MasukSelene menatapnya kaget. Pandangannya mencari mata Dirian, tapi yang ia temukan hanyalah tatapan gelap campuran antara kecemasan dan sesuatu yang lebih dalam.
“Apa maksudmu?” tanya Selene pelan, suaranya mengandung kegelisahan.
“Aku hanya khawatir,” jawab Dirian datar. “Sepertinya akhir-akhir ini kau jarang menolak dengan alasan datang bulan.”
Selene terdiam. Wajahnya tetap tenang, tapi hatinya mencelos. Pertanyaan itu tidak pernah dia bayangkan akan keluar dari mulut suaminya sendiri.
“Kenapa kau penasaran?” ujarnya, berusaha terdengar ringan.
Dirian menatapnya lama. “Aku hanya tidak ingin terjadi sesuatu padamu.”
Selene menelan ludah, lalu bertanya dengan nada datar, “Apa kau takut aku
Viviene mengatupkan bibir. Ia sudah terbiasa dengan tatapan orang yang menghakimi, tetapi ada sesuatu dalam cara Morvena menatapnya yang membuat tengkuknya terasa dingin.“Dia begitu membencimu,” lanjut Morvena, suaranya tetap tenang namun setiap katanya menghujam, “bahkan ingin membunuhmu. Mencekikmu dengan tangannya sendiri.”Viviene tercekat. Untuk sesaat, wajahnya menegang sebelum ia terkekeh singkat tawa kering yang dipaksakan. “Berlebihan,” katanya. “Dia hanya bocah yang tak tahu apapun.”Morvena menggeleng pelan. “Tidak,” jawabnya lembut, hampir simpatik. “Itu bukan amarah seorang bocah. Itu naluri yang lahir dari luka yang dalam.”Ia memiringkan kepala, menambahkan dengan nada seolah sedang
Selene tidak menjawab, namun genggaman tangannya sudah cukup sebagai jawaban.Sylar terdiam cukup lama setelah Selene menyelesaikan ceritanya. Tangannya masih melingkari cangkir teh yang sudah tak lagi mengepul, namun ia tidak meminumnya. Matanya menatap cairan pucat itu tanpa fokus, seolah di sana tersimpan bayangan-bayangan yang baru saja dipaksakan masuk ke dalam kepalanya, tentang kutukan, penyihir, dan rencana yang terlalu kejam untuk disebut kebetulan.“Sejujurnya…” Sylar akhirnya membuka suara. Kalimat itu terhenti di tenggorokannya, seperti harus melewati lapisan perasaan yang saling bertabrakan. Ia menghela napas, lalu mengangkat wajahnya menatap Selene. “Aku tidak sepenuhnya percaya.”Selene tidak terkejut. Ia hanya menunduk sedikit, jemarinya saling bertaut di atas pangkuan. Reaksi itu justru membuat Sylar merasa semakin tidak e
Mereka baru saja menyelesaikan latihan ketika langkah kaki terdengar mendekat dari arah halaman.Jay masih sempat menarik napas dan berkata, “Baik, itu cukup untuk hari ini—”“PAMAAAN SYLAR!!”Teriakan itu datang bersamaan.Divrio dan Dagny berbalik serempak, mata mereka langsung berbinar saat melihat sosok tinggi yang baru saja memasuki halaman. Tanpa aba-aba, kedua bocah itu berlari secepat yang kaki kecil mereka bisa.“Tunggu—!” Jay refleks mengangkat tangan, tapi sudah terlambat.Sylar bahkan belum sempat sepenuhnya membuka lengannya ketika dua proyektil kecil penuh tenaga itu menubruknya.“Ugh&mdash
Selene terdiam cukup lama.Keheningan itu tidak lagi sekadar sunyi, ia berat, menekan, seperti udara sebelum badai. Pandangannya kosong, seolah pikirannya terseret jauh ke tempat yang bahkan ia sendiri takut untuk datangi. Dirian berdiri di sampingnya, menunggu, memberi ruang, meski dadanya sendiri terasa sesak oleh hal-hal yang tak terucap.Akhirnya, tanpa berkata apa pun, Dirian mengajaknya pergi.Selene mengangguk pelan. Langkah mereka menjauh dari pondok itu terasa lambat, seolah kaki Selene tertambat pada tanah. Ia tidak menoleh ke belakang. Ia takut jika ia melakukannya, air mata yang sejak tadi ia tahan akan runtuh begitu saja.Pintu pondok tertutup.Jay dan Lamina kembali terjebak dalam ruang sempit itu, ditemani cahaya senja yang me
Kata-kata itu membuat Selene refleks menoleh dan membuat jemarinya menegang.Lamina tidak langsung menjawab. Ia menatap Dirian seolah menimbang sesuatu bukan sekadar rencana, melainkan harga yang harus dibayar.“Menyerahkan diri,” katanya akhirnya, “bukan berarti menyerahkan tubuhmu saja.”Ia berdiri, langkahnya pelan mendekati mereka. “Itu berarti kau harus masuk sepenuhnya ke dalam dunia Morvena. Dunia yang dipenuhi kebohongan yang ia bangun sendiri, ketakutan yang tidak pernah ia akui, dan kepercayaan yang… tidak ia berikan pada siapa pun.”Selene menahan napas.“Morvena tidak mencari cinta,” lanjut Lamina, “dia mencari kepastian. Bukti bahwa kau bukan sekadar lelak
Semua orang diam, membeku seolah napas mereka dicabut dari dada masing-masing.Lamina berdiri di tengah keheningan itu, wajahnya pucat, matanya redup oleh kesadaran yang terlambat. Ia mengusap lengannya sendiri, seakan hawa dingin baru saja menyusup hingga ke tulang.“Bulan darah…” ucapnya akhirnya, suaranya rendah dan berat. “Adalah bulan purnama yang berwarna merah.”Ia menelan ludah, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih pelan, seolah takut kata-katanya sendiri. “Setelah aku mengingat kembali… bulan depan adalah waktunya.”Tak ada satu pun yang menyela. Semua mata tertuju padanya.“Dan yang dia maksud dengan menyentuh gunung,” Lamina mengangkat tangannya sedikit, menggambarka







