MasukDivrio mengangguk, meski matanya masih menyimpan kilau keyakinan anak-anak.
“Tapi ayah tetap hebat, kan, Bu?” tanyanya polos.
Selene mengangguk pelan. Kali ini senyumnya lebih tulus, meski matanya berkaca-kaca.
“Iya,” bisiknya. “Ayahmu… selalu hebat.”
Istana kembali sibuk.
Perintah disampaikan dengan cepat, langkah para pelayan dan pengawal saling bersahutan di lorong-lorong batu. Persiapan dilakukan tanpa kemewahan, tidak ada arak-arakan, tidak ada musik kemenangan. Yang ada hanyalah perlengkapan perjalanan, mantel tebal, dan wajah-wajah yang dipenuhi kecemasan.
Selene berdiri di depan jendela sejenak sebelum mengenakan mantel luarnya. Ia menatap l
Selene menurunkan pandangannya, jemarinya melingkar di gagang cangkir teh herbal yang uapnya perlahan memudar. Aroma daun kering dan bunga liar itu seharusnya menenangkan, namun dadanya tetap terasa sesak.“Mungkin karena kita tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada ritual itu,” ucapnya akhirnya, suaranya pelan namun sarat beban. “Tidak ada yang benar-benar menjelaskan bagaimana prosesnya… atau bagaimana Dirian akan menghentikan kutukan itu. Ketidaktahuan ini—” ia berhenti sejenak, menelan ludah, “—membuatku merasa seolah sesuatu yang buruk terus mengintai. Seperti bayangan yang tak mau pergi.”Lamina menatap Selene lama, seolah membaca setiap getar di balik kata-katanya. Tatapannya tenang, tua, namun penuh empati.“Itu wajar, Selene,” katanya lembut. &l
Pagi itu halaman kecil di belakang asrama pelayan terasa hangat oleh cahaya matahari. Aroma teh herbal mengepul lembut dari cangkir-cangkir tanah liat yang dipegang Lamina, Luna, dan Aire. Mereka duduk santai di meja kayu panjang, tidak formal, tidak kaku, seperti orang-orang yang akhirnya bisa bernapas setelah sekian lama.Sig duduk di samping Luna, wajahnya sedikit memerah karena ejekan yang tak henti-henti. Di seberang mereka, Erick berdiri dengan sikap pasrah, sementara Aire tampak tenang, malah sesekali tersenyum kecil.Jay, Ulf, Peter, dan Edward mengelilingi meja itu, suara tawa mereka riuh.“Jadi,” kata Ulf sambil menyeringai, “sekarang kau harus izin dulu kalau mau keluar, ya, Sig?”Peter tertawa. “Bukan izin. Lapor.”
Di atas meja kerjanya yang keras, tubuh Selene tertekuk di bawah desakan Dirian yang tanpa ampun menghujamnya berulang-ulang. Desah dan erangannya menggema liar, memenuhi ruangan, bercampur dengan derit meja yang nyaris tak mampu menahan intensitas gerakan mereka.Mata merah Dirian menatap tajam, penuh nafsu mengunci Selene dalam jerat hasrat yang panas dari tatapan itu menelanjanginya habis, membuat seluruh tubuh Selene bergetar, tahu betul bahwa lelaki ini sepenuhnya menginginkannya, menuntut setiap inci kepuasan.Gaun Selene melorot begitu saja, memperlihatkan dadanya yang montok dan masih kencang, puncak merah muda itu mengeras, menjadi sasaran gigitan dan sentuhan liar Dirian yang lapar. Tangan kekar lelaki itu mencengkeram pinggang Selene erat, menahan tubuhnya agar tetap pasrah di atas meja yang kini penuh noda tinta tumpah, menambah aroma tajam bercampur dengan bau keringat panas mereka.Kertas-kertas dokumen berserakan, tak berarti di bawah lantai
Selene terdiam cukup lama.Semua yang Dirian katakan terdengar terlalu benar, seolah disusun oleh akal yang tidak memberi ruang bagi perasaan. Ia tahu suaminya tidak bertindak ceroboh. Dirian selalu bergerak karena alasan, karena perlindungan, karena kewajiban. Seharusnya itu membuatnya tenang.Namun justru di situlah masalahnya.Di balik kebenaran itu, ada sesuatu yang menolak di dalam dirinya. Sebuah rasa enggan yang tipis namun tajam, seperti duri yang tak terlihat tapi terus menggores. Bukankah seharusnya ia merasa lega? Bukankah ini berarti Dirian memilih bertindak demi mereka?Mengapa hatinya terasa tidak rela?Tatapan Dirian kembali tertuju padanya. Kali ini berbeda lebih dalam dan lebih lama. Tatapan yang membuat Selene merasa s
Udara seketika membeku.Bukan hanya karena suara Dirian, tetapi karena makna di baliknya. Bjorn menelan ludah dengan susah payah, rahangnya mengeras. Erick menunduk lebih dalam, bahunya kaku, seolah satu gerakan salah saja bisa menyeret mereka semua ke dalam amarah itu.Jay berlutut penuh, kepala tertunduk dalam-dalam. Tidak ada pembelaan. Tidak ada alasan.“Saya patuh,” ucapnya lirih, jelas, dan mutlak.Dagny yang lengannya masih dalam cengkeraman ayahnya memberontak kecil, sekuat tenaga anak seusianya. Suaranya meninggi, campuran protes dan kebingungan.“Ayah! Aku cuma—”Dirian berhenti melangkah.Ia menoleh perlahan.
Viviene tertawa patah, serak, dan nyaris seperti suara orang sekarat. Bahunya bergetar, bukan karena dingin, melainkan karena amarah dan kegilaan yang menumpuk terlalu lama.“Kau… kau pikir aku bodoh?” desisnya. “Kau pikir semua ini salahku?”Ia mendongak, menatap Selene dengan mata biru yang dulu selalu dipenuhi iri, kini hanya tersisa kehancuran. “Semua ini karena kau! Karena kau tidak mati! Karena kau kembali!”Jay menggeram, hendak memberi isyarat pada pengawal, namun Selene mengangkat tangannya sedikit.Jay terdiam.“Karena aku hidup?” Selene mengulang pelan, seolah mencicipi kata-kata itu. “Atau kare







