LOGINTangan kanan Sugiono perlahan naik dari pinggang menyusut bagian belakang kepala Bu Dita, menahan tengkuk wanita itu agar tidak menghindari saat bibir mereka berciuman. Suasana ruang arsip yang sempit dan berdebu mendapatinya hanyut dalam keheningan total, terisolasi dari suara bising alat-alat berat di luar bangunan proyek.Bu Dita mendesah berat saat merasakan jemari tangan Sugiono perlahan maju ke depan. Kedua tangan Sugiono mencengkeram dan meremas erat dua bukit kembar Bu Dita di balik balutan kemeja formal yang sudah mulai kusut. Sentuhan tangan kasar kuli bangunan itu langsung memberikan sengatan panas yang melumpuhkan akal sehat sang nyonya besar."Yono," ucap Bu Dita mendesah panjang, suaranya terdengar pasrah dan memohon di sela-sela ciuman mereka yang semakin dalam.Sugiono lalu mengangkat tubuh Bu Dita dengan sisa tenaga yang dimilikinya. Meskipun tubuhnya tak sekekar para kuli bangunan lainnya yang terbiasa mengangkat sak semen berat sepanjang hari, pesona dan pengaruh en
Sugiono menatap wajah Bu Dita yang tampak kacau dan kelelahan. Ruang arsip yang berbau debu dan kertas lama itu terasa pengap, jauh dari kebisingan para tukang di luar."Jangan terlalu dipikirin sampai stres begini, Bu," kata Sugiono dengan nada bicara biasa.Pria paruh baya itu mengulurkan tangan, menyentuh pelan pipi Bu Dita. Kulit wanita itu terasa dingin. Bu Dita tidak menepis tangan Sugiono, melainkan membiarkannya begitu saja sambil memejamkan mata sesaat."Capek, Yono..." keluh Bu Dita dengan suara bergetar. "Setiap hari di rumah sendirian terus, suamiku malah sibuk urusan kerjaan di luar kota."Sugiono mendekatkan posisinya, berdiri semakin dekat dengan Bu Dita. "Kalau suami majikan tidak pernah peduli, kenapa masih diurusin terus? Buat apa tinggal di rumah besar tapi batin tersiksa?"Bu Dita membuka matanya, menatap ragu ke arah kuli bangunan di hadapannya. "Maksud kamu apa, Yono? Kamu nyuruh aku kabur?""Bukan kabur, cuma cari orang yang benar-benar bisa nemenin majikan kala
"Wujud aslimu seperti apa memangnya?" tanya Sugiono penasaran sambil menatap lekat-lekat kucing belang di dadanya. "Jangan-jangan wujud aslimu malah menyeramkan seperti dedemit penunggu pohon angker di dekat proyek."Dita mendengus kecil lewat gelombang pikiran. "Asal tahu saja, wujud asliku jauh lebih menggoda daripada sekadar nyonya besar perkebunan yang sedang stres itu. Kulitku putih mulus tanpa cacat, dan aku tahu persis cara memuaskan dahaga seorang pria sepertimu."Sugiono menelan ludah mendengar ucapan bernada menggoda tersebut. Bayangan tentang wanita-wanita cantik melintas sejenak di kepalanya, bersaing dengan ambisi kekayaan yang ditawarkan cincin retak di jari manisnya. "Tapi tujuan utamaku tetap Bu Dita. Kalau aku bisa mendapatkan hartanya sekaligus wanita itu, hidupku di ibu kota bakal aman tanpa harus capek mengaduk semen setiap hari.""Pilihan yang cerdas," balas Dita sambil melompat turun dari dada Sugiono, mendarat dengan mulus di atas lantai papan yang dingin. "Maka
Keesokan paginya, azan Subuh berkumandang dari musala kecil di ujung jalan perkampungan buruh. Samsul sudah lebih dulu keluar kamar, melangkah gontai menuju warung kelontong terdekat. Rokok merek Sampurna miliknya sudah habis sejak semalam, membuat tenggorokannya terasa gatal. Ia lebih menyukai rokok merek tersebut dibanding rokok Djarum milik Yono yang rasanya terlalu berat di dada. Mulutnya terasa hambar dan lepeh jika tidak menghirup asap tembakau di pagi hari, apalagi dinikmati bersama segelas kopi hitam pahit.Sementara di dalam kamar sempit, kucing belang penjelmaan makhluk gaib bernama Dita masih tertidur pulas di balik selimut tipis Yono. Posisi tidurnya meringkuk tepat di area selangkangan Yono, mencari sumber panas tubuh pria paruh baya tersebut. Meskipun sudah memiliki bulu yang lebat, hewan kecil itu merasa sangat kedinginan akibat sisa hawa lembap hujan semalam."Dita, bangunlah, Dita," bisik Yono sambil menepuk-nepuk pelan punggung kucing tersebut.Dita menggeliat malas,
Samsul membawa dua piring berisi mi goreng hangat berbalut telur goreng mata sapi di atasnya. Ia melangkah dari dapur kecil menuju ruang tamu, lalu meletakkan piring-piring tersebut di atas meja kayu yang beralaskan taplak kusam."Yono, ayo makan!" teriak Samsul dengan nada agak tinggi, memecah kesunyian malam di dalam rumah kontrakan. "Dari tadi kamu di dalam kamar terus, berbicara sendiri seperti orang kesurupan. Kamu sudah kehilangan akal sampai sebegitunya ya gara-gara urusan proyek?"Samsul menggelengkan kepala pelan sambil menarik kursi plastik untuk duduk."bawa juga kucing belangmu itu ke sini. Sepertinya dia sangat kelaparan setelah basah-basahan di jalan tadi. Kasihan juga tadi hampir tertabrak mobil."Di dalam kamar, Sugiono mendengar dengan jelas panggilan dari rekan serumahnya. Ia menoleh ke arah sudut kasur tempat kucing berbulu belang itu berbaring tenang. Siluman berwujud hewan tersebut mengedipkan mata, memberikan isyarat agar Sugiono menuruti permintaan Samsul demi me
Sugiono membawa kucing belang itu melangkah masuk ke dalam kamar tidurnya yang sempit. Ia mendudukkan diri di tepi kasur busa tipis, lalu mengusap bulu halus kucing tersebut dengan penuh kelembutan."Kamu sepertinya bukan kucing jalanan biasa. Bulumu sangat terawat dan bersih," gumam Sugiono pelan sambil memperhatikan corak unik di tubuh hewan kecil itu.Kucing belang tersebut perlahan membuka kelopak matanya, menatap lurus ke arah Sugiono, lalu mengedipkan matanya dua kali."Terima kasih, manusia baik," sebuah suara lembut langsung bergema jelas di dalam kepala Sugiono tanpa ada gerakan bibir dari sang hewan.Astaga! Sugiono terlonjak kaget dari duduknya. Ia melompat mundur hingga hampir menabrak dinding kamar.Di ruang tengah, Samsul sedang sibuk merebus dua bungkus mie instan dan menggoreng telur di atas kompor portabel. Suara benturan tubuh Sugiono ke dinding membuat Samsul menoleh dengan wajah heran."Kamu sedang apa di dalam kamar sampai bikin kaget saja, Yono? Jangan bikin aku







