INICIAR SESIÓNDirian tidak tahu kata apa yang tepat untuk menjawab Selene.Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ia merasa semua kalimat yang ia miliki terdengar tidak cukup.Akhirnya ia hanya menyalakan kembali mesin mobil dan melajukannya pelan.Keheningan kembali turun di antara mereka lebih panjang, lebih berat dari sebelumnya.Lampu-lampu jalan memantul di kaca mobil.Beberapa kali Dirian melirik ke arah Selene.Namun Selene tidak mengatakan apa pun. Ia hanya menatap keluar jendela, memandang kegelapan kota yang perlahan berubah menjadi jalanan sepi. Wajahnya tenang, tapi terlalu tenang seperti seseorang yang sengaja menjauhkan dirinya dari percakapan.Dirian menarik napas pelan.Mobil terus melaju.Hingga akhirnya ia memperlambat kendaraan dan berhenti di depan sebuah rumah kayu besar yang berdiri di tepi hutan. Cahaya hangat dari jendela-jendela rumah itu terlihat samar di antara pepohonan.Dirian mematikan mesin.“Tidak ada jalan untuk mobil ke sana,” katanya sambil menunjuk jalan se
Dirian mengangkat wajahnya perlahan, menatap Selene seolah keputusan itu akhirnya diucapkan setelah bertahun-tahun terpendam.“Hari itu,” katanya pelan, suaranya rendah dan penuh ingatan, “hari ketika kau menggantikan Viviene di pesta dansa topeng kekaisaran.”Selene tercekat.Wajahnya memucat sesaat, lalu matanya melebar.“Kau… kau tahu itu aku?” suaranya hampir tak terdengar, seperti takut jawaban itu benar.Dirian menunduk sedikit, bukan menghindar melainkan seolah memberi hormat pada kenangan itu.“Viviene,” katanya perlahan, “tidak pernah menari setenang dirimu.”Kalimat itu sederhana. Namun bagi Selene, rasanya seperti pintu yang dibuka paksa pada masa lalu yang ingin ia kubur dalam-dalam.Ingatan itu menghantamnya tanpa ampun.Malam itu malam yang dipenuhi cahaya, musik, dan topeng. Malam ketika Viviene pulang dalam keadaan mabuk berat, tertawa terlalu keras di lengan Rafael. Malam ketika Countess Moreau, ibu tirinya, menatap Selene dengan dingin dan berkata bahwa keluarga tida
Dirian tidak menyahut.Ia tetap diam ketika Selene mengatakan itu dan keheningan itulah yang justru membuka pintu ingatan yang selama ini ia kunci rapat.Bayangan masa lalu datang tanpa izin.Ia teringat Selene yang dulu sering ia abaikan. Terlalu sering. Bahkan saat gadis itu datang ke Mansion Moreau hanya untuk satu alasan: mencari Viviene. Selene berdiri di hadapannya dengan wajah yang memerah, kepala sedikit tertunduk, seolah takut jika tatapannya terlalu lama menetap di wajahnya. Ada sesuatu di mata itu getar halus yang tidak berani meminta, tidak berani berharap.Dan Dirian tahu.Ia selalu tahu.Sejak kecil, ia terbiasa membaca manusia. Reaksi, jeda napas, cara seseorang menahan emosi semua itu adalah bahasa yang ia pahami tanpa perlu diajarkan. Ia tahu Selene memiliki perasaan padanya.Namun saat itu, ada Viviene.Lalu untuk apa gadis kecil itu?Untuk apa perasaan yang tidak ia butuhkan dalam hidupnya?Begitu pikirnya dulu dingin, praktis, kejam tanpa ia sadari.Ia mengejar Viv
Ia menoleh ke arah Sven dan sopir, lalu mengangkat tangan sedikit isyarat yang tidak perlu dijelaskan.“Kalian tidak ikut,” katanya singkat. “Tunggu di sini.”Sven terkejut sesaat. “Yang Mulia—”“Aku menyetir,” potong Dirian tenang namun tidak membuka ruang bantahan.Sopir dan Sven saling berpandangan. Mereka tahu nada itu. Tidak ada perintah kedua.“Baik, Yang Mulia,” ujar Sven akhirnya, menunduk hormat.Dirian membuka pintu mobil sisi pengemudi, lalu berhenti sejenak menoleh ke Selene. “Masuk,” katanya pelan. “Jika kau mau.”Selene menatapnya. Lama. Seolah menimbang bukan soal mobil, melainkan keputusan untuk kembali duduk di samping lelaki itu.Akhirnya, tanpa sepatah kata, ia membuka pintu sisi penumpang dan masuk.Pintu tertutup.Sunyi.Dirian duduk di balik kemudi, menyalakan mesin. Suara mesin memecah keheningan, lalu mobil melaju perlahan meninggalkan halaman rumah sakit.Tidak ada musik dan tidak ada percakapan. Hanya suara jalan dan napas dua orang yang duduk terlalu dekat d
Sylar berdiri beberapa langkah darinya. Ia menyilangkan tangan, lalu melepaskannya lagi, gelisah.“Kak,” katanya akhirnya, suaranya lebih pelan dari sebelumnya, “aku melihat caranya menatapmu. Itu bukan tatapan orang yang sekadar tertarik pada pembicaraan.”Selene menarik napas dalam-dalam. “Kau terlalu peka,” jawabnya, meski suaranya sendiri terdengar lelah. “Tidak semua tatapan memiliki niat.”“Tidak,” sanggah Sylar cepat. “Tidak semua. Tapi tatapan itu aku mengenalnya. Itu tatapan seseorang yang sedang menilai, mempertimbangkan, dan… menunggu.”Selene menoleh. Kali ini ia benar-benar menatap adiknya. “Menunggu apa?”Sylar menggeleng perlahan. “Itulah yang membuatku khawatir. Aku tidak tahu.”Keheningan kembali turun. Mesin di samping Mona berbunyi pelan, stabil ironi yang pahit, karena justru ketidakstabilan terasa begitu nyata di dada mereka.“Kau tahu,” lanjut Sylar, lebih hati-hati, “aku tidak peduli siapa dia, setinggi apa pun kedudukannya. Jika dia hanya urusan bisnis, aku bis
Wanita itu membeku.Kata-kata itu seperti paku yang menancap di dadanya, dingin dan dalam. Ia menelan ludah, jemarinya perlahan mencengkeram lipatan jubahnya sendiri, seolah kain itu satu-satunya penahan agar dirinya tidak runtuh di tempat.“Anda benar-benar menginginkannya?” tanyanya akhirnya. Suaranya nyaris bergetar, meski ia berusaha keras membuatnya terdengar datar.Pertanyaan itu sesungguhnya tidak membutuhkan jawaban. Ia sudah tahu. Dan justru kepastian itulah yang membuat dadanya terasa semakin sempit, napasnya seolah tertahan di antara tulang rusuk.Grand duke tidak menoleh. Tidak juga memperbaiki posisi duduknya. Ia tetap menatap ke luar jendela, ke arah cahaya kota yang perlahan menjauh dan memudar, seolah dunia di luar sana hanyalah latar belakang yang tidak terlalu penting.“Orang-orang seperti dia,” ucapnya perlahan, suaranya tenang namun sarat keyakinan, “tidak bisa diraih dengan paksaan.”Ia berhenti sejenak. Mobil melaju mulus, suara mesin menjadi satu-satunya bunyi y







