Share

Bab 03

Author: Just Mommy
last update publish date: 2026-09-26 09:14:13

POV Clove

Keesokan harinya, saat Reno dan Fara pergi ke resto bersama dengan senyum menjijikkan di wajah mereka, paket CCTV mini milikku tiba.

Tanpa membuang waktu, aku masuk ke kamar tamu.

Jemariku bergerak sigap menyembunyikan kamera pertama di balik sela-sela bingkai lukisan yang mengarah tepat ke tempat tidur. Kamera kedua kuletakkan di sela lubang AC.

Setelah memastikan sudut pandangnya sempurna melalui aplikasi di ponselku, aku melangkah keluar.

Sejak saat itu, setiap kali melihat wajah mereka di rumah, rasa jijik yang luar biasa membuat perutku mual.

Aku bahkan melihat dengan jelas bagaimana mereka bergumul, melalui rekaman CCTV.

Ingin rasanya aku mencabik-cabik wajah polos Fara dan memukul Reno dengan kuali panas. Namun, aku terus menahan diri.

Senyum manis beracun tetap kupasang rapi di hadapan mereka.

"Kamu keliatan makin seger belakangan ini, Clo," ujar Mas Reno pagi itu. Dia menatapku heran karena aku tidak lagi mengeluh pusing.

"Iya nih, Mas," jawabku lembut sambil menuangkan kopi untuknya.

"Gak tau kenapa, udah beberapa hari ini aku gak minum susu dari kamu, tapi badan malah enakan. Padahal biasanya tiap bangun tidur, selalu lemas,” sindirku.

Seketika mereka berdua tersedak. Mereka pasti kalang-kabut. Takut jika rahasia mereka terbongkar karena aku tidak meminum obat tidur itu lagi.

“Kenapa, Mas? Kok keseleknya kompakan gitu? Apa ada sesuatu yang kalian tutupi?” sindirku lagi.

Suamiku terbatuk-batuk, sementara Fara menghentikan suapannya seketika.

Tangan Mas Reno yang memegang gelas air tampak gemetar saat mengangkatnya ke bibir. Wajah Fara bahkan pucat pasi, menatapku seolah aku adalah algojo yang siap mencabut nyawanya.

"Ka-kamu ini bicara apa sih, Clo?" dalih Mas Reno gagap, mengusap mulutnya yang basah.

"Ya bagus dong kalau badan kamu enakan! Berarti kamu cuma butuh istirahat, bukan karena susunya!"

Aku menyunggingkan senyum manis yang sangat beracun.

"Oh, begitu ya? Kirain kenapa. Soalnya semalam waktu aku bangun mau buang air kecil, Mas gak ada di kamar. Kamu ke mana jam dua pagi, Mas?"

Mata Mas Reno melotot tajam, makin gelagapan. "Ak-aku, aku ke dapur! Ambil air minum! Kamu jangan mulai curiga yang enggak-enggak, ya!"

"Iya, Mbak Clo," sela Fara dengan suara bergetar, berusaha menetralkan ketegangannya. "Mas Reno cuma ke dapur sebentar, kok."

“Kok kamu tau? Emangnya kamu gak tidur?” sindirku, tajam.

“Clo! Kamu ini kenapa, sih?” tegur Mas Reno, kesal.

“Maaf, Mbak. Kebetulan aku abis dari toilet. Aku denger suara Mas Reno di dapur,” cicit jalang itu.

"Aku gak nanya kamu, Far!" tembakku dingin, membuat Fara bungkam seketika.

"Kamu jangan sinis sama tamu dong, Clo! Tamu itu adalah raja, kita harus—"

"Tamu yang gak diundang? Dari awal aku udah nolak kehadiran tamu ini. Tamunya aja gak tau diri," sahutku tajam.

Wajah Mas Reno langsung kecut. "Clo! Kamu Keterlaluan banget, sih?!"

Aku tertawa pelan, pura-pura menerima alasan konyol itu. "Bercanda kok, Mas. Ya udah, aku mau beres-beres dulu."

Setelah mereka pergi, aku langsung mengetik pesan singkat di ponselku.

Clove: Om, apa hari ini kita bisa bertemu?

Pesan itu kukirim pada pengacara keluargaku. Namanya Om Lukman.

Siang harinya, udara di dalam kantor hukum Om Lukman terasa mencekam. Suara ketukan jarinya pada tumpukan berkas membuat dadaku makin berdegup kencang.

Aku sudah menyerahkan seluruh bukti perselingkuhannya.

“Apa kamu yakin ingin bercerai dengannya, Clo?” tanya Om Lukman, sambil menatapku.

“Setelah apa yang Om lihat, apa menurut Om, aku sebodoh itu sampai harus melanjutkan pernikahan busuk ini?” Aku bertanya balik.

“Ya, Om paham posisimu. Tapi masalahnya tidak semudah itu, Clo,” jawabnya.

"Posisi hukummu sebenarnya agak pelik," ujar Om Lukman, meletakkan kacamata bacanya ke meja.

"Ada hal-hal krusial yang tidak bisa kita ambil alih begitu saja."

Napasku terasa sesak mendengarnya. "Maksud Om bagaimana? Itu kan resto yang berdiri dari resep Papa!"

"Benar, resepnya memang milik Papamu dan hak patennya bisa kita amankan atas namamu," tegas Om Lukman.

"Tapi masalahnya ada pada kepemilikan aset dan badan usaha."

Om Lukman membuka sebuah map tebal berlogo resmi negara. Matanya menatapku penuh simpati.

"Aroma Senja didirikan setelah kalian menikah atas nama suamimu, yang artinya operasional dan keuntungan bisnis bisa dikategorikan sebagai harta gono-gini," jelasnya.

"Tapi untuk rumah tinggal dan tanah tempat restoran itu berdiri, semuanya dibeli sebelum kalian resmi menikah dan di atas sertifikat terdaftar atas nama Reno."

Jantungku seperti merosot ke perut. "Tapi Om, uang pembelian tanah itu pakai tabunganku juga! Aku ikut bayar hampir enam puluh persen dari total harganya!"

Om Lukman menggeleng pelan dengan raut prihatin.

"Apa ada bukti transfer tertulis atau perjanjian pra-nikah yang menyatakan uang itu adalah penyertaan modal atas namamu?"

Aku membisu seketika. Tenggorokanku terasa begitu kering.

Dulu, aku begitu mencintai Mas Reno. Aku sangat memercayainya hingga merelakan seluruh tabungan masa mudaku dipakai olehnya untuk membeli tanah itu, atas nama pria itu sendiri.

Aku terlalu bodoh dan dimabuk cinta.

"Tidak ada, Om," sahutku lirih, sambil menundukkan kepala. Rasa penyesalan meremas dadaku tanpa ampun.

"Itu masalah dasarnya, Clo," lanjut Om Lukman prihatin.

"Tanpa bukti tertulis, secara hukum tanah dan bangunan itu murni milik Reno. Kita hanya bisa menuntut pembagian keuntungan operasional dan menarik hak paten resep Pak Bondan."

Aku mengepalkan tangan di atas pangkuan. Rasa marah pada diriku sendiri yang terlalu polos di masa lalu berbaur dengan kebencian mendalam pada Mas Reno.

"Aku mau tarik resep Papaku, Om!" ucapku tegas, mendongak menatap Om Aris.

"Biarkan dia punya tanah dan bangunannya, tapi aku akan pastikan bangunan itu cuma jadi cangkang kosong tanpa jiwa!"

Selesai dari kantor pengacara, kepalaku rasanya ingin pecah. Aku memilih menenangkan diri di sebuah kafe sepi di sudut kota, menunggu Maya, sahabat karibku sejak SMA.

"Clo! Kamu gak apa-apa?" tanya Maya tergesa-gesa begitu menduduki kursi di depanku.

"Aku capek, May," sahutku, lirih, sambil memutar-mutar cangkir kopi dingin di depanku.

"Ternyata dari awal Mas Reno udah ngunci semua aset atas namanya."

Maya memegang tanganku erat. "Bajingan! Aku dari dulu emang gak pernah sreg sama kelakuannya yang manipulatif itu!"

Aku hanya bisa tersenyum getir. Saat aku mau menyeruput kopiku, Maya mendadak membelalakkan mata ketika menatap layar ponselnya.

"Bangsat! Ini beneran suamimu, Clo?" umpat Maya tiba-tiba. Wajahnya merah padam menahan murka.

"Ada apa, May?" tanyaku dengan perasaan yang mendadak tidak enak.

Tanpa bersuara, Maya langsung menyodorkan layar ponselnya ke depan wajahku.

Itu adalah artikel wawancara majalah bisnis ternama yang terbit secara online baru sepuluh menit lalu.

Judul artikel itu tercetak besar dan tebal. 'Rahasia Dapur Aroma Senja: Sentuhan Dingin Fara, Sang Master Chef Lulusan Prancis di Balik Kelezatan Michelin Star.'

Napasku terhenti seketika. Mataku meneliti baris demi baris kalimat di dalam artikel tersebut.

Di sana tertulis wawancara eksklusif bersama Mas Reno. Bahkan terlampir video wawancara itu.

Dengan sangat percaya diri, suamiku menyatakan bahwa seluruh menu andalan Aroma Senja diracik oleh Fara, yang diklaim sebagai chef lulusan sekolah kuliner bergengsi di Prancis.

Mas Reno bahkan memuji keahlian Fara yang katanya "berhasil menghidupkan cita rasa kelas dunia".

Nama Pak Bondan, papaku, tidak ada. Namaku sama sekali ditenggelamkan, seolah aku tak pernah ada di dunia ini.

"Sinting!" gumamku dengan suara bergetar.

"Fara itu cuma food vlogger, May! Dia bahkan gak bisa ngebedain lengkuas sama jahe!"

"Lihat kolom komentarnya, Clo!" ucap Maya dengan nada tinggi, emosinya sudah di ubun-ubun.

Aku menggeser layar ke bawah. Ribuan komentar netizen membanjiri artikel tersebut. Aku pun membacanya.

“Wah, pantesan enak banget! Yang masak ternyata lulusan Prancis, cantik pula!”

“Pak Reno sama Chef Fara cocok banget! Pasangan serasi yang memajukan kuliner Indonesia!”

“Definisi di balik pria sukses ada wanita hebat di sampingnya. Fara emang terbaik!”

“Kapan nikah sih kalian berdua? Mukanya mirip banget, fix jodoh ini mah!”

Darahku mendidih. Dada ini rasanya seperti ingin meledak hingga aku kesulitan untuk sekadar menarik napas.

Mas Reno bukan hanya mencuri karyaku.

Bajingan itu menyerahkan seluruh kehormatan, resep, dan dedikasi mendiang Papaku kepada selingkuhannya, hanya demi menaikkan nama Fara di mata publik!

"Clo, kamu mau ke mana?" teriak Maya kaget saat melihatku mendadak berdiri dari kursi.

"Aku mau ke resto," jawabku dengan suara sangat dingin. Mataku menyala oleh kemarahan yang luar biasa.

Saat aku keluar dari cafe, tiba-tiba Liam menghampiriku. Aku pun langsung menghentikan langkahku.

“Selamat siang, Nona. Saya ingin mengingatkan, waktu Anda sudah hampir habis,” ucapnya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dulu Ditendang Mantan, Kini jadi Istri Jutawan   Bab 72

    Monica berdiri mematung di depan lift dengan wajah memerah padam. Dia mengepalkan jemarinya erat sebelum akhirnya berbalik dan melangkah pergi dengan hentakan kaki penuh rasa malu yang membakar. "Gila, Bu Monica dibentak habis-habisan di depan umum!" bisik seorang staf keuangan seraya membelalakkan mata tak percaya. "Iya! Padahal Bu Monica itu direksi yang paling ditakuti di gedung ini," timpal karyawan lainnya dengan nada takjub bercampur puas. Namun, fokus perbincangan itu dengan cepat mengarah pada sosok Clove. Spekulasi liar yang semula hanya berembus samar di antara koki kantin kini menyebar luas ke seluruh penjuru kantor. "Tapi chef pribadi itu beneran bukan orang sembarangan, deh," cibir seorang wanita bersetelan kerja ketat di salah satu meja. "Mana ada chef yang troli makanannya didorongin langsung sama Bos besar?!" "Iya, jangankan dorong troli, Pak Dewa nyapa staf biasa aja hampir gak pernah! Ada yang gak beres, nih. Gak mungkin hubungan mereka cuma sebatas

  • Dulu Ditendang Mantan, Kini jadi Istri Jutawan   Bab 71

    Pintu lift khusus terbuka perlahan saat tiba di lantai tiga. Namun, pemandangan pertama yang menyapa indra penglihatan Dewa bukannya aroma makanan hangat atau suasana tenang, melainkan suara perdebatan yang bising.Pria itu melangkah keluar dan mendapati Clove sedang berdiri menahan dorongan trolinya, dihambat oleh Monica yang bersedekap angkuh di depan pintu.Aura di sekitar Dewa seketika turun hingga ke titik beku. Matanya menyipit tajam, memperlihatkan kekesalan yang luar biasa."Ada apa ini?" suara bariton pria itu menggelegar rendah. Namun sanggup membekukan lorong tersebut.Monica yang mendengar suara dingin itu seketika berbalik. Wajahnya yang semula galak mendadak berubah menjadi penuh senyuman ramah dan rasa bangga.Ia mengira baru saja melakukan tindakan yang sangat berjasa bagi pimpinannya."Ah, Pak Dewa!" ucap Monica manis, melangkah mendekati Dewa. "Baguslah Bapak turun. Saya sedang menertibkan wanita ini."Dewa menatap Monica dengan pendar mata yang sangat dingin. "Men

  • Dulu Ditendang Mantan, Kini jadi Istri Jutawan   Bab 70

    Sebelum Clove sempat membalas, seorang pria bercelemek putih keluar dari ruang penyimpanan bahan. Wajahnya yang semula tegang seketika berbinar cerah saat melihatnya."Clove? Kamu kerja di sini?" tanya pria itu dengan nada gembira.Wanita itu menoleh dan matanya ikut membelalak lega. "Mas Bima?"Keduanya saling melempar senyum lebar. Bima adalah senior Clove saat masih menimba ilmu di sekolah kuliner beberapa tahun lalu. Hubungan mereka memang cukup akrab sebagai sesama koki."Astaga, aku dengar ada koki pribadi baru buat Pak Dewa, gak nyangka ternyata kamu!" ujar Bima seraya menepuk bahu Clove ramah. "Ada apa? Apa kamu butuh bantuanku?""Aku kehabisan fresh rosemary, Mas. Kira-kira boleh pinjam sedikit, gak?" jawab Clove meringis pelan. "Boleh banget, jangankan sedikit, satu pot juga tak kasih!" tawa Bima renyah seraya berbalik menyambar seikat rosemary segar dari rak pendingin.Sambil menyerahkan bumbu itu, Bima menyempatkan diri mengobrol singkat, menanyakan kabar serta mendoakan

  • Dulu Ditendang Mantan, Kini jadi Istri Jutawan   Bab 69

    Darah Clove berdesir mendengarkan cacian pedas pria di hadapannya. Kata 'tidak kompeten' yang meluncur mulus dari bibir Dewa berhasil menyulut seluruh harga diri dan profesionalismenya sebagai seorang chef.Ia mengepalkan jemarinya, menatap tajam ke dalam iris mata pekat milik pria arogan itu."Baik, saya terima tantangan Bapak!" sahut Clove dengan nada suara dingin dan sarat penekanan.Dewa menyunggingkan senyum tipis penuh kemenangan, menyandarkan punggungnya semakin dalam ke kursi kebesarannya."Tapi saya minta waktu," lanjut Clove cepat sebelum pria itu sempat bersuara. "Sebentar lagi sudah masuk jam makan siang. Saya akan memasak menu makan siang untuk Anda sesuai jadwal dulu. Setelah itu, baru saya proses menu eksperimen baru yang Bapak inginkan."Dewa tidak memprotes sedikit pun. Lagipula, tujuan utamanya memutar otak dengan alasan konyol ini memang hanya demi memastikan wanita di hadapannya itu terus berputar di sekitarnya."Terserah kamu," sahut pria itu datar, pura-pura ti

  • Dulu Ditendang Mantan, Kini jadi Istri Jutawan   Bab 68

    Setibanya di lantai teratas, Clove menarik napas panjang di depan pintu yang menjulang tinggi. Ia mengetuk pintu itu tiga kali dengan ketukan yang teratur. "Masuk," sahut suara bariton dari dalam, terdengar dingin dan datar. Clove mendorong pintu itu, melangkah masuk dengan bahu tegap. Ia memposisikan dirinya sangat formal. Layaknya seorang staf profesional yang hendak menyerahkan laporan operasional kepada sang pimpinan tertinggi. Di tangannya, tertapit map tipis berisi lembaran rencana menu masakan selama seminggu ke depan beserta beberapa poin kebutuhan dapur yang telah ia susun rapi. Dewa tampak duduk di balik meja kerja megahnya. Pria itu mengenakan kemeja putih yang lengan bagian bawahnya digulung hingga ke siku, menampilkan urat-urat tegas di lengan bawahnya. "Selamat siang, Pak Dewa," sapa Clove formal, menjaga jarak berdiri di depan meja. "Saya ingin menyampaikan laporan penataan bahan masakan dan daftar rencana menu untuk seminggu ke depan." Pria itu menyandar

  • Dulu Ditendang Mantan, Kini jadi Istri Jutawan   Bab 67

    Liam meringis pelan, tidak habis pikir dengan protes absurd dari atasannya itu. "Ya, saya mana tahu Nona Clove akan menelepon saya, Pak.""Makanya kamu bilang sama dia! Kalau ada apa-apa, langsung telepon saya!" tegas Dewa cepat dengan nada memprotes yang sangat ketus.Pria itu terdiam sejenak dan menatap asistennya."Liam," panggilnya dengan raut kaku dan angkuh."Iya, Pak?""Jemput dia sekarang! Suruh dia melapor ke ruangan saya setelah selesai membereskan semua bahan makanan itu," perintah Dewa tegas.“Baik, Pak!” Liam membuang napas panjang, lalu bergegas setengah berlari menuju lobi utama untuk menyambut wanita itu.Setibanya di lobi, dia terbelalak melihat Clove membawa empat kantung belanjaan berukuran besar yang tampak sangat berat. Asisten pribadi itu langsung mengambil alih dua kantung belanjaan di tangan wanita itu."Astaga, Nona. Belanjaannya banyak sekali," ujar pria itu, terengah-engah.Liam segera memanggil dua staf keamanan gedung yang berada tak jauh dari sana. "Mas,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status