로그인Sienna Halim POV
"Tau namaku darimana?" Aku bertanya. Segelap lampu yang memudarkan wajah tegasnya, pria misterius itu enggan menjawab. Lebih cepat dari hentakan musik pada piringan disc jockey, begitulah pria misterius berkarisma yang saat ini sedang mencuri perhatianku. Giselle dan aku—pandangan kami saling bertukar arahan. Gerakan matanya mengindikasi saran agar aku segera pulang, agar dia bisa 'melayani' tamu barunya ini. Harusnya, itu adalah SOP yang normal. Lainnya, kepalaku justru lebih tertarik untuk memperhatikan pria ini dari dekat wajahnya. "Oh." Baru sadar. Pria ini menyodorkanku segelas kecil wine Cabernet Sauvignon, sebagai salam perkenalan. Semakin kecil gelasnya, semakin tinggi alkoholnya. Kutarik kesimpulan, pria ini tidak tau usiaku masih di bawah umur. "Aku masih sekolah, Pak," ucapku—sengaja. Aku tau lelaki ini belum setua itu, tapi cara pdkt-nya sangat kuno sekali. "Hm," gumamnya, matanya tergulir pada barisan koleksi liquor milik Giselle. Jemari kekarnya mengetuk dagu tegas itu, lalu pandangannya menimpaku. "Harusnya ini bukan tempat untuk anak sekolah. Atau, kau yang berbohong?" "Pffttt." Aku tertawa. Dan, sangat lepas. Kugeser kursiku mendekat padanya. Baiklah. Tadinya, aku ingin pulang dan menyerahkan pria ini pada Giselle. Tapi, melihat dia bisa membuatku tertawa begini—not bad. Sepertinya, aku mendapatkan teman main hari ini. Aku memberi pesan lewat gestur jadi pada Giselle—komando untuk patroli dari jauh, karena sudah kuputuskan pria ini tidak berbahaya. Minuman yang dia berikan padaku tadi, kuteguk habis. Dia agak kaget, wajar. Tak ada anak SMA yang tahan dengan Cabernet Sauvignon. Tapi kalau aku adalah anak SMA biasa, aku tak akan ada di sini. "Wajahmu murung," pria itu berucap. Entah karena mabuk atau apa, tapi wajahnya buram sekali di mataku. Yang terlihat hanyalah helai rambut hitam bersinar terhujani lampu bar. Dan dari suaranya yang begitu eksotis, menggoda manis, aku yakin dia sudah punya banyak pengalaman dengan perempuan. "Yah, enggak ada yang bikin tersenyum di hidupku," gelakku, setengah bercanda. "Why not?" dia menanggapi. Sorot mata penasarannya membuat mulutku yang harusnya berhenti pada kalimat ini, justru gatal untuk bercerita lebih lanjut. Kutunjukkan cincin berlian yang mengunci jemari manisku. Reaksinya, dia agak tertegun. "Aku sudah bertunangan. Perjodohan, lebih tepatnya," tutur bibirku, basah karna alkohol. "Dan, dengan lelaki yang tidak kucintai. Wajar, Ayah membesarkanku hanya untuk keperluan bisnis. Menikah dengan siapapun, asal menghasilkan uang, tak masalah baginya." "That doesn't sound good." Alisnya berkerut simpati. Namun, aku justru fokus pada aksen British-nya yang amat kental. Persetan mabuk ini yang membuat pandanganku mengabur, aku sangat ingin melihat wajah tampannya itu. Rasanya, kita pernah bertemu di satu tempat. Tapi, dimana itu? "Kalau ayahmu butuh uang, aku bisa memberikannya," sambung suara berembun miliknya. "Katakan nominalnya. Sebut berapapun sampai dia bisa melepaskan hidupmu. Beautiful girl like you, deserves better than this." "Beautiful, huh," napasku sedikit terkekeh. Kugulingkan kaki gelas yang telah kosong di atas meja, ketika mataku tak bisa lepas dari pikatnya. Kapan terakhir kali seseorang memujiku seperti ini? Terlahir sebagai Sienna Halim, kesempurnaan adalah keharusan. Pujian bukan pilihan. Karena sudah terbiasa sempurna, hampir tak ada yang pernah mengapresiasi diriku. Sampai aku rusak begini pun, tak ada sesiapapun yang peduli. Dipuji pria misterius seperti ini membuat tubuhku panas. Yang bisa aku rasakan hanyalah getaran suaranya, rasanya tidak asing. Dan, somehow membuatku nyaman. Pria misterius itu terus berucap. Ada gap besar antara gerakan mulutnya, dan tangannya yang perlahan meraba-raba tubuhku. Aku yakin sekali mulutku terbuka untuk menanyakan namanya, lantas mengapa yang kudengar hanya desahanku saja? "Ngh." Desahanku terlepas. Saraf kesadaran di kepalaku ibarat minim sinkron dengan lapisan otot tubuh. Mulut mendesah, dan tanganku tak bisa digerakkan. Tapi, kepalaku masih bisa berpikir jernih. Inilah efek alkohol yang paling aku benci. Satu teguk saja, bisa membuatmu seperti mayat hidup. Aku tau sensasi ini. Sensasi rokmu tersingkap, gesekan kulit dari telapak tangan dingin, kaku, hanya dimiliki para lelaki. Aku paham betul. Tak terhitung berapa kali Jonathan berusaha menyentuhku, selalu kutolak dengan alasan agama. Tapi, aku paham. Ini yang orang sebut sensasi rangsangan. Aku masih perawan, tapi aku paham. Dan pria misterius ini, sedang berusaha menjelajah bagian intim tubuhku di bawah sana. Dengan mulutnya. "Hmp!" suaraku tertekan. Bukan karena mulutku, tapi karena jemarinya yang menutupi. Tangannya membungkam mulutku, lembut. Begitu lembut sampai aku hampir sepenuhnya menyerah pada sentuhannya. Secepat itu, sebuah ciuman mendarat di bibirku. Ciuman pertamaku. Panas, manis, sisa-sisa minuman keras kami masih menetes pada ujung lidahnya bagai undangan untuk memasuki pesta. Organ tak bertulang itu membawaku pada debut ciumanku yang sangat panas. Aku melunak, tulang-tulangku meleleh. Lenganku melingkari lehernya. Tanpa aku sadari, kujambak rimba rambutnya dengan sangat ganas, memperdalam ciuman kami. Yang mendesah, hanya aku. Tapi, aku tau. Pria ini juga menikmatinya. Panggulnya dibawah sana bergerak maju mundur tak sabar, aku terkekeh ringan. Normalnya, tubuhku akan bergerak repulsif pada sentuhan pria, tapi mengapa kali ini aku merasa rela? Gerakan tubuhnya, seluruh getaran nafsu yang dia salurkan pada setiap bisikan, tarikan napas, aku seperti tengah berharapan dengan lelaki yang belakangan ini mengisi pikiranku. Samuel. Cowok cupu yang diam-diam seorang player. Entah karena semua lelaki sama—atau apa. Tapi, antara Samuel dan pria misterius ini, aku merasa mereka seperti memiliki aura yang sama. Ciuman kami bertahan lama sekali. Aku mulai bosan. Alcohol took the best of me, dan tanganku mulai menjelajah sendiri. Saat jemariku berhasil menemukan gundukan gemuk di balik celana silk hitamnya, bibirku tersungging menang. Mengetahui lawan mainku ternyata ereksi, rasa banggaku meluap. At least, bukan aku sendiri yang kepanasan di sini. Kutarik cepat ikat pinggang platinumnya itu. Gerakan tak sabar, tenaga penuh. Alisku, tertekuk aneh. Tanganku sudah yakin menarik ikat pinggang yang benar, mengapa tidak kunjung lepas juga? Keanehan terjadi lagi. Ciuman panas kami mendadak hilang. Beban berat dari otot dadanya yang menekan tubuhku dari atas, pun lenyap entah kemana. Dalam satu kedipan mata, semuanya menjadi gelap. Pandanganku gelap. Aku kebingungan. Fabric di bawah kulitku berkali-kali bergoyang. Hentakan suara membangunkan kesadaranku, sampai iris biruju nyaris melompat keluar. Giselle. Mataku terbuka total. Hal pertama yang aku notice selain perubahan drastis ruangan Bar—berganti dengan ruangan hotel Bar—adalah Giselle yang sedang sibuk membangunkanku. "Bitch. Akhirnya kau bangun juga. Sekolah, oi! Mau papamu menggorok leherku, kalau tau semalam kau mabuk total? Buruan bangun dan pergi dari barku!" "Ma...buk?" mulutku mengeja dengan susah payah. Efek alkohol masih menunggu. Kupandangi lagi ruangan ini—serba putih. Terakhir aku ingat, aku masih bersama pria misterius di meja Bar kami, dan— "Giselle! Kemana cowok itu!?" Mendadak, lumpuh di tubuhku hilang. Berganti mendorong Giselle spontan sampai empunya berteriak kaget. "Ih!" bentaknya marah. "Cowok mana!?" Kuremas kerah blouse biru lautnya. "Mana lagi? Cowok yang minum sama aku semalam! Kau sendiri yang lihat, kan? Mana dia? Kenapa dia enggak ada di sini?" Beriringan dengan reaksi Giselle yang ganjil, kutemui satu hal aneh. Kendati sudah pindah ke kamar hotel Bar, pakaian yang kukenakan terlalu rapi untuk sebuah malam panas kami. Giselle menyadari kebingunganku, dan aku tak suka dengan tone penjabarannya. Dia berkata, apa yang aku ingat semalam hanyalah sebuah mimpi. Kalau aku terbangun dalam kondisi kering rapi, mungkin Giselle bisa aku percaya. Tapi, jenis mimpi apa yang bisa menghilangkan celana dalamku? Giselle masih sibuk dengan ponselnya—sekarang sudah masuk jam sekolah—, dan aku berhamburan ke kamar mandi. Kuteliti bias penampilanku di depan cermin. Dan, aku tidak bodoh. Bekas kecupan pria itu, nyata di leherku. Dimana-mana, bahkan bekas gigitan giginya di pundakku sangat kentara. Kusentuh semua bekas cintanya dengan ekspresi bingung, berpikir kencang. Aku yakin sekali malam tadi, sentuhannya, semuanya, nyata. Aku tidak delusi. Buktinya, aku terbangun dengan kondisi celana dalamku hilang. Giselle saja tidak tau. Siapa lagi kalau bukan karena pria misterius itu? "I'm screwed." Kujambak rambutku, merasakan tubuhku merosot jatuh ke lantai. Alasan panikku tadi pada Giselle, jauh dari kemarahan akan hilangnya pria itu secara mendadak. Melainkan, aku ingin memastikan satu hal yang lebih krusial: "Seberapa jauh kita main tadi malam?" gumanku, buku-buku jariku mulai dingin karena anxiety. Celana dalam yang hilang mengindikasikan adanya penetrasi. Tapi, aku tidak merasa sakit sama sekali di bagian bawah. Seks atau bukan, aku cuma butuh tau satu hal. Apa pria itu memakai pengaman atau tidak tadi malam, itu yang aku pikirkan. Kalau ada satu gadis di dunia ini yang paling tidak boleh hamil duluan sebelum nikah, maka aku adalah jawabannya. Karena bagi keluargaku, keperawananku adalah aset. Satu jam berlalu, Giselle yang panik mulai berulah lagi. Kusembunyikan soal celana dalamku pada Giselle untuk sementara waktu. Setidaknya, sampai aku bisa menemukan nama pria misterius itu. Jangan sampai hal ini bocor ke telinga orang. Aku berusaha tenang. Mandi, mengenakan seragam sekolah yang Giselle siapkan dadakan, berias. Semua kulakukan dengan menekan kepanikan di dalam kepala. Tidak ada waktu cukup untukku sekadar mengecek selaput daraku, karena ini hari Senin. Sampai aku telat, Henri Halim akan membunuhku. Giselle mengantarku sampai ke gerbang sekolah. Dia memintaku untuk menjauhi Bar Lumierre sementara waktu—paranoid. Ayahku begitu menakutkan sampai dia takut bisnisnya hancur kalau tau semalam aku mabuk berat di Barnya. Bukan masalah. Tapi, ini artinya aku tidak bisa mencari pria misterius itu untuk sementara waktu. Sialan. Seolah nasibku kurang buruk, sekarang tak ada satupun yang bisa aku mintai pertanyaan. Aku masuk sekolah. Seperti biasa, Jonathan memimpin pasukan Paskibraka. Sengaja kupilih barisan paling belakang, agar dia tidak menemukanku. Upacara selesai, tapi aku tidak langsung kembali ke kelas. Tujuan utamaku adalah kamar mandi. Di hotel Bar tadi, belum sempat aku cek kondisi kemaluan. Celana dalam memang hilang, tapi semoga saja tidak ada penetrasi tadi malam. Lagian, Sienna, otakmu dimana? Kau paling takut dikuliti hidup-hidup oleh ayahmu. Tapi sekarang, kau berani mabuk-mabukan dengan pria asing, yang bahkan kau tak tau siapa namanya? Baru kali ini aku benci pada kebodohanku sendiri. "Shit." Aku menggeram. Sudah kugigit 7 lembar tisu pun, suara geramanku masih keluar. Perih. Aku mencoba memasukkan satu jari ke dalam lubang vagina, sakitnya menjalar sampai aku nyaris terjatuh ke lantai. Kupastikan telunjukku masuk ke lubang yang benar. Kutekan-tekan bagian lembut di bawah klitoris; mirip daging, lembaran daging, namun sangat lembut dan rapuh. Kuncinya adalah jika kau kesulitan memasukkan jemarimu ke dalam, berarti, kau masih perawan. Dan, selamat, selaput daramu masih aman. "Thank God." Aku bisa bernapas lega. Rasa perihnya terbayar. Telunjukku bisa merasakan selaput daraku masih pada tempatnya. Mulus, tanpa goresan sedikitpun. Itu artinya semalam, pria itu tidak memerawaniku. Akhirnya, aku bisa bernapas dengan lega. Tapi, ada sedikit kecewa juga. Kalau malam panas tadi sudah dipandu dengan alkohol pun belum bisa melelehkan nafsu pria misterius itu, sampai tidak terjadi apa-apa di antara kita ... ... bukankah itu artinya aku tidak atraktif? Apa aku kurang cantik, kurang menggoda? "Keparat bangsat." Beres memastikan selaput dara, tapi akhirnya aku marah-marah juga. Kubuang tisu itu dari di mulutku. Lalu, bersiap mengenakan rok sekolahku sendiri. Posisiku sangat konyol saat ini: berdiri dengan posisi kedua paha mengangkang, rok sekolah dilinting hingga ke atas, celana dalam putih diturunkan, berhenti di tengah paha demi jemariku bisa menyelip bebas ke dalam. Kalau Giselle, Raya, atau siapapun yang melihat, penampilanku sekarang akan jadi bahan ejekan grup kami untuk setahun ke depan. Buru-buru aku betulkan penampilan. Aku sedikit kesulitan, memasukkan jari ke dalam lubang vagina sempit yang kering membuat pinggangku agak nyeri. Sambil tahan meringis, kutarik celana dalam putihku kembali ke asalnya. Kalau tidak, telingaku mendengar suara langkah kaki seseorang. Masuk ke dalam toilet wanita, seperti sedang mengintipku dari kejauhan. Amarahku seketika naik pitam. Kurang ajar. Maksudnya, sejak tadi, saat aku sedang sibuk mencolok vagina sendiri, ada yang diam-diam mengintipku!? "Keluar! Siapa kau!?" pekikku marah, bersiap mengejar pengintip itu.Samuel Yudhistira POVBahkan ajal pun, tak pernah mengemudi secepat ini.Setir mobil bergetar di tanganku—atau, tanganku yang bergetar.Jantungku sesempit diseret, seperti pada kecepatan tak manusiawi kendaraan ini. Terikat pada bumper, terseret pada aspal, kubayangkan diriku sendiri berkali-kali, dalam lumurah darah,Calon bayiku yang hendak diaborsi ibunya sendiri.“Jesus’s sake—Sam! Lo mau bunuh gue apa gimana!?” suara Julius meledak pecah di samping telingaku.[Lokasi Rumah Sakit ditemukan. Sebelah barat pantai. Target, cocok. Identitas, cocok. Indikasi, prosedur aborsi. Time, sepuluh menit setelah nomor antrean dipanggil]Panjangnya pesan singkat terakhir bodyguard Ganta melekat terus di ujung mataku. Aku bersumpah dalam seumur hidup, belum pernah sebuah pesan membuat duniaku seketika runtuh.“Paham, paham! Lo lagi buru-buru, oke. Makanya gue yang nyetir! Lo mau ambil Sienna Harim—siapalah itu, kalau Lo mati di sini juga percuma! Buruan, minggir!” Sepupuku memberontak. Mobil yang
Timur pucat arunika berlenggak-lenggok dalam selembaran yang terurai pawana. Keduanya dinaungi atap bahtera langit sepi, senyap, kekurangan saksi mata kepanikan yang membendung.Seandainya sang dokter dapat menghentikan angin, Ia turut berprihatin meskipun semua bukan terjadi dalam kehendaknya. Sisa aroma hujan semalam, tergeser fabric putih yang tergerak berisik. Lebih dulu dari sang pemilik nama, Dokter Jessia menyambangi rekan sejawatnya.Iris birunya telah menjadi abu-abu. Dokter Jessica lebih memikirkan kondisi Sienna—gadis itu, tampak berhenti bernapas begitu namanya terpanggil, tadi. “Hey, kau tak salah sebut nama?” Dokter Jessica menarik nurse dengan tumpukan kertas di dadanya. “Coba sini, kulihat. Mana? Nama dia ada dimana?”Nurse tadi—Anggun, santai saja meskipun sang senior meragukan porsi pekerjaannya sendiri. “Tuh. Sienna Halim. Sienna, Halim,” Anggun ulangi nama gadis itu, sampai dua kali, jarinya menunjuk-nunjuk dokumen yang Jessica tangkap lekat. “Namanya dari huruf S
Mood dalam aliran darah keduanya tidak dalam kondisi tertawa. Baik Sienna maupun Angelina, harap-harap cepat menyelesaikan drama dadakan di malam ini. Gemetaran tangan gadis itu—keringat dingin mengucur secara tragic bagai aliran sungai di lehernya—menunjukkan, sebuah history pesan antara Ia dan sang tunangan.“Ayo kita pergi ke Australia, Sie. Dokumennya, yang kemarin aku bawa ke rumahmu—oops.” Mulut Angelina tersudutkan oleh telapak tangannya. Seketika, Ia melangkah mundur. Ekspresi gadis itu menerangkan jelas ketakutan yang hendak Sienna beberkan di detik ke depan.“Australia,” bibir Sienna bergerak lemah. “Isi dokumen itu adalah surat rumah, kepemilikan apartemen, dan visa yang sudah Jonathan siapkan. Ada nama aku dan dia di sana. Kalau kupakai milikku saja, besok pagi aku bisa langsung ke bandara.”Angelina tertular tremor parah sepupunya. Gadis itu mengedip tak stabil; Ia ingin membahas soal Sienna yang terlihat begitu pucat di matanya. Sem
Mereka sama——meski kau tidak menginginkannya, sekalipun.Pohon palm imitatif, lelampu sudut bergelantungan, rest area selalu menawarkan rasa yang sama. Secuil mentari terpercik pada tengah-tengah tarian guyuran hujan. Yang mana cahayanya, menekan tak sopan. Mengecilkanmu, menyudutkanmu. Anak manusia menyeruak lahan bumi. Calm is a privilege, Samuel duduk, mencari kepingan teka-teki hilang dalam hatinya. Duduk sang ayah di samping, tidak membantu apapun kendati Samuel telah diberi banyak hal. Sudut ponselnya Ia tekan-tekan. Sedang berpikir. Sang ayah tadi berpendapat, Samuel terus menggodoknya setengah mati.‘Siapa?’ pemuda itu, dalam tatap heningnya, mencoba menjahit pikiran. ‘Siapa anak kelas yang dekat sama Sienna? Cukup dekat buat dia bisa membantu Sienna melarikan diri? Kecuali Jonathan? Aku enggak bisa pikir orang lain selain anak itu.’ Logika Samuel mulai tersudut hingga ke ujung.Ganta berlindung dari asap tembakau yang menghala
Audi R8XII-nya berubah menjadi medan gema.Notifikasi, kebisingan ponsel, uapan mesin mobil, semuanya beradu dengan tangis Dewi Halim yang pecah belah. Perintah Samuel terlalu banyak, terlalu cepat, sama sekali tidak membantu meringankan beban udara yang diterima oleh para bawahannya. Langkah-langkah para pelayan saling bertabrakan. Mereka dipaksa hadir dalam menit waktu yang tidak manusiawi. Dua tangan saja tidak cukup bagi Samuel untuk melacak semuanya. Ditambah—Dewi—wanita itu, terus menangis di jeritannya.“Hilang! Putriku hilang!” Tubuh wanita itu runtuk ke lantai. Rest area bukan lagi mereka tumpangi, mereka invasi. Datang segerombol pengemudi lain, secepat itu pula mereka melaju pergi, mengetahui tidak ada space tenang yang tersisa.“Sienna—oh, putriku yang malang.” Dewi terus menangis. Bengkak pada matanya semakin parah. Ia tidak bisa melihat, wanita itu terus jatuh, bertabrakan, dengan bodyguard lain yang tengah sibuk dengan laptop merek
“Sebagai gantinya, jangan pernah sentuh Sienna lagi.”“S-Samuel!”Sejak tadi, peran Dewi Halim hanyalah sebagai bantalan suaminya yang beremosi tak stabil. Rule tersembunyi dari kesepakatan Samuel dan William sebelum mereka menginvasi tempat ini; ‘Jika terjadi apa-apa pada Dewi Halim, perjanjian dibatalkan.’ Itu, yang Samuel tekankan pada pelayannya.Henri adalah the real predator yang sebenar. Setengah jam pertama negosiasi mereka, tak terhitung Samuel hampir melayangkan tinju pada pria busuk itu. Bukan hanya memperlakukan Dewi Halim tanpa kemanusiaan, Henri juga sempat menjambak rambut istrinya. Di hadapannya.Sebelum menyelamatkan Sienna, Samuel tampaknya harus berpikir cara tercepat untuk memisahkan Dewi dari predatornya itu. Mungkin, sebab terlahir dari DNA Henri Halim sendiri, sifat Sienna yang keras kepala diturunkan darinya. Namun, Dewi?Jauh dari kata melawan, Dewi Halim bahkan tidak merasakan apapun saat dilecehkan oleh suaminya







