Se connecterDewa memicingkan matanya tajam, menatap Liam yang masih membeku. "Kamu mengajari saya?"Liam menjelaskan situasinya sejelas mungkin. "Bukan begitu, Pak. Maksud saya, prosedur hukumnya memang butuh proses penginputan terlebih dahulu ke pengadilan.""Tahu apa kamu soal prosedur?!" maki Dewa meluapkan kekesalannya yang memuncak.Pria itu berdiri dengan kasar. "Kalian sama saja, membuat saya muak!"Dewa tidak melanjutkan makan malamnya. Pria itu melangkah lebar dengan menghentakkan kaki, lalu membanting pintu kamarnya hingga bersuara dentuman keras.BAM!Keheningan seketika meliputi meja makan tersebut. Clove sampai tertegun mematung melihat tingkah bos besarnya yang mendadak tantrum seperti itu.Liam mengusap wajahnya yang terasa lelah luar biasa. Asisten itu merasa serba salah di antara dua manusia berwatak keras ini.Dia melangkah mendekati Clove yang masih menatap pintu kamar Dewa. Ia menghela na
Mata Clove hampir melompat karena amarah yang sudah sampai di puncak kepalanya. Dadanya naik turun menahan gumpalan emosi yang siap meledak."Keterlaluan!" ucapnya seraya menepuk meja makan dengan telapak tangannya.Dewa tetap tenang, tidak berkutik sedikit pun dari posisinya. Ia menatap Clove dengan raut kaku yang tak tersentuh."Saya tahu Anda punya kekuasaan. Tapi bukan berarti Bapak bisa bertindak seenaknya!" tegas wanita itu dengan suara bergetar.Clove menggeretakkan giginya rapat-rapat, menatap pria angkuh itu dengan pendar benci. "Tidak semua hal di dunia ini bisa dibeli dengan uang!"Dewa menaikkan sebelah alisnya, membalas tatapan itu tanpa henti. "Faktanya, kamu butuh uang saya, kan?" sahutnya sangat santai.Wajah Clove seketika merah padam ditelan rasa malu dan emosi yang mebakar. Rasanya ia ingin membalikkan meja makan itu di hadapan wajah Dewa.Ia merasa direndahkan oleh pria yang kini memanda
Liam semakin gemas melihat tingkah laku atasannya itu. Namun, sebagai asisten yang profesional, ia tetap patuh pada instruksi bosnya.‘Terserah, deh. Mungkin emang begitu kalau orang lagi jatuh cinta,’ batin pria itu.Sambil menahan gengsi di hadapan Liam, Dewa berusaha keras mempertahankan raut wajah dinginnya. Meski begitu, sesekali senyum tipis yang sarat kepuasan tetap muncul di sudut bibirnya.Pria itu menyambungkan panggilan dan tampak sangat bersemangat bicara dengan Satria di seberang telepon. "Kira-kira kapan surat cerainya resmi terbit?" tanya Dewa langsung pada inti permasalahan tanpa basa-basi.Liam yang berdiri tidak jauh dari sana geleng-geleng kepala dan tidak habis pikir.Bahkan tanda tangan di lembaran kertas itu masih basah, tetapi bos besarnya sudah tidak sabar ingin segera memegang surat cerai tersebut.Satria di balik telepon memberikan tanggapan secara tenang. "Saya akan mengurusnya dan menyelesaikannya sesegera mungkin, Pak."Dewa langsung memberikan protes ker
Clove terkejut setengah mati. Tubuhnya tertarik keras hingga menabrak dada bidang pria itu."P-Pak!" pekiknya kaget sambil berusaha menahan dengan telapak tangannya. “B-Bapak mau apa?”Dewa mengunci pergelangan tangan Clove dengan tatapan tajam yang pekat. "Kamu mau mendiamkan saya sampai kapan?"Wanita itu heran dengan pertanyaan pria tersebut. Wajahnya menunjukkan rasa tidak percaya.Padahal sejak awal Dewa yang memulainya dengan kalimat-kalimat pedasnya. Namun sekarang, seolah-olah dirinya yang sedang merajuk tidak jelas."Saya tidak mendiamkan Bapak," sahutnya dengan suara datar tetapi tegas.Clove berusaha menarik pergelangan tangannya yang masih digenggam erat. Namun cengkeraman jemari pria itu sama sekali tidak melonggar."Saya diam karena saya tahu diri. Posisi saya di sini hanya sebatas chef pribadi Anda,” lanjutnya lagi.Clove menatap lekat mata pria itu tanpa rasa takut. "Saya hanya ak
Suasana di taman sepi itu seketika menegang. Angin seolah berhenti berembus di antara mereka yang saling menatap penuh kilatan emosi.Namun, orang yang paling tegang menyaksikan pertengkaran itu adalah Liam. Asisten setia itu berdiri di dekat pintu, seraya memegangi dadanya yang berdebar cemas.“Aduh, Bos, kalau caranya begini, gimana bisa dapetn hatinya?" gerutu Liam pelan. "Yang ada Nona Clove malah kabur dan makin benci."Clove yang sudah berada di puncak kemarahannya tidak mau lagi mendengar sepatah kata pun. Wanita itu berbalik dan melangkah pergi begitu saja, meninggalkan Dewa tanpa pamit.Melihat wanita itu menjauh, Liam akhirnya memberanikan diri melangkah mendekati bos besarnya. Sebenarnya, mereka berdua baru saja selesai mengadakan pertemuan penting dengan klien di lantai dua kafe tersebut. Namun saat hendak pulang, Dewa tak sengaja melihat Clove."Pak," panggil Liam pelan dan hati-hati.Dewa mas
Sore hari, Clove melangkah keluar dari rumah. Ia sengaja pergi lebih awal agar tidak perlu bertatap muka lagi dengan suaminya.Sebelum ke penthouse Dewa, ia memilih bertemu dengan Maya dan Aldo terlebih dahulu.Maya langsung melambaikan tangan begitu melihatnya tiba di kafe. "Clove! Di sini!" panggilnya penuh semangat.Clove tersenyum tipis lalu menduduki kursi kosong di hadapan mereka. "Udah lama nunggu, ya?""Baru beberapa menit, kok," sahut Aldo dengan nada tenang seraya menggeser segelas minuman untuk sahabatnya itu.Clove menghela napas panjang, lalu mulai menceritakan semua kejadian yang dialaminya belakangan ini. Ia menceritakan momen sejak malam grand opening hotel Aldo hingga drama Fara dan Reno di rumahnya.Mendengar penuturan Clove, wajah Maya seketika memerah padam ditelan amarah. "Brengsek banget si Reno!"Aldo mengepalkan tangannya di atas meja, menggeretakkan giginya rapat.







