LOGINEsoknya...Menjelang petang, Siera telah selesai bersiap. Ia mengenakan gaun biru muda yang dipadukan dengan mantel putih untuk menghangatkan tubuhnya dari dinginnya malam. Rambutnya ditata sederhana dengan jepit perak berbentuk bunga salju, sementara riasannya tampak natural.Mia yang sejak tadi membantunya beberapa kali tersenyum kagum melihat penampilan nona mudanya."Nona benar-benar cantik."Siera hanya tersenyum kecil."Sudah, jangan menggodaku.""Tapi saya tidak sedang menggoda."Mia tertawa pelan."Kalau Yang Mulia Grand Duke muda melihat Nona seperti sekarang, saya yakin beliau akan terus memandang Nona sepanjang malam."Wajah Siera sedikit memerah."Mia.""Baik, baik."Pelayan itu terkekeh sambil membantu memasangkan sarung tangan putih ke tangan Siera.Tak lama kemudian, keduanya turun menuju lantai bawah. Baru saja Siera menginjak anak tangga terakhir, sepasang mata biru langsung tertuju kepadanya. Dregory yang sejak tadi duduk di ruang tamu sambil membaca beberapa dokumen
Malam itu salju turun jauh lebih deras daripada biasanya. Angin musim dingin berembus pelan, membawa butiran-butiran putih yang menutupi halaman kediaman Elvorn hingga seluruh taman tampak berubah menjadi hamparan putih yang sunyi.Di dalam kamar, Siera masih duduk di dekat jendela sambil membaca buku yang bahkan sejak tadi tidak benar-benar ia perhatikan. Pikirannya masih dipenuhi percakapannya dengan Dregory saat makan siang tadi.Entah mengapa, setiap kali ayahnya menyebut nama Dior, wajahnya kembali terasa hangat. Ia menghembuskan napas pelan."Kenapa aku terus memikirkannya..." gumamnya lirih.Baru saja ia hendak menutup buku di pangkuannya ketika terdengar suara ketukan pelan dari arah jendela.Tok.Tok.Tok.Siera mengangkat kepalanya. Jantungnya langsung berdegup lebih cepat. Jangan bilang—Perlahan ia membuka tirai jendela dan benar saja.Dior berdiri di luar balkon dengan mantel hitam panjang yang hampir seluruh bahunya dipenuhi butiran salju. Rambut hitamnya ikut memutih te
Siera tidak menjawab, bgukan karena ia tidak memiliki jawaban. Justru karena terlalu banyak jawaban yang berputar di dalam kepalanya hingga tidak satu pun sanggup keluar dari bibirnya.Tatapan mata biru Dregory masih tertuju kepadanya, menunggu dengan sabar. Sang ayah sama sekali tidak bermaksud mendesak, tetapi justru ketenangan itu membuat Siera semakin gugup.Rona merah yang semula hanya menghiasi kedua pipinya kini perlahan menjalar hingga ke telinga. Jantungnya berdetak begitu cepat. Nama Dior yang keluar dari mulut ayahnya seolah membuat seluruh ketenangan yang selama ini ia bangun runtuh begitu saja.Dregory memperhatikan setiap perubahan kecil itu tanpa berkedip. Semakin lama ia melihat putrinya, semakin yakin pula ia dengan dugaannya. Sementara Siera justru semakin salah tingkah. Ia mengusap pelan ujung rambutnya, mengalihkan pandangan ke mana-mana, bahkan tidak sanggup lagi menatap mata ayahnya."Ayah..." gumamnya pelan sambil memaksakan sebuah senyum kecil. "Kurasa... kita
Siera tidak segera menjawab. Pertanyaan itu datang begitu tiba-tiba hingga membuatnya terdiam beberapa saat. Pandangannya perlahan terangkat menatap wajah ayahnya, mencari sesuatu di balik sorot mata biru yang sejak tadi begitu tenang.Sulit baginya memahami mengapa Dregory tiba-tiba membicarakan pernikahan, padahal selama ini ayahnya tidak pernah sekalipun menyinggung persoalan itu setelah pertunangannya dengan Erick dibatalkan."Ayah..." ucapnya pelan. "Mengapa tiba-tiba menanyakan hal itu?"Dregory tidak segera menjawab. Tatapannya tetap tertuju kepada putrinya, tidak berubah sedikit pun. Wajahnya masih setenang biasanya, tetapi Siera dapat merasakan bahwa ada sesuatu yang sedang dipikirkan pria itu. Sesuatu yang tampaknya cukup berat hingga membuatnya memilih kata-kata dengan sangat hati-hati."Jawab dulu pertanyaanku," katanya akhirnya dengan suara rendah. "Ayah tidak sedang memaksamu mengambil keputusan. Ayah hanya ingin mengetahui apa yang sebenarnya kau inginkan."Mendengar it
Hanya satu nama, tapi cara Dregory mengucapkannya membuat Siera nyaris tertawa."Ayah..." Ia menahan senyumnya. "Mengapa Ayah memanggilnya seperti itu?"Dregory mendengus pelan."Karena memang bajingan." Jawabannya begitu cepat tanpa sedikit pun keraguan.Siera benar-benar tidak mampu menahan senyum kali ini."Ayah." tegurnya pelan. "Itu tidak baik."Dregory justru menatap putrinya dengan wajah yang benar-benar serius."Tidak baik?""Tidak.""Yang tidak baik adalah anak itu."Siera menggeleng pelan, benar-benar tidak tahu harus berkata apa lagi. Entah sejak kapan ayahnya selalu tampak kesal setiap kali nama Dior disebut."Ayah, apa sebenarnya yang dilakukan Yang Mulia Grand Duke muda sampai Ayah begitu membencinya?"Dregory terdiam beberapa detik. Sorot mata birunya tampak sedikit menyipit seolah sedang mengingat sesuatu."Laki-laki itu..." Ia menghembuskan napas pelan. "Terlalu sering muncul di hadapanmu."Jawaban itu membuat Siera kembali mengerutkan alis."Hanya itu?"Dregory langs
Kaisar terdiam, bahkan ia tidak menyangka Dregory akan menjawab dengan kalimat seperti itu. Sementara Duke Elvorn itu tetap duduk dengan tenang."Saya sudah mengatakan, saya akan tetap memberikan dukungan kepada Kekaisaran. Saya akan menjalankan kewajiban saya sebagai Duke. Saya akan melindungi tahta. Saya akan menjaga stabilitas negeri ini."Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan dengan nada yang jauh lebih tegas."Tetapi, jangan ganggu putri saya."Tatapan kedua pria itu kembali bertemu. Kaisar menyandarkan tubuhnya perlahan ke kursi."Kalau begitu..." gumamnya pelan. "Kau ingin aku membiarkan dua kubu lahir di dalam keluarga kekaisaran? Karena kau menarik dukungan dari Erick?"Dregory tidak langsung menjawab. Ia menarik napas panjang, lalu berkata dengan suara yang begitu tenang hingga justru terdengar lebih mengancam."Itu adalah keputusan Yang Mulia. Saya tidak akan ikut campur. Tetapi satu hal tidak akan berubah."Ia memandang lurus ke arah Kaisar."Saya tidak akan menikahkan p
Tatapan lelaki itu tidak bergeser sedikit pun darinya sejak tadi. Tidak terdengar bercanda, tidak pula seperti basa-basi kosong demi menyenangkan hatinya. Dior mengatakannya dengan terlalu tenang hingga justru terasa jauh lebih serius.“Apa maksud Anda?” tanya Siera pelan.Dior bersandar sedikit pad
Setelah mengatakan itu, Siera kembali berjalan dengan cepat. Para pelayan yang berpapasan dengannya buru-buru membungkuk memberi salam, namun Siera bahkan tidak melirik mereka sedikit pun.Pikirannya terlalu kacau untuk memedulikan apa pun sekarang.Dior dihukum.Kalimat itu terus terngiang di kepa
Setelah mengatakan itu, Dior langsung berbalik dan berjalan keluar begitu saja tanpa menoleh lagi. Bel kecil di atas pintu berbunyi pelan saat pria itu keluar dari toko.Sementara Siera hanya bisa berdiri diam memandang punggung tingginya yang semakin menjauh. Beberapa detik kemudian ia akhirnya men
Siera langsung terdiam.Kalimat itu terdengar aneh di telinganya. Sangat aneh. Dan lebih buruknya lagi, cara Dior mengatakannya terdengar terlalu tenang. Namun Siera jelas tahu jika ucapan itu mengandung ejekan halus.Dior sedang mengejeknya.Karena Dregory, ayahnya sendiri seolah jauh lebih mengena







