เข้าสู่ระบบSetelah berpamitan dengan keluarga Damar, Ara akhirnya dibawa pulang oleh papinya. Di dalam mobil mewah yang melaju kencang dengan kesunyian yang mencekam, Ara sudah tidak bisa lagi menahan gejolak di dadanya. Ia menoleh tajam ke arah samping, menatap papinya yang justru terlihat sangat tenang—bahkan terlalu tenang untuk seseorang yang sebelumnya ingin membunuh calon besannya.“Oh, jadi Papi mempan disogok, nih?” protes Ara meledak. Ia bersedekap, matanya memicing kuat menatap Papinya yang terlihat santai sekali. “Apa sih yang Tuan Setyawan kasih sampai Papi langsung luluh? Papi setuju-setuju aja gitu, padahal aku belum tentu hamil, Pi! Di mana harga diri Harven yang Papi banggakan itu?”“Sekarang, kita tidak perlu bicara harga diri lagi, Sayangku.” Arnold menghela napas panjang, ia melepas kacamata hitamnya dan menatap Ara dengan tatapan yang sangat realistis. “Begini, siapa yang tidak mau satu pulau pribadi di Bahamas dengan beberapa resort yang menghasilkan jutaan dollar per bula
Tak hanya Ara dan Diana yang terperanjat, Sagara pun ikut tertegun di atas ranjangnya. Namun, saat perhatian semua orang terpusat pada Arnold, Sagara justru menyunggingkan senyum tipis yang penuh arti.“Sogokan maut Ayah ke Tuan Harven berhasil,” batin Sagara penuh kepuasan. “Tinggal sogokanku ke Ara nih. Apakah membuahkan hasil?”“Ya, calon mantu. Ada yang salah, Sayang?” Arnold bertanya balik dengan nada sangat santai, seolah-olah semalam ia tidak baru saja mengamuk ingin menghancurkan dunia.“Eng—enggak, gak ada, Pi.” Ara langsung membuang muka, pipinya memanas karena malu yang luar biasa. Ia merasa harga dirinya ikut terseret jatuh. Papinya yang awalnya menggebu-gebu ingin meruntuhkan kerajaan bisnis Damar, ingin membunuh Damar, dan segala sumpah serapah lainnya, kini justru termakan omongannya sendiri. Dan lihat sekarang? Pria itu bahkan tidak tahu malu, bersikap seolah mereka adalah sahabat karib yang tak terpisahkan!Saat Ara sedang merutuki kegengsian papinya yang runtuh sek
“Tidak!” Arnold mengangkat tangan, memberi isyarat agar Damar menjauh. “Tidak, aku tidak apa-apa. Tidak! Sudah, cukup. Aku tidk bisa …,” ucapnya dengan suara serak yang mulai stabil.Damar melipat keningnya, bibirnya berkedut, bingung. “Sudah? Maksudmu, kamu sudah baik-baik saja bagaimana? Dan tidak bisa apanya maksudmu? Kamu menolak lamaranku?” tanya Damar memastikan, ia menarik napas lega dan kembali duduk meski matanya tetap waspada.“I—iya, maksudku tidak, tidak. Lamaranmu kuterima,” jawab Arnold cepat, seolah takut tawaran itu akan menguap jika ia menunda sedetik saja. Ia menatap Damar lurus-lurus, mencoba mencari celah kebohongan di sana. “Tapi, kamu tidak omong kosong, ‘kan? Semua aset itu beneran bakal pindah tangan ke Ara?”Damar mendengus pelan, ia memperbaiki posisi kerah jasnya dengan gaya angkuh yang khas. “Apa aku terlihat seperti seorang penipu? Nama Setyawan taruhannya, Nold. Aku tidak pernah bermain-main dengan angka.”Arnold terdiam sejenak, menimbang harga dirinya y
“Mansion di Menteng? Itu bukan sekadar rumah, itu adalah simbol kasta tertinggi di ibu kota yang bahkan aku saja tidak punya satu pun di sana. Dan mobil tadi, harganya … ya ampun! Masih ditambah satu apartemen di PIK yang harganya miliaran. Goddamn! Dia seserius itu, atau hanya sedang menggertakku dengan angka-angka di atas kertas?”Arnold perlahan meraih gelas wine-nya, namun bukannya meminumnya, ia hanya menatap pantulan dirinya di cairan merah tersebut. “Kamu mencoba membeli anakku, Damar?” tanya Arnold lirih, ia mencoba bersikap biasa meski dalam hatinya ingin menjerit, girang bukan main. “Kamu pikir aset-aset ini bisa membayar trauma yang mungkin dialami Ara karena putramu?”“Bukan membeli,” sahut Damar tegas. Ia mencondongkan tubuh ke depan, menatap lurus ke dalam mata biru Arnold. “Ini hanya sebagai jaminan. Jaminan bahwa kalau pun dunia ini runtuh dan hubungan anak-anak kita tidak bisa diselamatkan, setidaknya Ara dan calon cucuku tidak akan pernah kekurangan satu helai rambu
Suasana di dalam ruang private restoran cepat saji itu terasa sangat kontras. Di luar, riuh rendah suara pengunjung dan aroma ayam goreng menyeruak, namun di dalam ruangan ini, udara seolah membeku. Damar duduk dengan punggung tegak namun santai di depan Arnold. Di tengah meja bundar yang besar itu, setangkai mawar merah dalam vas kecil tampak kontras di antara dua pria yang sedang memendam ego masing-masing.Begitu seorang waiters masuk dengan langkah hati-hati dan menyerahkan buku menu, Damar bahkan tidak meliriknya. Ia hanya menatap lurus pada pria bermata biru di hadapannya.“Sajikan yang paling spesial dan jangan lupa sajikan wine terbaik kalian ke sini,” titah Damar dengan suara berat yang mutlak.“Baik, Sir. Mohon tunggu sebentar,” sahut waiter itu sambil membungkuk hormat, merasa terintimidasi oleh aura dua pria di dalam ruangan tersebut.Selama lima menit menunggu, keheningan yang menyesakkan menyelimuti ruangan. Tak ada tegur sapa. Arnold sibuk dengan ponselnya, jemarinya
Sambil menikmati santap siang itu, Diana mencoba mencairkan suasana. Ia menopang dagu, menatap Ara dengan binar penuh minat. “Ngomong-ngomong, Nak, Tante belum tahu banyak soal kamu. Katanya kamu kuliah jurusan hukum. Udah semester berapa?” Ara menghentikan suapan dimsum ke mulutnya. Ia menelan makanannya perlahan sebelum menyunggingkan senyum tipis yang sopan. “Semester lima, Tante,” jawabnya singkat, agak canggung. Diana melirik Damar dengan raut wajah sedikit resah. Pasalnya, Ara mendadak menjadi sosok yang sangat irit bicara dan penuh batasan, kontras sekali dengan betapa berapi-apinya gadis itu saat berdebat dengan Sagara tadi. Merasa masih ada yang mengganjal, Diana bertanya lagi dengan nada hati-hati, “Kalau memang beneran hamil ... kamu yakin mau dinikahin Sagara dan cuti kuliah?” Mendengar pertanyaan itu, gerakan tangan Ara terhenti. Ia meletakkan sumpitnya, lalu menatap Diana dengan sorot mata yang mendadak dewasa. “Bener, Tante. Itu keputusan terbaik menurut aku,







