Home / Romansa / ENAK, PAK DOSEN! / 26 Anak Kedua Mama?

Share

26 Anak Kedua Mama?

Author: OTHOR CENTIL
last update Last Updated: 2025-08-26 21:15:45

“Kenapa harus malu? Aku tidak masalah,” jelas Maxim.

“Kamu memang tidak masalah. Tetapi aku yang merasa tidak pantas masuk ke dalam sini. Maaf, lebih baik aku pulang saja,” tutur Diana. Dirinya mengusap air mata yang terus jatuh membasahi pipi.

Kenapa semua orang harus melihat penampilan lebih dulu ketimbang sikap dan perilakunya? Bukankah jika seseorang dinilai dari penampilan, tentu buah durian akan menyakitkan bila dimakan?

Diana tidak mempedulikan ucapan Maxim. Dia terus berlalu pergi meninggalkanmu lelaki itu keluar dari dalam cafe.

“Diana tunggu!” seru Max.

Diana tidak peduli. Dia segera keluar dari halaman cafe tersebut karena malu.

Maxim dengan cepat mengejar lalu mencekal pergelangan tangan wanita itu.

“Lepaskan aku! Tolong jangan sentuh aku seperti ini, Bang!” sergah Diana mencoba melepas tangan Maxim.

Ada yang lebih hancur daripada dicampakkan lelaki yang menghamilinya. Penolakan halus di cafe tersebut membuat kepercayaan dirinya runtuh sek
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • ENAK, PAK DOSEN!   39. Aku Rela Dimadu

    Setelah mengantarkan ibunya ke teras depan, Damar kembali kedalam kamarnya. Dia sangat tahu jika ucapan antara sang mama dan dirinya tadi tentu saja dapat didengar orang Carol. “Dek! Tolong buka pintunya,” suruh Damar dengan mengentuk pelan. Dia tahu jika istrinya tadi mendengar semua pembicaraan di ruang tamu. Tidak perlu menunggu lama, pintu tersebut terbuka dengan lebar. Nampak wajah Carol sendu dengan air mata yang masih terlihat di pelupuk netranya. Buru-buru pria tersebut ke memeluk dan memberikan kekuatan supaya Carol tabah. Damar lalu membawa wanita itu untuk terduduk di atas ranjang supaya mau bisa diajak berbicara dar hati ke hati. “Maafkan aku yang sampai saat ini tidak bisa memberimu keturunan, Mas.” Wanita yang memakai hijab lebar itu mengucap setelah keduanya duduk pada tepian ranjang. “Maafkan juga ucapan mama yang membuatmu terluka. Sungguh, aku tidak terburu-buru dalam hal ini, Dek. Jangan nangis.” Damar m

  • ENAK, PAK DOSEN!   38. Aku Mandul

    Beberapa hari sebelumnya. Maya datang ke kediaman Damar. Wanita yang tak lagi muda itu menekuk wajah sedari datang, mirip seperti cucian kotor. Bahkan saat sang menantu menyambut, dia menjawab acuh. Barulah saat Damar tiba, dia mengungkapkan keinginannya. “Ini sudah tahun ke berapa, Mar? Mama sudah sangat menginginkan cucu. Lihat Bu Mella. Cucunya sudah tiga. Sedangkan Mama? Satu saja belum! Lihat usiamu! Gak muda lagi, begitu dengan Mama! Kenapa istrimu tidak kunjung mengandung? Ada masalah apa sebenarnya?” tanya mamanya Damar di ruang tamu saat wanita itu berkunjung ke rumah. Damar paham, paham sekali kalau Ibunya akan menuntut hal ini. Selama ini, ia memang takendesak Carol untun hamil. “Sabar, Ma. Kalau memang belum diberikan amanah, memangnya aku bisa apa?” tanya Damar mulai frustasi. Setiap tahun dia hanya diminta cucu oleh ibunya. Sedangkan Caroline, wanita itu tidak mau diajak periksa ataupun melakukan bayi tabung seperti or

  • ENAK, PAK DOSEN!   37. Kau Hanya Penyumbang Benih

    “Iya, Dek. Aku akan membawanya ke Jakarta setelah dia sembuh. Doakan aku berhasil. Ada Shanum juga di sini. Kalian pasti akan cocok,” terang Damar menggebu.“Shanum?”“Ya, dia putriku, Dek. Dia cantik.” imbuh Damar semakin membuat Carol terluka.Hening. Damar merasa ada yang aneh. “Dek? Kamu nggak setuju?” tanya nya.“Tentu, Mas. Aku setuju, setuju kok.” Penuturan Damar membuat hati Carol bak diremas ribuan tangan. Sangat sakit dan membuatnya terluka. Dirinya bahagia dan juga sedih di saat yang bersamaan.“Aku akan men-share lokasinya padamu. Kamu mau datang ke sini, nggak?” tawar Damar ingin berbagi kebahagiaan.Namun tidak bagi Carol. Dia benci situasi seperti ini. Dia yang menyarahkan Damar, tetapi dia yang tak rela.“Aku di sini aja, Mas. Mama mau ke sini,” jawab Carol menolak dengan halus.Apakah ini akan menjadi akhir dari hubungan mereka? Entahlah. Yang terpenting, Carol menurut saja apa yang terbaik baginya.Setelah menutup panggilan telep

  • ENAK, PAK DOSEN!   36. Test DNA

    Bocah kecil itu tampil cantik mengenakan gaun selutut dengan gambar bunga-bunga. Shanum sesekali berputar dan menatap tubuhnya sendiri dengan cekikikan. “Makasih. Ini uangnya aku transfer aja, ya?” Damar meraih ponselnya. Karyawan tersebut kemudian mengetikkan beberapa angka ke dalam ponsel milik Damar untuk menyelesaikan proses pembelian. Barulah setelah itu, wanita tersebut pamit undur diri. Karena proses operasi memakan waktu yang sangat lama, Damar kemudian mengajar Shanum ke sebuah ruangan khusus. Dia akan melakukan tes DNA sekalian sebelum bertemu dengan Diana. Karena jika itu sampai terjadi, mungkin Diana tidak akan pernah mengijinkan. Bukan bermaksud meragukan anak tersebut. Tapi jika terbukti DNA nya dengan Shanum sama, maka Diana tak akan membantah itu putrinya atau bukan. “Tuan, aku nggak mau ikut ke sana. Takut banyak jarum,” ucap Shanum berlindung di balik tubuh Damar. “Jangan takut. Shanum mau ibu c

  • ENAK, PAK DOSEN!   35. Aku Menemukanmu, Diana!

    Karena sangat khawatir dengan kondisi korbannya, maka Damar berteriak seperti orang kesurupan memanggil petugas yang dirasa sangat lelet dalam bekerja.Tidak lama kemudian, dua perawat datang tergopoh padanya. Damar diminta untuk meletakkan itu di atas ranjang pemeriksaan. Segera setelah itu, dia diminta untuk keluar ruangan.“Bagaimana kondisinya?” tanya satu pihak kepolisian yang turut mengantarkannya sambil membawa sosok bocah kecil yang diperkirakan Damar berusia kurang dari 5 tahun.“Masih dalam penanganan medis. Ini SIM dan kartu identitas saya jika memang diperlukan untuk proses tilang!” Damar menyodorkan dua kartu identitas beserta STNK supaya meyakinkan pihak kepolisian.Salah satu petugas kepolisian yang memakai topi kali ini mencatat surat tilang dan menyita STNK mobil milik Damar. Segera setelah itu, dua pihak kepolisian tersebut pamit undur diri dan Damar diminta untuk kooperatif membayar denda tilang.****“Ibu! Ibu!” seru bocah itu yang sesaat

  • ENAK, PAK DOSEN!   34. Bangun, Bu! Bangun!

    “Ah, sial!”Gara-gara tidak bagus mengemudi karena ponselnya terjatuh di bawah kaki, seorang pemuda berusia 30 tahunan tersebut menabrak pejalan kaki yang sedang melintas dan hendak menyeberang jalan.Damar— pria itu memang berada di kota ini untuk acara pertemuan dengan calon istri keduanya, yang dipilihkan oleh sang mama.Buru-buru pria itu kemudian turun dari atas kendaraan dan menyaksikan jika sudah ada anak kecil yang sedang menangis melihat ibunya tergeletak tidak berdaya.“Ibu, bangun, Bu! Ibu! Bangun!” seru bocah kecil itu dengan tangisan yang memilukan.Sepasang langkah kaki yang terbalut sepatu hitam mengkilat tersebut mendekat. Keadaan sekitar masih sangat sepi, sehingga Damar bersyukur tidak ada yang datang untuk menghakimi nya kali ini karena melakukan aksi tabrak.Dia segera melihat keadaan wanita itulah yang sudah tidak karuan bentuknya. Wajahnya tertelungkup dan sesekali dia beristighfar.“Tolong jangan menangis. Aku akan menolong ibumu,”

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status