Share

{Bab 71} Rutinitas Pagi

last update Tanggal publikasi: 2026-04-20 13:00:46

Pagi hari kembali menyinari Kerajaan Valtarian dengan cahaya matahari yang hangat, namun kehangatan itu tidak sepenuhnya mampu mengusir ketegangan yang menggantung di udara.

Di halaman depan kediaman Count Arcelmont, suasana sudah ramai sejak dini hari. Beberapa kereta kencana berjajar rapi, sementara kereta pengangkut barang dipenuhi peti-peti yang tertutup rapat, menunggu untuk diberangkatkan.

Para pelayan dan pengawal bergerak cepat, memastikan segala persiapan berjalan
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Duke Magnus, Lady Elyana Membutuhkanmu!    {Bab 128} Last War of Food

    "Thalira..." Edward Arcelmont tersenyum hangat. "Kau adalah putri tunggal Marquess Redmond, wanita yang sangat berani. Untuk menolak menjadi selir Leon, kau memutuskan untuk berpenampilan seperti laki-laki dan menjadi kadet di barak militer." Kata-kata itu jatuh di ruang makan seperti gelombang yang perlahan menyapu keheningan.Beberapa orang yang duduk di meja saling melirik. Tidak semua dari mereka mengetahui cerita itu secara lengkap. Namun cara Edward menyampaikannya membuat kisah itu terasa jauh lebih besar dari sekadar rumor.Di sisi lain meja, Alianne sedikit tersentak. Gerakan mengunyahnya berhenti. Potongan kue yang masih berada di mulutnya seolah tiba-tiba kehilangan rasa. Matanya sedikit membesar, seolah baru menyadari sesuatu yang baru saja ia dengar.Pipi dan bibirnya masih kotor dipenuhi krim dan remahan kue. Pemandangan itu membuat kontras yang aneh dengan suasana serius yang sedang dibangun Edward."Dan kini..." Edward melanjutkan.

  • Duke Magnus, Lady Elyana Membutuhkanmu!    {Bab 127} Attack on Food

    "Baiklah, tanpa berlama-lama lagi.." Edward tersenyum hangat, tidak menyadari kekacauan kecil yang diciptakan oleh Alianne dan Caelum. "Silakan menikmati jamuan hidangan dari kami!" Edward merentangkan kedua tangannya dengan dramatis sambil terus tersenyum, mempersilakan semua orang untuk menyantap makanan yang tersaji di depan mereka.Gerakan itu seperti sebuah sinyal tak terlihat. Para tamu yang duduk di sepanjang meja panjang segera bersiap. Hampir semua orang melakukan kegiatan yang sama secara bersamaan.Mula-mula, mereka semua mengambil celemek masing-masing. Kain pelindung itu diangkat dengan rapi, lalu bagian talinya diikatkan di belakang leher mereka. Beberapa orang menarik simpulnya lebih erat, memastikan kain itu benar-benar menutupi bagian depan pakaian mereka.Di kalangan bangsawan, makan malam bukan sekadar makan. Itu adalah ritual. Sebuah pertunjukan etiket. Tidak ada yang ingin pakaian mahal mereka ternodai saus atau remah makanan.Setelah itu, tangan-tangan terlatih m

  • Duke Magnus, Lady Elyana Membutuhkanmu!    {Bab 114} Karma Leon

    "Yang Mulia, apa kau yakin di desa selanjutnya, kita akan didukung?" tanya Mariana yang duduk di dalam kereta kencana. Napasnya terdengar tidak teratur.Sejak meninggalkan desa sebelumnya, rasa takut yang menyelimuti dirinya belum juga hilang. Bayangan wajah-wajah rakyat yang memandang mereka dengan kebencian terus terlintas di benaknya.Tangannya yang berada di atas pangkuan gemetar pelan.Dia berusaha menenangkan diri, tetapi semakin mengingat apa yang terjadi sebelumnya, semakin sulit baginya untuk mengendalikan kepanikan yang muncul.Di hadapannya, Leon duduk dengan rahang mengeras.Wajahnya tampak tenang pada pandangan pertama, tetapi sorot matanya menunjukkan sesuatu yang berbeda.Leon mengepalkan tangannya. Dengan kesal, dia memukul jendela bagian dalam kereta kencana. Suara benturan itu membuat Mariana tersentak."Sial! Tidak ada jaminan desa selanjutnya belum didatangi oleh Yang Mulia Ratu maupun Lady Elyana. Dua wanita busuk itu... Aku benar-benar tidak bisa membaca taktik m

  • Duke Magnus, Lady Elyana Membutuhkanmu!    {Bab 113} Pencitraan

    "Apa lagi yang Yang Mulia Raja tuliskan dalam surat itu, Ayah?" tanya Elyana dengan penasaran. Rasa ingin tahunya semakin besar saat melangkahkan kaki memasuki ruang kerja sang ayah. Edward yang berdiri di dekat jendela mengangkat surat di tangannya."Yang Mulia mengatakan bahwa mereka semua sudah bersiap untuk melakukan pencitraan," jawab Edward, mengangkat surat di tangannya. "Sama seperti yang kau lakukan sebelumnya. Ini untuk menguatkan reputasi kita kepada masyarakat. Dan Yang Mulia sudah memberikan arahan serta pembagian wilayah desa mana yang akan kita kunjungi."Elyana mendengarkan dengan saksama. Sebenarnya, dia sudah menduga hal seperti ini akan terjadi cepat atau lambat. Namun, mengetahui bahwa Raja Aldren sendiri telah menyusun pembagian wilayah membuat kegiatan ini terasa jauh lebih serius daripada yang dibayangkannya.Edward mengulurkan surat ke arah Elyana.Elyana dengan senang hati menerimanya.Pandangan matanya segera menelusuri tulisan tangan Aldren yang rapi dan t

  • Duke Magnus, Lady Elyana Membutuhkanmu!    {Bab 112} Malam Aneh

    Kereta kuda dan pasukan raja perlahan meninggalkan kediaman Count Arcelmont. Derap kaki kuda dan gemeretak roda kereta menggema di sepanjang jalan berbatu, semakin lama semakin menjauh hingga akhirnya hanya menyisakan keheningan yang menggantung di udara sore.Elyana berdiri di samping ayahnya, memandangi iring-iringan itu hingga bayangan terakhir mereka menghilang di balik gerbang utama. Angin petang berembus lembut, mengibaskan ujung rambut pirangnya yang terurai di punggung."Yang Mulia ingin kembali ke kediaman Marquess Redmond, ya?" tanya Elyana.Edward mengangguk pelan. "Begituan." Dia kemudian berbalik ke arah kediamannya sendiri. "Yang Mulia Ratu masih ada di sana. Mereka akan kembali setelah menjemput Yang Mulia Ratu."Elyana masih menatap ke arah gerbang yang kini kosong. Jalanan yang tadi ramai mendadak terasa sunyi."Magnus kapan datang, ya?" gumamnya pelan yang masih bisa didengar oleh ayahnya."Kau merindukan pria itu?" tanya Edward dengan penasaran.Elyana tersentak. Ja

  • Duke Magnus, Lady Elyana Membutuhkanmu!    {Bab 111} Cuci Otak Mariana

    Setelah perjalanan sekitar satu jam dari kediaman Count Arcelmont, Leon akhirnya tiba di kediamannya sendiri.Kediaman Duke Gabriellion.Sebuah pagar besar berwarna putih menyambutnya, menjulang kokoh seolah menjadi simbol kemurnian dan kehormatan keluarga. Para pengawal yang berjaga segera menunduk hormat dan dengan sigap membukakan pagar begitu melihat sang Duke mendekat.Derit besi pagar terdengar panjang saat terbuka.Begitu celah cukup lebar, Leon kembali mengarahkan kudanya untuk berlari masuk tanpa memperlambat laju. Para pelayan di halaman depan tersentak melihat kondisi wajahnya yang berlumuran darah.Ia berhenti di halaman depan kediamannya dengan tarikan kekang yang tajam.Kuda itu meringkik pelan.Leon turun tanpa berkata apa-apa, menyerahkan kendali pada pengawal yang segera membawa kuda itu ke kandang.Baru saat itulah pupil biru lautnya menangkap sosok yang sangat dikenalnya.Mariana."Yang Mulia!"Wanita muda itu berlari menghampiri Leon. Rambut cokelatnya bergoyang an

  • Duke Magnus, Lady Elyana Membutuhkanmu!    {Bab 107} Kedatangan Raja

    Pagi kembali menerangi kerajaan Valtarian.Langit yang semula gelap perlahan berubah menjadi semburat keemasan. Cahaya matahari pagi menyapu dinding-dinding batu kediaman Arcelmont, memantulkan kilau lembut pada jendela-jendela besar dan pagar besi hitam yang mengelilingi area depan mans

  • Duke Magnus, Lady Elyana Membutuhkanmu!    {Bab 105} Surat Barang Bukti

    Pelayan itu segera mengangguk, meski ada keraguan tipis yang sempat melintas di matanya. Ia melangkahkan kaki menuju jendela dengan gerakan cepat namun tetap terjaga, seolah ada sesuatu yang tak terlihat sedang mengawasinya. Jemarinya meraih pengait jendela, lalu membukanya perlahan.Dan

  • Duke Magnus, Lady Elyana Membutuhkanmu!    {Bab 102} Ratu yang Dianggap Rasis

    'Sial! Sudah begini, yang harus aku lakukan adalah terluka berguna.'Rahannya mengeras, otot di wajahnya menegang saat Leon menyadari posisinya. Tatapan orang-orang di sekitarnya, nada bicara mereka, bahkan cara mereka memandangnya, semuanya mengarah pada satu hal. Ia berada di posisi ya

  • Duke Magnus, Lady Elyana Membutuhkanmu!    {Bab 101} Leon yang Diusir

    Leon memimpin pasukannya di garis depan, duduk tegak di atas kudanya dengan kendali penuh. Di belakangnya, deretan pasukan berkuda mengikuti dengan formasi rapi, derap kaki kuda mereka menggema berat, seolah menandai kedatangan sesuatu yang tidak bisa diabaikan.Pasukan Leon berhenti ser

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status