共有

7. Aku Setuju, Ayah

作者: Blue Ice
last update 公開日: 2026-09-10 23:57:50
Tangan Kinara yang memegang lembaran dokumen perjodohan itu dengan tangan bergetar. Pipi kirinya masih terasa panas akibat tamparan sang ayah. Ia sempat menekan lidah ke bagian dalam pipinya, memastikan tidak ada darah yang keluar.

Kemudian, ia kembali mengangkat wajah. Sorot matanya tajam, menatap lurus pada pria paruh baya di hadapannya.

Tidak ada air mata. Tidak ada pula raut wajah pasrah dari seorang wanita yang sedang dipojokkan. Ia sudah terbiasa menghadapi keegoisan ayahnya.

“Jadi,
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター
コメント (2)
goodnovel comment avatar
Mirielle
cakep sihh kinara ini
goodnovel comment avatar
Null_null
Leo bukan sembarang anak magang nih
すべてのコメントを表示

最新チャプター

  • Duh, Kelepasan Sama Anak Magang!    100. Aku hanya ingin menghibur

    Angin malam berembus tipis di area balkon, membawa udara dingin yang langsung menyapu kulit leher Kinara. Namun, rasa dingin itu menguap dalam hitungan detik begitu lengan tegap Leo merengkuh pinggangnya erat, mengikis jarak di antara mereka hingga tak tersisa. "Leo, kamu gila, ya?!" bisik Kinara tertahan dengan napas tersendapat. Wajah cantiknya memerah padam, kedua tangannya refleks menahan dada bidang Leo. "Di dalam ada Sarah! Bagaimana kalau dia tiba-tiba ke luar atau melihat ke arah jendela, hm?!" Bukannya gentar, Leo justru menyunggingkan senyum miring yang amat seksi sekaligus berbahaya. Binar mata hitamnya berkilat liar di bawah pendar rembulan. Tanpa mengindahkan teguran Kinara, Leo menundukkan kepalanya kilat, mencumbu bibir Kinara secara mendalam dan beringas. "Ngh ... Leo!" gumam Kinara terkejut. Jemari lentiknya mendadak lemas di atas kemeja hitam Leo. Cumbuan Leo terasa begitu menuntut, membakar, dan penuh dahaga posesif yang tak terikat aturan. Sentuhan tangan tega

  • Duh, Kelepasan Sama Anak Magang!    99. Jangan Memulai Api

    Beberapa Jam Kemudian ...Sarah berdiri dengan dua koper besar di sampingnya. Wanita itu melangkah masuk dengan dagu terangkat, menyapu pandangannya ke seluruh sudut ruangan dengan binar mata yang sarat akan kecurigaan. Kinara berdiri tegap di area ruang tamu. Wajah cantiknya tampak kaku, memancarkan aura dewasa yang dingin nan protektif. Di belakang kakinya, Arkana bersembunyi pelan, memeluk erat tungkai ibunya seraya menatap sang bibi dengan mata bulat yang polos. "Letakkan kopermu di dekat pintu," ujar Kinara lugas dengan intonasi datar. "Aku cuma mengizinkanmu tidur di kamar tamu untuk dua hari. Tidak lebih." Sarah tertawa kecil, sebuah tawa sumbang yang penuh kepalsuan. Ia sengaja melangkah melewati Kinara, matanya bergerak lincah memeriksa rak sepatu, meja makan, hingga gantungan baju di dekat dapur. Ia berencana mencari barang-barang pria—jas mahal, sepatu ukuran besar, atau aksesoris kustom milik Valentino Sutedja. Dalam pikiran liciknya, Sarah yakin betul pria dari klan k

  • Duh, Kelepasan Sama Anak Magang!    98. Aku Tahu Konsekuensinya, Mas

    Pagi baru saja merambat di pelataran parkir kantor Buana Alam Mandiri. Sebuah sedan hitam mewah berhenti halus di dekat lobi utama. Dari balik kaca jendela, Kinara mendengus pelan sebelum melangkah keluar. Pria muda itu benar-benar tak bisa dibantah. Leo bersikeras mengantarkan Arkana ke sekolah sekalian mengantar Kinara ke kantor demi memastikan keselamatan mereka. Kinara merapikan blazer kerjanya dan melangkah menuju pintu masuk. Namun, baru beberapa tindak berjalan, langkahnya terhenti kaku. Radit berdiri di dekat pilar lobi dengan wajah tegang, matanya menatap tajam ke arah sedan hitam yang baru saja berlalu, lalu beralih penuh emosi pada Kinara. Tak jauh dari sana, Sarah melangkah menghampiri dengan senyum miring yang sarat akan provokasi. "Kinara!" panggil Radit dengan suara menekan, memangkas jarak di antara mereka. Di tangannya, sebuah lembaran cetak siaran pers dari Jakarta tergenggam erat. "Kamu masih mau diantar oleh pria itu setelah berita ini tersebar luas?!" Radit m

  • Duh, Kelepasan Sama Anak Magang!    97. Buktikan Ucapanmu!

    pintu apartemen terrbanting keras. Kinara melempar tas kerjanya ke atas meja konsol dengan napas memburu kencang. Raut wajah dewasa yang biasanya selalu tenang dan terkontrol kini dipenuhi oleh amarah yang membakar serta luka mendalam yang berusaha ia sembunyikan rapat-rapt. Klek. Pintu utama terdorong lagi. Leo melangkah masuk dengan setelan jas kustomnya yang terpasang rapi. Binar mata hitam pria itu tidak memancarkan rasa bersalah sedikit pun, melainkan kegelapan posesif yang amat pekat. Ia melangkah tegap, memangkas jarak di antara mereka tanpa ragu. "Kinara, dengarkan aku dulu—" "Dengar apa lagi, Valentino?!" potong Kinara tajam, memutar tubuhnya dan menatap Leo dengan pandangan menusuk. Bibirnya tersenyum sinis, sebuah senyuman pahit yang sarat akan kekecewaan. "Dengar bagaimana kamu merancang pernikahan megahmu dengan Giselle Chen di Jakarta?! Atau mendengar kebohongan manis apalagi yang mau kamu suapkan padaku setelah semalam berpura-pura menjadi pria paling setia?!" Leo

  • Duh, Kelepasan Sama Anak Magang!    96. Retakan Besar

    "Aku yang mengantar kalian," ujar Leo tegas seraya meraih kunci mobil dari atas meja. Pria bertubuh tegap itu berdiri menghalangi jalan menuju pintu keluar apartemen, menatap Kinara dengan binar mata posesif yang tak bisa dibantah. Kinara menghentikan langkahnya, menatap Leo dengan raut wajah datar. "Tidak perlu, Leo. Aku bisa naik taksi atau angkutan umum bersama Arka seperti biasa. Kalau kamu yang mengantar dengan mobil mewahmu itu, para karyawan di kantor bakal heboh dan memicu desas-desus yang tidak penting." Leo menyunggingkan senyum miring yang amat cerdik. Menyadari benteng pertahanan Kinara yang terlalu keras jika dihadapi secara langsung, pria muda itu melirik pelan ke arah bocah kecil di samping Kinara. "Arka," panggil Leo seraya berlutut menyamakan tingginya dengan Arkana. "Kamu lebih suka diantar Paman naik mobil yang ada pendingin dinginnya, atau desak-desakan panas di jalanan sama Ibu, hm?" Mata bulat Arkana seketika berbinar terang. Bocah kecil itu memegang erat uju

  • Duh, Kelepasan Sama Anak Magang!    95. Semakin Jatuh

    Cahaya matahari pagi menerobos tipis melalui celah tirai jendela apartemen, membiaskan pendar hangat di atas lantai kayu. Di dalam kamar mandi, uap air hangat masih membumbung tipis. Kinara berdiri kaku di depan cermin besar. Wajah cantiknya yang biasa memancarkan ketenangan kini diliputi raut jengkel yang luar biasa. Jemari lentiknya menarik kerah jubah mandinya sedikit ke bawah, memperlihatkan beberapa bercak kemerahan yang tercetak jelas di sekitar leher dan tulang selangkanya. "Pria gila itu ..." gumam Kinara berdesis pelan, meremas kerah jubahnya erat-erat. Bercak-bercak tanda kepemilikan itu menyebar begitu kentara. Pria muda itu benar-benar beringas dan tidak tahu aturan semalam. Kinara harus memutar otak, memoleskan concealer tebal berkali-kali di lehernya agar bekas cumbuan gila itu tidak menjadi bahan gunjingan di kantor nanti. Setelah selesai berpakaian rapi dengan kemeja berkerah tinggi yang tertutup rapat, Kinara melangkah keluar dari kamar mandi. Namun, saat ia me

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status