Masuk”Dan video ini yang bakalan buat gue bisa meraih lo selamanya, Ara,” bisiknya pelan. "Lo nggak akan bisa lari lagi dari gue setelah malam ini. Gue jamin Lo bakalan takluk sama gue.”
Sagara kembali mendekati ranjang. Ara masih terbaring pasrah dalam posisi kaki yang terbuka lebar, sisa-sisa pelepasan tadi membuatnya kehilangan tenaga bahkan untuk sekadar merapatkan paha.Rasa penasaran Sagara memuncak. Ia menyalakan lampu flash pada ponselnya, mengarahkan cahaya terang itu tepat ke area yang tadi ia “service”.Cahaya itu menyinari area sensitif Ara yang tampak sangat kontras—merah muda, mulus tanpa rambut, dan masih tampak sangat kencang.“Ih, God! Gue gila, Ara lebih gila!”Dengan rasa penasaran yang luar biasa, Sagara menggunakan jemarinya untuk sedikit menyibak lipatan bibir merah muda yang masih berdenyut itu.Ia mendekatkan matanya, memeriksa detail yang selama ini menjadi misteri bagi pria yang sering gonta-ganti pasangan sepertinya.”Wow! Di“Bang, please dengerin, Bang. Kalau gue hamil anak Sagara gimana, Bang? Gue subur hari ini! Gimana kalau anak gue nanti tahu, bila yang bunuh Daddy-nya adalah ... uncle-nya sendiri?”Sejenak, Clayton memutar badannya. Tangannya yang mengepal makin kencang. “Lo subur?”“Ya! Abang mau anakku lahir tanpa ayah, Bang? Abang mau ….”“Cukup, Ra! Diam!”Dunia seolah berhenti berputar. Clayton membeku di ambang pintu. Bahunya menegang hebat, dan kepalan tangannya di dalam saku celana bergetar. Kalimat “hamil anak Sagara” menghantam logikanya seperti gada besi. Jika benar ada benih Sagara yang tumbuh di rahim Ara, maka membunuh Sagara sekarang adalah tindakan yang paling ceroboh.Clayton sudah kehilangan akal sehatnya. Ia menyugar rambutnya dengan kasar, wajahnya memerah karena perpaduan antara frustrasi, syok, dan kemarahan yang mencapai titik didih. Baginya, setiap pilihan yang ada sekarang terasa salah, namun ego da
“Apa ini karma buat gue karena gue juga sering mainin perempuan? Adik gue jadi dimainin cowok, dan kini … shit! ... gue nyesel! Andai waktu bisa diulang!” batinnya menjerit pedih.Selama ini ia merasa menjadi pemenang setiap kali menaklukkan wanita, namun kini ia sadar betapa hinanya posisi itu ketika ia melihat adik kandungnya sendiri yang menjadi korban. Ia tak pantas disebut kakak!“Pakai baju lo yang bener,” ucap Clayton tanpa melihat wajah Ara, suaranya kini terdengar parau dan kehilangan tenaga. “Kita pulang sekarang sebelum gue bener-bener berubah pikiran dan bunuh dia di depan mata lo.”Ara hanya mengangguk patuh, meski hatinya masih berkecamuk. Namun, saat Clayton mulai melangkah lebar mengajaknya turun melalui tangga, Ara seketika meringis dan menghentikan langkahnya. Rasa perih di area intinya terasa semakin tajam dan menyengat setiap kali ia mencoba menggerakkan kakinya secara vertikal. Mustahil baginya untuk menuruni puluhan anak tan
“Bang, gue gak seburuk itu!” ucap Ara lirih. Dengan tubuh yang masih gemetar, ia mencoba berjongkok di dekat Clayton, berusaha meraih tangan kakaknya untuk meminta maaf. Sayangnya, Clayton segera menepis tangan itu dengan kasar, menolak mentah-mentah untuk disentuh oleh adiknya sendiri. “Gak usah sentuh gue!” Lalu, Clayton memberikan tatapan sengit pada sang adik. “Gak seburuk itu gimana? Lo mungkin lebih buruk dari pelacur! Pelacur dibayar jasanya! Sementara lo? Dinikmatin gratisan!” bentak Clayton dengan nada menghina yang luar biasa dalam. “Gue gak ngerti, Ra. Lo yang cerdas, bisa-bisanya tidur sama Gara yang … gak jelas masa depannya! Lo sadar gak sih? Dia itu predator buas, kelas kakap, dan lo mau aja disentuh! Ini gila! Lo gila, dan buat gue gila! Ini kalo Papi tahu, lo bakalan abis di tangan beliau. Bayangin, anak cewek kesayangannya menyerahkan diri gitu aja sama buaya darat. Gak mikir ke sana lo, hah?”
Clayton berjalan mendekat dengan aura yang sangat mengintimidasi. Ia menatap adiknya tepat di mata dan bertanya dengan suara rendah yang bergetar karena emosi yang meluap. “Sejauh apa hubungan lo dan Gara, hah? Jawab gue, Ra! Lo punya hubungan apa sama Gara!” Kini, kedua telapak tangan Clayton mengguncang bahu adiknya dengan keras. Di dalam hati, ia ingin sekali menyangkal kenyataan pahit ini. Ia ingin percaya bahwa semua baik-baik saja. Tapi melihat adiknya berada di dalam kamar pria yang paling ia benci dan dalam kondisi berantakan, ia hampir tak sanggup membayangkan apa yang baru saja erjadi. Sementara itu, Ara hanya menunduk dan gemetar hebat. Ia tak berani mendongak saat guncangan di badannya terasa makin kasar. Clayton tahu adiknya mungkin berbuat salah, tapi jika sampai Sagara merampas harga diri Ara, ia benar-benar tidak terima. Sagara sudah keterlaluan!
“Ck! Ini kalo gak minum, gak bakalan dapet ide! Ah, untung gue ada wine di rumah! Coba kalo gak? Bisa stress gue!” Sagara berpikir, ia butuh sesuatu untuk mendinginkan kepalanya. Sesampainya di dapur, ia membuka lemari pendingin, mengambil sebotol wine dan menuangkannya ke gelas dengan tangan yang sedikit gemetar. Glek ... glek … Cairan merah itu melewati kerongkongannya, namun rasa tenang yang ia cari tak kunjung datang. Justru, keheningan rumahnya mendadak pecah oleh suara denting bel pintu depan dan suara kunci yang diputar. Cklek! Jantung Sagara seolah merosot ke perut. Ia mematung di tempat, memegang gelas wine-nya erat-hal-erat. “Heh? Itu siapa? Maling? Masa iya jam segini? Gak masuk akal! Gak biasanya ada tamu atau … ayah dan bunda ke sini tanpa kabar? Mampus! Jangan-jangan itu ayah atau ... Tuan Arnold! Ya, dia bisa aja cari Ara hari ini, ‘kan? Ya ampun! OMG! Aaargh! Mat
”Aduhhh! Mampus gue! Kenapa juga HPHT nya itu sih?” umpat Sagara kencang. Ia beranjak dari ranjang dan mondar mandir di kamarnya dengan perasaan gelisah. Oke, fine. Ia salah. Tapi, ia tidak berpikir sejauh itu! Ia kira Ara aman, gak subur. Tapi kenyataannya. Aduh, Sagara makin frustasi kalau gini caranya! Ara berusaha menegakkan badan. Ia pandangi wajah Sagara yang tidak karuan. “Kenapa sih?! Ada masalah besar, ya?” “Iya.” Sagara akhirnya mengakui semuanya. “Lo tahu gak, sih? Dua belas hari yang lalu Lo dapet!! Itu artinya hari ini lo lagi di puncak masa subur, Ara! Itu hari ovulasi! Ibarat tanah, rahim lo lagi gembur-gemburnya dan benih gue baru aja ... ah, sial!” Lagi dan lagi, Sagara mengacak rambutnya frustrasi. Ia tahu betul teori itu karena pernah membacanya di sela-sela keisengannya, dan kini fakta itu berbalik menjadi bumerang yang sangat mengerikan. Ara yang tadinya mengantuk, mendadak melek sempurna. Ia tak menya







