로그인Pagi hari kembali menyinari Kerajaan Valtarian dengan cahaya matahari yang hangat, namun kehangatan itu tidak sepenuhnya mampu mengusir ketegangan yang menggantung di udara.
Di halaman depan kediaman Count Arcelmont, suasana sudah ramai sejak dini hari. Beberapa kereta kencana berjajar rapi, sementara kereta pengangkut barang dipenuhi peti-peti yang tertutup rapat, menunggu untuk diberangkatkan.Para pelayan dan pengawal bergerak cepat, memastikan segala persiapan berjalanPelayan itu segera mengangguk, meski ada keraguan tipis yang sempat melintas di matanya. Ia melangkahkan kaki menuju jendela dengan gerakan cepat namun tetap terjaga, seolah ada sesuatu yang tak terlihat sedang mengawasinya. Jemarinya meraih pengait jendela, lalu membukanya perlahan.Dan benar saja, seekor burung gagak berwarna hitam pekat melesat masuk tanpa ragu, sayapnya mengepak kuat sebelum akhirnya melambat di dalam ruangan yang hangat itu.Seperti biasanya, gagak itu sama sekali tidak memperhatikan keberadaan orang lain di dalam kamar. Tatapannya tajam dan terarah, seakan hanya mengenali satu tujuan. Ia melewati pelayan begitu saja, nyaris tanpa suara, lalu terus terbang lurus menuju sosok yang duduk di depan meja rias.Elyana.Burung itu menurunkan ketinggian dengan presisi yang mengagumkan, lalu mendarat dengan ringan di pangkuan Elyana. Tidak ada kepanikan, tidak ada gerakan menolak. Elyana tetap duduk tenang, seolah hal itu adalah sesua
Mariana duduk di atas ranjang, kedua tangannya saling bertaut di pangkuan. Pandangannya sesekali melirik ke arah pintu, menunggu dengan perasaan yang sulit ia tenangkan. Waktu terasa berjalan lebih lambat dari biasanya, seolah sengaja menguji kesabarannya.Pintu kamar akhirnya terbuka perlahan.Engselnya berderit pelan, memecah keheningan yang sejak tadi menyelimuti ruangan. Seorang pria bertubuh tinggi dan tegap melangkah masuk, mengenakan pakaian duke berwarna putih bersih dengan mantel senada yang menjuntai anggun.Leon Gabriellion."Sayang, aku pulang," ucap Leon sambil melangkahkan kaki mendekat.Tanpa memberi ruang bagi Mariana untuk bereaksi lebih jauh, ia langsung memeluk tubuh calon istrinya yang jauh lebih kecil. Pelukan itu erat, hangat, namun juga terasa menahan, seolah ada sesuatu yang ingin ia pastikan tetap berada dalam kendalinya.Mariana terdiam sejenak dalam pelukan itu sebelum perlahan mengangkat wajahnya. Soro
"Kenapa kau sangat Rasis? Padahal kau juga sama-sama rakyat jelata! Jangan lupa daratan, rakyat jelata!" bentak Leon, emosinya akhirnya pecah.Suara itu memecah ketegangan yang sebelumnya tertahan, menggetarkan udara di sekitar mereka. Alianne mengerutkan alisnya, jelas terganggu, namun bukan karena tekanan dari Leon. Lebih karena ia benar-benar tidak memahami arah kemarahan itu. "Dia kenapa, sih?" tanyanya dengan kesal, nadanya terdengar jujur, seolah pertanyaan itu bukan sindiran, melainkan kebingungan yang nyata."Marahi saja, kakak ipar! Jika dia marah, aku akan memukulnya lagi!" ucap Caelum ringan.Nada bicaranya santai, bahkan nyaris bercanda. Namun senyum yang terukir di wajahnya tidak membawa kehangatan. Ada ancaman yang jelas tersembunyi di sana, sesuatu yang siap dilepaskan kapan saja jika situasi memanas sedikit lagi.Namun sebelum situasi benar-benar berubah menjadi kekerasan terbuka, Aldren bergerak.Tubuhnya berbal
'Sial! Sudah begini, yang harus aku lakukan adalah terluka berguna.'Rahannya mengeras, otot di wajahnya menegang saat Leon menyadari posisinya. Tatapan orang-orang di sekitarnya, nada bicara mereka, bahkan cara mereka memandangnya, semuanya mengarah pada satu hal. Ia berada di posisi yang salah. Dan satu-satunya cara untuk memperbaikinya adalah dengan bergerak cepat.Leon menarik napas dalam, lalu berteriak lantang, "Pasukan!"Suaranya memotong riuh rendah pantai, cukup keras untuk menarik perhatian mereka yang masih bergerak di antara kekacauan. Para ksatria di bawah komandonya langsung menegakkan tubuh, menunggu perintah berikutnya."Bantu evakuasi prajurit yang telah gugur di sini!"Perintah itu jatuh tanpa ragu.Dalam sekejap, pasukan Leon mulai bergerak. Mereka berpencar, mendekati tubuh-tubuh yang telah terbujur kaku di atas pasir. Wajah-wajah mereka tertunduk, ekspresi mereka berubah menjadi lebih berat. Tidak ada yang be
Leon memimpin pasukannya di garis depan, duduk tegak di atas kudanya dengan kendali penuh. Di belakangnya, deretan pasukan berkuda mengikuti dengan formasi rapi, derap kaki kuda mereka menggema berat, seolah menandai kedatangan sesuatu yang tidak bisa diabaikan.Pasukan Leon berhenti serempak.Di depan mereka terbentang kekacauan yang belum sepenuhnya mereda. Pantai itu bukan lagi sekadar hamparan pasir pucat, melainkan medan yang dipenuhi jejak kekerasan. Darah merah tua bercampur dengan pasir, membentuk noda-noda gelap yang lengket dan tidak beraturan. Beberapa tubuh tergeletak tanpa bergerak, sementara yang lain masih berusaha bangkit dengan sisa tenaga yang mereka miliki.Dari barisan paling depan, Leon turun dari kudanya.Ia mulai berjalan.Langkah demi langkah, Leon bergerak melewati sisa-sisa pertempuran, matanya menyapu keadaan sekitar dengan dingin. Tidak ada yang luput dari pengamatannya, namun tidak ada pula yang cuku
"Tabib?" Mata Mariana membulat saat mendengar jawaban Leon. "Yang Mulia... Mereka ini..." Matanya menatap para tabib yang kedua tangannya diikat. "Tabib dari mana?"Leon hanya membalas dengan senyum miring. Senyum itu tipis, namun sarat makna yang tidak ingin ia jelaskan. "Kau tidak perlu tahu. Yang terpenting sekarang..." Ia mengulurkan tangannya dan meletakkannya di perut Mariana yang masih tampak rata, namun mulai menunjukkan perubahan halus. Sentuhannya perlahan, hampir lembut, namun kepuasan jelas terukir di wajahnya. "Kau harus tetap sehat agar pewarisku bisa lahir dengan selamat."Nada suaranya terdengar menenangkan, tetapi ada tekanan yang tak bisa dihindari. Seolah apa pun yang terjadi di luar itu tidak penting selama tujuan utamanya tetap terjaga.Belum sempat Mariana menanggapi, suara langkah tergesa memecah suasana."Yang Mulia!"Seorang pengawal berlari masuk, napasnya sedikit terengah. Ia segera berlutut di hadapan Leon, men
Mendengar itu, Elyana terkejut bukan main. Apa-apaan maksud pria itu? Ini sama sekali tidak ada dalam perjanjian mereka!Elyana melirik tajam ke arah Magnus. Sementara itu yang dituju hanya memasang wajah serius. "Permainan macam apa yang sedang kalian mainkan?" suara Edward menggelegar. Matanya m
“Hah— hahaha...” Tawa Edward pecah tiba-tiba.Bukan tawa yang ringan, melainkan tawa yang terdengar retak, dipaksakan, nyaris seperti seseorang yang berdiri di tepi kewarasannya sendiri. Suara itu menggema di ruangan yang sejak tadi dipenuhi ketegangan, membuat udara yang sudah berat ter
“Yang Mulia Duke Valzaren...” Edward mencondongkan tubuhnya sedikit ke arah Magnus, suaranya diturunkan, seolah takut dinding pun ikut mendengar. “Masalah ini jauh lebih rumit dari yang terlihat. Masalahnya...”Kalimatnya menggantung di udara. Untuk sesaat, hanya suara detak jam tua di sudut ruanga
Musik perlahan mereda, lalu benar-benar berhenti. Suara alat musik yang tadinya mengalun lembut kini menghilang, digantikan oleh bisik-bisik halus para bangsawan. Itu adalah tanda yang jelas. Saatnya bertukar pasangan.Beberapa pasangan mulai berpisah dengan anggun, saling memberi hormat sebelum me







