로그인Siera tertegun mendengar ucapan terakhir Dior.
Baru saja ia ingin menjawab sesuatu, pria itu sudah lebih dulu keluar dari kamar dan menutup pintu dengan santai di belakangnya. Siera berkedip pelan beberapa kali sebelum akhirnya terkekeh kecil tanpa sadar.
Sepertinya bahkan Dior cukup takut pada reaksi Dregory mengingat apa yang terjadi terakhir kali.
Siera terdiam cukup lama setelah mendengar penjelasan Zelka. Berbagai kemungkinan yang sebelumnya hanya berupa dugaan kini semakin memenuhi pikirannya, membuatnya kesulitan menentukan apa yang seharusnya ia pikirkan terlebih dahulu. “Jika kau mengatakan semua ini kepadaku, aku justru semakin tidak bisa tenang,” ujar Siera akhirnya.Zelka menatapnya tanpa mengubah ekspresinya.“Benar.”Siera mengerutkan kening. Ia berharap Zelka akan mengatakan sesuatu untuk menenangkan dirinya, tetapi wanita itu justru mengakui bahwa penjelasannya memang bisa membuat keadaan semakin mengkhawatirkan.“Kenapa kau bisa mengatakannya dengan begitu tenang?” tanya Siera.“Karena ada sesuatu yang harus kau ketahui sebelum terlambat.”Siera tidak langsung menjawab. Ia menatap Zelka, berusaha memahami apa yang sebenarnya sedang dipikirkan wanita itu. Siera hanya mulai menyadari bahwa persoalan tersebut mungkin jauh lebih rumit daripada yang selama ini ia bayangkan.“Karena kemungkinan ada darah keturunan Witc
Zelka menatap Siera cukup lama. Ada keraguan yang masih tersisa membuatnya belum yakin apakah dugaan yang selama ini disimpannya benar. Namun, setelah melihat berbagai peninggalan Yelena dan mendengar penjelasan Siera mengenai keluarganya, ia merasa sudah saatnya mengungkapkan alasan sebenarnya mengapa ia begitu tertarik pada masa lalu wanita itu.“Aku mengatakan semua ini karena ada kemungkinan kau juga mengulang waktu setelah kematianmu akibat memiliki darah tersebut.”Siera membeku, ia hanya menatap Zelka tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Mia yang berdiri di samping meja pun langsung menoleh dengan wajah terkejut.“Apa?” Siera akhirnya bersuara. “Apa hubungannya darah itu dengan pengulangan waktu?”Zelka tidak langsung menjawab. Ia memahami bahwa perkataannya barusan bukan sesuatu yang mudah diterima, terlebih oleh Siera yang selama ini masih berusaha mencari tahu alasan di balik kematiannya pada kehidupan sebelumnya.Siera mendekat.“Tunggu. Kau mengatakan bahwa ibuku mungkin me
Siera terdiam. Ia menatap Zelka dengan mata membelalak, seolah berusaha memastikan bahwa dirinya tidak salah mendengar perkataan wanita itu.Bagaimana mungkin ibunya memiliki darah yang sama dengan Zelka? Selama ini, ia hanya mengetahui bahwa Yelena berasal dari keluarga bangsawan yang pernah mengalami tragedi besar. Tidak pernah ada seorang pun yang mengatakan bahwa keluarganya memiliki hubungan dengan kaum gipsi, apalagi dengan garis keturunan yang dimiliki Zelka.“Darah yang sama denganmu?” ulang Siera. Kali ini, ia tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.“Bagaimana kau bisa mengatakan hal seperti itu? Apa yang membuatmu berpikir bahwa ibuku memiliki darah yang sama denganmu?”Zelka tidak langsung menjawab. Ia memandangi Siera beberapa saat, seolah sedang mempertimbangkan dari mana ia harus memulai penjelasannya. Mia yang berdiri di samping meja pun menghentikan kegiatannya. Zelka akhirnya mengalihkan pandangan kepada Siera.“Karena aku melihat semua yang ada di sekitarmu. Buka
Dior tidak memberikan tanggapan. Ia kembali mengambil dokumen di atas meja dan membacanya sekilas, seolah pembicaraan mengenai pergerakan pasukan dan kemungkinan pergolakan di kekaisaran telah selesai. Wajahnya tetap dingin, tanpa menunjukkan apakah ia masih memikirkan perkataan Dregory atau justru sudah beralih pada urusan lain.Dregory memperhatikan sikapnya sebentar lalu bangkit dari kursi.“Kalau begitu, aku kembali. Laporannya sudah kuserahkan, dan semua pasukan telah berada di posisi yang ditentukan.”Dior mengangguk singkat.“Baik.”Dregory baru saja hendak berbalik ketika Dior kembali membuka mulut.“Ngomong-ngomong, bagaimana kabar Siera?”Langkah Dregory terhenti. Ia menoleh kepada Dior dengan tatapan yang sedikit berubah, seolah merasa heran karena pria yang sejak tadi sibuk mengurus kekaisaran itu tiba-tiba menanyakan putrinya.“Bukankah seharusnya kau tahu?”Dior menatapnya datar.“Mana mungkin aku tahu?”Dregory menyipitkan mata.“Licik.”Dior mengalihkan pandangan tanpa
Dior tidak menanggapi. Ia meletakkan dokumen yang baru dibacanya, kemudian mengangkat pandangan kepada Dregory. Percakapan ringan mereka berakhir begitu saja, berganti dengan suasana yang jauh lebih serius. Dior sudah mengetahui bahwa Dregory tidak akan datang ke ruang kerjanya tanpa alasan, terlebih ketika ada beberapa persoalan yang sedang mereka persiapkan bersama.“Ada sesuatu yang terjadi?” tanyanya.Dregory mengangguk kecil. Ia tidak langsung menjawab, melainkan menyandarkan tubuhnya pada kursi sebelum mulai berbicara.“Saya sudah mengerahkan seluruh pasukan ke titik-titik yang Yang Mulia tentukan.”Dior menatapnya dengan saksama.“Semuanya?”“Tidak ada satu pun yang tertinggal. Setiap pasukan telah menempati posisi masing-masing, dan para komandan sudah menerima instruksi mengenai tindakan yang harus mereka ambil jika keadaan berubah.”Dior terdiam sesaat. Ia mengambil pena yang tergeletak di atas meja, memutarnya sebentar di antara jari-jarinya, lalu meletakkannya kembali. Waj
Duke Arhad mengerutkan kening.“Bagaimana jika sejak dahulu dia sudah mencurigai bahwa kita memiliki andil dalam keguguran ratu terdahulu dan hilangnya kedudukan wanita itu? Mungkin selama ini dia hanya diam karena tidak memiliki bukti yang cukup untuk membuktikan kecurigaannya.” Lanjut Viola.Suasana di dalam kereta seketika terasa lebih berat.Duke Arhad menatap putrinya tanpa berbicara, ia tidak langsung menyangkal perkataannya. Ia ingin mengatakan bahwa Dregory tidak mungkin mengetahui semuanya, tetapi bayangan sikap pria itu di pelataran istana kembali muncul dalam pikirannya.Dregory tidak terlihat terkejut ketika membicarakan masa lalu. Ia juga tidak tampak seperti seseorang yang sekadar melontarkan tuduhan tanpa memahami persoalan yang sedang dibicarakan. Sebaliknya, ia menyampaikan perkataannya dengan tenang, seolah-olah sedang mengingatkan mereka pada sesuatu yang sudah lama diketahui.Namun, ada satu hal yang membuat Duke Arhad berusaha menenangkan dirinya.“Jika dia memang
Siera meneguk ludah. Ia memang merasa malu karena tertangkap basah, namun ia tetap berdiri tenang, berusaha tidak menunjukkan kegelisahannya.“Maaf… saya tidak bermaksud mendengar pembicaraan Anda berdua.” Siera membungkuk, menjaga sopan santunnya.Saat ia mengangkat kepala, ia bisa melihat pandanga
Suara ketukan pintu membuat Siera tersentak. Ia menoleh ke arah pintu ketika daun pintu terbuka perlahan, dan seorang gadis masuk dengan langkah hati-hati.“Nona…”Siera menatapnya.“Mia…”Wajah Mia terlihat lega, bahkan sedikit senang. “Yang Mulia Duke benar… Anda sudah bangun.”Siera menatap gadis
Siera tahu bukan hanya Erick, Dregory, dan semua orang yang berada di ruangan itu tertegun mendengar ucapan Siera yang tiba-tiba.“Apa… yang kau katakan?” suara Erick terdengar tertahan, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Ia bahkan bangkit dari posisinya.Siera sempat menoleh
“Hah… hah…”Napas Siera memburu setelah berlari tanpa henti. Keringat mengalir di pelipisnya, sementara tangannya mencengkeram pinggir pintu balkon untuk menahan tubuhnya tetap berdiri.Sang ratu kekaisaran itu berusaha memahami apa yang baru saja terjadi. Semuanya terasa begitu cepat… begitu kacau







