Compartilhar

7. Aku akan Datang

Autor: Blue Ice
last update Data de publicação: 2026-09-10 23:57:50

Tangan Kinara yang memegang lembaran dokumen perjodohan itu tampak tenang, tanpa getaran sedikit pun. Pipi kirinya masih terasa panas akibat tamparan sang ayah. Ia sempat menekan lidah ke bagian dalam pipinya, memastikan tidak ada darah yang keluar.

Kemudian, ia kembali mengangkat wajah. Sorot matanya tajam, menatap lurus pada pria paruh baya di hadapannya.

Tidak ada air mata. Tidak ada pula raut wajah pasrah dari seorang wanita yang sedang dipojokkan.

“Jadi, ini alasan Ayah memanggilku pulang dengan terburu-buru?” tanya Kinara dengan suara rendah dan datar.

Hendra menyilangkan kedua tangan di dada. Tatapannya masih keras, tetapi matanya sempat turun sekilas pada pipi Kinara yang memerah.

Hanya sesaat. Setelah itu, ia kembali memasang wajah seorang kepala keluarga. “Ayah tidak memanggilmu pulang untuk berdebat.”

Kinara mengangkat sebelah alis. “Lalu?”

“Tuan Adhi adalah pemegang saham utama di grup bisnis besar yang sedang kita incar.” Nada suara Hendra terdengar lebih terkendali. “Dia punya pengaruh politik dan modal yang sangat besar. Pertemuan malam ini sudah diatur.”

Ia berhenti sejenak.

“Kamu hanya perlu datang dan bersikap baik.”

Kinara menyunggingkan senyum tipis—senyum yang tidak mencapai matanya. Ia meletakkan amplop cokelat itu kembali ke atas meja kaca dengan gerakan teratur.

“Aku mengelola Divisi Pengembangan Bisnis dengan pertumbuhan sepuluh persen pada kuartal terakhir, Ayah,” ujarnya tenang. “Perusahaan kita tidak sedang sekarat sampai harus menjadikan pernikahan sebagai alat transaksi.”

Rahang Hendra mengeras. “Jangan memutarbalikkan maksud Ayah, Kinara!"

“Kalau begitu, jelaskan."

“Ayah sedang memberimu kesempatan.”

Kinara langsung terdiam. Untuk sepersekian detik, kalimat itu membuat sesuatu bergerak di dalam dadanya.

'Kesempatan.'

Begitulah Hendra selalu menyebut tuntutannya sejak dulu. Kesempatan untuk menjadi anak yang sempurna. Kesempatan untuk membuktikan diri. Kesempatan untuk menjaga nama keluarga.

Dan setiap kali Kinara gagal memenuhi harapan itu, kesempatan tersebut berubah menjadi kesalahan yang harus ia tanggung sendiri.

“Ayah menyebut ini kesempatan,” ujar Kinara akhirnya. “Aku menyebutnya tekanan.”

“Kinara.”

Satu kata itu keluar lebih berat dari sebelumnya. Bukan sekadar teguran seorang Presdir kepada bawahannya. Itu suara seorang ayah yang kehilangan kesabaran terhadap putrinya.

Namun Kinara sudah terlalu lama mengenal nada tersebut. Ia hanya menatap datar ayahnya, menunggu kata-kata selanjutnya.

“Ayah tidak sedang meminta pendapatmu," ujar Hendra.

“Memang.” Kinara menatapnya tanpa berkedip. “Ayah sedang meminta kepatuhanku.”

Mata Hendra menyipit. “Kamu pikir kamu siapa?”

Suaranya meninggi. “Kamu bisa duduk di kursi manajer itu juga karena nama besar keluarga ini!”

Kinara tidak menjawab. Ayahnya sulit mengakui kemampuannya selama ini. Padahal kursi manajer itu ia dapatkan dengan kerja keras.

“Tanpa status sebagai putri Presdir, kamu—” Hendra terdiam sesaat. Tatapannya jatuh kembali pada wajah Kinara. “—kamu bahkan tidak akan berada di posisi ini.”

Kalimat berikutnya keluar lebih pelan, tetapi justru terasa lebih tajam. “Dan jangan membuat Ayah mengingatkanmu tentang masa lalu.”

Kinara tahu maksudnya. Janda Muda dan skandal lima tahun lalu. Dua kata yang sudah terlalu sering digunakan untuk merendahkannya.

Dulu, mungkin kata-kata itu bisa membuat Kinara mengurung diri di kamar dan menangis sampai tertidur. Sekarang, ia hanya menarik napas pelan.

Tiga tahun sudah cukup lama untuk mengajarinya bahwa air mata tidak akan mengubah apa pun di rumah ini.

Sejak kecil, sebagai anak pertama, Kinara selalu dituntut untuk sempurna. Jika nilainya sembilan, Hendra akan bertanya mengapa tidak sepuluh. Ketika ia bekerja keras membuktikan kemampuannya di perusahaan, orang-orang tetap menganggapnya hanya menikmati nama keluarga.

Dan ketika tragedi lima tahun lalu menghancurkan hidupnya, ayah yang seharusnya menjadi tempatnya berlindung justru menjadi orang pertama yang menyalahkannya.

Kinara merapikan blazer yang sedikit kusut. “Kalau Ayah khawatir soal Rian atau tuduhan orang-orang tentang status pribadiku, aku bisa mengatasinya sendiri.”

Tatapannya tetap tenang. “Urusan bisnis tetaplah urusan bisnis. Aku tidak akan menjadikan pernikahan sebagai alat transaksi perusahaan.”

Hendra mengembuskan napas kasar. “Kadang kamu terlalu keras kepala.”

Kinara hampir tersenyum. “Aku belajar dari seseorang.”

Mata Hendra langsung mengeras. Namun, kali ini ia tidak membentak. Ia hanya menatap putrinya dalam diam.

Seolah baru menyadari bahwa gadis kecil yang dulu selalu berdiri tegak di hadapannya ketika dimarahi kini telah tumbuh menjadi seseorang yang tidak lagi takut pada kemarahannya.

“Kamu lupa posisimu di PT Danantara, Kinara?” tanyanya akhirnya.

Nada suaranya kembali dingin. “Satu tanda tanganku cukup untuk memindahkan seluruh wewenang proyek Pengembangan Bisnis ke tangan orang lain besok pagi.”

Kinara membeku sejenak. Ayahnya tahu persis di mana titik lemahnya.

Proyek pengembangan bisnis baru itu adalah hasil kerja keras Kinara selama dua tahun terakhir. Bukan sekadar proyek perusahaan. Itu adalah bukti bahwa ia mampu berdiri di jajaran eksekutif tanpa terus berlindung di balik nama besar Hendra.

Jika proyek itu jatuh ke tangan orang lain, masa depan kariernya di perusahaan akan ikut terancam.

Tetapi Kinara tidak panik. Otaknya justru bekerja lebih cepat. Hendra memegang kendali atas jabatan resminya. Namun Kinara memegang data, jaringan, dan eksekusi di lapangan.

Kalau ayahnya ingin bermain dengan kekuasaan, ia tidak akan melawannya dengan emosi. Ia akan bermain dengan kartu yang ia miliki.

“Baik.”

Jawaban itu membuat Hendra sedikit terkejut.

“Apa?”

“Aku akan datang ke acara makan malam itu.”

Kinara mengambil amplop cokelat tadi dan memasukkannya kembali ke dalam tas.

“Aku akan menemui Tuan Adhi.”

Hendra mengamatinya beberapa saat. “Kamu serius?”

“Bukankah itu yang Ayah inginkan?”

Ada jeda sesaat. Kemudian Hendra mengangguk.

“Bagus.” Senyum puas muncul di wajahnya, meski tipis.

“Begitu lebih baik. Jangan permalukan Ayah di depan Tuan Adhi nanti malam.”

Ia berbalik hendak meninggalkan ruangan. Namun sebelum langkahnya menjauh, suara Kinara terdengar.

“Rina.”

Kinara merogoh ponsel dari dalam tas tangannya, kemudian mengaktifkan pengeras suara. Sengaja agar ayahnya bisa mendengar.

“Halo, Bu Kinara?” suara Rina, staf admin divisinya, terdengar dari seberang telepon.

“Rina, jadwalkan ulang pemeriksaan internal untuk seluruh draf investasi divisi kita besok pagi.”

Nada suara Kinara berubah seketika. Tidak menyisakan sedikit pun emosi pribadi.

“Saya ingin semua dokumen aset dan laporan keuangan diperiksa ulang sampai lembar terakhir sebelum rapat divisi dimulai.”

“Baik, Bu. Ada berkas khusus yang perlu disiapkan lebih dulu?”

“Tidak ada.”

Kinara melirik punggung ayahnya. “Saya hanya ingin memastikan seluruh data dan akses proyek tetap aman. Jangan beri siapa pun wewenang untuk mengubah atau mengambil alih dokumen tanpa persetujuan tertulis dari saya.”

Langkah Hendra berhenti. Perlahan, ia menoleh. Tatapan keduanya bertemu.

Kini Hendra mengerti. Kinara tidak datang ke makan malam itu untuk menyerahkan diri. Ia datang untuk melihat langsung kartu yang dipegang lawannya.

Dan Hendra baru saja menyadari bahwa putrinya tidak lagi mudah digertak.

“Baik, Bu. Akan saya urus.”

“Terima kasih.”

Kinara mematikan panggilan. Hendra masih berdiri di tempatnya. Tidak ada lagi senyum puas di wajahnya.

Matanya kembali turun pada pipi Kinara yang memerah. Sesaat, sesuatu seperti penyesalan melintas di sana. Namun, terlalu cepat untuk dipastikan. Kinara melihatnya.

Tetapi ia tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya mengangkat tasnya.

“Saya permisi mengambil Arkana di atas, Ayah.” Kinara berjalan melewatinya.

Sebelum benar-benar keluar dari ruangan, ia berhenti sejenak. “Dan, Ayah?”

Hendra menoleh. Kinara tidak tersenyum sama sekali.

“Lain kali, kalau Ayah ingin bicara tentang masa depan putri Ayah ….”

Ia menatap mata pria itu lurus-lurus. “Jangan mulai dengan menamparnya.”

Setelah itu, Kinara pergi. Hendra tetap berdiri sendirian di ruang tamu. Untuk pertama kalinya malam itu, ia tidak memiliki jawaban.

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Comentários (1)
goodnovel comment avatar
Null_null
Leo bukan sembarang anak magang nih
VER TODOS OS COMENTÁRIOS

Último capítulo

  • Duh, Kelepasan Sama Anak Magang!    12. Bantuan Asisten Baru

    Ruangan mendadak sunyi. Beberapa kepala divisi mulai saling melirik dengan gelisah. Baskara masih berusaha terlihat tenang. Ia menatap Kinara dengan pandangan menekan. "Bu Kinara, saya rasa kita harus berhati-hati dalam menyimpulkan sesuatu hanya berdasarkan perbedaan angka." "Saya setuju." Kinara menatapnya lurus tanpa kedip. "Itulah alasan saya belum menyimpulkan apa pun." Baskara terdiam, tak bisa membalas kalimat itu. Kinara kemudian mengambil sebuah dokumen lain. "Namun, saya ingin tahu mengapa beberapa pembayaran kepada pemasok baru dipecah menjadi beberapa transaksi dalam jumlah yang lebih kecil." Baskara menghela napas pendek. "Untuk mempermudah proses administrasi." "Mempermudah?" "Ya. Beberapa pemasok memiliki batas pembayaran tertentu." Kinara mengangguk pelan. "Lalu mengapa rekening penerima dari tiga perusahaan berbeda menggunakan alamat korespondensi yang sama?" Kali ini Baskara tidak langsung menjawab. Ia mengambil dokumen tersebut dari meja dan menelitinya sej

  • Duh, Kelepasan Sama Anak Magang!    11. Membongkar Perlahan

    Leo yang biasanya duduk sebagai anak magang di salah satu meja bagian Pengembangan Bisnis kini menempati meja tepat di depan ruangan Kinara. Sebuah papan nama kecil sudah terpasang di atas mejanya. LEOAsisten Pribadi Manajer Pengembangan Bisnis' Jabatan itu memang belum membuat banyak orang memahami siapa sebenarnya dirinya. Bagi sebagian besar karyawan, Leo hanyalah anak muda yang baru beberapa hari bekerja di perusahaan, kemudian secara tiba-tiba mendapatkan kepercayaan langsung dari Kinara. Namun, sejak pagi, Leo sudah menunjukkan bahwa jabatan itu bukan sekadar nama. Ia memeriksa jadwal rapat Kinara, menyusun dokumen yang akan dibutuhkan, memastikan laporan dari beberapa divisi sudah diterima, sekaligus menandai bagian-bagian penting dari dokumen yang perlu mendapat perhatian. Sesekali ia mengetuk pintu ruangan Kinara untuk menyerahkan berkas. "Dokumen rapat pukul sepuluh sudah saya susun, Bu." Kinara yang sedang membaca sebuah laporan mengangkat wajahnya. "Letakkan di me

  • Duh, Kelepasan Sama Anak Magang!    10. Asisten Pribadi

    Sedan hitam milik Kinara membelah jalanan malam yang tenang. Di dalam kabin mobil, suasana begitu hening. Hanya deru halus mesin dan kilatan lampu jalanan yang sesekali menerangi wajah Kinara dan Leo. Kinara memegang kemudi dengan jemari yang masih sedikit kaku. Pikirannya dipenuhi oleh kejadian di restoran tadi. Reaksi panik Adhijaya saat Leo menyebutkan soal rekening rahasia dan draf manipulasi aset terus berputar di kepalanya. Ia melirik pria muda yang duduk tenang di kursi penumpang di sampingnya. Leo hanya menatap lurus ke depan, seolah hal besar yang baru saja ia lakukan bukanlah sesuatu yang istimewa. "Leo," panggil Kinara memecah keheningan. Suaranya terdengar datar namun menuntut penjelasan. Leo menoleh perlahan. "Iya, Bu Kinara?" "Dari mana kamu tahu soal rekening Singapura dan draf manipulasi aset milik Tuan Adhijaya?" tanya Kinara langsung pada intinya. "Informasi seperti itu bukan sesuatu yang bisa diakses oleh sembarang orang. Apalagi oleh seorang anak magang." Le

  • Duh, Kelepasan Sama Anak Magang!    9. Anak Muda itu Lagi

    Kinara terdiam. Untuk sesaat, ia hanya menatap pria itu tanpa berkata apa-apa.Rian mengenakan kemeja gelap dengan jas yang tidak dikancingkan. Wajahnya terlihat tegang, seolah sudah mencari Kinara ke berbagai tempat sebelum akhirnya menemukan perempuan itu di restoran ini.Matanya langsung tertuju kepada Kinara. "Aku ingin bicara denganmu."Kinara menghela napas pendek. "Rian, ini bukan tempat yang tepat.""Aku tahu."Rian melangkah mendekat. "Tapi sejak kapan kamu mau menikah lagi tanpa memberitahuku?"Kinara menatapnya tajam. "Itu bukan urusanmu lagi."Rian terdiam sejenak. Kalimat itu jelas membuat wajahnya berubah."Aku mantan suamimu, Kinara.""Dan itu sebabnya kamu seharusnya tahu bahwa hubungan kita sudah berakhir.""Aku masih ingin memperbaikinya."Kinara menahan napas. "Aku tidak."Jawaban itu keluar tanpa ragu.Rian menatapnya, seolah masih berharap menemukan sedikit keraguan di mata Kinara. Namun tidak ada.Adhijaya yang sejak tadi memperhatikan percakapan mereka akhirnya

  • Duh, Kelepasan Sama Anak Magang!    8. Pertemuan Pertama

    Pintu kaca restoran fine dining di lantai teratas hotel bintang lima itu terbuka perlahan. Kinara melangkah masuk dengan gaun hitam berpotongan rapi yang membuat penampilannya terlihat elegan. Sebuah blazer putih tersampir anggun di bahunya, melengkapi penampilannya malam itu.Ia berjalan dengan tenang dan teratur. Meski tahu dirinya sedang menuju sebuah pertemuan yang dirancang oleh ayahnya sendiri, Kinara tetap memasang ekspresi profesional. Tidak ada tanda-tanda gugup ataupun keberatan yang terlihat dari wajahnya.Seorang pelayan pria segera menyambutnya dengan senyum ramah."Atas nama reservasi Tuan Adhijaya, Kak?""Iya, betul," jawab Kinara singkat dan sopan.Pelayan itu mengangguk, lalu mempersilakan Kinara mengikutinya menuju area privat di sudut restoran. Tempat itu cukup jauh dari meja pelanggan lain dan menghadap langsung ke pemandangan kota yang dipenuhi gemerlap lampu.Di sana, di sebuah meja bundar yang dilapisi kain putih bersih dengan lilin kecil di tengahnya, seorang p

  • Duh, Kelepasan Sama Anak Magang!    7. Aku akan Datang

    Tangan Kinara yang memegang lembaran dokumen perjodohan itu tampak tenang, tanpa getaran sedikit pun. Pipi kirinya masih terasa panas akibat tamparan sang ayah. Ia sempat menekan lidah ke bagian dalam pipinya, memastikan tidak ada darah yang keluar.Kemudian, ia kembali mengangkat wajah. Sorot matanya tajam, menatap lurus pada pria paruh baya di hadapannya.Tidak ada air mata. Tidak ada pula raut wajah pasrah dari seorang wanita yang sedang dipojokkan.“Jadi, ini alasan Ayah memanggilku pulang dengan terburu-buru?” tanya Kinara dengan suara rendah dan datar.Hendra menyilangkan kedua tangan di dada. Tatapannya masih keras, tetapi matanya sempat turun sekilas pada pipi Kinara yang memerah.Hanya sesaat. Setelah itu, ia kembali memasang wajah seorang kepala keluarga. “Ayah tidak memanggilmu pulang untuk berdebat.”Kinara mengangkat sebelah alis. “Lalu?”“Tuan Adhi adalah pemegang saham utama di grup bisnis besar yang sedang kita incar.” Nada suara Hendra terdengar lebih terkendali. “Dia

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status