مشاركة

Bab 5

مؤلف: L.S
Operasi itu dijadwalkan untuk keesokan paginya. Jadi, aku pulang ke rumah terlebih dahulu.

Di bawah cahaya matahari terbenam, bunga-bunga di teras sedang mekar dengan indahnya. Ada gardenia, mawar, sukulen, dan hydrangea. Selama bertahun-tahun, aku yang merawat setiap pot tanaman itu.

Regina tidak pernah punya waktu untukku. Jadi, aku mencurahkan kasih sayangku pada tanaman-tanaman itu. Begitu aku pergi, tidak akan ada lagi yang merawat mereka. Sayang sekali jika mereka dibiarkan layu begitu saja.

Aku mengambil foto dan memostingnya di grup obrolan warga kompleks.

[ Aku mau pindah rumah. Bunga-bunga ini gratis. Siapa cepat, dia dapat. ]

Para tetangga sangat mendukung. Dalam waktu setengah jam, sebagian besar tanaman di teras sudah dibawa pergi. Setelah menyerahkan pot hydrangea terakhir, aku berdiri di balkon yang kosong. Ternyata, melepaskan sesuatu tidaklah sesulit yang kubayangkan.

Aku berbalik dan melangkah masuk ke walk-in closet. Lemari kaca di sana dipenuhi deretan jam tangan. Sebagian besarnya adalah hadiah dari Regina.

Dulu, aku selalu sangat bahagia setiap kali menerimanya. Saat melihatnya sekarang, aku teringat ekspresinya yang acuh tak acuh saat memberikannya. Dia bahkan pernah memberiku dua model jam tangan yang sama. Sungguh menggelikan.

Sosok yang kucintai hanyalah Regina dalam imajinasiku sendiri. Begitu ilusi indah itu runtuh, aku baru menyadari betapa tidak berartinya semua itu.

Aku memotret jam-jam itu dan memostingnya di aplikasi jual-beli barang bekas. Aku berhasil menjual tujuh atau delapan jam tangan hanya dalam satu malam. Lemari pajangan yang tadinya penuh kini tiba-tiba menjadi kosong, persis seperti hatiku.

Pukul sepuluh malam itu, aku mendengar suara pintu dibuka. Regina sudah pulang. Ada luka gores di pelipisnya dan memar di wajahnya. Lengan kanannya juga dibalut perban tebal.

Orang yang memapahnya adalah Kevin. Matanya merah dan bengkak, seolah baru saja menangis.

"Kak Louis, hari ini, ada keluarga pasien yang membuat keributan. Kak Regina terluka saat membelaku. Kamu harus menjaganya dengan baik."

Aku meliriknya dan menyahut dengan tenang, "Kalau khawatir, kamu bisa tinggal di sini dan menjaganya."

Wajah Kevin langsung memerah. Dia berkata dengan terbata-bata, "Kak Louis, bukan itu maksudku .... Aku dan Kak Regina cuma rekan kerja ...."

Ekspresi Regina berubah masam. "Louis, apa kamu harus bersikap sinis begitu?"

Aku bingung. "Memangnya apa yang kukatakan?"

"Kevin sudah baik hati antarin aku pulang. Ngapain kamu menyindirnya?"

Regina membanting kunci mobil ke atas meja, lalu menatapku dengan penuh kekecewaan.

Kevin buru-buru tersenyum, tetapi matanya malah memerah. "Kak Regina, jangan salahkan Kak Louis. Ini semua salahku. Aku nggak seharusnya antar kamu pulang. Aku akan pergi sekarang juga."

Seusai berbicara, dia berbalik dan berlari keluar.

Regina tidak ragu sedikit pun dan segera mengejar Kevin. Pintu depan terbanting tutup.

Satu jam kemudian, Regina kembali dengan penampilan yang jauh lebih buruk dari sebelumnya. Dia tidak menyadari keanehanku, juga tidak memperhatikan balkon atau lemari pajangan jam tangan yang kosong. Dia hanya bertanya dengan nada menuntut, "Sudah puas kamu?"

Aku bahkan tidak mendongak. "Puas soal apa?"

"Kevin menangis sepanjang perjalanan pulang. Dia nggak lakukan apa pun. Kenapa kamu selalu mencari-cari kesalahannya?"

Aku tidak berhenti berkemas. Aku sudah terbiasa dengan hal ini. Di matanya, Kevin selalu adalah pihak yang dirugikan, sedangkan aku adalah tokoh antagonis.

Aku memasukkan jam tangan terakhir ke dalam kotak kemasan. Berhubung terlalu lelah untuk berdebat, aku bangkit dan berjalan menuju kamar.

"Berhenti." Suara Regina berubah dingin. "Kamu nggak masak lagi malam ini?"

Langkahku terhenti sejenak. "Ada pangsit dan mie di kulkas. Kalau kamu nggak bisa masak, pesan saja makanan dari luar."

Regina mengangkat tangannya yang diperban dengan wajah geram. "Aku sudah terluka."

Aku menoleh ke arahnya, lalu tersenyum tipis. "Kamu terluka bukan demi lindungi aku, apa aku harus gantikan orang lain balas budi?"

Wajah Regina langsung berubah masam. Setelah terdiam cukup lama, dia tertawa sinis. "Oke. Louis, kamu benar-benar hebat."

Dia berjalan masuk ke ruang kerja dan membanting pintunya begitu kuat hingga dinding ikut bergetar.

Namun, aku tidak bergeming sedikit pun. Besok, aku akan menjalani operasi. Aku tidak punya waktu untuk bertengkar dengannya.

Aku naik ke tempat tidur dan segera tertidur. Itu adalah tidur paling nyenyak yang kurasakan sejak memutuskan untuk bercerai.

Keesokan paginya, Thomas datang menjemputku. "Kamu yakin? Nggak jadi childfree lagi?"

Aku menatap pergelangan tanganku yang polos tanpa jam tangan. Setelah terdiam sejenak, aku mengangguk. "Yakin."

Dulu, duniaku sepenuhnya berpusat pada Regina. Demi dia, aku rela melepaskan karierku, bahkan kesempatan untuk memiliki anak. Namun, dia sama sekali tidak layak menerima pengorbanan itu. Jadi, aku memutuskan untuk menjalani kehidupan yang berbeda.

Setelah semua urusan administrasi selesai, aku dibawa menuju ruang operasi dengan kursi roda. Dokter bedah utama sedang memeriksa detail prosedur, sedangkan dokter anestesi bersiap di tempatnya.

Tepat saat itu, sosok yang familier memasuki ruangan. Pandangan kami bertemu, dan rasa dingin menjalar di punggungku.

Itu Kevin. Dengan mengenakan pakaian medis steril dan masker bedah, dia berdiri di samping dokter bedah utama. Dia sepertinya sama sekali tidak terkejut saat menyadari tatapanku. Seulas senyum tersirat di matanya yang berbinar.

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Dulu Aku Rela Terjebak Dalam Cintamu   Bab 19

    "Sejak ayahku meninggal." Aku menatap Regina. Suaraku terdengar sangat tenang, permukaan air yang tidak beriak. "Kita nggak seharusnya memiliki masa depan lagi."Regina tertegun di tempat. Beberapa saat kemudian, dia tiba-tiba tersenyum. Senyumnya terlihat getir dan menyedihkan, seperti seorang penjudi yang akhirnya kehilangan seluruh taruhannya."Aku mengerti." Dia mengangguk dan berbicara dengan suara serak, "Louis, mulai sekarang aku nggak akan mengganggumu lagi."Setelah mengucapkan itu, dia berbalik dan berjalan pergi. Langkahnya sangat lambat, tetapi kali ini dia tidak menoleh lagi.Aku berdiri di tempat sambil menatap Regina berjalan semakin menjauh, hingga sosoknya menghilang di antara cahaya dan bayangan di ujung lorong.Hatiku tidak merasa lega maupun sedih, yang ada hanya ketenangan yang begitu ringan. Seperti sebuah buku yang akhirnya dibalik hingga halaman terakhir ....Lima tahun kemudian, di Kota Irgis, Negara Irgindia.Aku dan Thomas duduk di tepi Sungai Lotfi sambil me

  • Dulu Aku Rela Terjebak Dalam Cintamu   Bab 18

    Akhirnya ibuku berhasil melewati masa kritis.Tim ahli internasional itu kembali menyesuaikan rencana perawatannya. Satu minggu kemudian, ibuku berhasil keluar dari ruang ICU.Pada hari aku menerima kabar itu, aku duduk di bangku panjang luar kamar sambil membenamkan wajah di kedua telapak tangan. Aku menangis cukup lama.Segala ketakutan, kecemasan, dan rasa tidak berdaya yang menumpuk selama berhari-hari ini akhirnya terluapkan."Mas." Erika menyerahkan tisu, lalu berjongkok di hadapanku. Nada bicaranya terdengar sedikit kikuk, seolah tidak tahu harus berbuat apa. "Kondisi Bibi sudah membaik. Kenapa kamu masih menangis?"Aku mengambil tisu untuk menyeka mata. Mataku masih memerah. "Terima kasih, Erika. Kamu sungguh baik hati."Seandainya tidak ada Erika, aku benar-benar tidak tahu bagaimana bertahan selama beberapa hari ini.Erika menggaruk kepalanya. Dia mengalihkan pandangannya lantaran merasa agak malu. "Sebenarnya, aku melakukan semua ini bukan semata-mata karena aku baik hati."

  • Dulu Aku Rela Terjebak Dalam Cintamu   Bab 17

    Aku melaporkan Kevin ke polisi, lalu dia dibawa pergi. Tindakan sengaja memicu emosi pasien setelah operasi hingga kondisinya memburuk, ditambah hasil penyelidikan atas insiden perdarahan pascaoperasi sebelumnya, semuanya akan diperhitungkan sekaligus. Hukuman yang menantinya jauh lebih serius daripada sekadar dipecat dari tempat kerja.Namun, aku sudah tidak punya waktu untuk memikirkan nasibnya.Kondisi ibuku semakin memburuk.Di luar ruang ICU, dokter berulang kali menyerahkan surat pemberitahuan kondisi kritis.Aku tidak tidur selama dua hari penuh. Dari balik kaca, aku melihat ibuku terbaring di sana dengan seluruh tubuhnya dipenuhi selang. Setiap perubahan angka pada monitor seperti pisau tumpul yang mengiris setiap sarafku.Selama beberapa hari ini, Regina juga terus berjaga di rumah sakit. Tidurnya bahkan lebih sedikit daripada aku, hingga matanya dikelilingi lingkaran hitam. Namun, setiap kali melihatnya, aku sama sekali tidak merasa berterima kasih. Yang kurasakan justru ras

  • Dulu Aku Rela Terjebak Dalam Cintamu   Bab 16

    "“Operasinya berjalan dengan sangat lancar. Seharusnya nggak ada alasan kondisinya tiba-tiba memburuk." Dokter tampak kebingungan. "Kecuali ... pasien mengalami guncangan emosional yang kuat."Hatiku menjadi berat. "Guncangan emosional?"Dokter mengangguk. "Setelah operasi, pasien nggak boleh mengalami gejolak emosi yang terlalu kuat, terutama karena kondisi jantung dan tekanan darahnya memang belum stabil. Coba kalian ingat-ingat, apa terjadi sesuatu yang nggak biasa hari ini?"Sesuatu yang tidak biasa?Ibu baru selesai menjalankan operasi. Selain petugas medis dan beberapa anggota keluarga, tidak ada orang lain yang menemuinya. Tunggu.Aku langsung mengangkat kepalaku. "Periksa rekaman CCTV."Setengah jam kemudian, di dalam ruang pemantauan, rekaman CCTV sudah berhasil diputar. Orang-orang berlalu-lalang di depan pintu kamar. Para perawat keluar-masuk sambil membawa nampan. Saat pukul 15.20, sesosok bayangan muncul di layar.Kevin.Napasku seketika tercekat. Aku tanpa sadar langsung

  • Dulu Aku Rela Terjebak Dalam Cintamu   Bab 15

    Setelah menerima telepon itu, aku langsung bergegas pulang ke kampung halaman malam itu juga.Di lorong rumah sakit, ibuku masih dalam penanganan darurat, sementara dokter menunjukkan ekspresi serius. "Kondisi pasien sangat kritis. Dia harus segera menjalani operasi. Tapi, fasilitas rumah sakit di sini nggak memadai. Kami menyarankan agar pasien segera dipindahkan ke rumah sakit lain."Sekujur tubuhku terasa dingin. Aku seolah-olah kembali ke tiga tahun lalu. Saat itu, ayahku berbaring di ranjang rumah sakit, dokter juga mengatakan hal yang sama kepadaku.Saat itu, aku kehilangan ayah.Kali ini, jangan-jangan aku juga akan kehilangan ibu?Aku bahkan tidak sanggup berdiri tegak dan hampir pingsan di tempat.Tepat saat itu, Regina tiba. "Biar aku saja."Semua orang tertegun.Dokter mengenalinya. "Kamu … Regina Liandra? Dokter Regina ya?"Regina mengangguk. "Berikan rekam medisnya kepadaku."Dalam beberapa menit, Regina sudah mengambil keputusan. "Bisa dilakukan. Segera persiapkan semuany

  • Dulu Aku Rela Terjebak Dalam Cintamu   Bab 14

    Selama beberapa hari berikutnya, Regina selalu mengikuti ke mana pun aku pergi. Kami menginap di hotel yang sama, pergi ke tempat wisata yang sama, bahkan makan di restoran yang sama. Aku tahu mengabaikannya adalah cara terbaik untuk membalasnya. Jadi, aku memilih untuk menganggapnya tidak ada. Aku tetap menikmati pemandangan saat ingin menikmati pemandangan dan tetap memotret saat ingin memotret. Namun, Erika malah sudah tidak tahan lagi."Kak Mantan." Di dalam restoran, Erika meletakkan peralatan makannya di atas meja. "Apa kamu punya kecenderungan jadi penguntit?"Regina bahkan tidak mengangkat kelopak matanya. Dia mengambil sepotong sayap ayam dengan santai, lalu mengulurkan tangannya melewati meja dan meletakkannya ke dalam mangkukku. Gerakannya begitu alami seperti dulu, seolah-olah pernikahan kami belum berakhir."Aku sedang pergi jalan-jalan bersama suamiku. Kenapa malah dibilang menguntit?"Erika tersenyum manis, tetapi tidak ada sedikit pun senyum di matanya. "Aku koreksi s

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status