LOGINPintu kaca restoran fine dining di lantai teratas hotel bintang lima itu terbuka perlahan. Kinara melangkah masuk dengan gaun hitam berpotongan rapi yang membuat penampilannya terlihat elegan. Sebuah blazer putih tersampir anggun di bahunya, melengkapi penampilannya malam itu.
Ia berjalan dengan tenang dan teratur. Meski tahu dirinya sedang menuju sebuah pertemuan yang dirancang oleh ayahnya sendiri, Kinara tetap memasang ekspresi profesional. Tidak ada tanda-tanda gugup ataupun keberatan yang terlihat dari wajahnya. Seorang pelayan pria segera menyambutnya dengan senyum ramah. "Atas nama reservasi Tuan Adhijaya, Kak?" "Iya, betul," jawab Kinara singkat dan sopan. Pelayan itu mengangguk, lalu mempersilakan Kinara mengikutinya menuju area privat di sudut restoran. Tempat itu cukup jauh dari meja pelanggan lain dan menghadap langsung ke pemandangan kota yang dipenuhi gemerlap lampu. Di sana, di sebuah meja bundar yang dilapisi kain putih bersih dengan lilin kecil di tengahnya, seorang pria sedang duduk sendirian. Pria itu bertubuh tegap dengan wajah tampan, garis rahang tegas, dan rambut yang tertata rapi. Ia mengenakan setelan jas mahal yang pas di tubuhnya. Dari penampilan hingga cara duduknya, pria itu tampak seperti seseorang yang terbiasa mendapatkan apa yang ia inginkan. Dialah Adhijaya Wiratama. Secara penampilan, Adhijaya memang terlihat gagah, bersih, dan berwibawa untuk pria seusianya. Tidak mengherankan jika Hendra menganggap pria ini sebagai pasangan yang sempurna untuk putrinya, baik dari segi status maupun penampilan. Begitu melihat kehadiran Kinara, Adhijaya segera berdiri. Senyum hangat muncul di wajahnya ketika ia menarik sedikit kursinya. "Selamat malam, Kinara. Silakan duduk." Suaranya berat dan terdengar tenang, dengan cara bicara seorang pria yang sudah terbiasa berada di posisi yang dihormati. Kinara mendekati meja tanpa terburu-buru. Ia bahkan menarik kursinya sendiri sebelum pelayan sempat membantunya, lalu duduk dengan posisi tubuh tegap. "Selamat malam, Tuan Adhijaya," tegurnya sopan. Adhijaya kembali duduk. Tangannya masih memegang gelas anggur yang sejak tadi diputar perlahan di atas meja. Ia menghentikan gerakannya sesaat, kemudian menatap Kinara dari atas hingga bawah. Tatapannya tidak terlalu terang-terangan, tetapi cukup lama untuk membuat Kinara menyadari bahwa pria itu sedang menilainya. "Pak Hendra tidak berlebihan saat menceritakan tentangmu," ujar Adhijaya dengan tawa kecil yang terdengar ramah. "Makan malam ini memang sengaja saya minta tanpa suasana formal. Saya rasa, kita perlu saling mengenal lebih dekat sebelum membicarakan hal yang lebih serius." Kinara menyunggingkan senyum tipis. Senyum sopan yang tetap memberikan jarak. "Saya menghargai undangan ini, Tuan Adhijaya," sahut Kinara tenang. "Namun karena latar belakang pertemuan ini berkaitan dengan rencana investasi di PT Danantara, saya rasa pendekatan profesional tetap yang paling utama." Adhijaya tersenyum. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi dengan gaya santai, seolah tidak terganggu oleh jawaban Kinara. "Kamu selalu seformal ini, Kinara?" "Saya hanya berusaha menjaga batas antara urusan pribadi dan pekerjaan." "Menarik." Adhijaya kembali memutar gelasnya. "Saya sudah cukup banyak mendengar tentangmu dari Pak Hendra. Katanya, kamu cukup keras kepala." Kinara tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap pria di hadapannya dengan tenang. Adhijaya melanjutkan, "Lima tahun memimpin divisi besar di perusahaan keluarga bukan waktu yang sebentar. Apalagi dengan keadaan pribadimu." Senyum di wajah Kinara perlahan menghilang. "Keadaan pribadi saya?" Adhijaya mengangkat bahu kecil. "Saya tidak bermaksud menyinggung. Hanya mengatakan kenyataan." Ia menyesap minumannya sebelum melanjutkan. "Kamu pernah menikah, sekarang seorang janda, dan memiliki seorang anak. Saya bisa memahami kalau mempertahankan posisi di perusahaan dalam keadaan seperti itu tidak selalu mudah." Kinara menatapnya lurus. Bahasa tubuh Adhijaya memang terlihat tenang. Namun cara pria itu menyusun kalimat membuat Kinara merasa seolah-olah dirinya sedang dipandang sebagai seseorang yang memiliki terlalu banyak kekurangan. "Saya mengapresiasi perhatian Ayah dan niat baik Anda, Tuan Adhijaya," balas Kinara dengan suara tetap halus. "Namun divisi yang saya pimpin berdiri berdasarkan pencapaian target dan analisis yang bisa diukur. Selama saya mampu memberikan hasil, saya tidak melihat alasan mengapa status pribadi saya harus menjadi masalah." Adhijaya tersenyum tipis. "Kemandirianmu sangat menarik, Kinara." Kali ini, intonasinya terdengar berbeda. "Namun dunia bisnis tidak selalu seadil itu. Perempuan dengan status seperti kamu sering kali harus bekerja lebih keras hanya untuk mendapatkan pengakuan yang sama." Kinara diam. Adhijaya melanjutkan dengan nada seolah-olah sedang menawarkan sebuah solusi. "Itulah mengapa saya mengerti kenapa Pak Hendra memikirkan masa depanmu." Ia meletakkan gelasnya. "Menikah dengan saya bukan hanya tentang investasi perusahaan. Saya juga bisa memberikan perlindungan dan kehidupan yang lebih tenang untukmu." Dada Kinara terasa dingin mendengar kalimat itu. Pria di hadapannya sangat pandai menyusun kata-kata. Semuanya terdengar sopan dan masuk akal jika didengar sekilas. Namun di baliknya, Kinara bisa merasakan bagaimana Adhijaya sedang menempatkan dirinya sebagai seorang perempuan yang membutuhkan seorang pria untuk menjaga hidupnya. "Bagi saya, benteng terbaik adalah kompetensi diri sendiri, Tuan Adhijaya," jawab Kinara. "Bukan bergantung pada nama besar pria mana pun." Adhijaya tertawa kecil. "Saya suka pendirianmu." Ia sedikit memajukan tubuhnya ke arah meja. "Tapi saya juga berharap kamu memahami satu hal. Setelah menikah nanti, saya tidak ingin istri saya terlalu sibuk dengan urusan perusahaan sampai lupa pada kehidupan rumah tangga." Kinara mengangkat alis tipis. "Perusahaan itu bagian dari hidup saya." "Tentu. Dan saya tidak mengatakan kamu harus berhenti bekerja." Adhijaya tersenyum. "Hanya saja, ada perbedaan antara bekerja dan menjadikan pekerjaan sebagai prioritas utama." Kinara mulai memahami arah pembicaraan ini. Adhijaya bukan hanya ingin menikah dengannya. Ia ingin mengatur hidupnya. Kinara menarik napas perlahan, berusaha tetap tenang. "Saya rasa hal seperti itu sebaiknya dibicarakan setelah kedua pihak benar-benar sepakat untuk menikah." "Tentu." Adhijaya kembali bersandar. "Tapi saya ini pria yang praktis, Kinara." Tatapan pria itu berubah. Tidak lagi sekadar menilai. Kini ada sesuatu yang membuat Kinara merasa tidak nyaman. "Saya tidak suka mengambil keputusan besar tanpa memastikan bahwa semuanya sesuai harapan." Kinara menatapnya penuh waspada. "Memastikan apa?" Adhijaya tersenyum kecil. "Kecocokan." Suaranya turun menjadi lebih pelan. "Sebelum kita menyetujui pernikahan yang diinginkan ayahmu dan saya menurunkan dana ratusan miliar untuk PT Danantara..." Ia berhenti sejenak, lalu menatap Kinara tanpa berusaha menyembunyikan maksudnya. "Bagaimana kalau kita mencoba tidur bersama malam ini?" Kinara membeku. Untuk beberapa detik, ia bahkan tidak yakin dirinya mendengar kalimat itu dengan benar. Sorot matanya perlahan mengeras. Adhijaya justru terlihat santai. "Tentu kamu paham maksud saya." Tatapannya turun sejenak, lalu kembali menatap wajah Kinara. "Kalau kita ternyata cocok, saya tidak akan ragu melanjutkan pernikahan ini dan menandatangani berkas investasi itu." Ia tersenyum tipis. "Anggap saja sebagai tes kecocokan sebelum kita meresmikannya." Rasa jijik langsung memenuhi dada Kinara. Baru sekarang ia benar-benar memahami bagaimana Adhijaya memandang pernikahan yang sedang dirancang oleh Hendra. Bukan sebagai hubungan antara dua manusia yang harus saling menghormati. Bagi pria itu, semuanya adalah transaksi. Bahkan tubuhnya pun seolah dapat dijadikan bagian dari kesepakatan. Kinara menatap Adhijaya selama beberapa detik sebelum akhirnya berdiri. Ia merapikan blazer putih yang tersampir di bahunya, lalu mengambil tasnya. "Makan malam ini sudah selesai." Suaranya dingin, tetapi tetap terkendali. "Permisi." Kinara berbalik dan mulai melangkah meninggalkan meja. Namun sebelum ia sempat berjalan lebih jauh, sebuah suara memanggil dari arah belakang. "Kinara." Langkah Kinara berhenti. Suara itu sangat ia kenal. Perlahan, ia menoleh. Seorang pria berdiri beberapa meter dari tempat mereka. 'Rian?'Ruangan mendadak sunyi. Beberapa kepala divisi mulai saling melirik dengan gelisah. Baskara masih berusaha terlihat tenang. Ia menatap Kinara dengan pandangan menekan. "Bu Kinara, saya rasa kita harus berhati-hati dalam menyimpulkan sesuatu hanya berdasarkan perbedaan angka." "Saya setuju." Kinara menatapnya lurus tanpa kedip. "Itulah alasan saya belum menyimpulkan apa pun." Baskara terdiam, tak bisa membalas kalimat itu. Kinara kemudian mengambil sebuah dokumen lain. "Namun, saya ingin tahu mengapa beberapa pembayaran kepada pemasok baru dipecah menjadi beberapa transaksi dalam jumlah yang lebih kecil." Baskara menghela napas pendek. "Untuk mempermudah proses administrasi." "Mempermudah?" "Ya. Beberapa pemasok memiliki batas pembayaran tertentu." Kinara mengangguk pelan. "Lalu mengapa rekening penerima dari tiga perusahaan berbeda menggunakan alamat korespondensi yang sama?" Kali ini Baskara tidak langsung menjawab. Ia mengambil dokumen tersebut dari meja dan menelitinya sej
Leo yang biasanya duduk sebagai anak magang di salah satu meja bagian Pengembangan Bisnis kini menempati meja tepat di depan ruangan Kinara. Sebuah papan nama kecil sudah terpasang di atas mejanya. LEOAsisten Pribadi Manajer Pengembangan Bisnis' Jabatan itu memang belum membuat banyak orang memahami siapa sebenarnya dirinya. Bagi sebagian besar karyawan, Leo hanyalah anak muda yang baru beberapa hari bekerja di perusahaan, kemudian secara tiba-tiba mendapatkan kepercayaan langsung dari Kinara. Namun, sejak pagi, Leo sudah menunjukkan bahwa jabatan itu bukan sekadar nama. Ia memeriksa jadwal rapat Kinara, menyusun dokumen yang akan dibutuhkan, memastikan laporan dari beberapa divisi sudah diterima, sekaligus menandai bagian-bagian penting dari dokumen yang perlu mendapat perhatian. Sesekali ia mengetuk pintu ruangan Kinara untuk menyerahkan berkas. "Dokumen rapat pukul sepuluh sudah saya susun, Bu." Kinara yang sedang membaca sebuah laporan mengangkat wajahnya. "Letakkan di me
Sedan hitam milik Kinara membelah jalanan malam yang tenang. Di dalam kabin mobil, suasana begitu hening. Hanya deru halus mesin dan kilatan lampu jalanan yang sesekali menerangi wajah Kinara dan Leo. Kinara memegang kemudi dengan jemari yang masih sedikit kaku. Pikirannya dipenuhi oleh kejadian di restoran tadi. Reaksi panik Adhijaya saat Leo menyebutkan soal rekening rahasia dan draf manipulasi aset terus berputar di kepalanya. Ia melirik pria muda yang duduk tenang di kursi penumpang di sampingnya. Leo hanya menatap lurus ke depan, seolah hal besar yang baru saja ia lakukan bukanlah sesuatu yang istimewa. "Leo," panggil Kinara memecah keheningan. Suaranya terdengar datar namun menuntut penjelasan. Leo menoleh perlahan. "Iya, Bu Kinara?" "Dari mana kamu tahu soal rekening Singapura dan draf manipulasi aset milik Tuan Adhijaya?" tanya Kinara langsung pada intinya. "Informasi seperti itu bukan sesuatu yang bisa diakses oleh sembarang orang. Apalagi oleh seorang anak magang." Le
Kinara terdiam. Untuk sesaat, ia hanya menatap pria itu tanpa berkata apa-apa.Rian mengenakan kemeja gelap dengan jas yang tidak dikancingkan. Wajahnya terlihat tegang, seolah sudah mencari Kinara ke berbagai tempat sebelum akhirnya menemukan perempuan itu di restoran ini.Matanya langsung tertuju kepada Kinara. "Aku ingin bicara denganmu."Kinara menghela napas pendek. "Rian, ini bukan tempat yang tepat.""Aku tahu."Rian melangkah mendekat. "Tapi sejak kapan kamu mau menikah lagi tanpa memberitahuku?"Kinara menatapnya tajam. "Itu bukan urusanmu lagi."Rian terdiam sejenak. Kalimat itu jelas membuat wajahnya berubah."Aku mantan suamimu, Kinara.""Dan itu sebabnya kamu seharusnya tahu bahwa hubungan kita sudah berakhir.""Aku masih ingin memperbaikinya."Kinara menahan napas. "Aku tidak."Jawaban itu keluar tanpa ragu.Rian menatapnya, seolah masih berharap menemukan sedikit keraguan di mata Kinara. Namun tidak ada.Adhijaya yang sejak tadi memperhatikan percakapan mereka akhirnya
Pintu kaca restoran fine dining di lantai teratas hotel bintang lima itu terbuka perlahan. Kinara melangkah masuk dengan gaun hitam berpotongan rapi yang membuat penampilannya terlihat elegan. Sebuah blazer putih tersampir anggun di bahunya, melengkapi penampilannya malam itu.Ia berjalan dengan tenang dan teratur. Meski tahu dirinya sedang menuju sebuah pertemuan yang dirancang oleh ayahnya sendiri, Kinara tetap memasang ekspresi profesional. Tidak ada tanda-tanda gugup ataupun keberatan yang terlihat dari wajahnya.Seorang pelayan pria segera menyambutnya dengan senyum ramah."Atas nama reservasi Tuan Adhijaya, Kak?""Iya, betul," jawab Kinara singkat dan sopan.Pelayan itu mengangguk, lalu mempersilakan Kinara mengikutinya menuju area privat di sudut restoran. Tempat itu cukup jauh dari meja pelanggan lain dan menghadap langsung ke pemandangan kota yang dipenuhi gemerlap lampu.Di sana, di sebuah meja bundar yang dilapisi kain putih bersih dengan lilin kecil di tengahnya, seorang p
Tangan Kinara yang memegang lembaran dokumen perjodohan itu tampak tenang, tanpa getaran sedikit pun. Pipi kirinya masih terasa panas akibat tamparan sang ayah. Ia sempat menekan lidah ke bagian dalam pipinya, memastikan tidak ada darah yang keluar.Kemudian, ia kembali mengangkat wajah. Sorot matanya tajam, menatap lurus pada pria paruh baya di hadapannya.Tidak ada air mata. Tidak ada pula raut wajah pasrah dari seorang wanita yang sedang dipojokkan.“Jadi, ini alasan Ayah memanggilku pulang dengan terburu-buru?” tanya Kinara dengan suara rendah dan datar.Hendra menyilangkan kedua tangan di dada. Tatapannya masih keras, tetapi matanya sempat turun sekilas pada pipi Kinara yang memerah.Hanya sesaat. Setelah itu, ia kembali memasang wajah seorang kepala keluarga. “Ayah tidak memanggilmu pulang untuk berdebat.”Kinara mengangkat sebelah alis. “Lalu?”“Tuan Adhi adalah pemegang saham utama di grup bisnis besar yang sedang kita incar.” Nada suara Hendra terdengar lebih terkendali. “Dia







