LOGIN“Aku tidak mengatakan ini tanpa alasan, Sylar,” suara Mona bergetar, namun masih berusaha tegas. “Viviene pergi sejak pagi kemarin, tidak memberi kabar, tidak kembali sampai sekarang. Bagaimana jika—”
“Cukup.” Nada Sylar tajam, memotong kata-kata Mona dengan kasar.
Mona terdiam sejenak, namun kegelisahan di dadanya sudah terlanjur me
Sven ragu. “Tapi… Kaisar—”“Kaisar bukan Tuhan,” potong Dirian tajam. “Dan aku belum mati.”Ucapan itu membuat udara di sekitar mereka seolah membeku. Erick dan Sig yang berdiri agak jauh sama-sama menahan napas. Mereka tahu kalimat itu bukan sekadar ungkapan emosional itu adalah pernyataan sikap.Dirian melangkah mendekat ke arah Sven. Tidak ada ancaman dalam sikapnya, namun wibawanya membuat Sven otomatis menundukkan kepala lebih dalam.“Jika kau ingin pulang karena rindu kampung halaman, aku akan mengizinkan,” ujar Dirian pelan. “Tapi jika kau pulang karena takut… maka kau seharusnya tidak pernah menjadi utusanku sejak awal.”Sven menggenggam k
Jay terdiam.Untuk pertama kalinya sejak masuk ke ruangan itu, ia tidak segera menjawab. Napasnya tertahan sesaat, matanya menunduk lalu kembali terangkat, bertemu langsung dengan sorot mata Selene.“Apa pun alasannya,” katanya akhirnya, suaranya terkendali tapi penuh tekanan, “Viviene dalam bahaya. Dan jika saya diam saja, saya tidak akan memaafkan diri saya sendiri.”Keheningan menyelimuti ruangan.Selene memandang Jay lama, rambut basahnya masih meneteskan air kecil ke lantai marmer. Di hadapannya berdiri seorang pria yang terlalu jujur pada tindakannya, meski terus menyangkal isi hatinya sendiri.Selene terdiam sejenak setelah kalimat terakhir Jay menggantung di udara. Ia menatap pria itu dengan sorot
Ruangan seketika senyap.Jay tidak langsung bicara. Pandangannya terkunci pada Rena seorang pelayan yang jelas gugup, namun berdiri di sini, di pondok terpencil ini, membawa pesan yang tidak akan dikirim jika keadaannya sepele.“Masuk,” kata Jay akhirnya singkat.Daisy menutup pintu di belakang mereka. Rena melangkah maju satu langkah, lalu menunduk dalam-dalam, seperti yang sudah dilatih bertahun-tahun.“Bicara,” ujar Jay, suaranya rendah namun tegas. “Apa yang Nyonya Mona katakan padamu?”Rena menelan ludah. “Nyonya Mona… sangat khawatir, Sir. Sejak kemarin pagi Lady Viviene tidak kembali. Tidak ada pesan. Tidak ada kabar. Ini pertama kalinya terjadi.”
Pertanyaan itu jatuh seperti batu ke dalam air tenang.Rena terdiam cukup lama. Kepalanya dipenuhi pertimbangan apa yang boleh ia katakan, apa yang sebaiknya ia sembunyikan. Daisy bukan orang asing, tapi juga bukan seseorang yang bisa ia percaya sepenuhnya. Namun pada akhirnya, kebohongan hanya akan membuat segalanya semakin rumit.Rena menarik napas dalam-dalam, lalu mengangkat wajahnya. “Aku tidak mencarinya atas kehendakku sendiri,” ucapnya pelan, namun kali ini tanpa ragu. “Aku datang ke sini karena diminta oleh Nyonya Mona.”Nama itu membuat Daisy membeku.“Apa?” Daisy menatapnya lekat, keterkejutan jelas terpancar di wajahnya. “Mona?”Rena mengangguk. “Iya. Nyonya Mona yang memintak
Rena terdiam. Jantungnya berdebar kencang. Ia tahu, begitu ia menjawab ya, tidak akan ada jalan kembali. Namun bayangan wajah Viviene yang anggun, dingin, namun rapuh di baliknya muncul di benaknya.Rena mengangkat kepalanya perlahan. “Jika itu untuk menemukan Lady Viviene,” katanya akhirnya, suaranya gemetar namun tegas, “saya akan melakukannya, nyonya.”Mona mengangguk pelan. Untuk pertama kalinya sejak pagi itu, ada secercah ketenangan di wajahnya.“Baik,” katanya. “Kalau begitu… kita mulai sekarang. Bahkan sebelum waktu benar-benar habis.”Rena menatap Mona dengan sorot mata yang bercampur antara gugup dan tekad. Jantungnya masih berdetak cepat, namun kali ini bukan karena ragu melainkan karena keputusan yang baru saja ia
Dirian menyusul Selene hingga ke lorong dalam kastil, tempat cahaya matahari jatuh miring melalui jendela-jendela tinggi.Perempuan itu sedang berbicara dengan Bjorn, suaranya rendah namun penuh wibawa. Setiap kata yang keluar darinya terdengar seperti perintah yang sudah dipikirkan matang. Bjorn menunduk dalam-dalam, bahunya tegang, lalu mengangguk patuh tanpa satu pun bantahan.“Laksanakan,” ujar Selene singkat.Bjorn membungkuk sekali lagi dan berbalik pergi. Namun baru beberapa langkah, Selene seolah merasakan kehadiran lain di belakangnya. Ia menghentikan ucapannya, menoleh dan mendapati Dirian berdiri di sana.Untuk sesaat, Selene terlihat terkejut.“Mengapa kau masih di sini?” tanyanya spontan. “Bukankah






