Início / Zaman Kuno / Duke Kejam itu Suamiku / Bab 182. Pesta Musim Semi dan Kado Rakyat

Compartilhar

Bab 182. Pesta Musim Semi dan Kado Rakyat

last update Data de publicação: 2026-04-18 00:54:50

Satu tahun telah berlalu sejak dentang sebelas kali mengguncang malam di Kastil Valen. Kini, aula utama yang biasanya digunakan untuk jamuan militer yang kaku telah berubah menjadi labirin warna-warni.

Berdasarkan tradisi kuno yang dihidupkan kembali oleh Aurelia, rakyat jelata dari seluruh pelosok Utara dan Selatan diizinkan mengirimkan upeti berupa kado buatan tangan untuk sang Serigala Kecil.

Tidak ada emas atau permata di sini; hanya ada tumpukan kasih sayang yang tulus dalam bentuk benda-b
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Duke Kejam itu Suamiku   Bab 193. Kebahagiaan Keluarga Valen

    Aula makan di Kastil Valen malam itu terasa begitu hangat, jauh dari kesan dingin yang biasanya melekat pada dinding-dinding batu besar peninggalan masa lalu.Lilin-lilin perak menyala dengan tenang di tengah meja, menyinari piring-piring porselen yang menyajikan daging rusa panggang hasil buruan Laurent. Aroma rempah dan lemak yang gurih memenuhi ruangan, menciptakan suasana yang intim bagi keluarga kecil itu.Aurelia memotong daging di piringnya dengan gerakan anggun, lalu menatap Laurent yang duduk tegak di hadapannya.“Daging ini sangat empuk, Laurent. Aku masih tidak percaya anakku yang baru berusia sembilan tahun sudah bisa menjatuhkan rusa jantan sebesar itu dengan satu anak panah. Kau benar-benar cepat tanggap dalam menyerap ilmu ayahmu.”“Aku hanya mengingat pesan Papa tentang menahan napas, Ma,” sahut Laurent dengan nada rendah hati, meski binar kebanggaan sulit disembunyikan dari matanya yang tajam.“Bukan hanya cepat tanggap,” sela Elara yang duduk di samping kakaknya.Gad

  • Duke Kejam itu Suamiku   Bab 192. Pelajaran Pertama untuk Laurent

    Udara pagi di Hutan Valen terasa tajam dan bersih, membawa aroma pinus yang basah serta tanah yang lembap. Sinar matahari menerobos di sela-sela kanopi pepohonan yang rimbun, menciptakan kolom-kolom cahaya yang jatuh tepat di atas rumput tinggi.Di balik semak-semak lebat, dua sosok berdiri dengan keheningan yang absolut. Alaric, yang kini tampak lebih matang dengan beberapa helai uban tipis di pelipisnya, berdiri membeku di belakang Laurent.Laurent, yang telah tumbuh menjadi bocah laki-laki berusia sembilan tahun yang tangkas, memegang busur kayu hitamnya dengan stabilitas yang mengesankan.Bahunya kokoh, napasnya teratur, dan matanya yang tajam mengunci seekor rusa jantan besar yang sedang merumput sekitar lima puluh langkah di depan mereka.“Ingat apa yang kukatakan, Laurent,” bisik Alaric, suaranya sangat rendah hingga hampir menyatu dengan desau angin.“Jangan melawan angin. Jadilah bagian dari angin itu sendiri. Rasakan tarikan senarmu bukan dengan otot, tapi dengan naluri. Lep

  • Duke Kejam itu Suamiku   Bab 191. Kelahiran Bayi Kedua

    Malam di Kastil Valen kembali dicekam oleh ketegangan yang serupa, namun kali ini udara terasa lebih berat oleh antisipasi yang menyesakkan.Di balik pintu kayu jati yang tertutup rapat, suara rintihan Aurelia yang sedang berjuang memberikan kehidupan baru bergema di sepanjang koridor. Alaric berdiri mematung di depan pintu, jemarinya meremas hulu pedang dengan begitu kencang hingga buku-buku jarinya memutih.“Ric, demi para leluhur, berhentilah menatap pintu itu seolah kau ingin mendobraknya dengan bahumu,” suara Edward, sahabat dekat Alaric terdengar tenang namun tegas dari arah belakang. “Ini adalah proses alami. Kau sudah melewatinya sekali bersama Laurent.”“Alami?” Alaric berbalik, matanya berkilat penuh kecemasan yang liar. “Dia sedang kesakitan di dalam sana, Edward! Aku bisa mendengar dia mengejan, aku bisa merasakan setiap tarikan napasnya yang berat. Dan aku di sini, berdiri seperti pengecut yang hanya bisa menunggu instruksi dari seorang bidan!”“Kau bukan pengecut, kau ad

  • Duke Kejam itu Suamiku   Bab 190. Si Kecil yang Lincah

    Di pagi hari di tengah hamparan bunga mawar biru, seorang balita dengan energi yang seolah tak habis-habis sedang melakukan invasi terhadap ketenangan taman.Laurent berlari zigzag, sesekali berhenti untuk mencoba menangkap kupu-kupu, lalu kembali melesat dengan tawa melengking yang menggema hingga ke pilar-pilar kastil.“Laurent! Sayang, jangan terlalu dekat dengan kolam!” seru Aurelia sambil mencoba mengejar langkah kecil putranya dengan napas yang mulai memburu.Perutnya yang kini kian membuncit membuat setiap gerakan terasa dua kali lebih berat. Ia baru saja hendak melangkah lebih cepat saat rasa nyeri yang familiar menusuk pinggangnya, memaksanya berhenti dan memegang sandaran kursi taman dari besi tempa.“Yang Mulia, mohon hamba memohon,” Madame Greta segera menghampiri, wajahnya penuh kecemasan profesional.“Wajah Anda sudah sangat pucat. Biarkan kami yang mengawasi Pangeran Laurent. Anda harus duduk dan beristirahat, atau Baginda Raja akan memenggal kepala kami semua jika meli

  • Duke Kejam itu Suamiku   Bab 189. Kelincahan Laurent

    Sinar matahari sore menembus jendela kaca patri di paviliun pribadi, memberikan rona jingga pada sofa beludru tempat Alaric dan Aurelia mencoba mencuri waktu istirahat. Namun, ketenangan di Istana Valen kini menjadi barang mewah yang langka. Dari arah koridor, suara derap langkah kaki kecil yang cepat beradu dengan lantai kayu, diikuti oleh suara Madame Greta yang terengah-engah.“Pangeran Laurent! Mohon jangan naik ke atas patung itu! Yang Mulia, tunggu!” teriak Greta dari kejauhan, yang hanya dibalas dengan tawa memekak telinga dari sang balita.Alaric memijat pangkal hidungnya, menyandarkan kepalanya di bahu Aurelia. “Aku bersumpah, anak itu memiliki stamina lebih besar daripada satu batalyon infantri. Bagaimana bisa makhluk sekecil itu membuat tiga pengasuh senior menyerah dalam satu hari?”Aurelia terkekeh pelan, meski gurat kelelahan tampak di wajahnya yang kini lebih berisi karena kehamilan keduanya. “Dia mewarisi keras kepalamu, Ric. Kau yang bilang ingin dia memiliki energi

  • Duke Kejam itu Suamiku   Bab 188. Hamil Anak Kedua

    Musim semi di tahun kedua Laurent ditandai dengan mekarnya bunga-bunga mawar biru yang lebih lebat dari sebelumnya, seolah tanah Utara benar-benar telah menerima darah Laurent sebagai bagian dari jiwanya. Aula besar dipenuhi dengan tawa riuh para bangsawan dan rakyat yang diundang untuk merayakan ulang tahun sang Serigala Kecil yang kedua. Laurent, yang kini sudah bisa berlari dengan langkah kecil yang mantap, sedang sibuk mengejar seekor anak anjing di antara sela-sela kursi panjang.Di atas kursi kebesaran, Aurelia duduk dengan anggun, namun wajahnya sedikit pucat. Ia mencoba menyesuaikan posisi duduknya, merasakan pening yang mendadak menyerang saat aroma daging panggang yang gurih tercium dari meja jamuan. Tangannya tanpa sadar meremas sandaran kursi, sementara perutnya terasa seperti diaduk oleh pusaran air yang aneh.“Aurel? Kau tidak menyentuh anggurmu sama sekali,” Alaric berbisik di sampingnya, matanya yang tajam tidak pernah melewatkan perubahan sekecil apa pun pada istriny

  • Duke Kejam itu Suamiku   Bab 183. Dilema Ibu Baru

    Lampu minyak di kamar bayi sudah mulai meredup, menyisakan keremangan yang menyesakkan bagi Aurelia. Di luar, fajar belum juga menyingsing, namun sang Ratu sudah duduk tegak di kursi goyang dengan mata yang terasa seperti ditusuk ribuan jarum kecil.Laurent baru saja berhenti menangis setelah hampi

  • Duke Kejam itu Suamiku   Bab 181. Tradisi Baptisan Air Utara

    Sinar matahari pagi menembus kaca patri kapel istana, menciptakan mosaik warna-warni yang jatuh tepat di atas lantai marmer hitam yang dingin.Suasana di dalam ruangan itu begitu kaku, seolah-olah oksigen di sana telah digantikan oleh aroma kemenyan yang berat dan ekspektasi para bangsawan yang ber

  • Duke Kejam itu Suamiku   Bab 180. Nama yang Terukir di Sejarah

    Di dalam kamar, suasana terasa begitu tenang, hanya menyisakan deru napas halus sang bayi yang terlelap dalam ayunan kayu ek hitam itu.Alaric masih duduk di tepi tempat tidur, matanya tidak bisa lepas dari makhluk kecil yang baru saja mengguncang dunianya. Ia memegang tangan Aurelia, merasakan jem

  • Duke Kejam itu Suamiku   Bab 179. Lonceng dan Sorak-Sorai

    Malam yang dingin di Kastil Valen seketika pecah saat Alaric melangkah keluar menuju balkon batu yang menghadap langsung ke arah alun-alun kota.Ia masih mengenakan kemeja yang sedikit berantakan, tanpa zirah, tanpa mahkota, hanya seorang pria yang baru saja menyaksikan mukjizat.Di bawah sana, par

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status