Share

Bab 78

Author: Just Mommy
last update publish date: 2026-11-02 06:41:49

Dewa seketika membeku. Matanya terbelalak, tak percaya. Di ujung telepon sana, Clove terdengar menarik napas panjang, menahan magma yang siap meletus kapan saja.

"Bapak pikir saya ini robot yang bisa Bapak suruh-suruh dan dipermainkan seenak jidat Anda?!" lanjut Clove dengan suara bergetar menahan amarah yang membuncah.

"Bapak yang minta dibuatkan menu baru, Anda menghina masakan saya, lalu saat saya sudah lelah setengah mati membuatkan yang baru, Bapak dengan santainya menyuruh saya berhen
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Dulu Ditendang Mantan, Kini jadi Istri Jutawan   Bab 79

    Pintu lift pribadi terbuka lebar di lobi utama. Liam langsung melompat keluar dan berlari kencang menuju pintu keluar.Mata Liam celingukan ke sana kemari, menyapu seluruh area lobi yang luas bernuansa modern itu. Namun, Clove sama sekali tidak terlihat di area ruang tunggu maupun di pelataran depan.Rasa dingin yang mencengkeram seketika merayap ke tengkuk Liam. Wajahnya memucat bagaikan mayat.Dengan napas terengah-engah, dia berlari menghampiri meja pos keamanan di dekat pintu kaca utama."Mas Security!" panggilnya setengah berteriak pada staf keamanan yang bertugas. "Lihat Nona Clove chef pribadi Pak Dewa, gak?! Dia udah turun ke lobi belum?!"Staf keamanan itu terkejut melihat sang asisten Presdir yang biasanya rapi kini tampil berantakan dengan napas memburu."E-eh, Pak Liam ... Nona Clove yang chef baru itu, ya? Tadi saya lihat—"Belum sempat staf keamanan itu menyelesaikan kalimatnya, bu

  • Dulu Ditendang Mantan, Kini jadi Istri Jutawan   Bab 78

    Dewa seketika membeku. Matanya terbelalak, tak percaya. Di ujung telepon sana, Clove terdengar menarik napas panjang, menahan magma yang siap meletus kapan saja. "Bapak pikir saya ini robot yang bisa Bapak suruh-suruh dan dipermainkan seenak jidat Anda?!" lanjut Clove dengan suara bergetar menahan amarah yang membuncah. "Bapak yang minta dibuatkan menu baru, Anda menghina masakan saya, lalu saat saya sudah lelah setengah mati membuatkan yang baru, Bapak dengan santainya menyuruh saya berhenti dan pulang begitu saja?!" "Ini masalah standar kualitas, Chef Love. Sebagai customer, saya berhak mendapatkan yang terbaik. Jangan baper hanya karena masakan Anda dikritik," balas Dewa sengit. Suaranya naik satu oktaf merespons nada tinggi wanita itu. Napas Clove tersengal-sengal di seberang telepon. Emosinya benar-benar sudah berada di ambang batas kewarasan. "Tolong ya, Pak! Kalau Bapak punya masalah atau sedang puber kedua, jangan tumbalkan saya! Saya ini bekerja profesional sebaga

  • Dulu Ditendang Mantan, Kini jadi Istri Jutawan   Bab 77

    Melihat Bima masih bergeming dan tidak berniat pergi, Liam terpaksa merancang alasan pamungkas yang tidak akan bisa ditolak oleh siapapun.Liam memangkas jarak lalu berbisik dengan raut wajah dingin"Chef Bima," desisnya pelan tetapi sarat ancaman. "Bahan-bahan di dapur ini dipesan khusus dengan protokol keamanan tinggi untuk konsumsi tunggal Presdir. Jika terjadi kontaminasi silang atau alergi pada makanan beliau akibat ada staf luar yang masuk tanpa sterilisasi, manajemen akan menindak tegas dan membawa hal ini ke jalur hukum. Apa Chef Bima mau bertanggung jawab jika lisensi memasak Anda dicabut hari ini juga?"Ancaman soal lisensi dan jalur hukum itu seketika membuat raut santai di wajah Bima luntur. Pria itu menelan salivanya, mendadak sadar betapa mengerikannya risiko berurusan dengan aturan pimpinan Clinton Group."I-iya. Baik, Pak Liam. Saya paham," ujar Bima terbata-bata dengan wajah

  • Dulu Ditendang Mantan, Kini jadi Istri Jutawan   Bab 76

    Raut wajah Dewa seketika berubah pekat bagaikan langit yang tertutup awan hitam. Rahangnya mengeras kaku. Urat-urat di leher serta tangannya menegang saat menyaksikan tawa renyah Clove di layar monitor CCTV.Matanya menyipit tajam, memperhatikan jemari Bima yang sempat menyentuh dan mengacak rambut Clove dengan santai. Nyala api cemburu membakar seluruh kesadaran dan rasionalitas sang Presdir hingga berada di titik didih.“Sialan!”Dewa menghempaskan pena mahal di tangannya ke lantai hingga terbelah dua.Pria itu menekan tombol intercom dengan ketukan keras. "Liam! Masuk ke ruangan saya sekarang juga!" perintahnya dengan suara bariton yang bergema penuh amarah membunuh.Di luar ruangan, Liam yang sedang mengetik laporan seketika meloncat dari kursinya. Mendengar nada suara sang bos yang sudah berada di puncak murka, ia buru-buru berlari dan memutar knop pintu ruangan tersebut.

  • Dulu Ditendang Mantan, Kini jadi Istri Jutawan   Bab 75

    Clove menghentikan dorongan trolinya sejenak. Ia menoleh dan menatap kedua staf itu dengan wajah yang santai dan tenang. Sama sekali tidak terpancing emosi.Dia menyunggingkan senyum tipis yang terkesan meremehkan. "Kalau Mbak-Mbak penasaran kenapa Pak Dewa butuh makanan lagi jam segini, kenapa tidak tanyakan langsung saja pada beliau di lantai atas?"Kedua staf wanita itu seketika bungkam, wajah mereka berubah agak canggung.Clove menaikkan satu alisnya, melanjutkan dengan nada dingin. "Kebetulan ini pesanan langsung dari Pak Dewa. Kalau Mbak merasa keberatan atau menganggap ini cuma ajang cari muka, silakan naik ke ruang Presdir dan protes langsung pada beliau. Permisi!"Tanpa menunggu balasan dari mereka, Clove melangkah masuk ke dalam kabin lift khusus yang pintunya baru saja terbuka, lalu menekan tombol lantai teratas.Pintu lift tertutup rapat, meninggalkan kedua staf kantin yang berdiri mematung di luar dengan wajah merah padam ditelan kekesalan."Ih! Sombong banget!" maki st

  • Dulu Ditendang Mantan, Kini jadi Istri Jutawan   Bab 74

    Ancaman itu membuat Clove makin panik. Jika Dewa sampai turun tangan langsung menemui Reno, ia yakin situasi akan berubah menjadi kekacauan besar."Jangan! Tidak perlu!" tolak wanita itu cepat seraya menggeleng tegas. "Masih ada beberapa hal yang harus saya selesaikan sendiri dengan Reno. Saya sudah punya rencana!"Dewa merengut kesal, menyilangkan tangannya di depan dada dengan ketidaksabaran yang meluap. "Rencana apa lagi?! Kamu tidak perlu memikirkan harta gono-gini atau sisa peninggalan yang tidak seberapa itu! Semua kerugianmu bisa saya ganti sepuluh kali lipat detik ini juga!"Kekesalan Clove yang menumpuk akhirnya meledak. Ia jengkel setengah mati dengan kebiasaan Dewa yang selalu mengukur segala hal menggunakan lembaran uang."Tidak semua hal di dunia ini bisa dibeli dengan uang Anda!" sergah Clove berani, menatap tajam ke mata Dewa. "Ada salah satu buku resep rahasia peninggalan mendiang Papa ya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status