Share

Dulu Pembulinya, Kini Wanita Mainannya
Dulu Pembulinya, Kini Wanita Mainannya
Penulis: Rain (angg_rainy)

Chapter 1

last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-03 19:07:21

Sienna Halim POV

"Siram lagi! Hey, yang banyak! Kau tuli? Aku bilang, siram yang banyak!"

Gadis yang menggenggam botol bir keluaran tahun 1980-an itu, menatapku dengan wajah horor penuh air mata. Gemetar di tangannya mewujudkan betapa mustahil request yang kuberikan. Kudorong dengan ujung sepatu, meja yang menghalangi kami berdua itu. Merebut botol kaca se-keruh air selokan, lalu—

—byur.

Menyiram wajah Samuel Yudhistira dengan liquid wine konsentrasi tinggi. Hingga cairan alkohol itu masuk ke matanya.

"Pfftt." Kugigit punggung jari telunjukku, menahan tawa. "Fucking hell. Sudah se-merah wine pun, aku masih tak sudi melihat wajahmu. Menjijikan. Gimana bisa, manusia melahirkan manusia babi sepertimu? Cih."

Ludahku mencuat. Kutembakkan air liurku tepat ke batang hidung lelaki itu—yang parasnya hanya bisa diam semata.

Kurasakan sebuah cengkeraman tangan menyapa pundak—dari belakang, tiba-tiba—muncul punggung tegak Jonathan. Tampak sedikit basah kerah kemeja hitamnya, napasnya tersengal. Jonathan merebut satu langkah di depanku, kulihat tangan itu menggenggam sebuah handuk putih ukuran paling kecil. Kudengus napasku kesal, mulai malas.

"Angel, tolong bawa Samuel ke kamar mandi," pinta Jonathan, pada sepupuku, Angel. Di belakangnya, si wakil ketua OSIS Veronica, menyerahkan sebatang kunci toilet pada Angel. Handuk di tangannya dilebarkan pada wajah basah kuyup lelaki culun itu. Aku, di belakangnya, hanya bisa memandang jengkel. Malas. Kalau Jo sudah turun tangan, rasa kesenanganku bisa langsung hilang.

"Oke, Jo." Angel menuntun Samuel perlahan-lahan menghilang dari kerumunan kami. Ujung mataku menengok pakaian culun bin norak yang cowok itu kenakan. Ada seperempat dari kaus lusuhnya yang masih kering—luput dari cipratan wine-ku tadi. Dan entah kenapa emosiku jadi meledak.

Kalau bukan karna Jo, pulang dari Bar ini lepas pesta kenaikan kelas kita, harusnya aku bisa melihat Samuel Yudhistira pulang dengan tubuh basah kuyup sempurna. Mood-ku berantakan, melihat rencana brilianku harus dirusak.

"Honey." Jonathan menghampiriku yang melipir duduk di paling pinggir exclusive suite kami, sambil menekuk tangan. "Kan, aku sudah bilang, sudahi nakalmu itu. Sekali dua kali, oke. Tapi, kalau sudah dibawa ke luar sekolah begini, bahkan aku ketua OSIS pun susah untuk menutupi kesalahanmu nanti."

"Kok ngatur?" hardikku, kasar. Melihat wajahku yang semakin kusut, Jo mengambil duduk tepat di samping pahaku, meletakkan telunjuk dinginnya di samping bibirku.

Wajahnya beringsut maju, mendekat. Sebelum dagunya menyentuh sudut bibirku, sudah kutepis duluan niat berciumannya itu.

"Bukan ngatur, sayang. Aku cuma cemas sama kamu," belanya lembut. Yang jelas, sudi telingaku dengar. "Samuel itu—oke, aku salah. Lupakan yang tadi, jangan dibahas lagi. Gimana kalau kita makan, hm? Mau pesan apa? Sebentar lagi klub basket kita sampai. Mereka bakal ngajak round two. Kamu mau ikut, atau balik rumah?"

"Balik." Tanpa tedeng aling-aling, kuangkat tubuhku dari sofa mewah itu, sudi menunggu Jonathan bereaksi dengan kepergianku.

Iris Sapphire-ku bergulir ke sisi kanan—refleks, mendapati Veronica baru saja kembali dari tugas dadakannya. Yang digenggam lengan kurus itu adalah fabric dari kaus lusuh milih si cowok cupu. Semburat pertanyaan langsung menghadiahi kepalaku. Vero, yang melihat mataku melotot pada tangannya, buru-buru menyembunyikan kaus lusuh itu pada balik punggungnya.

"Sejak kapan wakil ketua kita jadi sebaik ini?" aku menyindir, lewat suara mengejek. Gadis berambut pendek tebal itu menundukkan wajah, tak sanggup melawan arogan di mataku.

"Sie ..." suaranya mulai gemetar, "dia ... kayaknya sakit. Aku inisiatif kasih dia baju baru, supaya dia enggak masuk angin. Tapi kalau Kepsek lihat ini nanti, bisa betul-betul kacau kita."

"Oh?" suaraku tambah bersungut. "Mulai memihak ke dia, kau? Baik banget. Sini, biar aku yang kasih dia baju ganti. Aku yang bully dia, harusnya aku yang tanggung jawab, kan?"

"S-sie!"

Veronica hendak meronta, tapi paper bag yang ia jinjing sudah lebih dulu aku sita. Kuabaikan aba-aba cewek itu yang tampaknya akan mengejarku—peduli setan. Saat tau semua orang di Bar ini, kecuali aku, mendadak sok peduli pada si kutu sekolah itu, rasanya tanganku gatal ingin menampar mereka satu-satu.

Kunci yang dipegang Veronica tadi, milik rest room pribadi yang Jo sewa untuk kami khusus malam kenaikan kelas. Aku bergegas menuju ke sana menggunakan lift satu lantai. Di dalam lift itu, kuingat lagi kapan pertama kali 'ritualku' dengan Samuel dimulai.

Benar. Kalau tidak salah, kita sempat satu kelas saat SMP. Kala itu aku baru berpacaran dengan Jo—terpaksa, lebih tepatnya—, dan setiap aku atau Jo sedang berduaan, aku selalu mendapati cowok cupu itu diam-diam menguping pembicaraan kami.

Klimaksnya, saat Jo hendak menciumku, Samuel mendadak muncul dari belakang toilet. Seakan sudah memantau kami sejak tadi. Membayangkan sensasi di-stalking oleh cowok cupu berwajah kutu busuk, siapa yang tidak mual?

Tanpa kusadari, pem-bully-an- ku pada Samuel sudah berjalan 3 tahun lebih. Awalnya berlandaskan kesal, lama-kelamaan jadi pelampiasan. Rasanya sekolahku makin basi kalau tidak mem-bully. Dan fakta bahwa perlahan anak-anak lain mulai perhatian padanya, ada rasa tidak terima yang tersulut dalam hatiku.

Pintu lift terbuka, toilet yang Jo sewa terlihat terbuka pintunya dari kejauhan. Senyum puasku tak bisa ditahan pada moment membayangkan, paper bag ini akan mendarat tepat ke hidung mancung cowok kampungan itu. Oh, ini yang kau namakan nikmat surga. Kapan lagi bisa dapat boneka nurut seperti dia?

Melangkah keluar lift sambil bersenandung tak sabar, telingaku tak sengaja tersandung sebuah suara familiar yang menguar dari balik dinding toilet sepi.

"S-samuel ..."

Langkahku seketika goyah. Berjarak satu meter dari pintu rest room yang terbuka, pendengaranku menangkap suara merintih dari cewek yang paling kukenal.

Angelina Halim. Dahiku berkerut pada suara rintih yang mendayu-dayu, mirip desahan itu. Tapi, bukan itu yang membuat tanganku menjatuhkan baju ganti baru yang Veronica berikan.

Melainkan, siluet hitam tubuh Samuel dari dalam toilet. Dua tangan pria itu menggenggam pinggul Angel dari belakang, pinggangnya memompa brutal. Suara desahan tertahan dari Angel yang terus meneriakkan namanya, menggema di sepanjang koridor gelap ini.

"Ah! S-samuel! R-remas dadaku!" pekik lembut Angel berubah memanas. Suara kecipak yang begitu tajam dari pertemuan dua kulit mereka, mengirimkan sinyal panas ke wajahku hingga merah padam.

Kakiku mendadak tak bisa digerakkan. Kutarik langkahku pada sisi samping toilet yang cukup untuk menyembunyikan tubuh. Kututup mulutku dengan dua tangan berkeringat dingin. Demi nama Tuhan manapun, mataku yang bersih dari penyakit rabun apapun ini, bersumpah lelaki yang sedang berhubungan seks di toilet dengan Angel, sepupuku, adalah lelaki yang selalu aku bully.

"S-s... samuel?" mulutku mengucap nama itu dengan napas terseok. "S-samuel yang itu? D-dengan Angel? B-bagaimana bisa ..."

Mataku mendelik menyaksikan betapa brutal seks mereka. Rasanya mustahil, cowok cupu yang bahkan tidak punya satupun teman perempuan itu, bisa dengan lenturnya bergaya seks doggy-style dengan sangat profesional. Seolah segala sifat kampungan dan norak miliknya, hilang. Betapa lihai Samuel mengocok pinggulnya, bahkan aku yang masih perawan pun, tau betul.

Itu bukan seks yang bisa dilakukan cowok amatiran.

Leherku terasa kebas. Punggungku bersandar tepat bersebelahan dengan Samuel yang sedang menumbuk kemaluan Angel tanpa ampun. Getaran suara mereka terkirim lewat dinding yang memisahkan kami. Berkali-kali kutelan air liur, pun tenggorokanku tak pernah terasa lega. Ingin rasanya cepat-cepat kabur, sayang, kakiku berkhianat. Akhirnya, sepanjang setengah jam, telingaku menyaksikan paksa persetubuhan mereka.

"L-lebih cepat, Samuel." Angel merintih basah. Suara kecipak dari lidah mereka yang beradu, sama basahnya dengan sepasang kemaluan mereka yang dimabuk nafsu.

Gadis itu yang mendesah, tapi, aku yang mulai merasa gelisah.

Gigiku menarik ujung kulit jemari sampai robek berdarah—frustasi tertahan. Dalam hebohnya suara-suara nakal mereka, otakku yang kerap disebut jenius ini, masih sulit untuk memahami.

'Sejak kapan Angel sedekat itu dengan Samuel? Tidak. Lebih penting, bagaimana mungkin Samuel yang cupu itu bisa melakukan seks? Maksudku, Jonathan saja, setahuku dia masih perjaka!' penasaranku tak henti memekik dalam hati.

"Ah, Samuel. Jangan keluar di dalam... Kamu tidak pakai kondom." Angel, si cewek pemalu, mengeluh lagi dengan manjanya. Dan, ya, keparat bangsat, pipiku jadi terbakar habis mendengar suaranya.

Samuel sialan, jadi maksudmu, kau setengah jam me-rudal sepupuku, dengan raw!?

Bulan perlahan bergeser posisinya, sinarnya membuat bayangan mereka berdua yang menggeliat bak ulat sagu, menempel tepat di lantai samping badanku. Mau tak mau, aku jadi menyaksikan betapa pinggang kokoh Samuel menumbuk bokong sintal Angel dengan tenaga ekstrem. Angel klimaks berkali-kali, hingga terkencing. Bagian bawah kemaluanku refleks berkedut, saat tak sengaja mendengar suara kekeh Samuel yang begitu dalam, dingin, dan, anehnya ....

seksi.

Mataku mengerjap berkali-kali. Kulirik bagian bawah tubuhku dengan tatapan horor. Aku ... Basah?

Kalau aku lelaki, mungkin bagian bawahku sudah ereksi.

Gulp. Aku menelan ludah. Kuhardik kemaluanku yang terangsang tak pada tempatnya. Seorang Sienna Halim? Horny dengan si kutu busuk itu? Ha! As if. Iya, ini cuma reaksi biologis semata. Aku perawan, wajar penasaran. Bukan berarti kupikir Samuel menggoda atau apa. Reaksi tubuh ini wajar untuk anak muda yang sehat. Pasti.

Kuseka keringat panas yang menetes dari dahiku, sekali libas. Serangan realita tadi sempat buat aku goyah, namun di detik kemudian, aku merasa jijik. Kurasakan kakiku sudah bisa digerakkan lagi, dan ini saatnya untuk pergi.

Sayangnya, aku lupa dimana ponselku tadi. Kalau kubawa, sudah kurekam zina mereka berdua. Bayangan hari-hari dimana reputasi Samuel makin hancur setelah sifat gigolo-nya ketahuan satu sekolah, ha! Bikin aku makin bahagia. Sudah kuduga kesengsaraan cowok culun itu, adalah makanan tersedap buatku.

Ada sedikit rasa sesak di hati, saat menyadari cowok yang hampir setiap hari berada di dekatku, ternyata menyimpan rahasia yang tak aku tau. Kupikir, selama ini, aku satu-satunya cewek yang dekat sama dia. Siapa sangka si lonte Angel itu, justru justru—argh! Lihat saja, kalian berdua. Besok pagi saat sekolah, akan kubuat kalian menyesal sudah mempermainkanku!

Kuambil balik paper bag tadi yang sempat terbuang. Sepatu pantofel kulitku hampir menyapa bibir pembatas lantai, kalau tidak suara desahan Samuel menghentikan jalanku.

"Tsk. Sudah kubilang, tutup wajahmu," Samuel membentak geram. Terdengar suara benturan keras, mirip seperti sebuah kepala yang dihantamkan pada keramik wastafel. Suara rendah Samuel menggema lagi, "Sudah kubilang, bukan begitu Sienna biasa memanggilku. Ulang. Pikir, bagaimana Sienna jika ada di posisimu ini. Cepat."

Angel, suaranya seperti sedang terisak. "K-kutu ... Kutu busuk, s-sialan. Wajah menjijikanmu itu membuatku muak. Mengapa tidak kau lompat dari lantai 7 sekolah, dan mati saja?"

Kakiku seketika menyerah, jatuh merosot ke lantai. Mulutku terbuka tak percaya.

Bukan, bukan soal berapa artifisialnya Angel dalam menirukan cara bicaraku. Namun, soal Samuel yang jelas-jelas, dua kali banyaknya, menyebut namaku di tengah seks mereka.

"A-apa ... apa maksudnya, ini," bibirku gemetar hebat. Mereka masih berhubungan seks. Tapi alih-alih nama sepupuku yang disebut, Samuel justru berkali-kali memanggil namaku.

Untuk pertama kalinya, aku lupa caranya bernapas.

Kakiku merangkak menjauh, berkat tumitku mendadak tidak bisa diberdirikan. Saat hendak beranjak pergi, sebuah tangan kekar tiba-tiba menarik paksa pundakku dari belakang.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (58)
goodnovel comment avatar
muinnurroja
pertama baca wahh ... tp diakhir malah ga ketebak si Samuel.
goodnovel comment avatar
Ntin Mukhlish
ayo jo. ceramahin itu sienna
goodnovel comment avatar
Catlina
waduhh berani banget di toilet sekolah
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Dulu Pembulinya, Kini Wanita Mainannya    Chapter 27

    Samuel Yudhistira POV“Ugh—uhuk. Ah. Hng—ugh. Ha…”“Kenapa, Sam? Ugh—sakit? Atau, enak?”Jalur napasku terblokir cengkraman tangannya. Sienna bermain di atas. Kontrol seluruh permainan ada di tangannya sekarang. Apapun gadis itu lakukan, demi mencegahku pingsan. Termasuk, membuat sisa-sisa darah di tubuhku mengalir sepenuhnya ke batang penisku. Sekujur tubuhku dingin, sebeku mayat. Namun bagai tau mana prioritas yang diagungkan, penis yang dipakai bermain oleh peliharaanku sekarang, terus menegak sempurna.“Ugh—ggh.” Di sela desahan, aku terus terbatuk. Kekurangan pasokan darah ke otak memblokir napasku makin dalam. Sienna tau itu, dan sengaja membuat leherku sebagai batang tumpuannya. Selagi pinggangnya naik turun, Sienna terus mencekikku hingga wajahku berubah merah.Namun, anehnya, vaginanya terus mengetat. Yang di ambang batas kematian, padahal, aku sekarang. Seolah seluruh rasa sakitku tersalur padanya, Sienna terus menggenjot bagian atas tubuhku dengan vagina yang meremas-rema

  • Dulu Pembulinya, Kini Wanita Mainannya    Chapter 26

    Samuel Yudhistira POVDi seberang tanda kutip buku sastra paling kubenci “Hunden gøer, når dens hale bliver bidt, katten kradser, når dens hoved forstyrres. For at tæmme et vildt dyr kræves der blidhed, ikke styrke. For i sin hale gemmer den sin følsomhed. En herre må vide, hvordan man tæmmer et vildt dyr, så det til sidst vender sig om og logrer med halen.” Karya Odd Fallen, pujangga agung. Namanya ada di barisan paling depan buku absensi kami. Sebesar itu, guru sastraku dulu, memujanya.Aku ingat persis. Sebelum malam natal, Ibu menangis di hadapan mayat peliharaan kami yang mendingin tertimbun tumpukkan es. Sebanyak apapun saksi di malam itu, Ibu terus menuduhku telah membunuh anjing kesayangannya. Uniknya, alasanku diam hingga detik ini, justru karena paham alasan dibalik Ibu mengatakan itu.Fortes, anjing peranakan Labrador Retriever kami.Ayah lah yang membunuhnya.Ibu menuduhku, karena tidak sanggup menerima fakta. Suami kesayangannya, adalah seorang psikopat.Buku sastra Odd F

  • Dulu Pembulinya, Kini Wanita Mainannya    Chapter 25

    Christine Soediharjo POV “Iya, iya. Makasih sudah datang ke sini, Kak. Sorry, jauh-jauh ngerepotin. Oke, diganti perbannya setiap dua jam sekali. Apa? Oh, dia belum boleh mandi dulu. Oke, Kak, siap. Makasih sekali lagi.” “Ha…” Cleopatra memutuskan sambungan dari Samsong Galaxy X Flip-5, sebelum akhirnya mendaratkan satu sentilan tajam ke keningku. “Dengar barusan? Jangan mandi dulu, jangan gerak dulu, jangan marah dulu. Apalagi, tadi? Oh, Ganti perban dua jam sekali. Kakakku memutuskan pakai stitch pads daripada jahitan asli. Dia pikir, orang tuamu bakal panik kalau lihat bekas jahitan di leher anaknya nanti.” “Thanks, Cleo,” ucapku, lemah. Kering yang ditinggalkan obat bius Lidocaine dosis minor terasa di setiap kali kucoba membuka suara. Kusentuh, punggung leherku, dimana perban putih terlilit. Bekas luka yang ditinggalkan seorang lelaki, bisa terasa sesakit ini. Dadaku terasa sesak. Bukan karena pengalaman nyaris bunuh diri barusan, justru, dari seorang manusia yang bahka

  • Dulu Pembulinya, Kini Wanita Mainannya    Chapter 24

    Christine Soediharjo POVMenyebrang dari deretan dining steward yang diisi kakak kelas kami, The Wisteria Pavilion lambat laun mulai ditinggali. Tebaran pendatang VVIP yang tersisa hanya menuntaskan kredit pembayaran mereka. Hanya hidangan di meja kami, dan aku, yang masih belum berambah inci dari terakhir kali mereka melayani.Ostriche Fine de Claire di mulutku mulai terasa amis. Ekspresiku bagai tengah mengunyah batangan besi, mengundang tatapan jengah dari Cheff yang susah payah menghidangkanku ini. Kalau mau berbuat, salahkan atensi lelaki yang mengisi kursi seberangku!Mulutku dipaksa menggiling semua sajian premium yang ada di meja, karena Samuel terlalu sibuk dengan layar ponselnya. Belum cukup dia mengabaikanku satu jam penuh, sekarang, sepasang earbuds menyumpal lubang telinganya. Kesal sudah menjadi penutup sampingan. Aku tak tahan malu dengan para senior yang mulai mentertawakanku!Sengaja, kuseret dining fork hingga berdenting di sebelah piringnya. Samuel melirik sedikit,

  • Dulu Pembulinya, Kini Wanita Mainannya    Chapter 23

    Christine Soediharjo POV“Very well. Kalau begitu list terakhir kita—ah, bagaimana dengan Sienna Halim? Kenal dengan dia?” Sersan Domestic Investigation Unit menconteng lembaran terakhir restricted-access case folders. Payung bolpoin hitam diketuk-ketuk pada papan yang berdiri di samping dekap lengannya. Menunggu berjejer barisan siswa-siswi lain di hadapanku, mereka semua memiliki pandangan horor yang sama.“Tidak,” kubilang. Bolpoin itu menconteng lagi. Diburu desah resah pemegangnya, kutahan senyuman gembira untuk tidak mengembang.“Tapi di sini, teman sekelasmu bilang, kalian berdua teman masa kecil,” Sersan DIU itu menekan lagi. Kalau ini adalah murid lain, detik kedua mereka menghampiri, semua sudah tertangkap basah. Sayang sekali sampel yang mereka jumpai sudah menunggu-nunggu momen ini sejak tahunan lamanya.“Teman kecil bukan berarti dekat saat dewasa, Pak Polisi.” Bibirku termanyun, berlagak lesu. “Saya turut berduka cita atas hilangnya siswi Sienna Halim, di lingkungan seko

  • Dulu Pembulinya, Kini Wanita Mainannya    Chapter 22

    Sienna Halim POVPatron satir merangkak ejek, balik ke sayuku yang mendelik. Terpelintir. Di luar semampai putih mentereng di mata, adalah semboyan ekstrakurikuler PMR paling berisik seraya; “Merah di darah, putih di dada. Bagi kami, keselamatan adalah yang paling utama.”Aku meludah pada semboyan konyol itu. Mengejek, atau apa? Nyatanya di bawah sablon mentereng itu, seorang pemuda sedang merudapaksa diriku. Mana perginya perawat atau guru yang berjaga? Kurasa teriakkanku terlalu lembut, sampai dianggap untaian lulaby oleh mereka.Latihan memang tidak mengkhianati insan. Ujung celana dalamku yang masih bercium baru robek dengan suara yang renyah sekali. Perlawananku baru melejit tatkala monster di atasku lupa diri, menargetkan rok sekolahku kesekian kalinya.Kalau setan berjenis kelamin manusia ini merobeknya juga, aku mau masuk kelas pakai apa!? Demi Tuhan. Pemerkosaan kedua ini rasanya tidak setimpal dengan betapa tebal jengkelku sekarang. Terpaksa, melihat diriku kalah.“Tumben, e

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status