Share

Chapter 29

last update Last Updated: 2026-01-26 17:15:29
Sienna Halim POV

Tubuhku kotor, lengket, bau keringat. Lutut kesat dari darah mengering, pinggir kaki masih terkilir. Aku lelah, jenuh, ingin cepat-cepat pulang. Terlihat dari batasan pagar jurusan yang membentengi, tidak sedikit anak-anak dari kelas lain yang merekam perkelahian kami. Kalau bukan jadi trending topic kolom Inst4-gram sekolah, wajahku ada di setiap cover fyp Toktok, nanti.

Terkenal karena berita sensasi itu prestasi paling memalukan. Jonathan, harusnya tau itu. Samuel juga, di
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Dulu Pembulinya, Kini Wanita Mainannya    Chapter 56

    Mood dalam aliran darah keduanya tidak dalam kondisi tertawa. Baik Sienna maupun Angelina, harap-harap cepat menyelesaikan drama dadakan di malam ini. Gemetaran tangan gadis itu—keringat dingin mengucur secara tragic bagai aliran sungai di lehernya—menunjukkan, sebuah history pesan antara Ia dan sang tunangan.“Ayo kita pergi ke Australia, Sie. Dokumennya, yang kemarin aku bawa ke rumahmu—oops.” Mulut Angelina tersudutkan oleh telapak tangannya. Seketika, Ia melangkah mundur. Ekspresi gadis itu menerangkan jelas ketakutan yang hendak Sienna beberkan di detik ke depan.“Australia,” bibir Sienna bergerak lemah. “Isi dokumen itu adalah surat rumah, kepemilikan apartemen, dan visa yang sudah Jonathan siapkan. Ada nama aku dan dia di sana. Kalau kupakai milikku saja, besok pagi aku bisa langsung ke bandara.”Angelina tertular tremor parah sepupunya. Gadis itu mengedip tak stabil; Ia ingin membahas soal Sienna yang terlihat begitu pucat di matanya. Sem

  • Dulu Pembulinya, Kini Wanita Mainannya    Chapter 55

    Mereka sama——meski kau tidak menginginkannya, sekalipun.Pohon palm imitatif, lelampu sudut bergelantungan, rest area selalu menawarkan rasa yang sama. Secuil mentari terpercik pada tengah-tengah tarian guyuran hujan. Yang mana cahayanya, menekan tak sopan. Mengecilkanmu, menyudutkanmu. Anak manusia menyeruak lahan bumi. Calm is a privilege, Samuel duduk, mencari kepingan teka-teki hilang dalam hatinya. Duduk sang ayah di samping, tidak membantu apapun kendati Samuel telah diberi banyak hal. Sudut ponselnya Ia tekan-tekan. Sedang berpikir. Sang ayah tadi berpendapat, Samuel terus menggodoknya setengah mati.‘Siapa?’ pemuda itu, dalam tatap heningnya, mencoba menjahit pikiran. ‘Siapa anak kelas yang dekat sama Sienna? Cukup dekat buat dia bisa membantu Sienna melarikan diri? Kecuali Jonathan? Aku enggak bisa pikir orang lain selain anak itu.’ Logika Samuel mulai tersudut hingga ke ujung.Ganta berlindung dari asap tembakau yang menghala

  • Dulu Pembulinya, Kini Wanita Mainannya    Chapter 54

    Audi R8XII-nya berubah menjadi medan gema.Notifikasi, kebisingan ponsel, uapan mesin mobil, semuanya beradu dengan tangis Dewi Halim yang pecah belah. Perintah Samuel terlalu banyak, terlalu cepat, sama sekali tidak membantu meringankan beban udara yang diterima oleh para bawahannya. Langkah-langkah para pelayan saling bertabrakan. Mereka dipaksa hadir dalam menit waktu yang tidak manusiawi. Dua tangan saja tidak cukup bagi Samuel untuk melacak semuanya. Ditambah—Dewi—wanita itu, terus menangis di jeritannya.“Hilang! Putriku hilang!” Tubuh wanita itu runtuk ke lantai. Rest area bukan lagi mereka tumpangi, mereka invasi. Datang segerombol pengemudi lain, secepat itu pula mereka melaju pergi, mengetahui tidak ada space tenang yang tersisa.“Sienna—oh, putriku yang malang.” Dewi terus menangis. Bengkak pada matanya semakin parah. Ia tidak bisa melihat, wanita itu terus jatuh, bertabrakan, dengan bodyguard lain yang tengah sibuk dengan laptop merek

  • Dulu Pembulinya, Kini Wanita Mainannya    Chapter 53

    “Sebagai gantinya, jangan pernah sentuh Sienna lagi.”“S-Samuel!”Sejak tadi, peran Dewi Halim hanyalah sebagai bantalan suaminya yang beremosi tak stabil. Rule tersembunyi dari kesepakatan Samuel dan William sebelum mereka menginvasi tempat ini; ‘Jika terjadi apa-apa pada Dewi Halim, perjanjian dibatalkan.’ Itu, yang Samuel tekankan pada pelayannya.Henri adalah the real predator yang sebenar. Setengah jam pertama negosiasi mereka, tak terhitung Samuel hampir melayangkan tinju pada pria busuk itu. Bukan hanya memperlakukan Dewi Halim tanpa kemanusiaan, Henri juga sempat menjambak rambut istrinya. Di hadapannya.Sebelum menyelamatkan Sienna, Samuel tampaknya harus berpikir cara tercepat untuk memisahkan Dewi dari predatornya itu. Mungkin, sebab terlahir dari DNA Henri Halim sendiri, sifat Sienna yang keras kepala diturunkan darinya. Namun, Dewi?Jauh dari kata melawan, Dewi Halim bahkan tidak merasakan apapun saat dilecehkan oleh suaminya

  • Dulu Pembulinya, Kini Wanita Mainannya    Chapter 52

    Pada Acanthus Filigree Woodwork membentengi pintu, lempeng Rim Lock hadir untuk menggoda sang pemilik. Tidak ada yang menguncinya, pengaman classic itu secara resmi tergantung, menyembul ke udara. Sang possessor, menggunakannya sebagai pelarian. Ukirannya lebih tua dari nenek moyang pria itu sendiri—harapan Henri, bertenggerlah semacam sihir atau apapun, yang bisa membuatnya melarikan diri dari pemuda ini.Air wajah nyaris terjatuh bosan, Henri sama sekali tidak dihormati sebagai possessor rumah. Koleksi ketiga sofa antiknya jauh dari kata menolong. Kendati kulit-kulit bangkai Rusa telah dipoles, dua gallons kolagen, punggung Henri setia perih.Samuel, mengangkat beberapa inch detail wajahnya lagi. Yang diserang pemuda berseragam lengkap itu adalah layar ponselnya—kali ini. Kali keberapa berdering, sang pemuda tampaknya telah habis masa menunggu. Ia lepaskan lipatan ponsel itu.Terror kedua hadir lagi pada kediaman tenang keluarga Halim. Bentuknya, sebuah

  • Dulu Pembulinya, Kini Wanita Mainannya    Chapter 51

    Dingin merayapi tulang kursi hingga pada punggung kaku yang menempati. Ada begitu banyak cara untuk tidak melihat—yet, Sienna memilih membakar buku-buku jarinya sendiri. Gantungan kunci silicone terus Ia sentuh hingga ujung jemarinya melepuh. Pantang berhenti. Tidak, meskipun engsel gantungan kunci itu mulai rapuh berkat tetes keringatnya.Tidak ada yang memaksa leher Sienna untuk menoleh. Mendongak pun, hanya sebatas opsi. Justru itu, titik dimana terletak masalahnya. Yang memaksa Sienna untuk terus menundukkan wajah, adalah kata hatinya sendiri. Kepalanya boleh berisik—sebagaimana sang Dokter terus mencoba merebut perhatiannya—sayangnya, Sienna paham betul dirinya sendiri.Menolehlah sekali, maka Ia tidak akan bisa kembali.Hatinya terlalu kecil dan—sendirian, untuk memilih beban seberat ini.Stephanie, dokter muda itu, irisnya sama sekali tidak melenceng dari target pembicaraan. Telunjuknya tanpa lelah menekan-nekan pada layar monitor yang Sien

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status