Share

Chapter 7

last update publish date: 2025-12-12 19:35:05

Sienna Halim POV

"Buka pintunya, sialan! Aku tau kau di sana! Buka pintunya dan hadapi aku! Kau pecundang!"

Buku-buku jari kakiku yang mengelupas di atas kasarnya permukaan lantai, terpercikkan tetes merah kental, jatuh dari ujung hidungku. Kuseka bagian atas bibirku yang mulai terasa panas—efek obat bius itu masih memenuhi rongga pernapasan, sialan. Tapi, aku menolak untuk menyerah.

Aku mimisan. Bukan karena sebungkus Benzodiazepines yang mereka sumpal ke dalam mulutku. Melainkan, karna aku telah bekerja keras menghancurkan pintu kayu Mahogany ini selama empat jam penuh.

Kuku jariku mulai terasa lepas dari inangnya. Kurasakan perih menjalar setiap pintu ini berusaha kudobrak. Setelah kesadaranku kembali, dua pria besar berjas hitam membawaku ke sebuah vila besar yang bahkan, aku tak tau lokasinya dimana.

Kupandangi horor lewat samping pundak, bagaimana jendela raksasa itu membingkai puluhan hektar hutan pinus berpohon raksasa. Luasnya, tidak bisa dijangkau mata. Detik itu aku tau, siapapun yang menculikku bukanlah orang sembarangan.

Empat jam penuh kuhabiskan di kamar raksasa ini. Seluruh barang yang bisa kuraih, kulempar demi memancing keributan. Vas dan patung-patung mahal, kuhancurkan hingga melukai kulitku sendiri. Tapi, dua pria itu tetap diam. Mereka tak berminat membukakan pintu ini sama sekali.

Kedua kakiku merosot bersimpuh di tengah lautan barang-barang pecah. Kupeluk lenganku sendiri, bagaimana semua ini bisa terjadi?

Kemarin, semua baik-baik saja. Raya dan Agnes sedang dalam perjalanan menjemput, kenapa semuanya berubah mengerikan begini?

Dulu sekali, saat TK, aku, Jonathan, dan satu teman kami diculik oleh gembong narkoba yang menginginkan uang tebusan. Kalau bukan karena teman kecilku—yang aku lupa siapa namanya—menyelamatkan kami, aku yakin kami bertiga sudah mati. Sejak saat itu, kasus penculikan selalu membuatku trauma. Dan siapa sangka aku harus mengalaminya sekarang!?

Pakaianku masih utuh. Mereka sama sekali tidak menyentuhku, kecuali mengambil SIM Card ponselku. Aku tidak bisa menghubungi siapapun. Pertanyaannya, orang biasa mana yang memiliki vila mewah di tengah aset hutan, menculik seorang gadis, tapi tidak mengambil ponselnya? Bukankah ini terlalu rapi untuk sebuah penculikan karena uang?

"Panggil Tuan Mudamu itu! Aku tau dia yang memerintahkan kalian, bukan? Panggil dia! Kalau dia berani menculikku, harusnya dia berani berhadapan denganku!" jeritku, dari balik pintu kayu raksasa yang menghalangi kami.

Aku mulai frustasi. Kamar ini, mirip seperti kamar kerajaan yang sering diberitakan di TV. Jangan bilang, yang menculikku pangeran dari kerjaan lain? Jadi maksudnya, aku sudah ada di luar negeri? Yang benar saja!

Semakin aku berpikir, semakin aku gila. Seluruh barang di kamar ini sudah kuhancurkan, tinggal tersisa satu cara gila yang belum aku coba. Ikat pinggangku, yang memiliki kail bermata berlian, kutarik lepas. Kubalingkan pangkalnya untuk menghancurkan kaca jendela raksasa itu. Berlian, lebih keras dari kaca. Dengan beberapa pukulan, aku berhasil memecahkan kaca yang tidak manusiawi besarnya.

Tenggorokanku mendadak sesak begitu wajahku mendongak ke bawah, melirik betapa tingginya kamar yang aku tempati ini. Di bawahnya, terdapat taman rumput dan bunga. Vila ini sangat tinggi, tapi anehnya minim penjagaan. Aku akan melompat dari sini—kurasa tulangku akan patah nanti, tapi tak jadi masalah—dan melarikan diri. Demi nama Tuhan manapun, ini adalah kali pertama aku begitu takut sampai hampir terkencing, di depan seseorang yang bukan ayahku.

'Aku tidak akan mati, kan?'

Kedua kakiku sudah berada di pinggir jendela, siap melompat tanpa pengaman. Di belakangku, barang-barang mahal yang telah aku hancurkan, mendadak tergeser berisik berkat kedua daun pintu yang dibuka paksa.

Dua bodyguards yang menculikku itu, mendadak menampakkan wujudnya. Padahal sejak tadi aku memanggil setengah mati! Mereka datang dengan membawa wajah panik, begitu menyaksikan aku nyaris melompat. Keduanya langsung melewati serpihan-serpihan itu, berusaha menghentikan aksiku.

Aku serius sungguhan akan lompat. Jika tidak salah seorang di antara mereka nekat memanjat tembok, memangkas jarak, dan menarikku dengan cepat.

"Argh! Lepaskan!" Aku memekik kesakitan. Pria dengan tato naga merah itu, dia sengaja menjambak rambutku! Dia tau itu titik kelemahanku. Dengan meringis kesakitan, tenagaku mulai habis. Keduanya berhasil memaksaku menjauh dari jendela raksasa. Menyeret, lebih tepatnya.

"Oi! Kubilang jangan lukai dia! Kau mau Tuan Muda membunuh kita!?" Pria dengan tato naga putih, membentak rekannya yang tak sengaja menyentuh luka sobek di lenganku.

Rekannya menggeleng, mengangkat kedua tangannya ke atas. "Demi Tuhan, bukan aku! Cewek ini yang gila melukai dirinya sendiri!" belanya. Kepala plontosnya tergeleng takut.

"Siapa yang kau bilang cewek gila, hah!?" Aku membentak. Tidak menyia-nyiakan kesempatan, kuambil celah lengah di antara obrolan mereka. Dengan tubuh rampingku, dengan mudah aku kabur lewat sela-sela lengan keduanya. Tidak menyesal aku diet ketat selama ini, ternyata berguna juga.

"Oi! Dia kabur!" pemilik tato putih membentak rekannya. Mereka berdua, mengejarku lagi. Kali ini, aku tidak bodoh. Aku sudah pernah patah kaki sekali—saat disiksa ayah—, jadi patah kaki sekarang karena melompat tidak membuatku takut. Lariku cepat, dan aku sudah berada di pinggir jurang itu lagi. Nahas, aku tak tau salah satu dari bodyguards itu melempar sebuah patung emas Budha. Ke arah kepalaku. Dan ...

/Crack!/

Aku mendengar suara retakan, diiringi oleh rasa nyeri di kepala yang membuat tuli pendengaran.

Botak plontos itu, membaling kepalaku dengan patung emas sebesar kepalan tangan manusia. Seketika, kesadaranku hilang. Mereka dengan sigap menangkap tubuhku, dan menyeretku pergi dari kamar ini.

'Tidak .... Satu-satunya jalan kaburku...' Di sela-sela rasa sakit, jemariku meraih kaca jendela yang hancur seluruhnya. Aku bisa merasakan dua pria itu mengunciku di sebuah ruangan baru. Gelap, dan ... Berbau aneh.

Ini terjadi lagi. Saat kesadaranku hilang pertama kali, hal yang aku lihat perdana saat membuka mata, adalah ruangan besar yang seperti penjara.

Sekarang, penculik itu melakukannya lagi.

Aku bersumpah akan membunuh mereka saat tersadar nanti.

***

***

Bunyi gemerincing yang nyaring, membangunkan kelopak mataku.

Irisku terasa lengket sekali. Aku kesulitan membuka mata saat sebuah sensasi yang mengikat kedua tangan dan kakiku, mulai terasa.

"Dimana ..." Kukerjapkan mata, melawan lelampuan merah yang mentereng di setiap sudut ruangan. Ada sedikit jeda, sebelum aku mencerna ruangan baru yang kutempati. Tapi sebelum itu, jantungku sudah lebih dulu berhenti.

"A—" mulutku terbuka tanpa suara.

Di bawah mataku saat ini, kedua tanganku diikat oleh sepasang borgol yang dihubungkan oleh rantai emas. Bukan hanya tangan, namun juga kedua kakiku!

Penculik sialan itu merantaiku di ranjang ini!

/clang! clang! clang!/

"Kalian gila! Apa kalian mau menjadikanku kelinci percobaan!? Lepaskan rantai ini!" Aku meronta, menarik-narik tangan dan kakiku hingga ruangan ini penuh dengan bunyi nyaring benturan besi.

Leherku mulai meneteskan keringat dingin. Kepanikan tadi membuat mataku berkabut, tapi sekarang, aku melihatnya sejelas jernih lautan.

Dadaku menyempit, sebagaimana mataku bergerak sekeliling. Mereka ... membawaku ke ruangan yang sangat berbeda.

Ruangan yang aku tempati ini, penuh dengan nuansa merah. Berpasang-pasang lemari kaca menyala, penuh dengan koleksi sex toys berbagai bentuk di setiap sudutnya.

Dalam hitungan detik, otakku langsung memahami. Ini adalah ruangan BDSM. Hobi gila yang hanya dimiliki seorang psikopat.

Dildo, vibrator, spanker, dog-tails, cock-ring, aku tau semuanya. Aku pernah melihatnya di basement mansion lama kami. Ayah, memiliki hobi BDSM. Dan karena itu Ibu membencinya. Aku selalu melihatnya sebagai sebuah kelainan. Tak kusangka, sekarang aku diculik oleh orang yang sama.

"Gawat, Sienna. Ini gawat sekali," ujarku horor, mulai bicara sendiri. Jelas-jelas ini adalah ruangan ekseskusi milik si penculik itu. Dan melihat dari betapa lengkap koleksi sex toys miliknya, aku yakin dia seorang pro.

"A-aku ... aku harus cepat-cepat pergi dari sini!"

Aku tidak bisa berpikir lagi. Kupaksa kedua tanganku yang penuh luka, untuk melepaskan borgol ini secepatnya. Tak berhasil, kugunakan gigiku. Kugigit bagian engselnya hingga gusiku berdarah.

'Damn it!' aku merutuk dalam hati. What did I do to deserve this? Diculik oleh psikopat, adalah hal terakhir yang ingin aku coba. Begitu tau pemilik villa ini adalah seorang penikmat BDSM, alarm tanda berbahaya di kepalaku langsung berdering kencang.

Gigiku nyaris copot, dan tak satupun kaitan borgol ini bergeser dari posisinya. Kencang sekali! Siapapun yang melakukan ini, pasti berniat mengurungku hidup-hidup. Apa jangan-jangan, penculik itu mau menjual organ dalamku?

Kusut pikiranku terurai. Pintu hitam legam yang kupikir akan selamanya tertutup, tiba-tiba dibuka oleh seseorang. Bukan bodyguards sialan itu tadi, melainkan, seorang gadis belia mengenakan seragam maid. Gadis itu berjalan menghampiri ranjangku, membawa kereta dorong penuh makanan.

Terlihat sekali dia tidak menyukaiku. Setelah meletakkan kereta makanan itu, pelayan tadi langsung pergi tanpa permisi. Pintu itu dibanting olehnya, usai kulihat dia dengan sengaja mentertawakan penampilan kacauku.

Senyum kekalahan mengembang di bibirku. Siapa gadis itu? Berani sekali dia mengejek. Tapi, aku agak lega juga dia datang. Diracun dua kali berturut-turut, setelah berteriak macam orang gila, tenggorokanku nyaris terbakar. Pelayan sombong tadi meletakkan kereta makanan penuh dengan camilan dan minuman. Tanpa merasa curiga sama sekali, aku yang kehausan setengah mati ini langsung meneguk habis sebotol air mineral.

Botol plastik itu kulempar asal. Tapi, aku merasa tubuhku mulai aneh.

Kepalaku bergoyang, dan napasku begitu panas. Keringat dingin akibat serangan panik, berganti dengan bulir keringat panas yang menyesakkan dada.

"Ugh, apa...ini." Tanganku bergerak sendiri melepas kancing baju seragamku. Menggeliat bak cacing kepanasan, tubuhku rasanya seperti dibakar dari dalam. Aku rasa, gadis pelayan tadi memasukkan sesuatu dalam botol air mineral itu. Kalau tidak, tak mungkin aku jadi begini.

Aku harap hanya sedative, seperti yang biasa mereka berikan. Tapi, tubuhku mendadak mengejang. Di atas ranjang, kedua pahaku tidak bisa berhenti gemetar dengan sensasi yang membuatku merasa seperti tersengat listrik.

Mataku melirik ke bagian bawah. Di bagian atas rokku, cairan basah lengket tampak mengalir dari tengah selangkanganku. Wajahku menggeleng kasar.

Aku meneguk ludah, memandang tak percaya. Teringat akan sensasi tak asing ini.

"Jangan bilang .... Obat perangsang?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (40)
goodnovel comment avatar
Ninis
penasaran, alasan si angel setega itu sama sepupunya. dia sampe menderita gitu.
goodnovel comment avatar
Henikiava
kayanya si Samuel ini psikopat deh
goodnovel comment avatar
asiyah6600
astagaa Samuel beneran mau perkaos sienna nih
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Dulu Pembulinya, Kini Wanita Mainannya    Chapter 90

    Pemuda di depannya ini tampak seperti versi lain dari Samuel Yudhistira yang Sienna kenal—jauh lebih dewasa, tajam, neat, dan…Jauh lebih memikat.Dari jarak yang berhasil Samuel pangkas, ketampannya terlihat jauh lebih jelas. Sejak kapan, Samuel terlihat sangat unreal? Garis rahang tajam bagai ukiran, hidung tinggi ramping, bibirnya sedikit merona. Sienna tak paham Samuel memakai riasan atau tidak—wajah pucatnya makin tampak memesona. Percik cahaya dari chandelier terpancar mengenai sudut kiri wajahnya, gadis itu menikmati keindahan wajah berpahat patung Yunani.Samuel sedikit menunduk, sebelum menempatkan lengannya pada pinggang ramping Sienna. Dalam beberapa waktu mereka tak bertemu, Samuel berubah drastis.Tinggi pemuda itu tampaknya bertambah. Lingkar bahunya—lebar, lebih tegap. Lengannya penuh dengan otot-otot firm. Bahkan tebalnya setelah tuxedo, sulit menyembunyikan bayangan tub

  • Dulu Pembulinya, Kini Wanita Mainannya    Chapter 89

    “—ack, hey! Sie!”“Jo! Cepat kejar Sie!”Pecah, panik. Angelina sampai tersandung dengan kegagalannya, mencegah sang sepupu beranjak lari meninggalkan mereka.Veil panjang diangkat amatir. Dua tangkupan lengan, memeluk bagian terdepan gaun, lari sekonyong-konyong—Sienna. Frame hitam kacamata baru dikenakan Jonathan, ketika pemuda itu menyaksikan aksi kejar-kejaran tiga gadis dengan satu mempelai wanita. Tak ada waktu untuk membeku, Jonathan mengitari kap mobilnya, berlangkah panjang.“Ray! Apaan!?” Jonathan memekik, dari kejauhan, mengejar mereka bertiga.Gadis itu—Raya, menoleh ke belakang tanpa mengecilkan kecepatan langkah. “Buruan kejar Sienna! Dia kabur, masuk ke dalam! Firasatku enggak enak! Cepat kamu kejar dia!”“Hah!?” Jonathan meninggikan suara, “Kabur masuk ke dalam, maksudnya gimana!?”“Sie—tungg

  • Dulu Pembulinya, Kini Wanita Mainannya    Chapter 88

    “—yah,”“—kapan, ya, terakhir—aku lupa. Yudhistira itu banyak, banyak banget mixed blood. Sam, Victoria, walau mereka cousins, basically mereka hampir enggak ada ‘darah’. Dulu, Tante Diana sama Paman Ganta juga dijodohkan. Cuma, karena ada Tante Carla, so, enggak jadi.”“Tapi, gara-gara itu juga Tante Diana ngebet banget buat jodohin anak semata wayangnya, Victoria—dan, tau, gak? Bahkan dari bayi! Vi, sama Sam itu lahirnya barengan. Cuma beda beberapa jam doang. Duluan Vi, baru Sam. Begitu Sam lahir, Tante Diana yang masih pakai hospital gown, buru-buru ke kamar bersalin Tante Carla—dan, ugh, mau tau apa?”“Tante Diana maksa Paman Ganta buat jodohin anak mereka berdua! Yang basically masih bayi! Ugh, dengar cerita itu dari orang tuaku pun, merinding setengah mati. Yakin, Sam pasti enggak per

  • Dulu Pembulinya, Kini Wanita Mainannya    Chapter 87

    —poof, poof, poof.Dengung Lamirengalle Hair Dryer tanpa jeda. Uapnya mengepul-ngepul di atas kepala. Sanggulan diangkat lebih tinggi, mensejajarkan lekuk leher jenjang milik paras cantik. Bercampur harum powder stay dengan white-floral elegan juga, seorang make-up artist yang berlulut di lantai. Hem gaun panjang dirapikan oleh tangan bersarung katun hitam, asistennya yang lain, bantu melengserkan lekukan pada veil panjang. Hampir sepanjang luas karpet Persia.“Antingnya kurang satu—ukuran S, oval cut—ah, bukan, bukan. Raya, bisa tolong bantu cariin? Astaga, ini sudah jam berapa.” Membawa kotak perhiasan berbordir, Angelina sibuk mondar-mandir. Setengah panik, mereka tidak kekurangan tenaga. Hanya saja, mendadak waktu melaju begitu cepat. Tak terasa, embun pagi habis mengempis.Tak ada yang tau kapan jemputan Sienna datang. Juga, tak seorangpun bisa ditanya.Di si

  • Dulu Pembulinya, Kini Wanita Mainannya    Chapter 86

    Haute Couture—belum pernah menjelma pada suite predestial berporos beberapa jam.Hadapan pintu raksasa ganda, lusinan hired bodyguard—terbuka, bukan lagi sebatas kamar hotel. Lanskap kecil berisikan koper-koper aluminium, berjejer, mengantre untuk memenuhi masing-masing perannya.Garmet bag panjang berlogo house mode, tripod crystal, botol-botolan mahal berjejer pada meja rias besar. Lantai marmer hotel Mortelmour penuh dengan jejeran nama-nama beauty professional, wajah yang hanya muncul pada majalah-majalah mendunia La’Pairre, Cle de Peau Beaute, Haute Couture, Gucci Magazine, Khhuhodo. Pada tengah ruangan, sumber cahaya menggantung.Jika gaun maka kemilaunya melehibi pancaran mentari. Jika perhiasan maka batu-batuan mulianya memenuhi jajaran tabel koleksi.Warna ivory opaline dipilih untuk menonjolkan skin tone calon pemakainya n

  • Dulu Pembulinya, Kini Wanita Mainannya    Chapter 85

    “Premature Rupture of Membranes, atau—PROM,” Raya menimpa wajah lelahnya dengan lengan, penjelasannya penuh dengan hela napas tersengal. “Singkatnya, water broke early. Sienna ngeluh sakit di bagian bawah… apa, itu, abdomen? Enggak lama, ketubannya merembes. Kupikir awalnya, ketubannya pecah. Tapi, tadi, dokter bilang, cuma merembes. Bukan cuma, sih, still very serious. Air ketuban merembes bukan waktunya itu termasuk kelainan.”“Isn’t that… very dangerous?” Jonathan terang-terangan cemas lewat matanya. Ponsel tadi melekat dalam genggaman, perlahan diturunkan oleh gemetaran. Tatapannya bagai tercekik, berlarian dari arah pintu kamar mandi—gugup menunggu Sienna keluar—lalu, ke hadapan Raya yang sama pucatnya dengan dia.“It is,” Raya menjawab. Napasnya juga sama-sama pendek, frustasi. “Banget, malahan. Setau

  • Dulu Pembulinya, Kini Wanita Mainannya    Chapter 46

    Jonathan Wilyono POVPenjajahan memang tidak pandang zaman.Rasa maluku menumpuk pada ufuk mata. Terlalu berat hanya untuk sekadar menapakkan air muka. Lembaran kain diseret ke hadapanku. Putih, tebal, lembut, sarat akan aroma sabun pembersih. Sekuat, perfeksionis pemiliknya.

  • Dulu Pembulinya, Kini Wanita Mainannya    Chapter 45

    Jonathan Wilyono POV“Jonathan!”Namaku menyusul, memantul, terjerembab ke ruang telinga. Bongkahan batu kerikil menyembul lewat injakan sepatu kotorku. Terlalu signifikan, namun cukup untuk membuatku tersadar:Napasku melambat senada dengan jerit suara Sienna

  • Dulu Pembulinya, Kini Wanita Mainannya    Chapter 44

    Dunia Sienna terasa mengecil. Di tengah kepanikan, Ganta menyodorkan sikap paling manis yang pernah Ia—sebagai wanita—terima. Terlihat tergesa-gesa, Ganta kesulitan menyembunyikan kerah tangannya yang penuh bintik merah. Sang gadis telah memutuskan untuk menanam seny

  • Dulu Pembulinya, Kini Wanita Mainannya    Chapter 43

    Rambu jalanan.Merah.Tersapu sentak bulir-bulir hujan.Klakson.Pejalan kaki dengan sepatu penuh ciprat air kubangan.Aroma amis air hujan.Jika ini adalah potongan frame box office movie, cameraman akan mulai mundur daripada terfokus pada to

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status