LOGIN
Sienna Halim POV
"Siram lagi! Hey, yang banyak! Kau tuli? Aku bilang, siram yang banyak!" Gadis yang menggenggam botol bir keluaran tahun 1980-an itu, menatapku dengan wajah horor penuh air mata. Gemetar di tangannya mewujudkan betapa mustahil request yang kuberikan. Kudorong dengan ujung sepatu, meja yang menghalangi kami berdua itu. Merebut botol kaca se-keruh air selokan, lalu— —byur. Menyiram wajah Samuel Yudhistira dengan liquid wine konsentrasi tinggi. Hingga cairan alkohol itu masuk ke matanya. "Pfftt." Kugigit punggung jari telunjukku, menahan tawa. "Fucking hell. Sudah se-merah wine pun, aku masih tak sudi melihat wajahmu. Menjijikan. Gimana bisa, manusia melahirkan manusia babi sepertimu? Cih." Ludahku mencuat. Kutembakkan air liurku tepat ke batang hidung lelaki itu—yang parasnya hanya bisa diam semata. Kurasakan sebuah cengkeraman tangan menyapa pundak—dari belakang, tiba-tiba—muncul punggung tegak Jonathan. Tampak sedikit basah kerah kemeja hitamnya, napasnya tersengal. Jonathan merebut satu langkah di depanku, kulihat tangan itu menggenggam sebuah handuk putih ukuran paling kecil. Kudengus napasku kesal, mulai malas. "Angel, tolong bawa Samuel ke kamar mandi," pinta Jonathan, pada sepupuku, Angel. Di belakangnya, si wakil ketua OSIS Veronica, menyerahkan sebatang kunci toilet pada Angel. Handuk di tangannya dilebarkan pada wajah basah kuyup lelaki culun itu. Aku, di belakangnya, hanya bisa memandang jengkel. Malas. Kalau Jo sudah turun tangan, rasa kesenanganku bisa langsung hilang. "Oke, Jo." Angel menuntun Samuel perlahan-lahan menghilang dari kerumunan kami. Ujung mataku menengok pakaian culun bin norak yang cowok itu kenakan. Ada seperempat dari kaus lusuhnya yang masih kering—luput dari cipratan wine-ku tadi. Dan entah kenapa emosiku jadi meledak. Kalau bukan karna Jo, pulang dari Bar ini lepas pesta kenaikan kelas kita, harusnya aku bisa melihat Samuel Yudhistira pulang dengan tubuh basah kuyup sempurna. Mood-ku berantakan, melihat rencana brilianku harus dirusak. "Honey." Jonathan menghampiriku yang melipir duduk di paling pinggir exclusive suite kami, sambil menekuk tangan. "Kan, aku sudah bilang, sudahi nakalmu itu. Sekali dua kali, oke. Tapi, kalau sudah dibawa ke luar sekolah begini, bahkan aku ketua OSIS pun susah untuk menutupi kesalahanmu nanti." "Kok ngatur?" hardikku, kasar. Melihat wajahku yang semakin kusut, Jo mengambil duduk tepat di samping pahaku, meletakkan telunjuk dinginnya di samping bibirku. Wajahnya beringsut maju, mendekat. Sebelum dagunya menyentuh sudut bibirku, sudah kutepis duluan niat berciumannya itu. "Bukan ngatur, sayang. Aku cuma cemas sama kamu," belanya lembut. Yang jelas, sudi telingaku dengar. "Samuel itu—oke, aku salah. Lupakan yang tadi, jangan dibahas lagi. Gimana kalau kita makan, hm? Mau pesan apa? Sebentar lagi klub basket kita sampai. Mereka bakal ngajak round two. Kamu mau ikut, atau balik rumah?" "Balik." Tanpa tedeng aling-aling, kuangkat tubuhku dari sofa mewah itu, sudi menunggu Jonathan bereaksi dengan kepergianku. Iris Sapphire-ku bergulir ke sisi kanan—refleks, mendapati Veronica baru saja kembali dari tugas dadakannya. Yang digenggam lengan kurus itu adalah fabric dari kaus lusuh milih si cowok cupu. Semburat pertanyaan langsung menghadiahi kepalaku. Vero, yang melihat mataku melotot pada tangannya, buru-buru menyembunyikan kaus lusuh itu pada balik punggungnya. "Sejak kapan wakil ketua kita jadi sebaik ini?" aku menyindir, lewat suara mengejek. Gadis berambut pendek tebal itu menundukkan wajah, tak sanggup melawan arogan di mataku. "Sie ..." suaranya mulai gemetar, "dia ... kayaknya sakit. Aku inisiatif kasih dia baju baru, supaya dia enggak masuk angin. Tapi kalau Kepsek lihat ini nanti, bisa betul-betul kacau kita." "Oh?" suaraku tambah bersungut. "Mulai memihak ke dia, kau? Baik banget. Sini, biar aku yang kasih dia baju ganti. Aku yang bully dia, harusnya aku yang tanggung jawab, kan?" "S-sie!" Veronica hendak meronta, tapi paper bag yang ia jinjing sudah lebih dulu aku sita. Kuabaikan aba-aba cewek itu yang tampaknya akan mengejarku—peduli setan. Saat tau semua orang di Bar ini, kecuali aku, mendadak sok peduli pada si kutu sekolah itu, rasanya tanganku gatal ingin menampar mereka satu-satu. Kunci yang dipegang Veronica tadi, milik rest room pribadi yang Jo sewa untuk kami khusus malam kenaikan kelas. Aku bergegas menuju ke sana menggunakan lift satu lantai. Di dalam lift itu, kuingat lagi kapan pertama kali 'ritualku' dengan Samuel dimulai. Benar. Kalau tidak salah, kita sempat satu kelas saat SMP. Kala itu aku baru berpacaran dengan Jo—terpaksa, lebih tepatnya—, dan setiap aku atau Jo sedang berduaan, aku selalu mendapati cowok cupu itu diam-diam menguping pembicaraan kami. Klimaksnya, saat Jo hendak menciumku, Samuel mendadak muncul dari belakang toilet. Seakan sudah memantau kami sejak tadi. Membayangkan sensasi di-stalking oleh cowok cupu berwajah kutu busuk, siapa yang tidak mual? Tanpa kusadari, pem-bully-an- ku pada Samuel sudah berjalan 3 tahun lebih. Awalnya berlandaskan kesal, lama-kelamaan jadi pelampiasan. Rasanya sekolahku makin basi kalau tidak mem-bully. Dan fakta bahwa perlahan anak-anak lain mulai perhatian padanya, ada rasa tidak terima yang tersulut dalam hatiku. Pintu lift terbuka, toilet yang Jo sewa terlihat terbuka pintunya dari kejauhan. Senyum puasku tak bisa ditahan pada moment membayangkan, paper bag ini akan mendarat tepat ke hidung mancung cowok kampungan itu. Oh, ini yang kau namakan nikmat surga. Kapan lagi bisa dapat boneka nurut seperti dia? Melangkah keluar lift sambil bersenandung tak sabar, telingaku tak sengaja tersandung sebuah suara familiar yang menguar dari balik dinding toilet sepi. "S-samuel ..." Langkahku seketika goyah. Berjarak satu meter dari pintu rest room yang terbuka, pendengaranku menangkap suara merintih dari cewek yang paling kukenal. Angelina Halim. Dahiku berkerut pada suara rintih yang mendayu-dayu, mirip desahan itu. Tapi, bukan itu yang membuat tanganku menjatuhkan baju ganti baru yang Veronica berikan. Melainkan, siluet hitam tubuh Samuel dari dalam toilet. Dua tangan pria itu menggenggam pinggul Angel dari belakang, pinggangnya memompa brutal. Suara desahan tertahan dari Angel yang terus meneriakkan namanya, menggema di sepanjang koridor gelap ini. "Ah! S-samuel! R-remas dadaku!" pekik lembut Angel berubah memanas. Suara kecipak yang begitu tajam dari pertemuan dua kulit mereka, mengirimkan sinyal panas ke wajahku hingga merah padam. Kakiku mendadak tak bisa digerakkan. Kutarik langkahku pada sisi samping toilet yang cukup untuk menyembunyikan tubuh. Kututup mulutku dengan dua tangan berkeringat dingin. Demi nama Tuhan manapun, mataku yang bersih dari penyakit rabun apapun ini, bersumpah lelaki yang sedang berhubungan seks di toilet dengan Angel, sepupuku, adalah lelaki yang selalu aku bully. "S-s... samuel?" mulutku mengucap nama itu dengan napas terseok. "S-samuel yang itu? D-dengan Angel? B-bagaimana bisa ..." Mataku mendelik menyaksikan betapa brutal seks mereka. Rasanya mustahil, cowok cupu yang bahkan tidak punya satupun teman perempuan itu, bisa dengan lenturnya bergaya seks doggy-style dengan sangat profesional. Seolah segala sifat kampungan dan norak miliknya, hilang. Betapa lihai Samuel mengocok pinggulnya, bahkan aku yang masih perawan pun, tau betul. Itu bukan seks yang bisa dilakukan cowok amatiran. Leherku terasa kebas. Punggungku bersandar tepat bersebelahan dengan Samuel yang sedang menumbuk kemaluan Angel tanpa ampun. Getaran suara mereka terkirim lewat dinding yang memisahkan kami. Berkali-kali kutelan air liur, pun tenggorokanku tak pernah terasa lega. Ingin rasanya cepat-cepat kabur, sayang, kakiku berkhianat. Akhirnya, sepanjang setengah jam, telingaku menyaksikan paksa persetubuhan mereka. "L-lebih cepat, Samuel." Angel merintih basah. Suara kecipak dari lidah mereka yang beradu, sama basahnya dengan sepasang kemaluan mereka yang dimabuk nafsu. Gadis itu yang mendesah, tapi, aku yang mulai merasa gelisah. Gigiku menarik ujung kulit jemari sampai robek berdarah—frustasi tertahan. Dalam hebohnya suara-suara nakal mereka, otakku yang kerap disebut jenius ini, masih sulit untuk memahami. 'Sejak kapan Angel sedekat itu dengan Samuel? Tidak. Lebih penting, bagaimana mungkin Samuel yang cupu itu bisa melakukan seks? Maksudku, Jonathan saja, setahuku dia masih perjaka!' penasaranku tak henti memekik dalam hati. "Ah, Samuel. Jangan keluar di dalam... Kamu tidak pakai kondom." Angel, si cewek pemalu, mengeluh lagi dengan manjanya. Dan, ya, keparat bangsat, pipiku jadi terbakar habis mendengar suaranya. Samuel sialan, jadi maksudmu, kau setengah jam me-rudal sepupuku, dengan raw!? Bulan perlahan bergeser posisinya, sinarnya membuat bayangan mereka berdua yang menggeliat bak ulat sagu, menempel tepat di lantai samping badanku. Mau tak mau, aku jadi menyaksikan betapa pinggang kokoh Samuel menumbuk bokong sintal Angel dengan tenaga ekstrem. Angel klimaks berkali-kali, hingga terkencing. Bagian bawah kemaluanku refleks berkedut, saat tak sengaja mendengar suara kekeh Samuel yang begitu dalam, dingin, dan, anehnya .... seksi. Mataku mengerjap berkali-kali. Kulirik bagian bawah tubuhku dengan tatapan horor. Aku ... Basah? Kalau aku lelaki, mungkin bagian bawahku sudah ereksi. Gulp. Aku menelan ludah. Kuhardik kemaluanku yang terangsang tak pada tempatnya. Seorang Sienna Halim? Horny dengan si kutu busuk itu? Ha! As if. Iya, ini cuma reaksi biologis semata. Aku perawan, wajar penasaran. Bukan berarti kupikir Samuel menggoda atau apa. Reaksi tubuh ini wajar untuk anak muda yang sehat. Pasti. Kuseka keringat panas yang menetes dari dahiku, sekali libas. Serangan realita tadi sempat buat aku goyah, namun di detik kemudian, aku merasa jijik. Kurasakan kakiku sudah bisa digerakkan lagi, dan ini saatnya untuk pergi. Sayangnya, aku lupa dimana ponselku tadi. Kalau kubawa, sudah kurekam zina mereka berdua. Bayangan hari-hari dimana reputasi Samuel makin hancur setelah sifat gigolo-nya ketahuan satu sekolah, ha! Bikin aku makin bahagia. Sudah kuduga kesengsaraan cowok culun itu, adalah makanan tersedap buatku. Ada sedikit rasa sesak di hati, saat menyadari cowok yang hampir setiap hari berada di dekatku, ternyata menyimpan rahasia yang tak aku tau. Kupikir, selama ini, aku satu-satunya cewek yang dekat sama dia. Siapa sangka si lonte Angel itu, justru justru—argh! Lihat saja, kalian berdua. Besok pagi saat sekolah, akan kubuat kalian menyesal sudah mempermainkanku! Kuambil balik paper bag tadi yang sempat terbuang. Sepatu pantofel kulitku hampir menyapa bibir pembatas lantai, kalau tidak suara desahan Samuel menghentikan jalanku. "Tsk. Sudah kubilang, tutup wajahmu," Samuel membentak geram. Terdengar suara benturan keras, mirip seperti sebuah kepala yang dihantamkan pada keramik wastafel. Suara rendah Samuel menggema lagi, "Sudah kubilang, bukan begitu Sienna biasa memanggilku. Ulang. Pikir, bagaimana Sienna jika ada di posisimu ini. Cepat." Angel, suaranya seperti sedang terisak. "K-kutu ... Kutu busuk, s-sialan. Wajah menjijikanmu itu membuatku muak. Mengapa tidak kau lompat dari lantai 7 sekolah, dan mati saja?" Kakiku seketika menyerah, jatuh merosot ke lantai. Mulutku terbuka tak percaya. Bukan, bukan soal berapa artifisialnya Angel dalam menirukan cara bicaraku. Namun, soal Samuel yang jelas-jelas, dua kali banyaknya, menyebut namaku di tengah seks mereka. "A-apa ... apa maksudnya, ini," bibirku gemetar hebat. Mereka masih berhubungan seks. Tapi alih-alih nama sepupuku yang disebut, Samuel justru berkali-kali memanggil namaku. Untuk pertama kalinya, aku lupa caranya bernapas. Kakiku merangkak menjauh, berkat tumitku mendadak tidak bisa diberdirikan. Saat hendak beranjak pergi, sebuah tangan kekar tiba-tiba menarik paksa pundakku dari belakang.Rapi, tebal, kaku. Karena sang Manajer tidak kunjung memberi tanggapan, Ganta tambahkan lagi segepok lembaran uang dollar—hijau, baru—hingga helainya berjatuhan ke lantai.Pria berjanggut panjang tadi sontak turun tinggi suaranya. Diam. Terang, menyorot Ganta dengan tatapan tak suka.“Siapa kau?” sentaknya, nada marah tak dibuat-buat. Manajer itu cukup berani menantang Ganta kendati dalam sekali lihat pun, siapa saja paham Ganta bukan sembarang ‘pria’.Sang korban—gadis kecil, berwajah kecil, serta bertubuh kecil, serba kecil—tertunduk diam, menyembunyikan bahunya yang gemetaran. Hitam dari leather loafers basah oleh rintik-rintik air matanya. Gadis itu menangis. Reaksi Ganta justru datar, namun anehnya, pria itu tak bisa berhenti memperhatikannya.“Saya lama sekali tidak datang ke sini. Apa SOP kalian sudah berubah?” ucap Ganta. Manajer di depannya seketika naik tensi.“Dul
Tailored Aurelion Vance Atelier—antik, jatuh sempurna mengikuti postur bahu tegap berusia matang. Pertengahannya terisi kancing tersusun rapi. Berkat sandaran asal, tepi kiri kerah teganya lengser tak beraturan. Pemiliknya sesekali melonggarkan leher dari—tanda, kenyamanan sudah mangkir dari lajur napasnya.Ganta Yudhistira mengetuk-ngetuk dengan ujung jari. Napasnya berhitung, beriringan alur suara ponsel dari panggilan sang anak. Tak mendengarkan, juga tak mengabaikan. Lirik iris tajam matured bersungging pada Velcaro Éternel Chronographe—jamnya—berkilau redup membasmi gelap kota malam. Sebelas tengah malam, mobil mewahnya masih berkeliaran. Belum juga menemukan ketenangan hati yang Ganta hilangkan sejak tadi pagi.“Oke. Terus, kamu maunya gimana?” pelipisnya dipijit kasar. Jika berharap telinganya tuli, maka salah, sebab permintaan tak logis ini datang dari putra semata wayangnya.Berat sal
Bersama Concertmasterdan Cellos Assistant serentak terhenti di pertengahan nada. Tak ada yang sanggup memulai suara—atau melawannya, tindakan nekat tangan Sienna dalam melecehkan tubuh mempelai prianya.Pertengahan tengkuk tajam Samuel ditarik, ditekan, empat jemari menyusup pada lajur pembuluh darah terbesar. Hampir ingin mencekik. Tenaganya tak membiarkan Samuel bergeser satu mili inch-pun, sela-sela jemari sang mempelai wanita menyusup pada anak-anak rambut basah. Menekan, lagi, ciuman brutal semakin diperdalam.Coryphaeus menyentil ujung pundak anak didiknya yang masih terus juga menggesek busur violin—belum paham cara membaca keadaan. Semua dipaksa berhenti, demi mengimbangi cepatnya gerakan tangan Sienna, dalam menanggalkan per-atribut-an busana atas sang suami.“Hey—stop it!” Samuel mulai marah. Tidak begitu kuat, namun tangan Samuel berhasil menghen
Suasana—menggantung.Lengkungan altar tertutupi mawar-mawar putih, lily, eucalyptus, disematkan dengan tujuan relaksasi bagi kedua mempelai, sebelum berjuang pengucapan janji suci. Segarnya aroma bermaksud menenangkan. Ketika sampai pada penciuman Samuel, hasilnya justru berbalik tajam.Masih di tangga, Samuel berdiri kaku menyaksikan Sienna meninggalkannya sendiri. Beberapa kelopak mawar merah yang menggantungi mereka setia segar di bibir tangga. Terhitung juga, irama classical choir belum berhenti melayani. Choir member bagian terdepan sempat saling lirik, mendadak genre pernikahan suci ini terbalik. Sang Dirigen berdeham—tampaknya pemahaman situasi genting mulai tersampaikan—pianis dipaksa menekan tuts tiga kali lebih cepat. Melodinya, menutupi bising dari para tamu yang tak senang dengan etika Sienna.Langkah Samuel akhirnya memaju. Satu, dua, tamat. Mempelai pria akhirnya mendapat posisi di hada
Butir crystal bercermin kepada jajaran candelier di atas para kepala yang siaga—dingin di tengah percik panas, berkilauan, memantau. Setiap tiup angin bergerak, butiran api-api bergeser seketika. Dalam diri Sienna juga terbesit pancaran demikian. Tatapan tak enak, menohok, dari jenis-jenis cemooh yang tak perlu dibukukan dengan kata, Sienna sudah memahaminya.Mematung di antara ratusan meja-meja putih berbingkai silk, Sienna merasa secuil. Mawar peony pucat di bawah kakinya terus menggelitik—atau, perasaan Sienna semata? Gatal di matanya hingga ke tenggorokan. Tiap geseran gestur yang gadis itu perhatikan, Sienna merasa kesabarannya dipompa. Pita suaranya berderit, ingin teriak. Terlalu sempurna untuk merefleksi emosi menggebu.“Kamu masih sama seperti biasa.” Victoria menggeser ujung jarinya. Sebatas beberapa mili—jangan kira lewat dari pantauan Sienna. Berdiri sang bride di hadapan sekalipun, Victoria tidak ragu-ragu. Bahu tegap Samuel dirabanya dengan gestur manis, sang groom juga,
Pemuda di depannya ini tampak seperti versi lain dari Samuel Yudhistira yang Sienna kenal—jauh lebih dewasa, tajam, neat, dan…Jauh lebih memikat.Dari jarak yang berhasil Samuel pangkas, ketampannya terlihat jauh lebih jelas. Sejak kapan, Samuel terlihat sangat unreal? Garis rahang tajam bagai ukiran, hidung tinggi ramping, bibirnya sedikit merona. Sienna tak paham Samuel memakai riasan atau tidak—wajah pucatnya makin tampak memesona. Percik cahaya dari chandelier terpancar mengenai sudut kiri wajahnya, gadis itu menikmati keindahan wajah berpahat patung Yunani.Samuel sedikit menunduk, sebelum menempatkan lengannya pada pinggang ramping Sienna. Dalam beberapa waktu mereka tak bertemu, Samuel berubah drastis.Tinggi pemuda itu tampaknya bertambah. Lingkar bahunya—lebar, lebih tegap. Lengannya penuh dengan otot-otot firm. Bahkan tebalnya setelah tuxedo, sulit menyembunyikan bayangan tub
– L’Ultima Mossa — Checkmate –“Tenang. Jonathan tidak akan bangun, kecuali kamu berteriak.”Salah, Sienna.Bahkan sebelum kalian masuk ke dalam ruangan pun, Jonathan telah membuka matanya.“Ngh~”“Samuel~”Mentereng pada bias aswad lembayung sang perjaka, apa yang menjadi cobaan terbesar Jonathan
Sienna Halim POV Jantungku runtuh sesaat, berakhir tenang kembali begitu tersadar siapa pelaku yang membanting pintu dengan membabi buta. “Sudah selesai kangen-kangennya?” Usai menghancurkan pintu, Samuel berjalan tenang masuk ke dalam. Ada sebuah tas hitam yang dijinjing lengan kokohnya. Sed
Sienna Halim POV“Samuel! Fighting!”Bibirku bergelung manyun. Cewek tadi… ia bangkit dari kursi cheerleaders dan langsung melompat-lompat. Pom-pom pelangi mengayun-anyun seraya helai rambutnya yang terbawa angin, mengenaiku di sampingnya. Menilik ia mengeja nama Samuel dengan awfully familiar, mu
Sienna Halim POV Tubuhku kotor, lengket, bau keringat. Lutut kesat dari darah mengering, pinggir kaki masih terkilir. Aku lelah, jenuh, ingin cepat-cepat pulang. Terlihat dari batasan pagar jurusan yang membentengi, tidak sedikit anak-anak dari kelas lain yang merekam perkelahian kami. Kalau bukan







