LOGINErick tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya berdiri dengan wajah tidak senang, memikirkan percakapannya dengan Siera.Wanita itu benar-benar berbeda. Siera sama sekali tidak goyah ketika menolak masa lalu mereka, seolah kenangan yang menurut Erick begitu berarti tidak lagi memiliki arti baginya.Clarisse yang melihat Erick terus diam akhirnya berkata lebih pelan, "Wanita itu melihat Anda."Tatapan Erick perlahan beralih kepadanya. Sorot matanya menjadi semakin tajam, membuat Clarisse tanpa sadar menegakkan tubuhnya."Lalu apa kau melihatnya?"Pertanyaan itu membuat Clarisse langsung terdiam. Senyum yang sebelumnya masih tersisa di wajahnya lenyap begitu saja. Jemarinya perlahan mengepal di sisi tubuhnya, sementara ia berusaha menyembunyikan kegelisahan yang mulai muncul.Erick melangkah mendekat."Lalu apa kau melihat kehidupan itu?"Clarisse menggigit bibirnya dan terdiam. Pertanyaan itu membuatnya tertekan. Ia tidak pernah melihat kehidupan sebelumnya, hanya mengetahui cerita dari pera
Erick benar-benar tertegun dan Siera bahkan hampir tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Ia tahu Erick sedang mengatakan kebenaran mengenai kehidupan sebelumnya. Namun bagi Dior yang hanya mengetahui kehidupan mereka sekarang, semua itu memang terdengar seperti sesuatu yang tidak masuk akal.Erick mencoba menjelaskan."Saya tidak sedang—""Cukup." Satu kata dari Dior langsung memotongnya.Dior melangkah maju. Tangannya yang sejak tadi berada di sisi tubuhnya terulur dan menarik Siera mendekat. Siera sedikit terkejut. Tubuhnya hampir menabrak dada Dior sebelum lelaki itu menahannya dengan satu tangan.Genggaman Dior langsung mengerat dan Siera menunduk melihat tangan mereka. Jemari Dior mencengkeram tangannya begitu kuat hingga ia bisa merasakan ketegangan dari telapak tangan lelaki itu.Siera perlahan mengangkat wajah.Dior masih menatap Erick dengan wajahnya yang tidak menunjukkan kemarahan. Tidak ada kerutan di dahinya dan tidak ada perubahan ekspresi. Membuat Siera merasa sedikit
Siera menahan napas. Ia tidak ingin mendengar perkataan Erick, bukan karena semuanya salah, tetapi karena sebagian memang benar. Di kehidupan sebelumnya, ia pernah mencintai Erick terlalu dalam, terlalu percaya, dan terlalu sering mengabaikan dirinya sendiri demi hubungan mereka.Namun itu semua sudah berlalu. Siera sekarang bukan lagi wanita yang sama. Ia tidak akan membiarkan Erick mengetahui bahwa perkataannya mengingatkan Siera pada masa lalu. Karena itu, ia hanya memasang wajah bingung."Orang memang bisa berubah," jawabnya tenang."Termasuk perasaan?""Termasuk perasaan."Erick terdiam sejenak sebelum berkata, "Tapi kau tidak bisa menghapus masa lalu.""Aku tidak menghapusnya. Aku hanya tidak mengerti kenapa Anda membicarakannya sekarang.""Karena kita pernah menikah."Siera diam.Erick menatapnya tajam. "Kau tidak ingat?"Siera segera memasang wajah bingung. "Saya hanya tidak mengerti maksud Anda."Erick terus memperhatikannya, seolah sedang mencari tanda bahwa Siera menyembuny
Dior baru saja kembali ke ruangannya ketika ia mendapati Dregory sudah menunggunya. Beberapa pejabat kekaisaran juga berada di sana, duduk di sisi meja panjang dengan sejumlah dokumen yang sudah tersusun rapi di hadapan mereka. Begitu pintu terbuka dan Dior masuk, Dregory langsung bangkit dari tempat duduknya.Dior hanya meliriknya sekilas."Duduk saja, Duke."Dregory kembali duduk. Ia tidak langsung berbicara. Tatapannya tertuju kepada Dior, begitu pula dengan para pejabat lain yang tampaknya sedang menunggu kesempatan untuk menyampaikan sesuatu kepada Kaisar. Ruangan itu hening selama beberapa saat sampai akhirnya Dregory membuka pembicaraan."Apakah Anda sengaja membuat aturan itu?"Dior menatapnya."Aturan apa?""Pengumuman mengenai perempuan yang tidak dapat menjadi pewaris utama keluarga bangsawan."Dior tidak menunjukkan perubahan apa pun di wajahnya. Ia hanya berjalan menuju meja dan mengambil tempat duduk di hadapan mereka."Itu aturan lama," jawabnya tenang. "Bagian hukum ke
Alexis terdiam. Ia tidak langsung membalas perkataan Dior karena untuk beberapa saat, ia benar-benar tidak tahu harus mengatakan apa. Lelaki yang berdiri di hadapannya itu baru saja menjadi Kaisar setelah melewati begitu banyak persoalan, tetapi sekarang justru berbicara tentang menyerahkan tahta seolah kedudukan tersebut tidak pernah menjadi sesuatu yang penting baginya.Dior tetap tenang. "Aku tidak ingin dia menjadi Ratu hanya karena aku mempertahankan tahta." Ucap Dior lagi.Alexis perlahan menurunkan tangannya yang sejak tadi menutupi wajahnya. Ia menatap Dior dengan lebih serius."Dia sudah mengatakan kepadaku bahwa dia tidak ingin menjadi Ratu," lanjut Dior. "Kalau aku tetap menjadi Kaisar, cepat atau lambat dia akan kembali berada di tengah urusan istana. Semua orang akan menganggapnya sebagai calon Ratu dan terus menekannya."Dior berhenti sejenak. Ia tidak terlihat sedang berusaha meyakinkan Alexis. Ia hanya mengatakan apa yang sudah menjadi keputusannya."Aku tidak menging
Dior berada di salah satu ruang pertemuan istana ketika Alexis datang menemuinya. Beberapa pejabat kekaisaran juga masih berada di sana, membahas berbagai urusan pemerintahan yang belum selesai setelah perubahan besar di dalam Kekaisaran. Namun di tengah pembicaraan tersebut, perhatian Dior justru tertuju kepada Alexis."Mengapa kau tidak mau menjadi Kaisar?" Tanya Dior.Alexis yang sedang memeriksa dokumen di tangannya mengangkat wajah."Dan mengapa kau bahkan memilih melepaskan gelar Pangeranmu?"Alexis terdiam sebentar sebelum meletakkan dokumen tersebut di atas meja."Aku hanya ingin hidup sebagai orang biasa."Beberapa orang di ruangan itu saling berpandangan.Alexis melanjutkan dengan santai, "Kalau aku masih memiliki gelar, aku tidak akan bisa menjadi pengembara. Ke mana pun aku pergi, orang-orang akan tetap melihatku sebagai Pangeran. Aku tidak menginginkan itu."Dior tidak langsung menjawab.Ia memahami alasan tersebut, meskipun bagi dirinya keputusan seperti itu tetap terasa
Suara ketukan pintu membuat Siera tersentak. Ia menoleh ke arah pintu ketika daun pintu terbuka perlahan, dan seorang gadis masuk dengan langkah hati-hati.“Nona…”Siera menatapnya.“Mia…”Wajah Mia terlihat lega, bahkan sedikit senang. “Yang Mulia Duke benar… Anda sudah bangun.”Siera menatap gadis
Siera membuka mulut, tetapi kata-kata terasa sulit keluar. Tenggorokannya kering, pikirannya masih kacau oleh apa yang baru saja ia alami.“A-aku…”“Apa karena Putra Mahkota Erick?” potong Dregory tiba-tiba.Nada suaranya rendah, namun justru terasa lebih menekan. Tidak ada kemarahan yang meledak, t
“Hah… hah…”Napas Siera memburu setelah berlari tanpa henti. Keringat mengalir di pelipisnya, sementara tangannya mencengkeram pinggir pintu balkon untuk menahan tubuhnya tetap berdiri.Sang ratu kekaisaran itu berusaha memahami apa yang baru saja terjadi. Semuanya terasa begitu cepat… begitu kacau
Siera meneguk ludah. Ia memang merasa malu karena tertangkap basah, namun ia tetap berdiri tenang, berusaha tidak menunjukkan kegelisahannya.“Maaf… saya tidak bermaksud mendengar pembicaraan Anda berdua.” Siera membungkuk, menjaga sopan santunnya.Saat ia mengangkat kepala, ia bisa melihat pandanga







