Compartir

Bab 05

Autor: Just Mommy
last update Fecha de publicación: 2026-09-26 09:15:06

POV Clove

Keheningan di dalam mobil terasa begitu mencekam. Pria di sampingku ini fokus menatap layar tabletnya tanpa mengalihkan pandangan sedikit pun.

Suasana dingin nan intimidatif menyelimuti kabin. Membuatku meremas jemari di atas pangkuan, tak berani membuka suara.

Hingga akhirnya, mobil berhenti di tepi sebuah danau yang sepi. Pemandangan air yang tenang di luar jendela sama sekali tak mampu meredakan badai di dadaku.

"Liam," suara bariton Pak Dewa memecah kesunyian, begitu dingin dan tanpa emosi.

Liam langsung paham. Dia menoleh dari kursi kemudi, mengulurkan sebuah stopmap tebal berwarna hitam padaku. "Silakan dibaca dan ditandatangani, Nona."

Aku menerima dokumen itu dengan jemari gemetar. Teringat kembali pengkhianatan Reno, rasa lemas di tubuhku akibat obat tidur, dan rekam jejak perselingkuhannya di rumahku sendiri.

Aku tahu aku tidak bisa mundur lagi, tapi ada hal prinsipil yang harus kutegaskan.

"Tunggu, Pak," ucapku pelan, mengumpulkan segenap keberanian. Aku menoleh pada pria di sampingku. "Sebelum saya tanda tangan, saya punya syarat."

Pak Dewa tidak menoleh. Ia masih menatap tabletnya. "Katakan!"

"S-saya tidak bisa melahirkan anak di luar pernikahan," tegasku.

Aku yakin pria terpandang seperti dia pasti akan menolak atau setidaknya berpikir ulang. Jangankan menikah dengan wanita yang masih bersuami, dengan janda pun dia pasti tidak akan mau.

Namun, jawaban Pak Dewa justru meluncur tanpa keraguan sedikit pun. "Kita bisa menikah."

Jantungku serasa melompat. Aku tertegun, tak menyangka ia menyetujuinya semudah itu. "Me-menikah?"

"Iya," sahutnya singkat.

"Tapi status saya saat ini masih istri orang, Pak!" sahutku makin gugup.

"Proses perceraian dengan suami saya tidak bisa selesai dalam semalam. Itu pasti memakan waktu yang—"

"Berapa lama?" potong Pak Dewa cepat.

Ia akhirnya mematikan layar tabletnya dan menatap lurus ke depan. "Seminggu? Tiga hari? Atau sehari?"

Aku terkesiap, mulutku sedikit terbuka. "Sehari?" tanyaku.

"Saya bisa atur agar perceraianmu selesai dalam waktu singkat," lanjut Pak Dewa, tegas.

"Setelah Anda resmi bercerai, Anda harus segera menjalani tugas untuk program kehamilan, Nona. Tentu saja ... dengan cara alami,” timpal Liam.

Mataku terbelalak sempurna. "Cara alami?! K-kenapa tidak menggunakan program bayi tabung?"

Pak Dewa menghela napas tipis, nada suaranya berubah semakin dingin. "Jangan banyak bertanya!”

Liam yang berada di depan ikut menimpali dengan suara tenang dan menekan.

"Maaf, Nona Clove. Pak Dewa tidak memiliki kewajiban untuk menjawab pertanyaan Anda. Lagipula, benefit yang Anda dapatkan dari perjanjian ini tidak sedikit."

Darahku mendidih mendengar ucapan Liam. Rasa frustrasi membuat ketakutanku terkikis oleh rasa amarah.

"Iya, saya tahu benefit-nya besar!" protesku sambil menatap Liam dan Pak Dewa bergantian.

"Tapi taruhannya ini anak! Ibu mana yang bisa menyerahkan anaknya dengan mudah tanpa kejelasan?! Semua ketentuannya harus transparan!"

Aku mengalihkan pandangan sepenuhnya pada Pak Dewa, menuntut jawaban.

"Bagaimanapun juga, kalau prosesnya alami dan menggunakan sel telur saya, artinya anak itu darah daging saya!

Bagaimana kalau anak itu sudah lahir, nanti? Apa saya masih bisa menemuinya? Apa kalian tega memisahkan ibu dari anak kandungnya sendiri? Lalu bagaimana kalau—"

"Kamu boleh menemui anak kita. Kapanpun!"

Pak Dewa mendadak menoleh. Manik matanya yang tajam mengunci tatapanku secara langsung.

Tubuhku meremang seketika. Saliva yang kutelan terasa mengganjal di tenggorokan saat mendengar frasa 'anak kita' meluncur begitu mulus dari bibirnya.

"Saya bukan orang picik," sambungnya dengan penekanan di setiap kata. Suaranya terdengar begitu dalam dan mutlak.

"Anda tidak perlu khawatir, Nona. Anak yang Anda lahirkan tidak akan kekurangan sedikit pun. Hidupnya akan sangat berkecukupan dan dia yang akan menjadi pewaris utama Clinton Group!" ujar Liam.

Tatapan tajam dan kalimat itu membuat nyawaku rasanya melayang sepersekian detik. Pewaris utama Clinton Group?

Dada ini bergemuruh, shock berat menyergap seluruh kesadaranku. Lidahku mendadak kelu, bingung harus menyusun argumentasi seperti apa lagi untuk menolak atau menawar.

Pria di sampingku ini bukan sekadar lawan bicara. Dia adalah sosok dominan yang sanggup meremukkan siapa pun hanya dengan sekali jentikan jari.

Aku berusaha menguasai diri. "S-saya mau semua ketentuan ini tertulis dengan jelas. Saya baru akan menandatanganinya kalau poin-poin tadi sudah hitam di atas putih."

Pak Dewa tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya melirik tipis ke arah spion tengah, memberikan kode singkat pada asistennya.

Liam yang seolah sudah paham langsung mengambil selembar kertas tambahan dari dalam tas yang ada di sampingnya dan menyerahkannya padaku.

"Anda tidak perlu khawatir, Nona. Anda tidak akan pernah dirugikan jika bekerja sama dengan Pak Dewa."

Aku menerima kertas itu dengan jemari bergetar. Mataku meneliti setiap bait kalimat yang tertera di sana.

Benar saja, semua tuntutanku, hak untuk menemui anak, status pernikahan resmi, hingga jaminan keselamatan dan kesejahteraan, tertuang secara detail dan rinci.

Secara teknis, dokumen ini memang sangat menguntungkanku dan memberiku perlindungan penuh. Bisa-bisanya dia sudah menyiapkan surat ini?

Namun di dalam hati, benakku masih dipenuhi tanda tanya besar. Kenapa harus aku?

Kenapa pria sekelas Dewa Clinton mau memiliki keturunan dari wanita yang sedang diambang kehancuran rumah tangga seperti diriku?

"Jelas?" Suara dingin Pak Dewa membuyarkan lamunanku.

Aku mengembuskan napas pelan. Tak ada jalan kembali.

Dengan tangan gemetar, aku membubuhkan tanda tangan di atas materai, lalu menyerahkan berkas itu kembali kepada Liam.

Pak Dewa mengalihkan pandangannya ke arah luar jendela. "Mulai besok, Anda harus datang ke penthouse setiap hari," ucap Liam.

Aku mengerutkan dahi. "Setiap hari?"

"Ya. Pagi buatkan sarapan, siang antarkan makan siang ke kantor, dan malam siapkan makan malam sebelum Pak Dewa pulang," instruksinya tanpa kompromi.

Dada ini rasanya kian sesak. Namun aku tak punya pilihan lain. Ini adalah harga yang harus kubayar demi membalas pengkhianatan Reno dan Fara hingga tak tersisa.

"Saya bisa datang sekitar jam enam pagi untuk masak sarapan. Apa boleh, Pak?" tanyaku ragu.

"Tidak masalah," jawab Pak Dewa singkat. Ia lalu menyandarkan punggungnya dan menoleh.

"Pengacara saya akan mulai mengurus perceraianmu, besok,” lanjutnya.

“Silakan Nona catat semua tuntutan Anda, harta gono-gini, aset resto, atau apa pun yang ingin Anda ambil kembali, lalu serahkan pada saya,” ucap Liam.

“Nanti tim hukum kami yang membereskan semuanya,” sambungnya.

Aku tertegun sejenak. Tim hukum mereka memang pengacara nomor satu. "Secepat itu?"

"Begitu surat ceraimu keluar, kita langsung menikah dan menjalani program kehamilan!" tegas Pak Dewa, sambil menatapku dengan tatapan yang begitu dalam.

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Dulu Ditendang Mantan, Kini jadi Istri Jutawan   Bab 44

    Fara memegangi kepalanya yang mendadak pening. Ia menatap Reno dengan pandangan memohon.Namun pria itu justru membuang muka dan pura-pura sibuk membilas piringnya kembali."Kamu bener-bener gila, Mbak!" keluh Fara frustrasi seraya menyambar kain pel manual itu dengan kasar. "Awas kamu, ya!"Fara berbalik dan menghentakkan kakinya keras-keras menuju ruang tengah dengan wajah merah padam. Clove tersenyum sangat puas dalam hati. Menikmati pemandangan suami dan selingkuhannya yang sedang tersiksa oleh aturan barunya.Siang harinya, suasana di penthouse mewah bernuansa gelap itu terasa hening. Clove baru saja menyelesaikan masakan untuk hidangan makan siang.Kini, giliran wanita itu yang harus mempersiapkan mentalnya. Ia tahu betul sebentar lagi harus berhadapan kembali dengan bosnya yang bermulut lantam dan penuh intimidasi itu.Pintu ruang kerja penthouse terbuka perlahan. Dewa melangkah dengan kemeja hitam

  • Dulu Ditendang Mantan, Kini jadi Istri Jutawan   Bab 43

    Dia menepuk bahu suaminya pelan sebelum berbalik pergi. "Jangan lupa cuci piringnya sampai bersih ya, Mas. Aku mau ke kamar dulu."Reno mematung di meja makan dengan wajah merah padam ditelan rasa kesal dan tak berdaya, terpaksa menatap tumpukan piring kotor di hadapannya.Pria itu tidak bisa berkutik sama sekali. Lidahnya terasa kelu untuk membalas ancaman telak istrinya.‘Sialan! Kenapa jadi begini, sih?’ keluhnya dalam hati.Selesai makan, pria yang biasa dilayani itu hanya bisa memandangi tumpukan piring kotor dengan wajah masam. Mau tidak mau, dengan perasaan berantakan dan gengsi yang hancur, Reno melangkah lunglai ke arah wastafel dan mulai mencuci piring satu per satu.Sementara itu, Clove berjalan santai menuju kamar tamu. Ia sudah menyiapkan kejutan manis untuk selingkuhan suaminya yang masih bersembunyi di dalam kamar.Dia mengetuk pintu kamar tamu itu dengan ketukan yang ritmis tetapi tegas. Ti

  • Dulu Ditendang Mantan, Kini jadi Istri Jutawan   Bab 42

    Melihat reaksi suaminya yang gelisah menatap pintu kamar Fara, Clove menyunggingkan senyum sinis. Ia memiringkan kepalanya sedikit."Kalau kamu mau menyusul dia, susul saja, Mas," sindirnya dengan nada santai. "Kasihan tuh, BA kesayanganmu nangis di kamar."Reno seketika salah tingkah luar biasa. Pria itu menggelengkan kepalanya cepat seraya duduk kembali di kursinya."N-nggak kok, Sayang! Siapa yang mau nyusul dia?" tolak pria itu cepat. "Aku di sini mau sarapan sama kamu."Tentu saja dia menolak untuk pergi. Ia belum menyantap hidangan lezat buatan istrinya yang sudah lama tidak ia nikmati.Akhirnya mereka pun makan bersama dalam keheningan sejenak. Clove menikmati sup iga buatannya, lalu membuka obrolan dengan nada santai."Oh iya, Mas. Aku mau kasih tau sesuatu," ucap wanita itu seraya meletakkan sendoknya.Dahi Reno berkerut halus. "Ngasih tau apa, Sayang?""Aku lagi nyiapin bisnis baru sama

  • Dulu Ditendang Mantan, Kini jadi Istri Jutawan   Bab 41

    Reno terbelalak kaget melihat tangisan Fara. Saat pria itu baru saja membuka mulutnya untuk bicara, Clove dengan cepat menyelaknya."Tidak usah sok teraniaya!" ucap wanita itu tajam. Matanya menatap Fara tanpa ampun."Aku masak pagi ini cuma buat suamiku!" tegas Clove seraya menunjuk Reno. "Bukan buat orang asing yang gak punya malu kayak kamu!"Fara mematung dengan bibir gemetar. Air mata buayanya mengalir kian deras."Harusnya kamu itu tau diri!" sembur Clove lagi. "Udah diberi tumpangan tinggal gratis di rumah orang, sekarang mau makan gratis juga?!"Clove menyilangkan tangan di depan dada. Pendar matanya sangat mengintimidasi."Kamu pikir masak itu gak capek?" cibirnya pedas. "Kalau kamu mau makan, masak saja sendiri sana! Oh iya, bahan-bahannya juga beli pakai uangmu sendiri, jangan pernah sentuh barang-barang yang aku beli!"Fara memegang lengan Reno. Ia menangis terisak, berharap mendapat

  • Dulu Ditendang Mantan, Kini jadi Istri Jutawan   Bab 40

    Selesai mandi dan berganti pakaian, wanita itu melangkah menuju dapur. Ia mulai menyiapkan bahan-bahan segar untuk memasak menu favorit suaminya.Reno yang sedang duduk di ruang tamu seketika mengendus aroma lezat tersebut. Semangatnya membuncah karena sudah beberapa hari perutnya merindukan masakan sang istri.‘Duh! Akhirnya bisa makan enak lagi. Bahaya banget, sih. Kalau udah biasa makan masakan dia, rasanya masakan orang lain gak ada yang enak,’ batin pria itu.Ia beranjak dari sofa dan berjalan setengah berlari ke dapur. Wajahnya berbinar-binar mendapati istrinya yang sedang sibuk di depan kompor."Wah, aromanya harum banget, Sayang!" puji Reno berapi-api seraya melangkah mendekati Clove.Pria itu merangkul pinggang istrinya dari belakang secara mendadak. Reno menyandarkan dagunya di bahu sang istri, bertingkah bagai suami yang sangat mencintai pasangannya."Aku kangen momen-momen kayak gini," bisik Reno mesra ser

  • Dulu Ditendang Mantan, Kini jadi Istri Jutawan   Bab 39

    Clove merasa gugup setengah mati. Ia takut dering ponselnya mengganggu kenyamanan Dewa yang sedang menikmati sarapan.Dengan cepat, ia menekan tombol merah untuk menolak panggilan tersebut. Namun, ponsel itu kembali bergetar tanpa henti.Reno terus-menerus menghubunginya tanpa kenal lelah. Clove menolak panggilan itu untuk kedua kalinya dengan wajah panik.Dewa yang merasa terganggu meletakkan sendoknya perlahan. Rahangnya mengeras menatap wanita itu."Jawab saja," titahpria itu dingin. "Berisik sekali."Sebenarnya, Dewa penasaran setengah mati. Ia ingin tahu apa yang hendak dikatakan oleh pria tidak tahu diri itu kepada Clove pagi ini.Dengan ragu, wanita itu beranjak berdiri dari kursinya. "Maaf, Pak Dewa. Saya izin angkat sebentar."Clove melangkah cepat mencari tempat yang agak jauh. Ia bersembunyi di balik pilar besar dekat area ruang tamu agar suaranya tidak terdengar jelas.Dewa memicingka

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status