MasukJay tidak menyahut. Ia hanya berdiri di ambang pintu, menatap Lamina yang perlahan menyingkir dari pandangannya. Perempuan itu melangkah keluar pondok dengan tenang, langkahnya ringan seolah beban dunia tak pernah benar-benar hinggap di pundaknya.
Entah dorongan apa yang membuat Jay mengikutinya.
Di luar, udara pagi terasa lebih hidup. Para prajurit berkumpul tidak jauh dari
Selene akhirnya bangkit dari duduknya. Langkahnya mantap meski kepalanya masih terasa berat oleh berbagai kemungkinan yang berputar di benaknya. Begitu kembali ke koridor utama, ia memanggil Daisy yang kebetulan melintas.“Daisy,” panggil Selene.Daisy segera berhenti dan menunduk hormat. “Nyonya memanggil saya?”“Aku membutuhkan bantuanmu,” ujar Selene tanpa bertele-tele. “Pergilah ke mansion Moreau. Aku ingin kau mengambil beberapa barang milik Viviene.”Daisy terdiam sesaat, jelas terkejut, namun wajahnya segera kembali tenang. “Barang seperti apa, Nyonya?” tanyanya hati-hati.“Apa saja yang masih menyimpan aromanya,” jawab Selene. “Gaun, parfum, selendang apa
Selene mengangguk kecil. “Itulah yang membuatku tidak tenang.”Dirian meraih tangan Selene di atas meja, menggenggamnya dengan mantap. “Kau tidak sendiri memikirkannya,” katanya pelan. “Apa pun yang terjadi, kita akan menghadapinya bersama.”Selene menatapnya, dan untuk pertama kalinya sejak tadi, sorot matanya sedikit melunak. “Terima kasih,” ucapnya lirih.Dirian tersenyum kecil mendengar ucapan Selene tadi. Bukan senyum yang lebar, melainkan senyum tipis yang menyimpan keyakinan bahwa apa pun yang sedang mereka hadapi, mereka tidak berdiri di sisi yang berlawanan. Namun, senyum itu hanya bertahan sesaat.Karena Selene sendiri masih tenggelam jauh di dalam pikirannya.Sepanjang sisa w
Ruang kerja itu cukup sunyi. Api kecil di perapian berderak pelan, menjadi satu-satunya suara yang menemani keheningan. Jay masih berdiri di tempatnya, namun sikapnya kini tidak lagi sekaku sebelumnya. Ada kegelisahan yang jelas terlihat di wajahnya bukan hanya karena tanggung jawab, tetapi karena perasaan yang selama ini ia tekan sendiri.Selene menyandarkan siku di meja, jemarinya saling bertaut. Ia menatap Jay dengan sorot mata yang tajam, namun tidak menghakimi.“Sudah lebih dari tujuh hari,” katanya pelan namun tegas. “Lebih dari tujuh hari juga tanpa kabar. Tanpa pesan. Tanpa jejak.”Jay menunduk sedikit. “Benar, Nyonya.”Selene mengangkat pandangannya, menatap langsung ke arah Jay. “Kau pernah bertemu dengan Rafael?”
Viviene membuka matanya kembali, napasnya tersengal. Air mata masih menggantung di bulu matanya ketika suara langkah kaki terdengar jelas di ruang sempit itu.“Kenapa diam?” Suara lelaki itu terdengar santai, hampir bosan. “Bukankah kau biasanya selalu punya kata-kata tajam, Viviene?”Viviene mengangkat wajahnya perlahan. Matanya merah, tapi tatapannya masih menyimpan sisa-sisa harga diri. “Apa yang kau inginkan dariku…?” suaranya serak. “Uang? Nama? Kekuasaan? Katakan saja. Aku bisa,”Rafael menggerakkan jarinya.Plak.Tamparan itu tidak keras, tapi cukup membuat kepala Viviene terhempas ke samping. Lelaki itu terkekeh pelan. “Lihat?” katanya. “Bahkan sekarang pun ka
Viviene menggigil hebat. Bukan semata karena dingin yang merayap dari lantai batu ke tulang-tulangnya, melainkan karena satu demi satu kepingan pemahaman mulai menyatu di benaknya perlahan, menyakitkan, dan tak terelakkan.Setiap kebingungan yang pernah ia rasakan.Setiap suara yang terdengar familiar namun terasa janggal.Setiap momen ragu yang ia abaikan karena memilih berpikir bahwa dunia tidak sekejam itu.Semua itu bukan kebetulan.Dadanya terasa sesak. Napasnya tertahan di balik kain yang menutup mulutnya, berubah menjadi isakan tercekik. Matanya memanas, air mata jatuh tanpa bisa ia cegah, mengalir di pipinya lalu menetes ke lantai kotor di bawahnya. Ia ingin berteriak, ingin menyangkal, ingin mengatakan bahwa seseorang pasti mencarinya bahwa i
Sven ragu. “Tapi… Kaisar—”“Kaisar bukan Tuhan,” potong Dirian tajam. “Dan aku belum mati.”Ucapan itu membuat udara di sekitar mereka seolah membeku. Erick dan Sig yang berdiri agak jauh sama-sama menahan napas. Mereka tahu kalimat itu bukan sekadar ungkapan emosional itu adalah pernyataan sikap.Dirian melangkah mendekat ke arah Sven. Tidak ada ancaman dalam sikapnya, namun wibawanya membuat Sven otomatis menundukkan kepala lebih dalam.“Jika kau ingin pulang karena rindu kampung halaman, aku akan mengizinkan,” ujar Dirian pelan. “Tapi jika kau pulang karena takut… maka kau seharusnya tidak pernah menjadi utusanku sejak awal.”Sven menggenggam k







