Share

Bab 04

Author: Just Mommy
last update publish date: 2026-09-26 09:14:33

POV Clove

Aku memejamkan mata sejenak. Rasanya kepalaku hampir pecah. Satu sisi aku ingin melabrak suamiku. Namun di sisi lain, ada tuntutan yang tidak kalah menakutkan.

Dia benar-benar menepati janjinya untuk mendatangiku jika aku tidak memberi jawaban dalam satu minggu.

“Iya, saya ingat, Pak. Tapi saya butuh waktu. Sekarang saya ada urusan penting. Nanti saya kabari lagi,” ucapku, buru-buru.

Aku segera masuk ke taksi yang kebetulan baru menurunkan penumpang di depan cafe itu. “Game over, Mas! Kamu sendiri yang ‘bakar rumah’ ini."

Setibanya di sana, aku langsung menuju lantai dua Aroma Senja. Tanpa mengetuk, kudobrak pintu ruangan bertuliskan CEO di depanku.

Brak!

Dua orang di dalam ruangan itu tersentak. Mas Reno dan Fara sedang duduk bersebelahan di sofa, sambil tertawa begitu akrab dengan jarak tubuh yang sangat dekat.

Jika staf di luar tidak tahu siapa aku, mereka pasti mengira Fara adalah sang nyonya di sini.

Tawa mereka mendadak surut. Wajah Mas Reno langsung keruh, menatapku dengan sorot mata keberatan yang sangat transparan.

"Clo? Kamu ngapain ke sini?" tanyanya ketus, tanpa beranjak dari duduknya.

Melihat ekspresi menang Fara yang tersembunyi di balik raut terkejutnya, kepalaku yang tadi mendidih mendadak dingin.

Tidak! Aku tidak boleh terlihat emosi di depan wanita ini. Menunjukkan kekesalan di hadapan musuh sama saja menyerahkan kemenangan secara cuma-cuma.

Aku mengumbar senyum paling manis, melangkah masuk dengan tenang. "Wah, ada tamu kehormatan rupanya. Lagi merayakan kebohongan baru, ya?"

Fara langsung berakting dengan wajah terpukul yang sangat dramatis. "Mbak Clo, maaf, kalau kedatanganku bikin Mbak salah paham lagi."

"Salah paham?" Aku terkekeh renyah, melipat kedua tangan di depan dada.

"Salah paham bagian mananya, Far? Bagian kamu ngaku-ngaku lulusan Prancis, atau bagian suamiku yang mendadak amnesia sama nama istrinya sendiri?"

"Clove! Jaga mulut kamu!" bentak Mas Reno seraya berdiri pasang badan di depan Fara. "Gak usah mulai bikin keributan di sini!"

"Aku bikin keributan? Aku cuma kagum sama kehaluan kalian," sindirku telak, menatap Mas Reno tajam.

"Sejak kapan resep Papa yang diulek di dapur belakang berubah jadi masakan 'Chef Fara Lulusan Prancis'?"

"Itu trik bisnis, Clo! Pakai otak kamu!" sahut Mas Reno dengan suara meninggi, matanya melotot.

"Nama Fara itu punya nilai jual tinggi! Publik percaya sama dia. Terbukti kan, sejak Fara review resto ini, omset kita naik drastis!"

Aku menyunggingkan senyum sinis. "Resto viral cuma bertahan beberapa bulan kalau masakannya sampah, Mas.”

“Yang bikin orang datang lagi dan lagi itu rasa masakanku, bukan nama selebgram yang bahkan gak tau bedanya daun jeruk sama daun salam."

"Mbak Clo, tolong, kalau Mbak gak suka sama aku, jangan merendahkan profesiku," sela Fara dengan suara bergetar.

Matanya berembun seolah ia korban yang teraniaya. "Aku cuma berusaha bantu Mas Reno naikin branding resto."

"Bantu branding atau bantu menggantikan posisiku sebagai istri, Far?" tembakku tanpa ragu.

"Clove! Cukup! Kamu bener-bener keterlaluan!" bentak Mas Reno murka.

"Apa arti sebuah nama di artikel? Dalam bisnis, yang penting keuntungan! Lagian uangnya masuk ke rekening siapa? Ke kita juga, kan?"

"Oya? Gimana sama netizen yang sibuk menjodohkan kalian di kolom komentar? Itu bagian dari keuntungan bisnis juga?" cecarku.

Mas Reno justru terkekeh meremehkan. "Itu cuma lelucon netizen! Gak usah baperan. Repot kalau semua-mua dimasukin ke hati. Berpikir dewasa sedikit!"

Ia lalu berbalik memegang bahu Fara dengan lembut. "Far, kamu pulang dulu, ya? Maaf banget kamu jadi gak nyaman gara-gara sikap istriku yang gak jelas ini."

Fara berdiri, menatapku dengan raut pura-pura takut. Namun matanya memancarkan ejekan terselubung.

"Aku pamit ya, Mas Reno. Mbak Clo, maaf kalau keberadaanku selalu dianggap penjahat di mata Mbak."

Fara melangkah pergi meninggalkan ruangan. Begitu pintu tertutup, Mas Reno berbalik menatapku dengan sorot mata penuh amukan.

"Puas, kamu?!" bentaknya kasar.

"Kamu itu sama sekali gak mendukung karier suami! Kalau resto ini makin besar, kamu juga yang nikmatin hasilnya! Kalau sikap kamu picik begini terus, gimana bisnis mau maju?"

Telingaku berdenging mendengarkan omong kosongnya. Kalimat manipulatifnya tak lagi mempan. Aku sudah terlalu lelah untuk meladeni perdebatan sia-sia ini.

"Terserah kamu, Mas," ucapku dingin, lalu berbalik meninggalkannya tanpa menunggu jawaban.

Saat melangkah keluar dari area kantor menuju pintu utama resto, langkahku terhenti. Seluruh staf dapur dan pelayan berdiri diam. Mereka menatapku dengan raut wajah prihatin.

Mbak Yeni melangkah mendekat, matanya berkaca-kaca. "Mbak Clo, yang sabar, ya. Kami semua tau siapa yang kerja keras di dapur."

Aku memaksa diri untuk tersenyum tegar di depan mereka. "Gak apa-apa, Mbak, temen-temen semua. Terima kasih, ya. Kalian semangat kerjanya hari ini."

Aku bergegas pergi sebelum air mataku jatuh di depan mereka. Akan tetapi, saat aku baru melangkahkan kaki ke luar dari pintu resto, tiba-tiba sebuah mobil mewah berhenti di depanku.

Ternyata itu adalah Liam. Dia turun dan membukakan pintu untukku. “Silakan masuk, Nona Clove!” ucapnya, tanpa ekspresi.

Aku melirik ke dalam mobil. Tubuhku menegang saat melihat Pak Dewa duduk di sana. Dia bahkan tidak menoleh ke arahku.

Astaga! Apa dia seluang itu, sampai datang sendiri?

“Jangan lupa, waktu Pak Dewa sangat berharga. Tolong jangan membuang waktunya yang berharga itu,” tegas Liam.

Akhirnya aku memberanikan diri untuk masuk. “Selamat siang, Pak,” sapaku, sambil duduk di sampingnya.

“Siang,” sahutnya tanpa menoleh.

Mobil itu pun melaju di tengah keheningan kami. Aku ingat ucapan Liam tempo hari.

Namun aku tidak menyangka dia akan datang sendiri. Entah kejutan apa lagi yang akan ia berikan setelah ini.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Adolfina Rante
endingnya nanti bahagiaaa
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Dulu Ditendang Mantan, Kini jadi Istri Jutawan   Bab 81

    Dewa yang mendengar ucapan Clove seketika menggertakkan giginya pelan. Sorot matanya menghujam tajam ke arah kaca spion tengah tempat Liam menyembunyikan senyum tipisnya.Di dalam hati pria itu, rasa gengsi mendadak bergejolak. Jika ia menuruti permintaan Clove untuk pergi ke lokasi 'rapat' lebih dulu, itu artinya ia kalah dan menyerahkan kendali pada wanita di sampingnya."Liam," ucap Dewa dengan suara bariton yang sangat dingin. "Antar dia pulang ke rumahnya lebih dulu!"Clove yang mendengar keputusan itu seketika menoleh dengan dahi berkerut tajam. Ia merasa tidak enak hati jika harus merepotkan sang Presdir yang sibuk."Jangan, Pak," tolaknya cepat seraya mengibaskan kedua tangannya. "Bapak kan mau ada meeting penting. Saya tidak ingin mengganggu jadwal atau membuat Bapak terlambat."Dewa menyandarkan punggungnya di jok, menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Senyum yang sangat tipis dan sarat akan provokasi

  • Dulu Ditendang Mantan, Kini jadi Istri Jutawan   Bab 80

    Tubuh Clove seketika membeku. Suara bariton yang begitu dingin tepat di belakang tengkuknya sukses membuat bulu kuduknya berdiri.Jantungnya berdegup maraton. Namun wanita itu berusaha sebisa mungkin menguasai diri. Dengan wajah berpura-pura polos dan tidak mendengar ancaman itu, Clove dengan cepat mengalihkan pandangannya pada Liam."A-ayo Pak Liam, katanya tadi mobilnya sudah siap? Kita berangkat sekarang saja," ujar wanita itu cepat, hendak melangkah pergi.Namun, baru saja Clove mengayunkan kakinya, kerah bagian belakang bajunya mendadak tertarik dari belakang.Langkah Clove terhenti, lehernya agak tertarik ke belakang persis seperti seekor anak kucing yang sedang diangkat paksa oleh induknya."Mau kabur ke mana, kamu?" bisik Dewa dingin dari balik punggungnya.Dengan napas tersengal dan senyum manis yang dipaksakan hingga pipinya terasa kaku, Clove terpaksa menoleh secara perlahan. Pria tinggi berjas gelap itu sedang menatapnya dengan tajam, tangannya masih mencengkeram kerah b

  • Dulu Ditendang Mantan, Kini jadi Istri Jutawan   Bab 79

    Pintu lift pribadi terbuka lebar di lobi utama. Liam langsung melompat keluar dan berlari kencang menuju pintu keluar.Mata Liam celingukan ke sana kemari, menyapu seluruh area lobi yang luas bernuansa modern itu. Namun, Clove sama sekali tidak terlihat di area ruang tunggu maupun di pelataran depan.Rasa dingin yang mencengkeram seketika merayap ke tengkuk Liam. Wajahnya memucat bagaikan mayat.Dengan napas terengah-engah, dia berlari menghampiri meja pos keamanan di dekat pintu kaca utama."Mas Security!" panggilnya setengah berteriak pada staf keamanan yang bertugas. "Lihat Nona Clove chef pribadi Pak Dewa, gak?! Dia udah turun ke lobi belum?!"Staf keamanan itu terkejut melihat sang asisten Presdir yang biasanya rapi kini tampil berantakan dengan napas memburu."E-eh, Pak Liam ... Nona Clove yang chef baru itu, ya? Tadi saya lihat—"Belum sempat staf keamanan itu menyelesaikan kalimatnya, bu

  • Dulu Ditendang Mantan, Kini jadi Istri Jutawan   Bab 78

    Dewa seketika membeku. Matanya terbelalak, tak percaya. Di ujung telepon sana, Clove terdengar menarik napas panjang, menahan magma yang siap meletus kapan saja. "Bapak pikir saya ini robot yang bisa Bapak suruh-suruh dan dipermainkan seenak jidat Anda?!" lanjut Clove dengan suara bergetar menahan amarah yang membuncah. "Bapak yang minta dibuatkan menu baru, Anda menghina masakan saya, lalu saat saya sudah lelah setengah mati membuatkan yang baru, Bapak dengan santainya menyuruh saya berhenti dan pulang begitu saja?!" "Ini masalah standar kualitas, Chef Love. Sebagai customer, saya berhak mendapatkan yang terbaik. Jangan baper hanya karena masakan Anda dikritik," balas Dewa sengit. Suaranya naik satu oktaf merespons nada tinggi wanita itu. Napas Clove tersengal-sengal di seberang telepon. Emosinya benar-benar sudah berada di ambang batas kewarasan. "Tolong ya, Pak! Kalau Bapak punya masalah atau sedang puber kedua, jangan tumbalkan saya! Saya ini bekerja profesional sebaga

  • Dulu Ditendang Mantan, Kini jadi Istri Jutawan   Bab 77

    Melihat Bima masih bergeming dan tidak berniat pergi, Liam terpaksa merancang alasan pamungkas yang tidak akan bisa ditolak oleh siapapun.Liam memangkas jarak lalu berbisik dengan raut wajah dingin"Chef Bima," desisnya pelan tetapi sarat ancaman. "Bahan-bahan di dapur ini dipesan khusus dengan protokol keamanan tinggi untuk konsumsi tunggal Presdir. Jika terjadi kontaminasi silang atau alergi pada makanan beliau akibat ada staf luar yang masuk tanpa sterilisasi, manajemen akan menindak tegas dan membawa hal ini ke jalur hukum. Apa Chef Bima mau bertanggung jawab jika lisensi memasak Anda dicabut hari ini juga?"Ancaman soal lisensi dan jalur hukum itu seketika membuat raut santai di wajah Bima luntur. Pria itu menelan salivanya, mendadak sadar betapa mengerikannya risiko berurusan dengan aturan pimpinan Clinton Group."I-iya. Baik, Pak Liam. Saya paham," ujar Bima terbata-bata dengan wajah

  • Dulu Ditendang Mantan, Kini jadi Istri Jutawan   Bab 76

    Raut wajah Dewa seketika berubah pekat bagaikan langit yang tertutup awan hitam. Rahangnya mengeras kaku. Urat-urat di leher serta tangannya menegang saat menyaksikan tawa renyah Clove di layar monitor CCTV.Matanya menyipit tajam, memperhatikan jemari Bima yang sempat menyentuh dan mengacak rambut Clove dengan santai. Nyala api cemburu membakar seluruh kesadaran dan rasionalitas sang Presdir hingga berada di titik didih.“Sialan!”Dewa menghempaskan pena mahal di tangannya ke lantai hingga terbelah dua.Pria itu menekan tombol intercom dengan ketukan keras. "Liam! Masuk ke ruangan saya sekarang juga!" perintahnya dengan suara bariton yang bergema penuh amarah membunuh.Di luar ruangan, Liam yang sedang mengetik laporan seketika meloncat dari kursinya. Mendengar nada suara sang bos yang sudah berada di puncak murka, ia buru-buru berlari dan memutar knop pintu ruangan tersebut.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status