa dibantah. Kinara menghentikan langkahnya, menatap Leo dengan raut wajah datar. "Tidak perlu, Leo. Aku bisa naik taksi atau angkutan umum bersama Arka seperti biasa. Kalau kamu yang mengantar dengan mobil mewahmu itu, para karyawan di kantor bakal heboh dan memicu desas-desus yang tidak penting." Leo menyunggingkan senyum miring yang amat cerdik. Menyadari benteng pertahanan Kinara yang terlalu keras jika dihadapi secara langsung, pria muda itu melirik pelan ke arah bocah kecil di samping Kinara. "Arka," panggil Leo seraya berlutut menyamakan tingginya dengan Arkana. "Kamu lebih suka diantar Paman naik mobil yang ada pendingin dinginnya, atau desak-desakan panas di jalanan sama Ibu, hm?" Mata bulat Arkana seketika berbinar terang. Bocah kecil itu memegang erat uju

  • Duh, Kelepasan Sama Anak Magang!    95. Semakin Jatuh

    Cahaya matahari pagi menerobos tipis melalui celah tirai jendela apartemen, membiaskan pendar hangat di atas lantai kayu. Di dalam kamar mandi, uap air hangat masih membumbung tipis. Kinara berdiri kaku di depan cermin besar. Wajah cantiknya yang biasa memancarkan ketenangan kini diliputi raut jengkel yang luar biasa. Jemari lentiknya menarik kerah jubah mandinya sedikit ke bawah, memperlihatkan beberapa bercak kemerahan yang tercetak jelas di sekitar leher dan tulang selangkanya. "Pria gila itu ..." gumam Kinara berdesis pelan, meremas kerah jubahnya erat-erat. Bercak-bercak tanda kepemilikan itu menyebar begitu kentara. Pria muda itu benar-benar beringas dan tidak tahu aturan semalam. Kinara harus memutar otak, memoleskan concealer tebal berkali-kali di lehernya agar bekas cumbuan gila itu tidak menjadi bahan gunjingan di kantor nanti. Setelah selesai berpakaian rapi dengan kemeja berkerah tinggi yang tertutup rapat, Kinara melangkah keluar dari kamar mandi. Namun, saat ia me

  • Duh, Kelepasan Sama Anak Magang!    94. Welcome Back

    Jarum jam dinding menunjukkan pukul sepuluh malam. Suasana di dalam apartemen sederhana milik Kinara terasa begitu hening. Arkana sudah tertidur pulas di dalam kamarnya usai mendengarkan dongeng sebelum tidur. Kinara yang baru saja menutup pintu kamar putranya melangkah gontai ke area ruang tamu. Mengingat seharian penuh ia mengurus laporan kantor, Kinara menyanggul asal rambut panjangnya dan mengenakan pakaian rumah yang santai. Ia melangkah menuju dapur kecil untuk mengambil segelas air hangat. Bip, bip, bip. Suara tombol sandi pintu utama apartemennya mendadak berbunyi dari luar. Kinara menghentikan langkahnya, menatap gagang pintu dengan kening bertaut dalam. Seingatnya, hanya ada satu orang luar yang memegang akses sandi rumah ini. KLEK! Pintu utama terdorong terbuka. Sosok pria bertubuh tegap tinggi berbalut kemeja hitam yang lengannya tergulung hingga siku melangkah masuk. Binar mata hitam Leo berkilat liar dan intens—penuh akan dahaga kepemilikan yang amat pekat. "Leo?!

  • Duh, Kelepasan Sama Anak Magang!    93. Kita Sama!

    Leo berdiri tegap di ambang pintu. Pria itu menurunkan lengan tegapnya, menatap Alex dengan binar mata hitam yang dipenuhi ancaman membunuh yang pekat. "Gunakan tangan kotormu itu sekali lagi pada kakakkuku ..." desis Leo dengan suara bariton rendah yang amat tajam, "... dan aku pastikan pergelangan tanganmu patah malam ini juga." Alex menyapu darah di sudut bibirnya dengan punggung tangan. Pria itu bangkit berdiri perlahan, merapikan kemeja sutranya yang kusut seraya menatap Leo dengan napas memburu kencang. "Valen! Ini urusan rumah tanggaku dengan kakakmu!" cetus Alex jengkel, mencoba menegakkan punggungnya. "Dia sudah bertindak melampaui batas! Dia hamil anak pria lain dan—" "Tutup mulutmu, Alexandre," pangkas Leo tegap, melangkah satu tindak maju yang membuat Alex refleks mundur setengah langkah. Leo menyunggingkan senyum sinis yang amat menghina. "Melampaui batas, katamu? Kamu bicara soal moral di depan rumah ini?"

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status