Beranda / Romansa / ENAK, PAK DOSEN! / 215. Bos, Apa Bos?

Share

215. Bos, Apa Bos?

Penulis: OTHOR CENTIL
last update Terakhir Diperbarui: 2025-11-01 09:15:48

“Ugh! Sial!”

Mereka berdua panik bukan main. Aldo segera mencoba menarik diri dan membenahi celananya hingga nyaris saja ‘lolipop’ nya terjepit.

“Argh!” pekiknya tertahan, sementara Raline tersentak menjauh.

Raline berkata dengan suara tercekat, "Bagaimana ini? Kamu akan berkata apa kalau Papaku datang?"

Kini, Raline buru-buru menuju ranjang dan merebahkan badan lelahnya di sana. Lalu, ia menarik selimut sebatas dada dan mendelik pada Aldo yang mengumpat-ngumpat kesal

"Shit!" desis Aldo. Wajahnya yang tadi penuh hasrat, kini pucat pasi dipenuhi amarah dan ketkejutan.

Pintu itu sebentar lagi akan terbuka. Dan apa alasan yang akan ia gunakan saat Papa Raline bertanya siapa ia?

Tak lama setelah suara putaran handle pintu, pintu kamar Raline terbuka.

Seorang pria berambut putih muncul sambil mendorong pintu, dengan tenang membetulkan kacamata yang melorot di hidungnya.

Ia adalah Profesor Bima.

B
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • ENAK, PAK DOSEN!   472. Unfaedah

    Jenuh melihat perdebatan ‘unfaedah’ antara Sagara dan Ara yang nggak kunjung usai, Diana menyenggol lengan suaminya.“Mas, ayo cari makan. Laper tahu,” bisik Diana sambil menggoyangkan lengan suaminya dengan manja.Sambil mengusap kepala Diana yang dibalut hijab pashmina, Damar menyahut santai, “Anak-anak gimana, Yang? Aku nggak yakin mereka bakal nemu titik temu kalau kita tinggal. Ada baiknya kita tunggu aja keputusan mereka dulu.”Diana cemberut. Ia memajukan bibirnya hingga nyaris bisa dikuncir. “Tapi apa iya kita harus nungguin mereka debat kusir terus? Ayolah, Mas. Kita kasih mereka waktu berdua. Aku yakin Ara bisa mikir dewasa, dan Saga ... yah, dia cuma kecil di umur doang, otaknya mah udah jauh. Dia bakalan bisa nakhlukkin Ara. Secara, dia udah dapat tubuhnya Ara. Gampang mah kalau soal hati,” bujuk Diana.Kini, Damar menghela napas, melirik Sagara darj celah pintu—yang masih sibuk memandangi Ara dengan tatapan ‘lapar’. “Ya sudah, ayo. Kita beliin makanan juga buat mereka. N

  • ENAK, PAK DOSEN!   471. Gak Fair

    Diana dan Damar di depan ruang perawatan Sagara mendadak cemas. Mereka berdua sibuk mondar mandir. Sesekali, mereka melirik ke dalam sana, berusaha mendengarkan apa yang dikatakan oleh dua anak muda tersebut. Namun, mereka tidak bisa mendengarkan apapun, hanya saling menduga-duga saja. “Yang, kira-kira, apa ya yang membuat Ara datang nemuin Sagara? Apa karena rasa peduli atau memang dorongan dari orang lain?” tanya Damar dengan serius. Matanya masih mengamati pintu ruang perawatan putranya yang tertutup rapat. “Aku sih mikirnya karena Ara merasa bersalah, Mas. Clayton kan udah nyuruh anak buahnya untuk mukulin Sagara. Jadi, dari situ mungkin Ara simpati. Secara gak langsung, Clayton hampir membunuh Sagara, ‘kan. Ya gak sih, Mas?” timpal Diana. “Menurutku, itu adalah alasan logisnya mengapa Ara datang ke sini.” “Iya juga ya, Yang. Rasa simpati, dan rasa bersalah.” Damar mengangguk. Kemudian, ia tersenyum miring, “Tapi, ini

  • ENAK, PAK DOSEN!   470. Dikasih Hati Minta Jantung

    “Anak ini emang gak bisa dikasih hati! Ada kesempatan dikit, langsung godain! Dasar! Tengilnya kelewatan!” Damar merutuk pada putranya yang tidak tahu aturan itu. Setelahnya, Damar menatap Diana. Ia memberi kode agar segera menjauh. Sayangnya, Diana tidak paham. Maka, ia hanya mengangguk canggung saat Sedangkan Ara dalam hati tengah merutuk kesal, “Hm, kayaknya bocah sialan ini udah baikan. Duh, ngapain juga gue ke sini kalau cuma buat dengerin gombalan recehnya? Buang-buang waktu aja! Tahu gini gak ke sini!” “Sagara! Jaga bicaranya,” tegur Damar pada akhirnya. Meskipun nadanya tegas, tapi ia tak bisa menyembunyikan binar lega di matanya melihat Sagara kembali memiliki energi untuk menjahili orang. Diana ikut menimpali dengan senyum tak enak hati, “Ara, maafkan Sagara, ya. Dia memang agak lain daripada yang lain. Otaknya kadang suka ketinggalan di rumah kalau sudah ketemu kamu.” “Gak apa-apa, Tante,” jawab Ara singkat, meralat ucapannya menyebut Diana ‘Nyonya’ tadi. Meski ha

  • ENAK, PAK DOSEN!   469. Panggil Dia “Bunda Mertua”

    Damar terdiam sejenak, matanya masih terpaku pada daun pintu yang baru saja tertutup rapat. Meski batinnya sama curiganya dengan sang putra, ia mencoba tetap berpijak pada logika. Memindahkan pasien pasca operasi besar bukanlah perkara sepele.Kini, ia beralih menatap putranya dengan serius. “Kamu yakin mau pindah ke rumah sakit kita? Pindah itu nggak semudah membalikkan telapak tangan, Saga. Ada prosedurnya, ada risiko medis yang harus dihitung matang-matang. Jangan gegabah deh karena ini. Justru dengan tetap di sini, kita bisa tahu kalau ada yang ingin celakain kamu. Kita bisa ringkus dia. Gimana sih!”Diana yang sejak tadi diam dan menyimak, ikut menyela, “Ada apa sih, Mas? Kenapa ini? Kok jadi bahas ada yang nyelakain segala? Siapa?” Secara singkat, Damar segera menjelaskan semuanya. Dugaannya, dan semua analisisnya.Lalu, Diana mengangguk. “Oh, gitu ya, Mas. Iya juga sih, kita wajib curiga mengingat Louis udah disinggung Sagara dan gak menutup kemungkinan Louis akan balas denda

  • ENAK, PAK DOSEN!   468. Bau Aneh

    “Biarin! Biar sekalian Ayah iriskan telinga gajah buat gantiin telinga kamu itu! Salah sendiri nakalnya gak ketulungan! Dan siapa suruh mulut kamu ini ngoceh gak tahu berhenti, hah? Siapa suruh?” geram Damar sambil terus memutar telinga Sagara, mengabaikan rintihan manja putranya yang sebenarnya sudah kembali bertenaga untuk menjahili orang lain.Candaan mereka seketika terhenti saat pintu kamar rawat diketuk dari luar. Seorang pria berseragam medis masuk dengan langkah tenang, menyatakan niatnya untuk memeriksa Sagara.Baik Diana, Damar, dan Sagara menoleh ke ambang pintu yang terbuka. “Dokter?”“Selamat siang, Tuan dan Nyonya Setyawan. Saya Dokter Tommy, saya ingin memeriksa kondisi Tuan Muda Sagara,” ucapnya sopan.Damar beranjak dari duduknya, seketika bersikap waspada. Matanya memicing, memperhatikan dokter itu yang datang sendirian tanpa ditemani perawat, bahkan tanpa membawa map laporan medis di tangannya. Sebagai orang yang sangat teliti, Damar tahu Sagara ditangani oleh tim

  • ENAK, PAK DOSEN!   467. Main Sosor Aja

    Damar memijat pangkal hidungnya. Sangat kesal menghadapi Sagara yang tak tahu aturan itu. “Kalau dia gak mau, kamu mau apa? Jangan sok nekat gitu deh, Saga! Bunda gak mau kamu babak belur lagi karena obsesi gila kamu itu. Ngerti, gak?” tanya Diana dengan nada cemas sekaligus lelah. Sagara melepaskan selang oksigen yang melilit wajahnya. Dengan seringai tengil, ia menyahut santai, “Aku paksa dia berhubungan lagi, lalu aku pastiin dia hamil! Sesimpel itu, masa Bunda gak ngerti sih? Aku mau niru cara Ayah dan Bunda, kayaknya seru!” PLAK! Geplakan keras dari Damar mendarat tepat di kepala Sagara, membuat pemuda itu meringis dan nyaris tersedak. Pria paruh baya itu menatap putranya dengan urat leher yang menegang; ia benar-benar habis kesal melihat Sagara yang otaknya seolah hanya berisi urusan selangkangan. “Apa di otak kamu gak ada ide l

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status