FAZER LOGINBegitu Hans meninggalkan ruangan, Alaric menoleh ke arah tabib tua yang sedari tadi hanya diam dengan tangan gemetar.“Tabib, mendekatlah,” perintah Alaric.Pria tua itu melangkah maju. “Hamba mendengarkan, My Lord.”“Aku butuh sesuatu yang bisa menipu mata dunia, termasuk mata Silas yang tajam,” Alaric menatap mata tabib itu dengan serius.“Buatkan ramuan yang bisa memberikan efek kematian sementara. Aku ingin sebuah ekstrak yang bisa membuat mulut Aurelia berbusa dan detak jantungnya melemah hingga nyaris tidak terasa oleh jari manusia biasa.”Tabib itu terbelalak. “My Lord, itu sangat berisiko. Jika dosisnya sedikit saja berlebih, Duchess benar-benar tidak akan bangun lagi.”“Kau adalah tabib terbaik di Utara. Jika kau gagal, maka kau akan menyusulnya ke liang lahat,” ancam Alaric tanpa keraguan.“Besok, Silas pasti akan datang untuk melihat eksekusi. Aku akan melakukan 'eksekusi' itu dengan racun di depan matanya. Setelah dia melihat Aurelia tumbang dan berbusa, dia akan yakin bah
Sementara itu, di sebuah sudut gelap Ibukota, sekelompok pria berpakaian hitam mulai menyiapkan perlengkapan mereka.Mereka adalah “The Vultures”, mata-mata elit yang hanya setia pada perintah langsung Raja.Mereka bergerak tanpa suara, menghilang ke dalam kegelapan malam menuju utara, menuju Valen.Di Kastil Valen, ketegangan yang sama mulai merayap. Alaric berdiri di menara tertinggi, menatap kegelapan hutan di perbatasan.Ia tahu bahwa Silas tidak akan diam saja. Ia tahu bahwa setiap embusan angin di kastilnya kini mungkin membawa telinga mata-mata.“Mereka akan datang,” gumam Alaric pada dirinya sendiri. Sementara tangannya menggenggam liontin perak milik ayahnya erat-alih.Aurelia kini berada di dalam sel bawah tanah yang telah disiapkan khusus. Sel itu tampak mengerikan dari luar, begitu lembab, bau, dan gelap.Namun, di balik jeruji yang kaku itu, Alaric telah memasang mekanisme rahasia. Di balik dinding batu yang dingin, terdapat sebuah ruang kecil yang hangat dengan persediaa
Gema langkah kaki yang terburu-buru memecah keheningan aula besar di Ibukota.Lord Silas berjalan dengan kepala tertunduk, keringat dingin membasahi tengkuknya saat ia mendekati singgasana emas tempat Raja Richard duduk dengan wajah yang merah padam.Di tangan sang Raja, sebuah laporan tertulis telah diremas hingga tak berbentuk lagi.“Kau kembali tanpa kepalanya, Silas?” suara Raja Richard terdengar rendah, namun mengandung getaran kemarahan yang bisa meledak kapan saja.Silas segera menjatuhkan dirinya, lalu bersujud hingga dahi menyentuh lantai marmer yang dingin.“Ampun, Baginda! Hamba sudah mencoba untuk membawanya, namun Duke Alaric menghadang dengan hukum kedaulatan wilayah Utara. Dia bersumpah bahwa dia sendiri yang akan mengeksekusi wanita itu karena merasa telah dikhianati oleh identitas palsunya.”“Dan kau mempercayainya?!” Raja Richard bangkit dari singgasananya, suaranya kini menggelegar memenuhi ruangan.“Alaric Valen adalah rubah yang paling licik di seluruh kerajaan in
Alaric terdiam sejenak. Ia menarik napas panjang, paru-parunya terasa sesak oleh kebenaran yang baru saja ia genggam.Dengan gerakan perlahan, ia merogoh saku jubahnya dan mengeluarkan liontin perak milik ayahnya. Logam itu berkilau muram di bawah cahaya lilin.“Aku juga baru mengetahuinya secara pasti pagi ini, Aurelia,” ujar Alaric sambil menyerahkan liontin itu. “Nenek Isolde memberikannya padaku. Di dalamnya ada catatan rahasia yang disimpan ayahku selama puluhan tahun.”Aurelia menerima liontin itu dengan tangan gemetar. Ia membukanya, melihat secarik kertas kecil yang berisi detail kelahirannya. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya tumpah, membasahi pipinya yang pucat.“Kenapa ayahmu tidak memberitahumu sejak awal?” tanya Aurelia lirih.“Mungkin karena saat itu aku masih terlalu kecil untuk memikul rahasia sebesar ini. Ayahku hanya memerintahkanku satu hal sebelum pembantaian itu terjadi: lindungi Aurelia, apa pun yang terjadi.“Dia tidak mengatakan kau siapa, dia hanya bi
Alaric meludah ke samping dengan wajah mengeras. “Jika aku tahu dia membawa kutukan pangeran itu, aku sudah membakarnya hidup-hidup di pasar budak tempat aku menemukannya!“Dia bersumpah padaku bahwa dia hanya yatim piatu tanpa asal-usul. Sampaikan pada Raja, bahwa Duke Valen tidak akan membiarkan penipu ini lolos begitu saja. Aku bersumpah akan memberikan hukuman paling berat padanya di penjara bawah tanahku sendiri!”Silas melangkah maju, mencoba mengambil alih kendali. “Tetap saja, Raja menginginkan dia di istana—”“Dengarkan aku, Lord Silas!” potong Alaric dengan suara yang menggelegar penuh otoritas. Ia lalu melangkah mendekati Silas hingga ujung pedangnya menyentuh leher sang inspektur.“Berdasarkan Hukum Otonomi wilayah Utara, seorang Duke memiliki hak absolut untuk mengadili siapa pun yang melakukan pengkhianatan atau penipuan di dalam wilayah hukumnya.“Dia adalah istriku secara sah menurut gereja, maka secara hukum, dia adalah urusanku. Jika kau membawanya sekarang, kau mela
“Masuk ke kamarmu dan jangan keluar sampai aku memerintahkannya!” gertak Alaric saat mereka tiba di depan tangga utama.Aurelia nyaris melangkah, namun suara dehaman yang kering dan tajam dari arah belakang menghentikan gerakannya. Lord Silas berdiri di tengah aula, melipat tangannya di balik punggung dengan ekspresi yang sangat puas.“Jangan terburu-buru, Duke Valen,” ujar Silas, suaranya tenang namun mengandung ancaman.“Istrimu, atau haruskah aku menyebutnya subjek hukum Kerajaan harus tetap di sini. Ada sesuatu yang perlu kalian berdua lihat. Sesuatu yang kami bawa langsung dari arsip rahasia Ibukota.”Silas memberi isyarat kepada seorang ajudannya. Sebuah kotak kayu kecil dibuka, dan Silas mengeluarkan sebuah gulungan perkamen tua yang tepiannya sudah mulai rapuh.Ia berjalan perlahan ke arah Alaric dan Aurelia, lalu membentangkan perkamen itu tepat di hadapan mereka.“Alaric Valen,” Silas menyebut nama itu dengan nada mengejek.“Kau berbohong pada Raja saat kau datang ke istana







