LOGINSugiono berjalan mendekati Samsul yang masih berdiri di dekat tumpukan besi beton, membawa sisa-sisa aroma kemenangan kecil dari ruang arsip tadi."Lama sekali urusanmu di dalam, Yono. Seperti sedang mengurus proyek miliaran saja," celetuk Samsul sambil menyeruput kopi hitamnya yang mulai mendingin."Namanya juga buruh serabutan, disuruh bos apa saja harus sigap biar dapat tambahan," jawab Sugiono santai, menyambar sebatang rokok Djarum dari bungkus milik Samsul lalu menyalakannya.Samsul tertawa kecil, menepuk bahu Sugiono pelan. "Ada-ada saja kamu. Sudah, cepat ambil sarung tangan besi di sudut gudang. Mandor galak itu sudah mondar-mandir dari tadi pagi mengawasi kita."Sugiono mengangguk, melangkah pergi menuju gudang penyimpanan alat sambil menyelipkan rencana baru di kepalanya. Di dalam saku celananya, cincin gaib yang melingkar di jari manisnya berdenyut pelan, memancarkan kehangatan magis yang semakin memperkuat rasa percaya dirinya.Menjelang sore hari, aktivitas di area proye
Sugiono menggoyangkan pinggulnya semakin cepat, menciptakan suara gesekan yang memecah kesunyian ruang arsip yang pengap dan berdebu.Plokk... plokk... plokk...Suara itu bergema pelan di antara tumpukan lemari arsip tua dan sak semen yang tersusun di sudut ruangan. Bu Dita mengejang hebat saat merasakan sensasi luar biasa dari pusaka Sugiono yang bekerja tanpa kenal lelah di dalam tubuhnya. Napas wanita itu menderu liar, terengah-engah menahan gelombang kenikmatan yang belum pernah ia rasakan selama bertahun-tahun pernikahannya."Ah... Yono... pelan-pelan, aku sudah mau sampai..." desah Bu Dita tersengal-sengal, matanya terpejam erat sementara kedua tangannya meremas kuat terpal plastik di bawah tubuhnya.Dengan cepat, Sugiono mempercepat ritme gerakannya, menyalurkan seluruh sisa tenaga serta energi panas dari cincin gaib di jari manisnya. Tidak lama kemudian, pusaka Sugiono berdenyut keras, perlahan mengeluarkan air pusakanya dengan cepat dan menyemburkannya tepat ke atas perut Bu
Tangan kanan Sugiono perlahan naik dari pinggang menyusut bagian belakang kepala Bu Dita, menahan tengkuk wanita itu agar tidak menghindari saat bibir mereka berciuman. Suasana ruang arsip yang sempit dan berdebu mendapatinya hanyut dalam keheningan total, terisolasi dari suara bising alat-alat berat di luar bangunan proyek.Bu Dita mendesah berat saat merasakan jemari tangan Sugiono perlahan maju ke depan. Kedua tangan Sugiono mencengkeram dan meremas erat dua bukit kembar Bu Dita di balik balutan kemeja formal yang sudah mulai kusut. Sentuhan tangan kasar kuli bangunan itu langsung memberikan sengatan panas yang melumpuhkan akal sehat sang nyonya besar."Yono," ucap Bu Dita mendesah panjang, suaranya terdengar pasrah dan memohon di sela-sela ciuman mereka yang semakin dalam.Sugiono lalu mengangkat tubuh Bu Dita dengan sisa tenaga yang dimilikinya. Meskipun tubuhnya tak sekekar para kuli bangunan lainnya yang terbiasa mengangkat sak semen berat sepanjang hari, pesona dan pengaruh en
Sugiono menatap wajah Bu Dita yang tampak kacau dan kelelahan. Ruang arsip yang berbau debu dan kertas lama itu terasa pengap, jauh dari kebisingan para tukang di luar."Jangan terlalu dipikirin sampai stres begini, Bu," kata Sugiono dengan nada bicara biasa.Pria paruh baya itu mengulurkan tangan, menyentuh pelan pipi Bu Dita. Kulit wanita itu terasa dingin. Bu Dita tidak menepis tangan Sugiono, melainkan membiarkannya begitu saja sambil memejamkan mata sesaat."Capek, Yono..." keluh Bu Dita dengan suara bergetar. "Setiap hari di rumah sendirian terus, suamiku malah sibuk urusan kerjaan di luar kota."Sugiono mendekatkan posisinya, berdiri semakin dekat dengan Bu Dita. "Kalau suami majikan tidak pernah peduli, kenapa masih diurusin terus? Buat apa tinggal di rumah besar tapi batin tersiksa?"Bu Dita membuka matanya, menatap ragu ke arah kuli bangunan di hadapannya. "Maksud kamu apa, Yono? Kamu nyuruh aku kabur?""Bukan kabur, cuma cari orang yang benar-benar bisa nemenin majikan kala
"Wujud aslimu seperti apa memangnya?" tanya Sugiono penasaran sambil menatap lekat-lekat kucing belang di dadanya. "Jangan-jangan wujud aslimu malah menyeramkan seperti dedemit penunggu pohon angker di dekat proyek."Dita mendengus kecil lewat gelombang pikiran. "Asal tahu saja, wujud asliku jauh lebih menggoda daripada sekadar nyonya besar perkebunan yang sedang stres itu. Kulitku putih mulus tanpa cacat, dan aku tahu persis cara memuaskan dahaga seorang pria sepertimu."Sugiono menelan ludah mendengar ucapan bernada menggoda tersebut. Bayangan tentang wanita-wanita cantik melintas sejenak di kepalanya, bersaing dengan ambisi kekayaan yang ditawarkan cincin retak di jari manisnya. "Tapi tujuan utamaku tetap Bu Dita. Kalau aku bisa mendapatkan hartanya sekaligus wanita itu, hidupku di ibu kota bakal aman tanpa harus capek mengaduk semen setiap hari.""Pilihan yang cerdas," balas Dita sambil melompat turun dari dada Sugiono, mendarat dengan mulus di atas lantai papan yang dingin. "Maka
Keesokan paginya, azan Subuh berkumandang dari musala kecil di ujung jalan perkampungan buruh. Samsul sudah lebih dulu keluar kamar, melangkah gontai menuju warung kelontong terdekat. Rokok merek Sampurna miliknya sudah habis sejak semalam, membuat tenggorokannya terasa gatal. Ia lebih menyukai rokok merek tersebut dibanding rokok Djarum milik Yono yang rasanya terlalu berat di dada. Mulutnya terasa hambar dan lepeh jika tidak menghirup asap tembakau di pagi hari, apalagi dinikmati bersama segelas kopi hitam pahit.Sementara di dalam kamar sempit, kucing belang penjelmaan makhluk gaib bernama Dita masih tertidur pulas di balik selimut tipis Yono. Posisi tidurnya meringkuk tepat di area selangkangan Yono, mencari sumber panas tubuh pria paruh baya tersebut. Meskipun sudah memiliki bulu yang lebat, hewan kecil itu merasa sangat kedinginan akibat sisa hawa lembap hujan semalam."Dita, bangunlah, Dita," bisik Yono sambil menepuk-nepuk pelan punggung kucing tersebut.Dita menggeliat malas,







