เข้าสู่ระบบSiera kebingungan mendengar perkataan Zelka. Ia bahkan sempat melirik Mia, tetapi pelayannya itu juga tidak memahami maksud perempuan gipsi tersebut.“Apa maksudmu benang merahku tidak terhubung dengannya? Benang merah apa yang kau bicarakan?” tanya Siera.“Benang merah takdir,” jawab Zelka.Siera menatapnya tanpa berkedip, menunggu penjelasan lebih lanjut. Istilah itu terdengar asing baginya, tetapi melihat keseriusan wajah Zelka, ia tahu perempuan itu tidak sedang membicarakan sesuatu yang sepele.“Setiap manusia yang lahir memiliki benang merah yang akan menuntunnya kepada jodohnya. Benang itu menghubungkan dua orang yang ditakdirkan untuk bersama, meskipun mereka belum pernah bertemu atau bahkan tidak mengetahui keberadaan satu sama lain.”Siera mengernyit. Ia berusaha memahami perkataan tersebut, tetapi semakin lama mendengarnya, semakin banyak pertanyaan yang muncul di kepalanya.“Jadi, maksudmu dia bukan jodohku?”Zelka menatapnya lurus-lurus.“Benar.”Siera mengembuskan napas
Dior terdiam setelah mendengar perkataan Siera, tangannya masih menggenggam tangan Siera dengan erat. Ia tidak segera menjawab, seolah sedang memikirkan sesuatu yang menurutnya perlu dipastikan terlebih dahulu.Siera memperhatikan wajahnya, lalu menghela napas pelan.“Dalam hubungan ini, bukan hanya kau yang terlibat, Dior.”Pria itu mengalihkan pandangannya sedikit untuk menatapnya lebih saksama.“Apa maksudmu?”“Maksudku, kau tidak bisa memutuskan semuanya hanya berdasarkan apa yang menurutmu baik untukku. Kau mungkin tidak menganggap dirimu sebagai kelemahanku, tetapi aku juga punya hak untuk mengkhawatirkanmu. Aku tidak ingin kau terus-menerus berpikir bahwa mengorbankan dirimu sendiri adalah pilihan terbaik selama aku bisa selamat.”Dior tidak menyela.“Kalau kita ingin bersama, bukankah seharusnya kita memikirkan satu sama lain?”Dior tidak menjawab, ia hanya menatap Siera dengan wajah datarnya yang biasa."Bukankah itu yang terpenting dalam hubungan?"“Jadi, kau mencintaiku?”S
Siera mengangkat wajahnya dan menatap Dior dengan tenang.“Aku sudah berjanji akan menjelaskan semuanya dengan baik kepada Ayah. Jadi, kemungkinan besar aku akan diizinkan pergi.”Dior tidak langsung menjawab, dia tengah menimbang.“Tempat itu bahkan belum bisa disebut sebagai wilayah yang layak dikunjungi. Saat ini, tempat itu hanya antah berantah. Pergi ke sana sama saja dengan mencari mati.”Siera berkedip, tetapi tidak menunjukkan tanda-tanda gentar.“Lalu?”Dior mengalihkan pandangannya sedikit untuk menatapnya lebih saksama.“Kau tidak takut?”“Ada kau. Apa yang harus aku takutkan?”Jawaban itu keluar begitu saja dari mulut Siera, tanpa keraguan sedikit pun. Ia bahkan tersenyum tipis setelah mengatakannya, seolah keberadaan Dior di sisinya sudah cukup untuk menjawab segala kekhawatiran yang mungkin muncul selama perjalanan nanti.Dior tidak memberikan tanggapan. Wajahnya tetap dingin, tanpa perubahan ekspresi yang berarti. Namun, tangan yang sejak tadi menggenggam tangan Siera p
Siera akhirnya memilih untuk tidak melanjutkan perdebatan mereka. Percuma saja berusaha membujuk Dior ketika pria itu sudah menetapkan sesuatu sebagai batasan yang tidak boleh dilanggar. Ia hanya akan berakhir kehabisan kata-kata, sementara Dior tetap duduk dengan wajah datarnya seolah tidak terjadi apa-apa.Siera menyandarkan tubuhnya ke sofa, masih menggenggam tangan Dior. Ia baru saja hendak menikmati waktu berdua mereka ketika pria itu tiba-tiba membuka mulut.“Kalau begitu, sekarang aku akan membicarakan sesuatu yang serius.”Siera menoleh kepadanya.“Memangnya apa yang serius dan ingin kau bicarakan?”“Perjalanan ke utara. Ke tempat yang disebutkan wanita itu.”Siera langsung memahami siapa yang dimaksud Dior. Namun, alih-alih segera menjawab, ia justru menyeringai kecil, lalu mengangkat alis ke arah pria itu.“Dia punya nama, Dior. Zelka.”Dior menatapnya tanpa ekspresi.“Ada batasan antara laki-laki dan perempuan.”Siera mengernyit. Ia tidak menyangka percakapan yang semula me
Dior terdiam dan menatap Siera yang masih berada begitu dekat dengannya. Ia tidak segera menjawab, bukan karena sedang berusaha menyembunyikan rasa malu atau menahan debaran jantungnya, melainkan karena permintaan wanita itu sama sekali tidak pernah masuk dalam perkiraannya.Siera justru semakin senang melihat Dior terdiam. Ia memiringkan kepala sedikit, menunggu pria itu memberikan jawaban. Selama ini, Dior selalu menerima permintaannya selama tidak ada alasan yang menurutnya perlu ditolak. Karena itulah, Siera cukup yakin bahwa kali ini pun ia akan mendapatkan jawaban yang diinginkannya.“Bagaimana?” tanyanya dengan senyum menggoda. “Kau keberatan dengan syarat itu?”“Ya.”Senyum Siera langsung membeku. Ia berkedip beberapa kali, seolah tidak yakin telah mendengar jawaban yang benar.“Apa?”“Aku menolak.”Dior mengatakannya dengan nada datar. Tidak ada keraguan dalam suaranya, tidak pula perubahan berarti pada wajahnya. Setelah memberikan jawaban tersebut, ia bahkan kembali menyanda
Siera terdiam, menatap Dior yang masih menggenggam tangannya dengan wajah datar. Ia tidak menemukan tanda bahwa pria itu sedang menggodanya. Dior justru bersikap seolah baru saja mengatakan sesuatu yang biasa, padahal perkataannya berhasil membuat jantung Siera berdegup lebih cepat.“Dior...” Siera akhirnya bersuara, tetapi namanya terdengar lebih seperti keluhan daripada teguran.“Ya?”“Kau...” Siera berhenti sejenak, lalu mengerutkan kening. “Kau tidak boleh mengatakan hal seperti itu secara tiba-tiba.”Dior memiringkan kepala sedikit.“Mengapa?”“Karena...” Siera membuka mulut, tetapi tidak menemukan jawaban yang tepat. Ia tentu tidak mungkin mengatakan bahwa kalimat tadi membuatnya malu setengah mati. Itu hanya akan memberinya alasan untuk kembali mengatakan sesuatu yang lebih memalukan.Siera akhirnya memalingkan wajah.“Pokoknya, jangan mengatakannya sembarangan.”“Aku tidak mengatakannya sembarangan.”Jawaban itu datang begitu cepat hingga Siera kembali menoleh kepadanya. Dior m
Siera tahu bukan hanya Erick, Dregory, dan semua orang yang berada di ruangan itu tertegun mendengar ucapan Siera yang tiba-tiba.“Apa… yang kau katakan?” suara Erick terdengar tertahan, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Ia bahkan bangkit dari posisinya.Siera sempat menoleh
Siera meneguk ludah. Ia memang merasa malu karena tertangkap basah, namun ia tetap berdiri tenang, berusaha tidak menunjukkan kegelisahannya.“Maaf… saya tidak bermaksud mendengar pembicaraan Anda berdua.” Siera membungkuk, menjaga sopan santunnya.Saat ia mengangkat kepala, ia bisa melihat pandanga
Suara ketukan pintu membuat Siera tersentak. Ia menoleh ke arah pintu ketika daun pintu terbuka perlahan, dan seorang gadis masuk dengan langkah hati-hati.“Nona…”Siera menatapnya.“Mia…”Wajah Mia terlihat lega, bahkan sedikit senang. “Yang Mulia Duke benar… Anda sudah bangun.”Siera menatap gadis
Siera membuka mulut, tetapi kata-kata terasa sulit keluar. Tenggorokannya kering, pikirannya masih kacau oleh apa yang baru saja ia alami.“A-aku…”“Apa karena Putra Mahkota Erick?” potong Dregory tiba-tiba.Nada suaranya rendah, namun justru terasa lebih menekan. Tidak ada kemarahan yang meledak, t







