MasukViviene menatap Morvena cukup lama, seolah mencoba membaca sesuatu yang tersembunyi di balik senyum dan ketenangan wanita berambut merah itu. Lalu, perlahan, ia menundukkan wajahnya. Bahunya tampak sedikit jatuh, bukan karena lelah, melainkan karena ada beban lama yang kembali mengendap di dadanya.
Danau di hadapan mereka begitu tenang, terlalu tenang. Permukaannya memantulkan langit senja yang pucat, seakan dunia sedang menahan napas.
Morvena memiringkan kepala, menatap Viviene dengan sorot mata yang lembut namun penuh keyakinan.
“Aku dan Dirian,” ucapnya akhirnya, suaranya rendah dan mantap, “memiliki ikatan yang tidak bisa dilepaskan. Bahkan jika dia mati… aku juga akan mati.”
Kata-kata itu meluncur begitu saja, seolah sebuah kebenaran mutlak yang tak pe
Semua orang diam, membeku seolah napas mereka dicabut dari dada masing-masing.Lamina berdiri di tengah keheningan itu, wajahnya pucat, matanya redup oleh kesadaran yang terlambat. Ia mengusap lengannya sendiri, seakan hawa dingin baru saja menyusup hingga ke tulang.“Bulan darah…” ucapnya akhirnya, suaranya rendah dan berat. “Adalah bulan purnama yang berwarna merah.”Ia menelan ludah, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih pelan, seolah takut kata-katanya sendiri. “Setelah aku mengingat kembali… bulan depan adalah waktunya.”Tak ada satu pun yang menyela. Semua mata tertuju padanya.“Dan yang dia maksud dengan menyentuh gunung,” Lamina mengangkat tangannya sedikit, menggambarka
Lamina membeku.Cangkir di tangannya nyaris terlepas sebelum ia meletakkannya perlahan di atas meja. Jay menoleh dari Lamina ke Dirian, merasakan perubahan suasana meski tidak sepenuhnya mengerti maknanya.Lamina menatap Dirian lama, lebih lama dari yang seharusnya. Ada sesuatu di matanya kejutan, kewaspadaan, dan sedikit… ketakutan.“Dia menyebutkan itu padamu?” tanya Lamina pelan.Dirian mengangguk singkat. “Dia ingin menikah saat bulan darah menyentuh gunung,” katanya. “Dan di danau dengan pantulan bulan.”Keheningan kembali turun, kali ini jauh lebih berat.Lamina menarik napas perlahan, lalu bangkit dari duduknya. Ia melangkah mendeka
Pertanyaan itu jatuh begitu saja, tanpa nada tinggi, tanpa paksaan justru itulah yang membuatnya terasa berat. Morvena berdiri di hadapannya, kali ini lebih dekat. Tidak ada senyum di wajahnya, hanya tatapan lurus yang tajam, seolah ia sedang menagih sebuah janji, bukan sekadar bertanya.Dirian membeku.Lorong itu kembali terasa terlalu sempit. Cahaya obor memantul di dinding batu, membuat bayangan mereka saling bertumpuk, menyatu lalu terpisah lagi. Untuk sesaat, Dirian tidak langsung menjawab. Ia menatap Morvena, lalu mengalihkan pandangan, seolah mencari celah di udara untuk bernapas.“Aku…” suaranya terhenti.Ia menghela napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan, seperti seseorang yang sedang menahan runtuhnya sesuatu di dalam dirinya.
Dirian mematung dengan ucapan itu, diapun berlutut.Ia tidak bergerak, tidak pula berdiri, seolah jika ia mengubah posisi sedikit saja, jarak yang baru saja ia jembatani akan kembali runtuh. Tinggi mereka kini sejajar, bukan sebagai duke dan pewaris, bukan pula sebagai pria dewasa dan dua anak kecil melainkan sebagai seorang ayah yang sedang diadili oleh darah dagingnya sendiri.Di belakang mereka, dua ibu pengasuh berdiri kaku. Mereka saling melirik, menahan napas, sadar betul bahwa apa pun yang terjadi setelah ini bukan lagi wilayah mereka untuk ikut campur."Apa yang membuat kalian marah padaku?" tanya Dirian berhati hati."Ayah akan mmbunuh kami." Jawab Divrio tanpa ragu."Benar!
Mereka melangkah berdampingan menuju ruang makan. Langkah kaki mereka beradu pelan dengan lantai marmer, menghasilkan bunyi yang teratur namun terasa janggal seperti irama yang dipaksakan untuk berjalan seiring. Selene berjalan di sisi Morvena, sementara Viviene sedikit tertinggal di belakang, tatapannya tenang namun penuh perhitungan.Keheningan itu terlalu panjang untuk dibiarkan.Selene akhirnya membuka suara, nadanya lembut namun tajam di ujungnya. “Morvena,” katanya tanpa menoleh, “apakah kau benar-benar mencintai Dirian?”Morvena tersenyum kecil, seakan pertanyaan itu menghiburnya. Ia memiringkan kepala, rambut merahnya berkilau di bawah cahaya lampu. “Apakah kau tidak menyukainya?” balasnya ringan, hampir menggoda.Selene menggeleng pelan.
Selene mengerjap sekali. Hanya sekali, namun cukup untuk menahan gelombang emosi yang tiba-tiba naik ke dadanya. Ia menatap Viviene dengan sorot mata waspada, seolah satu kata yang salah bisa membuat semuanya runtuh.“Apa maksudmu?” tanyanya akhirnya. Suaranya tenang, terlalu tenang, seperti permukaan air sebelum badai.Viviene menyeringai. Senyum itu tidak pernah benar-benar sampai ke matanya.“Aku akan membantumu,” katanya pelan namun penuh keyakinan. “Aku akan memastikan kau tetap berada di posisimu. Di tempat yang aman. Masa depan anak-anakmu akan terjamin.”Selene menatapnya tajam.Viviene berhenti sejenak, lalu menambahkan, “Namun aku membutuhkamu.”







