Partager

Bab 75

Auteur: Just Mommy
last update Date de publication: 2026-10-31 22:56:50

Clove menghentikan dorongan trolinya sejenak. Ia menoleh dan menatap kedua staf itu dengan wajah yang santai dan tenang. Sama sekali tidak terpancing emosi.

Dia menyunggingkan senyum tipis yang terkesan meremehkan.

"Kalau Mbak-Mbak penasaran kenapa Pak Dewa butuh makanan lagi jam segini, kenapa tidak tanyakan langsung saja pada beliau di lantai atas?"

Kedua staf wanita itu seketika bungkam, wajah mereka berubah agak canggung.

Clove menaikkan satu alisnya, melanjutkan dengan nada dingin.

"Kebe
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Dernier chapitre

  • Dulu Ditendang Mantan, Kini jadi Istri Jutawan   Bab 78

    Dewa seketika membeku. Matanya terbelalak, tak percaya. Di ujung telepon sana, Clove terdengar menarik napas panjang, menahan magma yang siap meletus kapan saja. "Bapak pikir saya ini robot yang bisa Bapak suruh-suruh dan dipermainkan seenak jidat Anda?!" lanjut Clove dengan suara bergetar menahan amarah yang membuncah. "Bapak yang minta dibuatkan menu baru, Anda menghina masakan saya, lalu saat saya sudah lelah setengah mati membuatkan yang baru, Bapak dengan santainya menyuruh saya berhenti dan pulang begitu saja?!" "Ini masalah standar kualitas, Chef Love. Sebagai customer, saya berhak mendapatkan yang terbaik. Jangan baper hanya karena masakan Anda dikritik," balas Dewa sengit. Suaranya naik satu oktaf merespons nada tinggi wanita itu. Napas Clove tersengal-sengal di seberang telepon. Emosinya benar-benar sudah berada di ambang batas kewarasan. "Tolong ya, Pak! Kalau Bapak punya masalah atau sedang puber kedua, jangan tumbalkan saya! Saya ini bekerja profesional sebaga

  • Dulu Ditendang Mantan, Kini jadi Istri Jutawan   Bab 77

    Melihat Bima masih bergeming dan tidak berniat pergi, Liam terpaksa merancang alasan pamungkas yang tidak akan bisa ditolak oleh siapapun.Liam memangkas jarak lalu berbisik dengan raut wajah dingin"Chef Bima," desisnya pelan tetapi sarat ancaman. "Bahan-bahan di dapur ini dipesan khusus dengan protokol keamanan tinggi untuk konsumsi tunggal Presdir. Jika terjadi kontaminasi silang atau alergi pada makanan beliau akibat ada staf luar yang masuk tanpa sterilisasi, manajemen akan menindak tegas dan membawa hal ini ke jalur hukum. Apa Chef Bima mau bertanggung jawab jika lisensi memasak Anda dicabut hari ini juga?"Ancaman soal lisensi dan jalur hukum itu seketika membuat raut santai di wajah Bima luntur. Pria itu menelan salivanya, mendadak sadar betapa mengerikannya risiko berurusan dengan aturan pimpinan Clinton Group."I-iya. Baik, Pak Liam. Saya paham," ujar Bima terbata-bata dengan wajah

  • Dulu Ditendang Mantan, Kini jadi Istri Jutawan   Bab 76

    Raut wajah Dewa seketika berubah pekat bagaikan langit yang tertutup awan hitam. Rahangnya mengeras kaku. Urat-urat di leher serta tangannya menegang saat menyaksikan tawa renyah Clove di layar monitor CCTV.Matanya menyipit tajam, memperhatikan jemari Bima yang sempat menyentuh dan mengacak rambut Clove dengan santai. Nyala api cemburu membakar seluruh kesadaran dan rasionalitas sang Presdir hingga berada di titik didih.“Sialan!”Dewa menghempaskan pena mahal di tangannya ke lantai hingga terbelah dua.Pria itu menekan tombol intercom dengan ketukan keras. "Liam! Masuk ke ruangan saya sekarang juga!" perintahnya dengan suara bariton yang bergema penuh amarah membunuh.Di luar ruangan, Liam yang sedang mengetik laporan seketika meloncat dari kursinya. Mendengar nada suara sang bos yang sudah berada di puncak murka, ia buru-buru berlari dan memutar knop pintu ruangan tersebut.

  • Dulu Ditendang Mantan, Kini jadi Istri Jutawan   Bab 75

    Clove menghentikan dorongan trolinya sejenak. Ia menoleh dan menatap kedua staf itu dengan wajah yang santai dan tenang. Sama sekali tidak terpancing emosi.Dia menyunggingkan senyum tipis yang terkesan meremehkan. "Kalau Mbak-Mbak penasaran kenapa Pak Dewa butuh makanan lagi jam segini, kenapa tidak tanyakan langsung saja pada beliau di lantai atas?"Kedua staf wanita itu seketika bungkam, wajah mereka berubah agak canggung.Clove menaikkan satu alisnya, melanjutkan dengan nada dingin. "Kebetulan ini pesanan langsung dari Pak Dewa. Kalau Mbak merasa keberatan atau menganggap ini cuma ajang cari muka, silakan naik ke ruang Presdir dan protes langsung pada beliau. Permisi!"Tanpa menunggu balasan dari mereka, Clove melangkah masuk ke dalam kabin lift khusus yang pintunya baru saja terbuka, lalu menekan tombol lantai teratas.Pintu lift tertutup rapat, meninggalkan kedua staf kantin yang berdiri mematung di luar dengan wajah merah padam ditelan kekesalan."Ih! Sombong banget!" maki st

  • Dulu Ditendang Mantan, Kini jadi Istri Jutawan   Bab 74

    Ancaman itu membuat Clove makin panik. Jika Dewa sampai turun tangan langsung menemui Reno, ia yakin situasi akan berubah menjadi kekacauan besar."Jangan! Tidak perlu!" tolak wanita itu cepat seraya menggeleng tegas. "Masih ada beberapa hal yang harus saya selesaikan sendiri dengan Reno. Saya sudah punya rencana!"Dewa merengut kesal, menyilangkan tangannya di depan dada dengan ketidaksabaran yang meluap. "Rencana apa lagi?! Kamu tidak perlu memikirkan harta gono-gini atau sisa peninggalan yang tidak seberapa itu! Semua kerugianmu bisa saya ganti sepuluh kali lipat detik ini juga!"Kekesalan Clove yang menumpuk akhirnya meledak. Ia jengkel setengah mati dengan kebiasaan Dewa yang selalu mengukur segala hal menggunakan lembaran uang."Tidak semua hal di dunia ini bisa dibeli dengan uang Anda!" sergah Clove berani, menatap tajam ke mata Dewa. "Ada salah satu buku resep rahasia peninggalan mendiang Papa ya

  • Dulu Ditendang Mantan, Kini jadi Istri Jutawan   Bab 73

    "Menunjukkan apa, Pak?" tanya Clove sambil menautkan alisnya."Nanti," sahut Dewa pendek dengan senyum tipis yang sukar diartikan. "Selesaikan makanmu dulu!"Clove mendengkus pelan seraya cemberut. "Kalau belum mau memberi tahu, tidak usah memancing penasaran, Pak.""Makan saja, Love. Jangan banyak protes!" balas Dewa tenang.Dewa mengusap bibirnya menggunakan serbet kain untuk terakhir kalinya. Ia langsung berdiri dari kursi. Tanpa mengucap sepatah kata pun, pria itu melangkah menuju meja kerjanya. Clove yang masih menahan rasa penasaran itu menatapnya.Dewa meraih sebuah stopmap tebal bernuansa merah tua dari atas meja. Ia pun kembali dan menyerahkannya pada wanita itu.Clove mengerutkan dahinya bingung. "Ini surat apa, Pak?"Dewa menyandarkan pinggulnya di tepi meja seraya melipat kedua tangannya di depan dada. Senyum yang tipis terukir di bibirnya."Selamat," ujar pria itu dengan nada suara berat nan tenang. "Sekarang kamu sudah resmi menjadi janda."Clove seketika membelalakkan

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status