로그인Sienna Halim POV
"Sie—" Sebelum tangan itu menarikku, sudah lebih dulu aku berlarian pergi. Engsel pundakku sedikit terkilir akibat betapa kencang mencoba melarikan diri dari genggaman tangan kekar itu. Begitu panik saat tetangkap basah mengintip mereka, sampai tak sempat lagi memandang siapa yang menarik tubuhku tadi. Kekuatan tangannya tidak masuk akal. Apa Samuel sekuat itu selama ini? Sambil terus berlarian bak orang sinting, kusentuh pundakku yang berdenyut nyeri. Lalu, memandang horor ke belakang. 'Inikah cowok yang selama ini aku siksa? Maksudku—kalau dia sekuat ini, buat apa dia selalu diam tak melawan setiap kali aku bully?' batinku tidak bisa berhenti bertanya-tanya. Merinding. Dan, gelisah. Dua kata itu mencakar dadaku saat ini. Rasanya lepas mengetahui sifat asli Samuel, secuil bagian di hatiku berteriak ketakutan. Memperingatkan, mungkin saja, selama ini aku telah memilih lawan yang salah. Namun, gelisah itu sebatas buih di lautan garam. Lepasnya, ombak kemarahan mengepul dalam kepala. Berakhir lift mengantarku pada lantai satu Bar ini, yang pertama kali aku cari adalah bilik telepon umum. Tak ada waktu untuk aku mencari ponselku, sekarang, aku butuh berbicara pada Jo mengenai Angel. 'Sejak kapan dia hire sekretaris OSIS pelacur seperti itu? Aku saja yang anak setan ini, masih pikir-pikir untuk berhubungan seks sebelum menikah!' pekikku dalam hati. Panas di dada sudah tak keruan, kudorong petugas keamanan yang menghalangi jalanku di jalan depan. Telepon umum kuraih. Keputusan bijak untuk mengingat nomor telepon Jonathan, kendati aku membencinya. Tak kusangka akan kugunakan pertama kalinya, untuk memergoki hubungan zina sepupuku sendiri. Sambungan telepon mulai menyahut. Gigiku gemeletuk tak keruan menunggu Jonathan mengangkat. Mungkin panik atau apa, tapi sebelah telingaku mendadak tuli. Saat menunggu Jonathan menyahut panggilan, tak sadar ada seorang pria yang sedang berjalan menghampiriku. Pintu kaca bilik telepon ini, didorong kasar telapak tangannya. Bunyi deritnya, menarik wajahku untuk melihat. Belum sempat irisku mengerjap memahami, tiba-tiba, sebuah tangan dingin yang tegang menampar pipiku dari arah depan, dan— —plak. Wajahku ditampar. Keras. Cukup membuat sudut kanan bibirku robek, meneteskan darah dengan nyeri luar biasa. "Anak tidak tau diri." Pria itu menghardik. Mulutku tak sempat menghirup apapun, lebih dulu dikalahkan oleh sosok manusia yang paling aku takuti di dunia ini. "Mau sampai kapan kau terus mempermalukanku? Pagi hari, Mr. James menelpon, katanya kau telat lagi masuk kelas hari ini. Siangnya, Nanny-mu mengeluh. Sejam kemudian, giliran guru les-mu. Bilang apa dia? Katanya kau berbohong soal nilai ujianmu selama ini. Katanya kau gagal ujian nasional, dan kalau bukan karena uangku, kau tidak akan diluluskan. Sorenya, ibumu menerima berita kau sudah menghabiskan 300 juta dalam waktu sehari. Dan sekarang? Bodyguard yang susah payah aku datangkan dari Amerika, bilang padaku, putri satu-satunya yang kupunya, sedang pesta seks di sebuah Bar? Kau mau membuatku gila?" 'Cuma pesta minum, astaga, bukan pesta seks. Berlebihan sekali,' keluhku dalam hati, menyeka sudut bibirku yang terus meneteskan darah segar. Kuletakkan telepon umum kembali pada induknya. Pria yang menamparku barusan adalah Henri Halim, ayah kandungku. Kupikir urusannya di Paris belum selesai, maka aku berani pesta minum malam ini sebagai perayaan tahun kedua SMA kami. Siapa sangka bodyguard-ku sendiri yang cepu? Crazy motherfucker. "Maaf, ayah—" Wajahku, ditampar lagi. Belum selesai permintaan maaf, pipi kananku yang sudah biru memar, kembali ayahku hajar. Petugas keamanan yang tadi kudorong sempat mendelik ke arah kami; kurasa ada niatan dia untuk membantu. Mungkin, tapi karena rupanya aku adalah putri semata wayang Henri Halim, dia lebih takut influence ayahku, ketimbang keselamatanku. "Mana Jo?" ayahku menggeram, matanya menuntut. Pria secerdas dia mustahil absen dengan peraturan lobby untuk tidak menyalakan rokok—tapi, lihatlah. Diangkatnya sepuntung rokok, dan bodyguard-nya langsung memantik api. Arogan sekali. Kugaruk kepalaku yang tak gatal—malas, tapi terpaksa menjawab, "Kita berpisah di toilet tadi. Mungkin Jo sedang kumpul bareng anak-anak OSIS lainnya," alibiku. Bohong, jelas. Tapi apapun jawaban yang Henri dapatkan, pada akhirnya dia akan menyiksaku juga. Dua jam penuh, Henri memberikan 'kuliah' gratis untuk putrinya. Jika ini di rumah, yang menampar wajahku sekarang pastilah tongkat rotan tujuh turunan di ruang kerjanya. Beruntung, saat ini, ayah menemuiku di Bar. Setidaknya, kuliahku kali ini, bisa sedikit 'manis'. Jonathan datang. Jelas, ayah langsung manis wajahnya. Tak berani dia menunjukkan kumis rubah liciknya di hadapan satu-satunya boneka yang sukses dia manipulasi. Kujalankan peranku seperti biasa, saat mereka berdua sedang bertukar sapaan palsu. Berdiri diam, posisi tangan rapi layaknya calon istri idaman. Berlakon demi hubungan palsu yang hanya sejauh kontrak bisnis semata. Henri pulang, Jonathan dipercayakan untuk menebar 'suap' kesekian kalinya di bulan ini, ke seluruh penjuru sekolah kami. Agar tak ada yang berani bocor mulut soal kekacauan yang kubuat. Esoknya, aku tak bisa sekolah. Wajahku babak belur, oke? Lihatlah ke kaca, dan kau akan paham bentukan monster seperti apa. Sesampainya di rumah, ayah mengurungku di gudang sebagai hukuman tambahan. Ibu juga tidak pernah mau membela—keluaga sampah ini. Apa yang bisa kuharapkan? Aku yakin satu-satunya alasan mereka masih membiarkanku hidup, adalah karena perjodohanku dengan Jonathan. Hari-hariku berantakan. Kudengar dari Raya, cowok kutu busuk itu juga ikut-ikutan absen sekolah, selama aku izin sakit. Tebak apa? Angel juga tidak terlihat. Apa mereka sibuk kawin, sampai tak peduli sekolah lagi? Lihat memarku sembuh nanti, akan kubuat mereka menyesal sudah menipu seorang Sienna Halim. Ponselku disita ayah. Untung, uang dan seluruh fasilitas kartu kredit masih aman. Henri memang bajingan, tapi paling tidak perihal uang, dia tidak pernah perhitungan. Kuputuskan malam ini aku tidur di luar. Toh, mereka tak akan peduli. Be it I slept home or outside, all they care was only my contract marriage with Jonathan. "Wow! Enggak mimpi, kan? Sienna, pagi-pagi buta sudah ke sini?" Asam di wajahku surut seketika, di tengah keramaian yang tak pandang bulu menerimaku. Pemilik Bar Lumierre sekaligus sahabat kecilku, Giselle, langsung memeluk dan menarikku ke dalam. Begitu mendapati aku datang sendirian ke rumah keduanya. "Last kau ke sini, waktu ayahmu mengurungmu di dalam kulkas empat jam penuh. Wow, kalau ingat, rasanya sulit percaya pria sebaik Henri Halim bisa sekejam itu pada anaknya. Jangan bilang, kau ke sini sekarang juga karena habis disiksa?" Giselle mulai berceloteh sambil memberikan tempat duduk VVIP. Kukibas-kibas tanganku, gerah. Bukan karena udara, tapi karena malas membahas masa lalu. "Kasih aku yang paling strong. Kalau bisa, sampai bikin pingsan. Jangan ada bau atau warna, nanti Henri mengamuk lagi. Intinya buat aku semaput hari ini," pintaku tidak sabar. Giselle mulai ceramah, tapi ending-nya, dia menurut juga. Khusus aku, hanya Giselle yang boleh melayani. Karena kalau sampai publik tau, gadis minor sepertiku langganan Bar elit seperti ini, mungkin aku sudah dikebiri oleh Henri. Mataku gatal untuk tidak bertebaran di sekitar lantai satu Bar Lumierre. Tamu yang datang tidak cukup banyak. Tapi, mendadak ada keributan di depan pintu utama. Giselle sampai harus turun tangan. Aku yang tak minat, hanya menghabiskan tiga gelas racikan baru Giselle, lalu kembali tenggelam dalam lamunan. "Ell," kupanggil Giselle, dalam lanturan, yang baru saja tuntas menenangkan keributan. "Menurutmu, cowok yang harusnya cupu, culun ... mungkin enggak, sih, ternyata aslinya main perempuan?" "Player, maksudmu?" sahutnya cepat, matanya gerak mengamati wajahku yang mulai sempoyongan mabuk. Tertunduk pada meja Bar. "Cowok umumnya doyan perempuan, player atau bukan. Cupu, bukan berarti enggak ada nafsu. Why, tho? Jo selingkuh?" Kepalaku tergeleng cepat, merespon sambil merasakan pening. "Bukan," singkatku, "ingat cowok yang sering aku bully di sekolah? Kemarin di Bar tempat kita nongki, aku caught him red-handed lagi nge-seks sama Angel, sepupuku." "Hah!?" Giselle mendadak menggebrak meja di depanku. "Angel yang itu? Tunggu, hah? Bukannya si Angel itu anak baik-baik? I mean, kamu saja, yang doyan minum, sampai sekarang masih full segel." "Iya, mereka sex di toilet," ogah-ogahan aku membalas. Agak kesal karna Giselle justru fokus pada sepupuku. "Bukan itu, point-nya. Di sini, cowok yang aku bully harusnya enggak punya akses buat kenal Angel sama sekali. Let alone, seks. Dan tau, apa yang paling gong? Mereka raw. Gila." Giselle membiarkan suara kagetnya meledak, sampai perhatian para karyawannya, tertuju ke meja kami. "Sinting. Raw, kau bilang? At this economy? Kebobolan, baru tau rasa. Lagian, kenapa harus main-main sama sepupumu, sih? Kayak, enggak ada cewek lain. Belum tau dia, keluargamu galaknya seperti apa." Saat Giselle menanggapi perkataanku, ada satu keping ingatan dari insiden toilet Bar itu yang sempat aku lupakan. 'Benar juga. Kalau enggak salah ... Samuel, dia sempat menyebut namaku di tengah seks mereka, kan? Salah dengar, atau memang dia sungguhan menyebut namaku?' Begitu teringat, aku mulai larut dalam pikiran. Si centil, sahabatku Giselle, masih berceloteh, tapi tak satupun komentarnya masuk ke gendang telinga. Pikiranku terlalu kusut untuk terpeleset ke tempat lain, kecuali tanda tanya besar soal Samuel yang masih belum bisa kuurai. Dahiku sampai berkedut nyeri, seminggu dikurung di rumah, kepalaku cooped up padanya sampai insomnia. Terus terbayang momen terakhir di toilet sebelum akhirnya aku kabur ketakutan. Musik background Bar yang terlalu besar, menyembunyikan ketuk gelas yang bertengger di meja kami, bersama sosok pria berjas hitam di sampingnya. Aku menoleh kaget, temaram lampu membuatku tak bisa melihat siapa yang barusan datang menghampiriku. Pun, entah mengapa, aku tidak bisa mengabaikannya. Seorang pria potongan rambut klimis, jas hitam formal dipadu Cedarwood fragrance menguar kuat dari tubuhnya. Iris gelapnya menyala terang, menusukku dalam rahangnya yang bertengger diam. Rasanya, seperti melihat tokoh protagonis novel kesukaanku keluar dari buku. Sebelumnya, aku tak tau kota plain kami ini memiliki pria setampan dia. Atau, dia bule nyasar? Tiba-tiba, pria itu mengambil duduk di sampingku. Dia tersenyum, sambil menyodorkan segelas Cabernet Sauvignon penuh. Embun dinginnya menyentuh lengan polosku. "Kau Sienna Halim, kan?" Pria itu, menyapa dengan suara bass-nya. Begitu dalam suaranya, sampai tak sadar mataku diam-diam ikut hanyut pada pesonanya.“Minggir, Stacy. Sasya mau gendong juga!”“Cepetan difoto!”“Hmm… harumnyaa~”“Oh, oh! Dia senyum! Buruan difoto!”“…”“M-Mahkotanya jatuh!”Sambutan paling meriah dengan urutan:1. Classic biola Argenvale Symphony-Set2. Grand Piano Elmont Grand-Pearl Edition3. Diiringi Harpa kristal, terbaru dari Elarisse H-12 Concert SeriesPotongan pohon Sakura imitasi paling besar ditanam pada tengah lantai satu mansion Yudhistira. Ratusan kelopak merah mudanya, menutupi cetak tulisan kaca Aurelith:[Happy 1st Birthday, Mirae Yudhistira]Tak ada yang mengindahkan, sebab, seluruh atensi para tamu pesta ulang tahun jatuh pada bayi dengan senyuman penuh memesona.Semuanya berebut ingin foto dengan Mirae versi sempurna, bergaun renda-renda Étoile Diamond Baby Dress; Stacy, Bella, Aurel, Jinha, gadis-gadis tercantik dari keluarga Yudhistira saling line-up, berbaris. Menunggu giliran berfoto dengan princess cantik di atas kursi ulang tahun ber-safety khusus.Wanita yang melahirkannya, yang susah payah
“Sie...”“...”“Hm?”“...”“...kita tadi, enggak pake kondom, ya.”“Iya.”Plafon dingin di atas mesin filter udara smart air Cryovent ZR-5 Climate Unit. Berdengung. Masih belum ada satupun suara eksternal layar monitor bayi Nestoria M4 Guardian-Cam. Bayi cantik menggemaskan—Mirae, masih tertidur pulas dengan stuffed bunny di tangannya.Tanpa tau, kedua orang tuanya hampir terkena serangan jantung.Bantal di bawah panggulnya seketika dibanting melawan karpet model Velcrona Soft-Step RX yang tak bersalah. Paling pertama panik, justru Samuel sendiri. Sienna, sudah menyadari sejak lebih awal seks mereka yang tanpa pengaman. Paniknya Samuel sampai membuatnya terpeleset piyama berserakan sendiri.“Kenapa enggak bilang, Sie.”“Hah? Kok aku?”Samuel kenakan cepat-cepat boxer hitam hingga piyama tidur lengkap. “Harusnya henti-in aku waktu kita enggak pakai kondom. For god’s love.”“Kok nyalahin aku!?” Sienna naik pitam. Walaupun paniknya juga gradually terus naik. Disaksikan sang suami cepat-c
Separuh yang masuk.Daripada kenikmatan, yang Sienna rasakan pertama kali justru—‘Fuck! Sakit! Serius, sakit! Seriusan se-gede ini? Sumpah, sakit!Kotak putih berenda ivory berlabel Arvenix R-12 Newlywed Collection—tadinya diabaikan, Sienna paksa buka dengan posisi penis Samuel ‘tersangkut’ setengah di dalam kemaluannya.Merutuk dalam hati dan agak kesal juga. Sienna kira seks setelah punya anak akan terasa lebih ‘mudah’ dipagelarkan? Rasa sakitnya sama, dan pelumas alami vaginanya kurang cukup melubrikasi penetrasi.Sienna sempat percaya diri dengan saluran vaginanya—Ia sempat melahirkan, bukan? Perasannya atau apa? Penis Samuel terasa lebih besar dari lubang lahirnya sendiri.“Tsk. Sam! Kecil-in kemaluanmu!” geram Sienna akhirnya memutus mood romantis ‘malam pertama’ mereka. Terpaksa dibuka botol baru lubricant untuk melumasi vaginanya. Banyak, butuh banyak sekali. Sienna tak paham dimana yang salah, pahanya mulai lelah sebab terlalu lama mengangkang.Berawal dari perih dan sesak,
Jika tidak berkat terbantingnya engsel jendela model Asteron VX-4 Panorama Glass—terhempas angin malam—Sienna mungkin akan sangat nervous dengan awkward terjatuh ke atas tubuh suaminya.T-shirt baju tidur pemuda itu tersingkap hingga ke lekuk otot abdomennya. Untung saja, Sienna cepat-cepat pindah posisi sebelum tak sengaja melihat. Terlalu sibuk menetralkan suasana penuh gugup, Sienna asal saja membuka berbagai rak dan lemari yang—jumlahnya banyak sekali di kamar super besar ini—penuh dengan barang, entah apa.Benda panjang diambil. Rak sebelah kiri dari ranjang raksasa mereka, menempel sebuah tempat yang ketika digeser pegangannya, berbagai macam botol-botol kecil warna-warni tersimpan di sana.Menyernyit sebentar, Sienna. Salah satu botol berwarna pink dengan tekstur semacam gel, diambil, diangkat ke hadapan wajah sang pemuda.“Sam,” panggil gadis itu, menoleh sebentar, “Ini apaan, deh? Botol sebanyak ini. Minuman atau apa?”Bantal berpasangan dari ranjang besar Corvessa M11 Imperi
“SUMPAH! AKU BELUM NGELAKUIN APA-APA!”Bantal dari Elluné Cradle-Pro tiba-tiba ditendangnya. Dua lengan terangkat ke udara—pose criminal tertangkap basah. Histeris Mirae yang terbangun dengan posisi menjerit trauma, diperparah dengan Samuel yang mendadak tertular virus tantrum.“Sam, kamu itu kenapa?” bahu kanannya kram, pegal, dipakai terlalu lama menimang Mirae sendirian. Dilihatnya Samuel dengan kepala terdongak. “Kamu kenapa tiba-tiba teriak begitu? Enggak boleh main lempar-lempar barang.”“TAPI AKU KESEL!” satu lagi bantal dibalingnya dengan hembus emosi. “AKU BELUM NGAPA-NGAPAIN! LOOK, SIE. DID I TOUCH ANYTHING? NO! I WAS JUST HERE, BREATH! AND—YET,”“Iya, aku paham,” Sienna coba tenangkan suaminya sambil mencoba—juga—tenangkan bayi mereka. “Aku ngerti kamu kesel, but please, don’t throw anything. Aku trauma lihat laki-laki yang suka lempar-lempar barang. Cukup, ayahku aja—”/crash!/“SAM!”Tabung akrilik penuh dengan bubuk bedak steril Vellatrix Care Powder ditendang, Samuel ke
Lengketnya deep-raven surai Samuel menandingi lengket dari tanah lumpur bekas guyuran hujan di lahan taman mansion Yudhistira.Cepat alat sensor Orphéline Vault-Access memindai ‘keberadaan’ Samuel—semenjak memiliki anak, keamanan di mansion-nya diubah sangat ketat. Ada Julius yang terus mengekor di belakang, sedang diperiksa barang bawaannya.Hari ini, hari terberat bagi Samuel.Meski kehidupan perkuliahan tak jauh dari sebatas ‘formalitas’, tugas dan banyak kunjungan tetap memenuhi absensi. Samuel telat sedikit, absennya merah. Ganta marah. Terhitung selesai urusan kampus, Samuel ganti seragam jadi jas hitam formal.Tanpa ampun. Sang ayah meminta Samuel memegang empat cabang Perusahaan Yudhsitira sekalipun. Usianya belum genap dua puluh tahun, client-nya berusia puluhan tahun. Bulan terbit meninggi, Samuel baru bisa menjejak pulang.Dihimpit kerasnya kewajiban sebagai anak, ayah, suami, kata ‘lelah’ tak cukup membantu Samuel. Matanya lengket sekali, Samuel berjalan cepat ingin segera
Julius menutup separuh wajah pucatnya dengan punggung tangan. ‘Fuck. What did you do to this boy? Fucking chris,’ batinnya memburu. Pemuda bertindik itu mengusap punggung lehernya—kikuk bukan main. “Err, Christ ada di dalam, kan? Kau mau masuk? Atau pulang?” tanyanya. Berbasa-basi.
Buih cairan antiseptic pencuci mulut menyisakan rasa pahit mengigit sampai ke pangkal lidah. Kepalanya terus merunduk di hadapan ember transparan, hingga seluruh cairan itu keluar. Tetes air matanya jatuh tak beraturan. Sambil terbatuk-batuk, Jonathan paksa wajahnya mendongak. “A-A
Cumbu amatir yang mengantarkan ke sekujur tubuhnya.Bibir basah menempel terlalu lama. Tak hanya pinggangnya—pinggulnya, bergetar sebagaimana dansa di lidah mereka. Detik-detik cumbu mereka menekan terlalu lama, bukan sebab sang pemuda dibanjiri nafsu. Melainkan, Jonathan takut Christine
“S-Sebentar—” Tangan Olivia tersendat di udara. Tamunya itu telah mangkir dari ruangan bahkan sebelum memberikan Olivia kesempatan apa-apa. Balon helium yang diikat pada kaki meja tadi, Olivia sambar. Beberapa kotak kado yang—sangat—berat wanita itu peluk. Langkahnya tertatih mengikuti gerak jala







