Share

Bab 4

Author: L.S
Aku mencengkeram laporan itu erat-erat hingga buku-buku jariku memutih. Kenapa aku menjalani vasektomi? Heh. Semua itu kulakukan demi Regina.

Regina sangat ambisius dalam karier dan sangat takut sakit. Dia bersikeras bahwa kehamilan akan menghancurkan hidupnya dan bertekad bulat untuk tidak memiliki anak. Aku sangat menyayanginya. Jadi, meskipun menyukai anak-anak, aku menuruti keinginannya.

Setelah menikah, kami juga selalu menggunakan alat kontrasepsi. Namun, beberapa waktu lalu, dia menemukan sebuah cerita di internet.

Itu cerita tentang pasangan yang memilih untuk tidak memiliki anak. Sang suami menyesali keputusan tersebut saat memasuki usia paruh baya, tetapi karena istrinya sudah tidak subur lagi, dia mencari wanita lain untuk memberinya keturunan.

Regina mengatakan bahwa dia takut aku akan melakukan hal yang sama. Demi menenangkannya, aku mengabaikan keberatan teman-teman maupun keluarga dan langsung menjalani vasektomi keesokan harinya.

Aku berencana menyampaikan kabar itu tepat pada ulang tahun pernikahan kami yang kelima, agar dia tahu bahwa dia tidak perlu lagi mengkhawatirkan hal tersebut. Tak disangka, dia tidak memberiku kesempatan.

Untungnya, perawat memberitahuku bahwa karena prosedur itu baru saja dilakukan dan kondisi saluran spermaku masih baik, kemampuan reproduksiku masih bisa dipulihkan melalui operasi penyambungan kembali saluran sperma.

Saat masih ragu apakah aku mau menjalani operasi itu, pintu ruang rawat inap tiba-tiba dibuka.

Regina masuk sambil membawa map dokumen yang tadi siang kutitipkan pada Kevin. Raut wajahnya terlihat tidak senang. Kemudian, dia melempar map itu ke tubuhku.

Regina mengernyitkan dahi, lalu berkata, "Aku sudah tandatangani dokumen itu. Urusan beli rumah itu masalah pribadi. Mulai sekarang, jangan bawa barang begini ke rumah sakit lagi. Nggak enak kalau sampai Kevin tahu."

Aku hampir tertawa terbahak-bahak. Regina mengira itu adalah dokumen untuk membeli rumah baru. Dia menandatanganinya tanpa melihat isinya sama sekali. Namun, tidak masalah. Itu justru menyelamatkanku dari perdebatan.

Aku memasukkan surat kesepakatan cerai itu ke dalam tasku. Beban berat yang selama ini menindih hatiku akhirnya terangkat.

Melihatku diam saja, ekspresi Regina sedikit melunak. "Istirahatlah. Aku harus kembali bekerja. Aku pergi dulu."

Menatap wajahnya, aku tidak bisa menahan diri dan bertanya pelan, "Regina, apa kamu sama sekali nggak penasaran kenapa aku terbaring di ranjang rumah sakit?"

Dia tertegun sejenak, lalu menjawab dengan nada acuh tak acuh, "Bukannya karena maag? Itu penyakit lama. Pulanglah setelah beristirahat. Jangan buang-buang sumber daya medis."

Aku menatapnya dengan tatapan kosong. Hatiku terasa seperti diremas kuat, hingga menimbulkan rasa sakit yang tumpul dan menyesakkan.

Aku memang punya masalah lambung. Dulu, dia selalu menyimpan obat maag di saku jas dokternya. Setiap kali aku merasa tidak enak badan, dia akan menuangkan air dan menyuapiku obat itu. Namun, entah sejak kapan, obatku sudah lama menghilang dari sakunya.

Minggu lalu, saat mencuci jas putihnya, aku menemukan kancing manset pria di sakunya. Warnanya perak keabu-abuan, dengan ukiran inisial di permukaannya. Aku pernah melihatnya terpasang di lengan baju Kevin.

Lupakan saja. Aku sudah lelah, bahkan tidak punya tenaga untuk mengonfrontasinya.

Aku menatap Regina, lalu hendak memberitahunya tentang operasi itu. Namun, pintu kamar rawat inap tiba-tiba dibuka seseorang.

"Dok Regina!"

Seorang dokter muda bergegas masuk dengan wajah cemas.

"Kondisi pasien di Ranjang 32 memburuk. Keluarganya mengamuk dan mengancam akan memukul Pak Kevin. Anda harus segera pergi ke sana!"

Ekspresi Regina berubah seketika. Tanpa ragu sedikit pun, dia berbalik dan pergi. Dia bahkan tidak melirikku. Hati dan pikirannya sepenuhnya tertuju pada Kevin.

Aku memperhatikan sosoknya yang terlihat cemas itu menghilang dengan cepat di balik pintu. Sisa keraguan terakhir di hatiku pun lenyap sepenuhnya.

Kenapa aku harus mengorbankan masa depanku dan kesempatan untuk memiliki keluarga demi seseorang seperti Regina? Aku memejamkan mata dan membulatkan tekad.

Aku memanggil perawat yang bertugas, lalu menggenggam laporan medis di tanganku dan berkata perlahan, "Jadwalkan operasi penyambungan kembali untukku sekarang juga. Makin cepat, makin bagus."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dulu Aku Rela Terjebak Dalam Cintamu   Bab 19

    "Sejak ayahku meninggal." Aku menatap Regina. Suaraku terdengar sangat tenang, permukaan air yang tidak beriak. "Kita nggak seharusnya memiliki masa depan lagi."Regina tertegun di tempat. Beberapa saat kemudian, dia tiba-tiba tersenyum. Senyumnya terlihat getir dan menyedihkan, seperti seorang penjudi yang akhirnya kehilangan seluruh taruhannya."Aku mengerti." Dia mengangguk dan berbicara dengan suara serak, "Louis, mulai sekarang aku nggak akan mengganggumu lagi."Setelah mengucapkan itu, dia berbalik dan berjalan pergi. Langkahnya sangat lambat, tetapi kali ini dia tidak menoleh lagi.Aku berdiri di tempat sambil menatap Regina berjalan semakin menjauh, hingga sosoknya menghilang di antara cahaya dan bayangan di ujung lorong.Hatiku tidak merasa lega maupun sedih, yang ada hanya ketenangan yang begitu ringan. Seperti sebuah buku yang akhirnya dibalik hingga halaman terakhir ....Lima tahun kemudian, di Kota Irgis, Negara Irgindia.Aku dan Thomas duduk di tepi Sungai Lotfi sambil me

  • Dulu Aku Rela Terjebak Dalam Cintamu   Bab 18

    Akhirnya ibuku berhasil melewati masa kritis.Tim ahli internasional itu kembali menyesuaikan rencana perawatannya. Satu minggu kemudian, ibuku berhasil keluar dari ruang ICU.Pada hari aku menerima kabar itu, aku duduk di bangku panjang luar kamar sambil membenamkan wajah di kedua telapak tangan. Aku menangis cukup lama.Segala ketakutan, kecemasan, dan rasa tidak berdaya yang menumpuk selama berhari-hari ini akhirnya terluapkan."Mas." Erika menyerahkan tisu, lalu berjongkok di hadapanku. Nada bicaranya terdengar sedikit kikuk, seolah tidak tahu harus berbuat apa. "Kondisi Bibi sudah membaik. Kenapa kamu masih menangis?"Aku mengambil tisu untuk menyeka mata. Mataku masih memerah. "Terima kasih, Erika. Kamu sungguh baik hati."Seandainya tidak ada Erika, aku benar-benar tidak tahu bagaimana bertahan selama beberapa hari ini.Erika menggaruk kepalanya. Dia mengalihkan pandangannya lantaran merasa agak malu. "Sebenarnya, aku melakukan semua ini bukan semata-mata karena aku baik hati."

  • Dulu Aku Rela Terjebak Dalam Cintamu   Bab 17

    Aku melaporkan Kevin ke polisi, lalu dia dibawa pergi. Tindakan sengaja memicu emosi pasien setelah operasi hingga kondisinya memburuk, ditambah hasil penyelidikan atas insiden perdarahan pascaoperasi sebelumnya, semuanya akan diperhitungkan sekaligus. Hukuman yang menantinya jauh lebih serius daripada sekadar dipecat dari tempat kerja.Namun, aku sudah tidak punya waktu untuk memikirkan nasibnya.Kondisi ibuku semakin memburuk.Di luar ruang ICU, dokter berulang kali menyerahkan surat pemberitahuan kondisi kritis.Aku tidak tidur selama dua hari penuh. Dari balik kaca, aku melihat ibuku terbaring di sana dengan seluruh tubuhnya dipenuhi selang. Setiap perubahan angka pada monitor seperti pisau tumpul yang mengiris setiap sarafku.Selama beberapa hari ini, Regina juga terus berjaga di rumah sakit. Tidurnya bahkan lebih sedikit daripada aku, hingga matanya dikelilingi lingkaran hitam. Namun, setiap kali melihatnya, aku sama sekali tidak merasa berterima kasih. Yang kurasakan justru ras

  • Dulu Aku Rela Terjebak Dalam Cintamu   Bab 16

    "“Operasinya berjalan dengan sangat lancar. Seharusnya nggak ada alasan kondisinya tiba-tiba memburuk." Dokter tampak kebingungan. "Kecuali ... pasien mengalami guncangan emosional yang kuat."Hatiku menjadi berat. "Guncangan emosional?"Dokter mengangguk. "Setelah operasi, pasien nggak boleh mengalami gejolak emosi yang terlalu kuat, terutama karena kondisi jantung dan tekanan darahnya memang belum stabil. Coba kalian ingat-ingat, apa terjadi sesuatu yang nggak biasa hari ini?"Sesuatu yang tidak biasa?Ibu baru selesai menjalankan operasi. Selain petugas medis dan beberapa anggota keluarga, tidak ada orang lain yang menemuinya. Tunggu.Aku langsung mengangkat kepalaku. "Periksa rekaman CCTV."Setengah jam kemudian, di dalam ruang pemantauan, rekaman CCTV sudah berhasil diputar. Orang-orang berlalu-lalang di depan pintu kamar. Para perawat keluar-masuk sambil membawa nampan. Saat pukul 15.20, sesosok bayangan muncul di layar.Kevin.Napasku seketika tercekat. Aku tanpa sadar langsung

  • Dulu Aku Rela Terjebak Dalam Cintamu   Bab 15

    Setelah menerima telepon itu, aku langsung bergegas pulang ke kampung halaman malam itu juga.Di lorong rumah sakit, ibuku masih dalam penanganan darurat, sementara dokter menunjukkan ekspresi serius. "Kondisi pasien sangat kritis. Dia harus segera menjalani operasi. Tapi, fasilitas rumah sakit di sini nggak memadai. Kami menyarankan agar pasien segera dipindahkan ke rumah sakit lain."Sekujur tubuhku terasa dingin. Aku seolah-olah kembali ke tiga tahun lalu. Saat itu, ayahku berbaring di ranjang rumah sakit, dokter juga mengatakan hal yang sama kepadaku.Saat itu, aku kehilangan ayah.Kali ini, jangan-jangan aku juga akan kehilangan ibu?Aku bahkan tidak sanggup berdiri tegak dan hampir pingsan di tempat.Tepat saat itu, Regina tiba. "Biar aku saja."Semua orang tertegun.Dokter mengenalinya. "Kamu … Regina Liandra? Dokter Regina ya?"Regina mengangguk. "Berikan rekam medisnya kepadaku."Dalam beberapa menit, Regina sudah mengambil keputusan. "Bisa dilakukan. Segera persiapkan semuany

  • Dulu Aku Rela Terjebak Dalam Cintamu   Bab 14

    Selama beberapa hari berikutnya, Regina selalu mengikuti ke mana pun aku pergi. Kami menginap di hotel yang sama, pergi ke tempat wisata yang sama, bahkan makan di restoran yang sama. Aku tahu mengabaikannya adalah cara terbaik untuk membalasnya. Jadi, aku memilih untuk menganggapnya tidak ada. Aku tetap menikmati pemandangan saat ingin menikmati pemandangan dan tetap memotret saat ingin memotret. Namun, Erika malah sudah tidak tahan lagi."Kak Mantan." Di dalam restoran, Erika meletakkan peralatan makannya di atas meja. "Apa kamu punya kecenderungan jadi penguntit?"Regina bahkan tidak mengangkat kelopak matanya. Dia mengambil sepotong sayap ayam dengan santai, lalu mengulurkan tangannya melewati meja dan meletakkannya ke dalam mangkukku. Gerakannya begitu alami seperti dulu, seolah-olah pernikahan kami belum berakhir."Aku sedang pergi jalan-jalan bersama suamiku. Kenapa malah dibilang menguntit?"Erika tersenyum manis, tetapi tidak ada sedikit pun senyum di matanya. "Aku koreksi s

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status