ログイン“Very well.”
Walau bersungut, Ganta menepati janjinya.Tengkukku dibuat dingin. Cara Ganta menyetujui keputusanku begitu—terlalu, tenang. Kuharapkan sedikit kemarahan darinya. Sebaliknya, ayahku tak mengatakan apapun lagi setelah ini.Kepala asbaknya ditekan sampai menghabisi bara rokok menyala. Pressure-nya sangat terukur, ibarat memperlakukan batang rokok terkahir itu sebagai ganti tanda tangan kontrak.Tangannya menyambar jas hitam dari atas kursi. Meli“Sudah berapa bulan, sekarang?”Sienna menggaruk pangkal lehernya. ‘Bisa kita enggak bahas itu?’ melengos, batinnya. Dipaksa senyum kikuk terpancar, demi memuaskan sang ibu. Kontras dengan besarnya enggan melekat di ulu hati.“Masuk trimeter kedua, kayaknya, Bu. Enggak paham. Dokter yang kemarin bilang,” balasnya, seadanya. Terkekeh Dewi muncul lagi. Wanita itu pura-pura tenang—aslinya, menahan tawa—gadisnya yang sebentar lagi menjadi Ibu, namun tetap clueless seperti biasa.“Trimester, sayang,” tanggapinya, menahan senyum. “Jadi, sudah jalan trimester kedua? Ibu mau tanya, kalau Sienna enggak keberatan.”“Enggak keberatan.” Sienna langsung menjawab. Iris berkilat serius. Kendati perkataan sang Ibu belum diselesaikan. “Ibu boleh tanya apapun ke Sienna. Minta apapun, pun, boleh. Jangan berpikir sungkan.”Genggaman tangan Dewi makin melek
Pendar dari baskara pagi membelah lautan ruang menjadi dua; terang keemasan, hitam melekat. Terbagi ganda dwiwarna. Menyelip, seonggok daging hidup. Binarnya juga membagi wajah Sienna menjadi dua; sisi positifnya terpendam, gelap sisi lain terangkat.Bianglala bagai dalam simulasi kepalanya. Berputar terus kemudi roda itu—kalimat yang ditinggal Samuel. ‘Apa KAMU mau menikah dengan aku, atau enggak?’ —sialan. Keparat bangsat seribu kali lipat. Sienna urungkan menghantam wajah pemuda tadi dengan sendal. Berlari masuk ke dalam kamar, meringkuk, separuhnya merasa kalah.Separuh lagi, merasa bersalah.Bukan dari hidung, Sienna lepaskan hembus napas paling berat lewat mulut. Rahangnya yang sedari tadi mengatup, kini terbuka tegang. Asal mengambil raihan tangannya ke sisi kiri—vas bunga ukuran sedang ditarik. Sienna lempar benda keramik itu hingga meledak pecah.Sekali, dua kali. Belum ada
—like an animal.Percakapan saling sahut mengitari utensils keramik beradu-adu. Ritmenya pecah. Jejeran pelayan silih berganti menempatkan gelas-gelas kristal, LimoncelloBeverage. 70 tahun sebelum jatuhnya Berlin, warga-warga pengungsi menempatkan vodka sebagai racun tambahan. Pahit yang dihasilkan, mereka sebut sebagai resistance. Pahit yang tidak bisa tersubsidikan sebatas kucuran teh hangat dan almond biscuit.Di tengah kepahitan—Sienna tidak berbicara tentang vodka beverages—Ia duduk.Hiburannya sesempit karpet Persia. Disinyalir, bulunya diambil dari kulit singa. Telapak kaki polos Sienna menggantung, pada lampisan bulu-bulu menggelitik. Geli? Tidak. Jijik. Sebab bulu karpetnya? Bukan. Akan tetapi, suara ayahnya.Sepuluh inci dari Sienna mendaratkan duduk bosan, Henri terus tergelak tawa.Sienna mengendurkan matanya—sedikit, demi menahan rasa
Penjepit kertas Greaseproof Paper pada tangannya dipelintir, sebelum Samuel menambahkan dua lembar daging asap ke bagian tengah roti panggang. Dibantu Sienna, Samuel membungkus cheese sauce dari loyang di atas kompor. Disajikan di atas helai-helai daging berwarna cokelat kemerahan, garis-garis panggangnya tampak simetris dari luar.Di sela tangannya yang bergerak sibuk, pandangan Sienna masih sempat menepi ke batas dapur.Batas ruang tamu dan kitchen, dimana Jonathan duduk sendirian. Menunggu.Menyipit mata Sienna, risih dipadu kesal menyaksikan diamnya Jonathan di sepanjang ruangan. Hanya hela napasnya yang terdengar sampai ke sini. Saat Sienna menoleh ke belakang, punggungnya harus bertabrakan dengan fenomena pemuda itu menumpu wajah di atas paha. Kepalanya terus tertunduk seolah mereka berdua yang sibuk di dapur, tampak invisible.“Ayamnya tambah juga.” Samuel menutup kotal salad pertama, hingga bunyi
“Sam, jangan nyalahin Jonathan. Aku, aku yang bawa dia ke sini.” Sienna menunjuk-nunjuk dirinya sendiri. Gadis itu gunakan tubuhnya, berdiri di tengah dua lelaki bersungut tinggi. Menjadi tameng. “Aku telpon Jo ke sini, biar bisa tau kondisi Ibu. Hari ini dia pulang, kok. Dia harus masuk sekolah, juga, besok.”Sienna membagi pandangannya menjadi tiga. Skrip invisible di kepalanya berjuang untuk membagi perhatian kepada tiga orang dalam ruangan itu. Sebelah sisi tubuhnya mencondong, seakan menutup celah jalan bagi Jonathan yang tampak ingin kabur. Satu tangannya, mengenggam Samuel. Gadis itu sibuk menjadi penengah kekacauan isi kepala dua lelaki terdekatnya.Terdiam, posisi Jonathan tidak memungkinkannya untuk andil suara. Di belakang Sienna, Jonathan terus merunduk. Poros tubuhnya sedikit memiring, menutup satu-satunya arah Christine bisa bertemu matanya. Secara naluriah, pemuda itu berjuang keras mencari titik buta Christine. Garis rah
Christine Soediharjo POV00:41 – failed00:48 – failed01:12 – failed“Hey. Pamanmu Arthur bilang dia enggak bisa bantu. Kecuali kita berdua udah lulus, dia enggak bisa bantu legalitas pernikahan. Dia minta aku dan Sienna lulus sekolah dulu. Oi. Gimana ini, maksudnya.”‘The number you dialed is not available.”‘Please leave the message after—’“Oi.”Samuel mengendurkan ikatan Shuashish Necktie hitamnya. Dua kancing teratas dibuka, kerah lengah digulung tak sabar. Tatanan rambut klimis Brushed Up tak berdaya lagi melawan tegang gusar—sapuan acak—sang owner. Tangannya tak jadi menggengam holder cangkir kopi mendingin. Bagian paling keras dari Monk Strps warna mocha menyeruduk bagian bawah kakiku. Mataku mengerling dengan malas.“Apa?” tanyaku. Gentian kesal.“Pamanmu.” Layar ponselnya ditunjukkan padaku. Hasil percakapan via online beberapa menit yang lalu. “Pamanmu si Arthur—siapalah itu, nolak bantu. Coba, kau yang bicara dengan dia. Aku batal menyewa lawyer tadi gara-gara kamu. Tangg







