INICIAR SESIÓNLucien tertawa kecil. “Memangnya menurutmu apa lagi?” Ia bersandar pada meja sambil menyilangkan tangan. “Izin perdagangan resmi membutuhkan kerja sama antar wilayah. Pajak yang besar. Perjanjian yang rumit.”Ia mengangkat bahu santai. “Dan semua itu memakan waktu lama.”Lucien lalu menatap kembali jalur perdagangan di peta. “Jika mereka harus membayar pajak sebesar itu setiap waktu… mereka tidak mungkin bisa mempertahankan jalur sebesar ini.”Jayreth menatap garis merah itu dalam diam.Lucien akhirnya berkata pelan, “Jadi kemungkinan besar…” Ia mengetuk peta sekali lagi. “Mereka menggunakan jalur ilegal.”Keheningan jatuh di ruangan itu. Jayreth masih menatap peta di hadapannya. Namun sekarang tatapannya jauh lebih tajam dari sebelumnya. Karena jika dugaan itu benar maka Kekaisaran Selatan tidak hanya membangun kekayaannya dari perdagangan.Tetapi dari sesuatu yang jauh lebih gelap.Lucien masih menatap peta yang terbentang di atas meja besar itu. Ujung jarinya perlahan mengikuti gar
Keheningan kembali menelan ruangan itu.Tuan Moreau tidak membalas.Ia hanya menunduk sedikit, pandangannya jatuh pada lantai seolah ada sesuatu di sana yang jauh lebih mudah dihadapi daripada mata putranya sendiri.Di ranjang, Mona tetap terbaring tanpa bergerak.Seolah-olah seluruh pertengkaran itu terjadi di dunia yang tidak bisa ia dengar.Dan mungkin… dunia yang jauh lebih tenang daripada kenyataan yang harus dihadapi oleh mereka yang masih terjaga.Pintu ruangan itu akhirnya terbuka.Pelayan yang sejak tadi berdiri di belakang kursi roda Tuan Moreau mendorongnya perlahan keluar dari ruang rawat Mona. Roda kursi itu berdecit pelan di atas lantai marmer yang dingin. Tidak ada kata perpisahan. Tidak ada kalimat penutup.Tuan Moreau hanya pergi begitu saja.Seolah percakapan barusan sudah cukup.Atau mungkin… memang tidak ada lagi yang bisa dikatakan.Pintu itu kemudian tertutup kembali.Klik.Suara kecil itu terdengar sangat jelas di ruangan yang kembali dipenuhi keheningan.Sylar
Pagi datang perlahan di seluruh tempat. Cahaya matahari menembus tirai panjang berwarna gading, menyusup lembut ke dalam ruangan yang dipenuhi aroma obat-obatan dan bunga segar yang setiap hari diganti oleh para pelayan.Ruangan itu sunyi.Hanya terdengar suara jam dinding yang berdetak pelan.Pintu terbuka tanpa suara.Sylar melangkah masuk seperti biasa. Wajahnya tenang, langkahnya terukur seperti seseorang yang telah terlalu lama hidup dengan kebiasaan mengendalikan dirinya sendiri.Setiap pagi, sebelum memulai pekerjaannya, ia selalu datang untuk melihat Mona.Namun langkahnya terhenti.Tatapannya langsung membeku ketika melihat seseorang sudah berada di dalam ruangan itu.Di dekat jendela besar yang menghadap taman, seorang pria tua duduk di kursi roda. Tubuhnya tampak lebih kurus dibanding terakhir kali Sylar melihatnya, namun aura wibawa yang melekat padanya tetap sama seperti dulu.Tuan Moreau.Di belakang kursinya berdiri seorang pelayan dengan sikap hormat, menunggu perintah
Selene menatap Dirian cukup lama setelah kata-kata itu keluar dari mulutnya.Angin malam berhembus pelan, menggerakkan sedikit rambut Selene yang jatuh di sekitar wajahnya. Cahaya kota di bawah mereka memantul lembut di matanya, membuat tatapannya terlihat lebih dalam dari biasanya.“Kau benar-benar takut kehilanganku?” tanyanya akhirnya.Nada suaranya tidak tinggi, tidak pula menuduh hanya pertanyaan yang lahir dari sesuatu yang sudah lama ia simpan.Dirian tidak ragu. “Tentu saja aku takut.”Jawabannya datang cepat. Terlalu cepat untuk seseorang yang biasanya selalu berhati-hati dengan kata-katanya.Selene tidak langsung menanggapi. Ia hanya mengalihkan pandangan ke arah kota yang bersinar di bawah sana.Lalu tanpa sadar sebuah senyum kecil muncul di bibirnya.Bukan senyum bahagia dan bukan juga senyum yang benar-benar pahit. Lebih seperti seseorang yang menemukan ironi dalam sesuatu yang terlalu terlambat untuk diperbaiki.Dirian melihatnya. Ia melihat sudut bibir itu terangkat. Da
Dirian tidak tahu kata apa yang tepat untuk menjawab Selene.Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ia merasa semua kalimat yang ia miliki terdengar tidak cukup.Akhirnya ia hanya menyalakan kembali mesin mobil dan melajukannya pelan.Keheningan kembali turun di antara mereka lebih panjang, lebih berat dari sebelumnya.Lampu-lampu jalan memantul di kaca mobil.Beberapa kali Dirian melirik ke arah Selene.Namun Selene tidak mengatakan apa pun. Ia hanya menatap keluar jendela, memandang kegelapan kota yang perlahan berubah menjadi jalanan sepi. Wajahnya tenang, tapi terlalu tenang seperti seseorang yang sengaja menjauhkan dirinya dari percakapan.Dirian menarik napas pelan.Mobil terus melaju.Hingga akhirnya ia memperlambat kendaraan dan berhenti di depan sebuah rumah kayu besar yang berdiri di tepi hutan. Cahaya hangat dari jendela-jendela rumah itu terlihat samar di antara pepohonan.Dirian mematikan mesin.“Tidak ada jalan untuk mobil ke sana,” katanya sambil menunjuk jalan se
Dirian mengangkat wajahnya perlahan, menatap Selene seolah keputusan itu akhirnya diucapkan setelah bertahun-tahun terpendam.“Hari itu,” katanya pelan, suaranya rendah dan penuh ingatan, “hari ketika kau menggantikan Viviene di pesta dansa topeng kekaisaran.”Selene tercekat.Wajahnya memucat sesaat, lalu matanya melebar.“Kau… kau tahu itu aku?” suaranya hampir tak terdengar, seperti takut jawaban itu benar.Dirian menunduk sedikit, bukan menghindar melainkan seolah memberi hormat pada kenangan itu.“Viviene,” katanya perlahan, “tidak pernah menari setenang dirimu.”Kalimat itu sederhana. Namun bagi Selene, rasanya seperti pintu yang dibuka paksa pada masa lalu yang ingin ia kubur dalam-dalam.Ingatan itu menghantamnya tanpa ampun.Malam itu malam yang dipenuhi cahaya, musik, dan topeng. Malam ketika Viviene pulang dalam keadaan mabuk berat, tertawa terlalu keras di lengan Rafael. Malam ketika Countess Moreau, ibu tirinya, menatap Selene dengan dingin dan berkata bahwa keluarga tida







