Se connecter"Aku bekerja untuk perusahaan Mas Radit sekarang. Dia atasanku, Leo! Jangan bertindak gila di sini!" tegas Kinara seraya melangkah maju, memutus tatapan intimidatif antara Leo dan Radit. Ada riak kepanikan yang berusaha keras ia sembunyikan di balik suara tegasnya.Suasana di sekitar berubah menyesakkan. Tanpa diberitahu, Radit sadar Kinara sedang menghindari Leo. Mungkinkah ada sesuatu yang dilakukan oleh mantan asisten Kinara itu. Radit memegang bahu Kinara pelan, berusaha menenangkan. "Kinara, kalau pria ini mengganggumu, aku bisa panggilkan keamanan—" "Tidak perlu, Mas Radit," potong Kinara cepat. Ia menatap Radit dengan tatapan memohon. "Tolong izinkan aku bicara sebentar dengannya. Mas Radit bisa tunggu di mobil atau duluan ke kantor." Radit menatap Leo dan Kinara bergantian. Ada keraguan besar di matanya, namun melihat permohonan Kinara, ia akhirnya mengangguk pelan. "Aku tunggu di mobil. Kalau ada apa-apa, langsung panggil aku." Setelah Radit kembali ke dalam sedannya, Leo
Suasana di halaman TK Alam Mentari pagi itu terasa begitu sejuk dan menenangkan. Cahaya matahari menerobos di antara rimbunnya dedaunan hijau, memancarkan kehangatan yang lembut. Suara gelak tawa anak-anak berlarian di area taman bermain membuat tempat itu terasa hidup dan penuh kedamaian. Arkana berlari kecil menuju ayunan kayu di sudut taman. Wajah mungilnya berbinar penuh rasa ingin tahu. "Bunda, lihat! Ayunannya dari kayu pohon asli!" seru Arkana riang seraya melambaikan tangan kecilnya. Kinara menghentikan langkahnya di dekat pagar pembatas. Senyum tipis yang sudah sangat lama menghilang dari wajah anggunnya kini merekah kembali. Rasa sesak yang menumpuk di dadanya selama di Jakarta seolah terangkat perlahan saat melihat kebahagiaan sang putra. "Hati-hati lari-larinya, Arka," sahut Kinara lembut, matanya tak lepas mengawasi tiap gerakan putranya. Di samping Kinara, Radit berdiri seraya memegang stopmap berisi berkas pendaftaran sekolah. Pria itu menyunggingkan senyum hangat,
Valerie! Jangan konyol!" Sesosok pria berkemeja mewah melangkah maju dengan raut wajah gusar—Alexander, suami Valerie. Dengan cengkeraman yang begitu kasar dan impulsif, Alex menyambar pergelangan tangan Valerie, menarik tubuh istrinya secara paksa hingga wanita itu terdorong ke belakang. "Ikut aku pulang sekarang! Jangan mempermalukan dirimu di hadapan Ayah dan media cuma demi membela anak ini!" "Lepaskan aku, Alex!" ringis Valerie, mencoba menghempaskan tangannya. Sebelum Alex sempat menarik Valerie lebih jauh, sebuah tangan tegap lain mendadak mencengkeram lengan Alex dengan cengkeraman sekuat besi. Alex tersentak kaku, menoleh tajam. Devan berdiri tepat di samping mereka. Pria itu tetap mempertahankan posisi tubuhnya yang tegap dan wajahnya yang tanpa ekspresi. Namun, urat-urat di lehernya menegang kaku, dan binar mata di balik kacamatanya berkilat penuh amarah. "Harap jaga sikap dan batasan Anda, Tuan Alexander," ujar Devan dengan suara bariton yang sangat tenang, so
Aula utama Grand Ballroom malam itu menjelma menjadi lautan kemewahan. Lampu-lampu kristal memancarkan cahaya keemasan yang menimpa gaun-gaun malam mahal dan setelan tuxedo para pengusaha papan atas, pejabat tinggi, serta puluhan awak media nasional. Di atas panggung utama, Giselle berdiri anggun dengan gaun merah marun yang menyapu lantai. Senyum tipis nan penuh kemenangan menghiasi wajah cantiknya. Di sampingnya, Arthur Sutedja berdiri dengan wibawa penuh dan orang tua Giselle. "Selamat malam, para hadirin yang terhormat," suara pembawa acara menggema hangat melalui sistem pengeras suara. "Malam ini, di tengah perayaan kejayaan Sutedja Group, kita juga akan menjadi saksi bisu dari aliansi terbesar abad ini ... pengumuman resmi pertunangan antara Valentino Sutedja dan Giselle Vivian Chen!" Tepuk tangan riuh membahana di seluruh penjuru aula. Giselle melirik ke arah Leo yang berdiri tegap di sampingnya. Leo tampak begitu tampan, namun raut wajahnya kaku bagai pahatan es, dan binar
Udara pagi di kota kecil yang sejuk ini terasa jauh lebih ramah dibanding Jakarta. Kinara merapikan kemeja putih berlapis blazer kremnya di depan cermin apartemen sewaannya yang baru, lalu memoleskan lipstik dengan warna natural. Ada binar keteguhan yang kian menguat di matanya. Ini adalah hari pertamanya memenuhi panggilan wawancara kerja di PT Buana Alam Mandiri—perusahaan ekspor-impor buah dan hasil alam lokal. Begitu melangkah masuk ke dalam gedung kantor yang mengusung konsep modern-asri tersebut, Kinara diarahkan menuju ruang wawancara di lantai dua. Di dalam ruangan berpendingin udara itu, seorang wanita paruh baya berpenampilan rapi menyambutnya hangat. "Selamat pagi, Mbak Kinara. Saya Fitri dari tim HRD," sapa wanita itu seraya meneliti berkas di tangannya. Matanya berbinar kagum. "Jujur, rekam jejak Mbak Kinara di bidang manajemen bisnis dan gelar S3 ini sangat impresif. Kami sangat beruntung Anda mau melamar untuk posisi Manajer Pemasaran di sini." Kinara menyunggingkan
Malam menancapkan keheningan yang pekat di sebuah sudut jalanan sepi kawasan Menteng. Di dalam mobil sedan hitam yang terparkir di bawah rindangnya pohon asam, Devan menyerahkan sebuah map kulit berwarna cokelat tua yang terkunci klip khusus kepada Valerie Sutedja. "Seluruh berkas rahasia lima tahun lalu yang dikunci rapat oleh Tuan Arthur," ujar Devan dengan suara bariton rendah nan tegang. Valerie menyambar map tersebut dengan jemari yang gemetaran halus. Ia melepaskan klip besi penguncinya, lalu membuka salinan arsip penerbangan privat, laporan medis darurat yang sengaja diklasifikasikan, hingga dokumen reservasi kamar hotel yang diblokir lima tahun lalu. Mata Valerie menyusuri baris demi baris kronologi malam itu. Semakin dalam ia membaca, semakin memudar warna di wajah cantiknya. Fakta yang tertera di lembar-lembar kertas itu begitu gelap, rumit, dan mengerikan—sebuah konspirasi dingin yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Malam lima tahun lalu saat Leo mendadak dikirim Ar







