LOGINKinara terdiam. Untuk sesaat, ia hanya menatap pria itu tanpa berkata apa-apa.
Rian mengenakan kemeja gelap dengan jas yang tidak dikancingkan. Wajahnya terlihat tegang, seolah sudah mencari Kinara ke berbagai tempat sebelum akhirnya menemukan perempuan itu di restoran ini. Matanya langsung tertuju kepada Kinara. "Aku ingin bicara denganmu." Kinara menghela napas pendek. "Rian, ini bukan tempat yang tepat." "Aku tahu." Rian melangkah mendekat. "Tapi sejak kapan kamu mau menikah lagi tanpa memberitahuku?" Kinara menatapnya tajam. "Itu bukan urusanmu lagi." Rian terdiam sejenak. Kalimat itu jelas membuat wajahnya berubah. "Aku mantan suamimu, Kinara." "Dan itu sebabnya kamu seharusnya tahu bahwa hubungan kita sudah berakhir." "Aku masih ingin memperbaikinya." Kinara menahan napas. "Aku tidak." Jawaban itu keluar tanpa ragu. Rian menatapnya, seolah masih berharap menemukan sedikit keraguan di mata Kinara. Namun tidak ada. Adhijaya yang sejak tadi memperhatikan percakapan mereka akhirnya ikut berdiri. "Jadi, Anda mantan suaminya?" Rian mengalihkan pandangan kepada Adhijaya. "Ya." Adhijaya tersenyum tipis. "Menarik." Ia memandang Kinara sekilas sebelum kembali menatap Rian. "Saya Adhijaya Wiratama." Rian tampak terkejut ketika mendengar nama itu. "Adhijaya Wiratama?" "Sepertinya Anda mengenal nama saya." "Tentu." Rian mengatupkan rahangnya. Tentu saja nama besar seperti Adhijaya Wiratama sering terdengar di telinganya. CEO muda yang masih menduda setelah 3 kali gagal dalam pernikahan. Namun dibalik ceerita rumah tangganya yang berantakan, sosok Adhijaya tetaplah disegani di dunia bisnis. "Saya tidak tahu Kinara sedang bertemu dengan Anda," ujar Rian melirik KInara karena tak menyangka mantan istrinya itu bisa menjaring ikan besar seperti Tuan Adhijaya. "Itu karena dia tidak berkewajiban memberitahukan apa pun kepada Anda," balas Adhijaya dengan senyum tipis yang menjengkelkan di mata Rian. Suasana di antara kedua pria itu mulai berubah. Kinara memejamkan mata sejenak. Ia sudah cukup lelah menghadapi Adhijaya. Sekarang Rian datang dan membuat keadaan semakin rumit. "Saya tidak datang untuk bertengkar dengan Anda," kata Rian. "Lalu untuk apa?" "Saya datang untuk menemui Kinara." Adhijaya tersenyum kecil. "Sayangnya, dia sudah selesai berbicara dengan saya." Rian kembali menatap Kinara. "Kinara, ikut aku. Kita bicara di luar." Kinara langsung menggeleng. "Tidak." Rian mengerutkan kening. "Aku hanya ingin bicara." "Aku sudah mengatakan tidak." Kinara berusaha melewati mereka. Namun Adhijaya yang merasa percakapan mereka belum selesai tiba-tiba mengulurkan tangan dan menangkap pergelangan tangan Kinara. Pegangannya cukup kuat hingga langkah Kinara terhenti. "Tunggu dulu, Kinara." Kinara menoleh. "Jangan terlalu sensitif. Saya hanya ingin kita menyelesaikan pembicaraan." "Lepaskan tangan saya, Tuan Adhijaya." Adhijaya tidak langsung melepaskannya. "Saya hanya ingin memberi kesempatan kepada Anda untuk berpikir ulang." Rian yang melihat tangan Adhijaya mencengkeram pergelangan Kinara langsung maju. "Lepaskan dia." Adhijaya menoleh. "Ini bukan urusan Anda." "Dia sudah bilang untuk melepaskannya." "Dan saya sedang berbicara dengan calon istri saya." Rian menatap Adhijaya dengan rahang mengeras. "Dia bukan milik Anda." Kalimat itu membuat Adhijaya tersenyum dingin. "Menarik. Anda sendiri datang ke sini dan memintanya kembali, tetapi sekarang berbicara seolah-olah Anda berbeda dari saya." Rian terdiam. Kinara pun ikut terdiam. Adhijaya mungkin menyebalkan, tetapi kalimat itu mengenai sesuatu yang selama ini tidak ingin Rian akui. Rian memang masih datang ke dalam hidup Kinara seolah-olah dirinya masih memiliki hak atas perempuan itu. Kinara menarik tangannya. "Saya bisa menyelesaikan masalah saya sendiri." Namun cengkeraman Adhijaya belum juga terlepas. "Kinara—" Sebuah suara yang sangat tenang tiba-tiba terdengar dari samping mereka. "Permisi, Tuan." Semua orang menoleh. Seorang pria berdiri beberapa langkah dari mereka. Mata Kinara melebar melihat Leo. Apa yang dialkukan anak magang itu di restoran mewah ini? Leo mengenakan kemeja hitam yang rapi dengan lengan yang digulung sampai siku. Wajahnya terlihat tenang, bahkan terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja melihat atasannya berada dalam situasi seperti itu. Rian mengerutkan kening dalam-dalam. Wajahnya seketika dipenuhi rasa heran yang amat sangat. Ia tentu mengenali sosok tinggi tegap itu—anak magang yang dua hari lalu membentaknya dan mempermalukannya di koridor gedung PT Danantara. Rian menatap Leo dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan pandangan tak percaya. Bagaimana mungkin seorang anak magang biasa yang berada di tingkat paling bawah korporat bisa masuk begitu saja ke area privat restoran fine dining di hotel bintang lima yang sangat eksklusif ini? Matanya menyempit curiga, namun aura tenang dan dingin yang dipancarkan pemuda itu mendadak menahan lidah Rian untuk memaki. Namun tatapan mata Leo sama sekali tidak beralih pada Rian. Tetap tajam dan dingin. Leo berjalan mendekat dengan langkah tenang. Ia tidak memandang Rian yang sedang menatapnya penuh tanda tanya. Tidak pula memperlihatkan kemarahan yang berlebihan kepada Adhijaya. Tatapannya hanya tertuju pada tangan pria itu yang masih mencengkeram pergelangan Kinara. "Sebaiknya Anda melepaskan tangan Bu Kinara sekarang." Adhijaya menatap Leo dari atas hingga bawah, menyadari perubahan atmosfer yang mendadak menegang di meja mereka. "Siapa Anda?" Leo berhenti beberapa langkah di depan mereka. "Saya orang yang datang untuk menjemput Bu Kinara." Adhijaya tertawa kecil, walau matanya menyempit kewaspadaan. "Dan Anda merasa berhak ikut campur?" Rian yang masih mengamati interaksi itu mengatupkan rahangnya. Rasa asing yang berbahaya terpancar dari gestur anak magang itu, membuat Rian yang tadinya ingin membentak justru terdiam menahan napas. Leo tidak membalas tawa Adhijaya. Ia hanya menatap pria di hadapannya dengan tenang. "Bu Kinara sudah meminta Anda melepaskan tangannya." Nada suaranya tetap sopan, namun sangat tegas. "Tidak ada alasan bagi saya untuk membiarkan Anda mengabaikan permintaan beliau." Adhijaya menatap Leo dengan mata menyempit tajam. Rasa percaya diri dan egonya sebagai pria berkuasa terusik oleh keberanian anak muda di depannya. Pria itu bukannya melepas, malah memperketat cengkeramannya pada pergelangan tangan Kinara hingga memerah, menyunggingkan senyum menantang. "Anak muda," desis Adhijaya dingin, "kamu tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa. Sekali saya angkat telepon, kariermu dan posisi manajermu ini bisa hancur malam ini juga." Melihat Adhijaya semakin kasar, Rian yang berada di sana hendak melangkah maju, namun pergerakannya terhenti seketika. Tanpa mengubah raut wajah tenang di paras tampannya, Leo melangkah satu tapak lebih mendekat. Kecepatan geraknya begitu halus. Sebelum Adhijaya sempat menyadari apa yang terjadi, jemari kekar Leo sudah mencengkeram titik syaraf di pergelangan tangan Adhijaya dan memuntirnya dengan tekanan terukur. "Agh!" Adhijaya meringis pendek, refleks melepaskan pergelangan tangan Kinara akibat rasa nyeri yang mendadak melumpuhkan jarinya. Kinara dengan cepat menarik tangannya kembali, melangkah mundur ke samping Leo. Leo berdiri tegap pasang badan di depan Kinara, menatap Adhijaya yang sedang mengelus pergelangan tangannya sendiri dengan raut syok dan murka. "Saya sangat tahu siapa Anda, Tuan Adhijaya Wiratama," ujar Leo dengan suara rendah yang hanya bisa didengar oleh meja mereka, namun begitu menusuk hingga membuat rahang Adhijaya membeku. "Termasuk rekening rahasia atas nama konsorsium cangkang Anda di Singapura ... dan draf manipulasi aset PT Danantara yang Anda siapkan bersama Pak Baskara minggu lalu." Wajah Adhijaya yang tadinya dipenuhi gairah dan keangkuhan seketika berubah pucat pasi. Matanya melotot menatap anak magang di hadapannya dengan horor yang amat sangat. "Ka-kamu ... bagaimana kamu bisa tahu?!" bisik Adhijaya terbata-bata, suaranya gemetar hebat. Di sebelah mereka, Rian menatap Leo dengan napas tertahan dan mata membelalak syok. Informasi tingkat tinggi itu sama sekali bukan sesuatu yang bisa diakses oleh orang sembarangan, apalagi seorang anak magang. Kinara sendiri ikut terpaku, jantungnya berdegup kencang saat menatap punggung tegap Leo dari belakang. Siapa sebenarnya pemuda ini? Leo tidak menjawab pertanyaan Adhijaya. Ia hanya menguraikan senyum tipis yang amat dingin, lalu membalikkan badan menghadap Kinara. "Mobil sudah siap di depan, Bu Kinara. Mari saya antar pulang."Ruangan mendadak sunyi. Beberapa kepala divisi mulai saling melirik dengan gelisah. Baskara masih berusaha terlihat tenang. Ia menatap Kinara dengan pandangan menekan. "Bu Kinara, saya rasa kita harus berhati-hati dalam menyimpulkan sesuatu hanya berdasarkan perbedaan angka." "Saya setuju." Kinara menatapnya lurus tanpa kedip. "Itulah alasan saya belum menyimpulkan apa pun." Baskara terdiam, tak bisa membalas kalimat itu. Kinara kemudian mengambil sebuah dokumen lain. "Namun, saya ingin tahu mengapa beberapa pembayaran kepada pemasok baru dipecah menjadi beberapa transaksi dalam jumlah yang lebih kecil." Baskara menghela napas pendek. "Untuk mempermudah proses administrasi." "Mempermudah?" "Ya. Beberapa pemasok memiliki batas pembayaran tertentu." Kinara mengangguk pelan. "Lalu mengapa rekening penerima dari tiga perusahaan berbeda menggunakan alamat korespondensi yang sama?" Kali ini Baskara tidak langsung menjawab. Ia mengambil dokumen tersebut dari meja dan menelitinya sej
Leo yang biasanya duduk sebagai anak magang di salah satu meja bagian Pengembangan Bisnis kini menempati meja tepat di depan ruangan Kinara. Sebuah papan nama kecil sudah terpasang di atas mejanya. LEOAsisten Pribadi Manajer Pengembangan Bisnis' Jabatan itu memang belum membuat banyak orang memahami siapa sebenarnya dirinya. Bagi sebagian besar karyawan, Leo hanyalah anak muda yang baru beberapa hari bekerja di perusahaan, kemudian secara tiba-tiba mendapatkan kepercayaan langsung dari Kinara. Namun, sejak pagi, Leo sudah menunjukkan bahwa jabatan itu bukan sekadar nama. Ia memeriksa jadwal rapat Kinara, menyusun dokumen yang akan dibutuhkan, memastikan laporan dari beberapa divisi sudah diterima, sekaligus menandai bagian-bagian penting dari dokumen yang perlu mendapat perhatian. Sesekali ia mengetuk pintu ruangan Kinara untuk menyerahkan berkas. "Dokumen rapat pukul sepuluh sudah saya susun, Bu." Kinara yang sedang membaca sebuah laporan mengangkat wajahnya. "Letakkan di me
Sedan hitam milik Kinara membelah jalanan malam yang tenang. Di dalam kabin mobil, suasana begitu hening. Hanya deru halus mesin dan kilatan lampu jalanan yang sesekali menerangi wajah Kinara dan Leo. Kinara memegang kemudi dengan jemari yang masih sedikit kaku. Pikirannya dipenuhi oleh kejadian di restoran tadi. Reaksi panik Adhijaya saat Leo menyebutkan soal rekening rahasia dan draf manipulasi aset terus berputar di kepalanya. Ia melirik pria muda yang duduk tenang di kursi penumpang di sampingnya. Leo hanya menatap lurus ke depan, seolah hal besar yang baru saja ia lakukan bukanlah sesuatu yang istimewa. "Leo," panggil Kinara memecah keheningan. Suaranya terdengar datar namun menuntut penjelasan. Leo menoleh perlahan. "Iya, Bu Kinara?" "Dari mana kamu tahu soal rekening Singapura dan draf manipulasi aset milik Tuan Adhijaya?" tanya Kinara langsung pada intinya. "Informasi seperti itu bukan sesuatu yang bisa diakses oleh sembarang orang. Apalagi oleh seorang anak magang." Le
Kinara terdiam. Untuk sesaat, ia hanya menatap pria itu tanpa berkata apa-apa.Rian mengenakan kemeja gelap dengan jas yang tidak dikancingkan. Wajahnya terlihat tegang, seolah sudah mencari Kinara ke berbagai tempat sebelum akhirnya menemukan perempuan itu di restoran ini.Matanya langsung tertuju kepada Kinara. "Aku ingin bicara denganmu."Kinara menghela napas pendek. "Rian, ini bukan tempat yang tepat.""Aku tahu."Rian melangkah mendekat. "Tapi sejak kapan kamu mau menikah lagi tanpa memberitahuku?"Kinara menatapnya tajam. "Itu bukan urusanmu lagi."Rian terdiam sejenak. Kalimat itu jelas membuat wajahnya berubah."Aku mantan suamimu, Kinara.""Dan itu sebabnya kamu seharusnya tahu bahwa hubungan kita sudah berakhir.""Aku masih ingin memperbaikinya."Kinara menahan napas. "Aku tidak."Jawaban itu keluar tanpa ragu.Rian menatapnya, seolah masih berharap menemukan sedikit keraguan di mata Kinara. Namun tidak ada.Adhijaya yang sejak tadi memperhatikan percakapan mereka akhirnya
Pintu kaca restoran fine dining di lantai teratas hotel bintang lima itu terbuka perlahan. Kinara melangkah masuk dengan gaun hitam berpotongan rapi yang membuat penampilannya terlihat elegan. Sebuah blazer putih tersampir anggun di bahunya, melengkapi penampilannya malam itu.Ia berjalan dengan tenang dan teratur. Meski tahu dirinya sedang menuju sebuah pertemuan yang dirancang oleh ayahnya sendiri, Kinara tetap memasang ekspresi profesional. Tidak ada tanda-tanda gugup ataupun keberatan yang terlihat dari wajahnya.Seorang pelayan pria segera menyambutnya dengan senyum ramah."Atas nama reservasi Tuan Adhijaya, Kak?""Iya, betul," jawab Kinara singkat dan sopan.Pelayan itu mengangguk, lalu mempersilakan Kinara mengikutinya menuju area privat di sudut restoran. Tempat itu cukup jauh dari meja pelanggan lain dan menghadap langsung ke pemandangan kota yang dipenuhi gemerlap lampu.Di sana, di sebuah meja bundar yang dilapisi kain putih bersih dengan lilin kecil di tengahnya, seorang p
Tangan Kinara yang memegang lembaran dokumen perjodohan itu tampak tenang, tanpa getaran sedikit pun. Pipi kirinya masih terasa panas akibat tamparan sang ayah. Ia sempat menekan lidah ke bagian dalam pipinya, memastikan tidak ada darah yang keluar.Kemudian, ia kembali mengangkat wajah. Sorot matanya tajam, menatap lurus pada pria paruh baya di hadapannya.Tidak ada air mata. Tidak ada pula raut wajah pasrah dari seorang wanita yang sedang dipojokkan.“Jadi, ini alasan Ayah memanggilku pulang dengan terburu-buru?” tanya Kinara dengan suara rendah dan datar.Hendra menyilangkan kedua tangan di dada. Tatapannya masih keras, tetapi matanya sempat turun sekilas pada pipi Kinara yang memerah.Hanya sesaat. Setelah itu, ia kembali memasang wajah seorang kepala keluarga. “Ayah tidak memanggilmu pulang untuk berdebat.”Kinara mengangkat sebelah alis. “Lalu?”“Tuan Adhi adalah pemegang saham utama di grup bisnis besar yang sedang kita incar.” Nada suara Hendra terdengar lebih terkendali. “Dia







