LOGINMenerima panah di kepala demi melindungi tunangannya sang Putra Mahkota, lalu mengangkat orang kepercayaannya dari jalanan menjadi prajurit Kekaisaran, Xiao Hua justru dikhianati oleh keduanya. Demi menyelamatkan kakak tiri Xiao Hua, si wanita tercantik di Ibu Kota, mereka bekerja sama mengubah dekrit pernikahan Xiao Hua agar dialihkan kepada Pangeran Adipati Besar Kekaisaran, Qin Mingze, sosok bengis melebihi iblis yang dirumorkan mandi dan minum dengan darah istrinya di malam pertama. "Sempurna. Jika pria itu adalah kematian, maka aku racunnya. Lebih baik menikahi kematian daripada bersama seseorang yang membuatmu ingin mati."
View More"Aku mencintai wanita lain. Oleh karena itu, aku tidak mungkin menikahimu."
Napas Xiao Hua tertahan mendengar tunangannya, sang putra mahkota, mengucapkan kalimat itu dengan gamblang.
Malam ini adalah perayaan ulang tahun Kekaisaran Qin ke-99. Sesuai rencana, seharusnya dekrit pernikahan mereka turun malam ini. Karenanya, saat Xiao Hua mendapatkan kabar bahwa Qin Tianyao, putra mahkota kerajaan Qin, tersebut tengah menunggunya di halaman, Xiao Hua merasa senang.
Berpikir bahwa pria itu tengah mempersiapkan kejutan sebagai bentuk perayaan hubungan mereka.
Ia sama sekali tidak menyangka kalau kejutan yang dimaksud … ternyata sepahit ini.
“Siapa…?” Akhirnya Xiao Hua mampu bertanya. Suaranya terdengar gemetar, sementara tangannya meremas hanfu erat-erat.
“Xiao Lin,” jawab Qin Tianyao datar.
Sepasang mata Xiao Hua membola. “Kakakku?” sahutnya. “Tapi, kakakku sudah bertunangan–”
"Aku sudah menidurinya," potong Qin Tianyao. Nada suaranya dingin. “Dia wanitaku sekarang.”
Deg!
Informasi ini lebih menyakitkan dibandingkan dibanding pernyataan cinta tadi.
Xiao Hua … sangat mencintai pria ini. Sejak kecil, dirinya sudah jatuh hati pada putra mahkota yang waktu itu datang ke kediaman perdana menteri. Itu cukup untuk membuat Xiao Hua mempertaruhkan nyawanya untuk melindungi Qin Tianyao yang nyaris celaka. Gadis itu bahkan sampai koma selama tiga minggu sebelum akhirnya dapat secara ajaib selamat.
Karena jasanya, Xiao Hua kemudian dianugerahi pertunangan dengan putra mahkota. Qin Tianyao pun tampak tidak menolak dan menyayanginya. Tapi–
“Lagipula, bukankah kamu sendiri cuma putri selir? Beraninya kamu bermimpi menjadi permaisuriku.” Suara Qin Tianyao kembali terdengar. “Kebaikanku sendiri ada batasnya.”
Xiao Hua tertegun. Ditatapnya sang putra mahkota dengan mata yang terasa panas.
Itu benar. Ia adalah putri dari Perdana Menteri Xiao dan selirnya, sementara kakaknya, Xiao Lin, adalah putri istri sah. Namun, apakah alasan itu membuat orang dengan bebas mengkerdilkan perasaannya?
Tiba-tiba, suara tawa manis terdengar dari balik tembok tinggi istana, membuat Xiao Hua ikut melirik cepat ke sumber suara.
"Yang Mulia, Anda jahat sekali. Adikku sampai mau menangis."
Xiao Lin muncul, mendekati Qin Tianyao, lalu memeluk lengan pria itu. Dadanya menghimpit lengan pria itu.
Tatapan Xiao Hua bertemu dengan milik Xiao Lin, membuat sang kakak terkekeh pelan.
"Adik, jangan menangis. Salahmu sendiri dilahirkan dari seorang selir,” ucap Xiao Lin manis. “Selain itu, Adik, lain kali mungkin kau harus lebih memperhatikan diri. Pria tidak suka wanita yang terlalu menggurui seperti dirimu.”
Xiao Hua berusaha mengatur ketenangannya. Matanya tampak berkilat karena air mata, tapi tetesnya tidak jatuh.
Gadis itu justru balas menatap kakaknya dengan tatapan tajam.
"Apakah kemudian pria menyukai wanita yang terang-terangan menggoda pria milik perempuan lain seperti Kakak?”
XIao Lin mengangkat alisnya, lalu tertawa. “Putra Mahkota bukan milikmu,” ucapnya kemudian. “Hanya karena mendiang Ibu Suri menghadiahimu pertunangan dengan Putra Mahkota, bukan berarti dia mencintaimu.“
“Tapi kita punya aturan.” Xiao Hua membantah. “Kakak sendiri sudah punya tunangan. Pangeran Adipati—"
"Ah. Pria iblis sialan itu?" potong Xiao Lin sinis. "Menikahinya sama saja dengan bunuh diri. Oh! Atau,” Sang kakak tersenyum manis. “Kenapa bukan kau saja yang menikahinya? Jadi kita bertukar.”
Ekspresi Xiao Hua mengeras. “Apa?”
“Tidak perlu cemas, kalau kau mati, kami pasti mengunjungi makammu."
Entah dorongan kekuatan dari mana, tangan Xiao Hua terangkat, bersiap menampar Xiao Lin.
Namun, sebelum tamparannya mendarat di pipi wanita itu—
Tap!
Sebuah tangan besar menahannya. Xiao Hua tertegun melihat seorang pria bertubuh tinggi besar tengah menatapnya dingin.
"Jangan sakiti Nona Pertama Xiao," ucap pria itu. “Anda tidak pantas menyentuhnya.”
Mata Xiao Hua membelalak merah mendengar kalimat tak masuk akal dari mulut pria itu.
Sosok itu adalah Dawei, orang kepercayaannya.
Pria yang dulunya anak jalanan rendahan yang ia bantu hingga menjadi prajurit inti Kekaisaran.
Dan … pria itu justru membela kakaknya?
“Putri!”Pekikan cemas itu lolos begitu Wanwan berlari masuk ke kamar begitu Qin Mingze pergi. Matanya basah berlinang air mata persis seperti anak kecil yang ketakutan.Xiao Hua segera mendekat dan mengusap sisa air mata di pipi pelayannya dengan lembut. “Kau baik-baik saja? Ada apa?”Wanwan menggeleng kuat sambil terisak. “Saya hanya mencemaskan Putri….”Xiao Hua tersenyum tipis melihat kesetiaan gadis itu, lalu mengetuk dahi Wanwan pelan. “Ayo, bantu aku berganti pakaian.”Wanwan mengangguk patuh. Dengan cekatan, ia membantu majikannya melepaskan hanfu pengantin berlumuran darah itu dan menggantinya dengan jubah tidur bersih.Malam ini penuh kejutan, batin Xiao Hua sambil menatap pantulan dirinya di cermin perunggu.Saat sedang menyisir rambut panjang Xiao Hua, Wanwan kembali membuka suara dengan nada penasaran. “Putri, Nona Feiluan tadi membantu saya merawat luka baik sekali.”Pelayan muda itu melanjutkan si
“Ah…”Ringisan pelan itu lolos dari bibir Xiao Hua saat jari tabib wanita mengolesi salep obat ke leher jenjangnya. Kulit putihnya tampak memerah karena sempat tergores bilah pedang pembunuh beberapa saat lalu.Perih juga saat terkena salep, batin Xiao Hua sambil menahan napas sejenak.Meski rasa perih menyengat kulitnya, Xiao Hua tetap mempertahankan postur duduk tegap dan elegan dengan sempurna di atas kursi. Di seberangnya, Qin Mingze duduk acuh tak acuh sambil menatap datar ke arah cangkir teh di tangannya.“Yang Mulia, bagaimana dengan—”Baru saja Xiao Hua hendak bertanya mengenai nasib pelayannya, pria di hadapannya langsung memotong tanpa basa-basi.“Pelayanmu diurus Feiluan, salah satu orang kepercayaanku selain Bai Shu,” ucap Qin Mingze datar.Xiao Hua tertegun sejenak mendengar jawaban cepat itu, sebelum segera menundukkan kepalanya dengan sopan.“Terima kasih banyak, Yang Mulia,” balas Xiao Hua lembut
"Ke mana pria tadi?" Wanwan berbisik heran saat mengintip dari balik celah pintu. Pelayan muda itu menyadari Bai Shu sudah tidak lagi berjaga di luar kamar mereka sejak beberapa menit yang lalu. Di tepi ranjang, Xiao Hua berdiri perlahan. Tanpa ragu, ia meraih dan melepas tudung pengantin merah yang menghalangi pandangannya dengan sikap acuh. "Semakin sedikit yang kita tahu, maka semakin baik," ucap wanita itu tenang. Ia meletakkan kain merah berbordir emas itu begitu saja. Xiao Hua lalu melangkah santai menuju meja bundar di tengah ruangan dan mengambil sepotong kue kering. "Nona, tudungnya!" pekik Wanwan panik, takut seseorang tiba-tiba melihat mereka melanggar aturan sakral tersebut. Xiao Hua mengangkat kedua bahunya acuh. "Hanya ada kita di sini. Siapa yang mau bekerja pada putri yang akan mati?" ucapnya asal, sengaja meledek pelayannya sendiri. Wanwan mengerucutkan bibirnya kesal. "Nona!" Xiao Hua tersenyum tipis. Ia mendorong piring kue kering itu mendekat ke ara
“Nona, apa Anda mendengarnya?” bisik Wanwan cemas sambil menyingkap sedikit tirai jendela tandu. “Bagaimana… jika kita kabur saja sekarang?”Di dalam tandu, Xiao Hua duduk tenang mengunyah kue kering dari bekal perjalanan mereka. Ia menelan makanannya perlahan, lalu menggeleng singkat.“Sudah terlambat,” balas Xiao Hua tenang. “Lagi pula, baik di kediaman Xiao atau Qin, tidak ada bedanya. Kita sama-sama harus bertahan hidup, kan?”Wanwan tertegun sejenak, lalu kembali cemberut karena majikannya lagi-lagi menolak idenya. Tak lama kemudian, laju iring-iringan itu melambat hingga berhenti tepat di depan gerbang megah sebuah kediaman besar.“Nona, kita sudah tiba,” ucap Wanwan dari balik tirai.Xiao Hua mengangguk pelan, lalu memperbaiki postur duduknya agar tampak tegak. Sesuai tradisi, pengantin wanita pantang membuka pintu tandu sendiri sebelum pengantin pria membukanya, atau hal itu akan dianggap membawa sial.Namun, waktu terus berlalu tanpa ada tanda-tanda pergerakan dari luar.“Lam












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.