Masuk“Ck! Ini kalo gak minum, gak bakalan dapet ide! Ah, untung gue ada wine di rumah! Coba kalo gak? Bisa stress gue!”
Sagara berpikir, ia butuh sesuatu untuk mendinginkan kepalanya. Sesampainya di dapur, ia membuka lemari pendingin, mengambil sebotol wine dan menuangkannya ke gelas dengan tangan yang sedikit gemetar. Glek ... glek … Cairan merah itu melewati kerongkongannya, namun rasa tenang yang ia cari tak kunjung datang. Justru, keheningan rumahnya mendadak pecah oleh suara denting bel pintu depan dan suara kunci yang diputar. Cklek! Jantung Sagara seolah merosot ke perut. Ia mematung di tempat, memegang gelas wine-nya erat-hal-erat. “Heh? Itu siapa? Maling? Masa iya jam segini? Gak masuk akal! Gak biasanya ada tamu atau … ayah dan bunda ke sini tanpa kabar? Mampus! Jangan-jangan itu ayah atau ... Tuan Arnold! Ya, dia bisa aja cari Ara hari ini, ‘kan? Ya ampun! OMG! Aaargh! Mat“K–kita mau ke mana, Bang?”“Neraka!” sahut Clayton singkat tanpa ekspresi.Begitu sampai di sebuah tempat yang asing, Clayton memberi perintah, “Turun!”“Gak mau!” Ara memekik, “Lo bercanda, ya? Ngapain ngajak gue ke sini, Bang?”Ara memperhatikan bangunan di depan mobil abangnya dengan napas yang mulai memburu. Di sana, terpampang papan nama sebuah klinik bersalin. Pikirannya langsung melayang ke hal-hal mengerikan.Ia takut abangnya akan memaksanya melakukan prosedur untuk menggugurkan kandungan yang bahkan belum ia ketahui keberadaannya.“Turun gak?” gertak Clayton lagi sambil membuka pintu kiri.Ara menggeleng. “Gak mau! Abang mau apa? Mau gugurin kandungan ini? Gak, Bang! Gue gak mau!”Setelah memijat pelipis yang berdenyut, Clayton mengepalkan tangannya di kemudi, ia ingin sekali memukul sesuatu, tapi ia menahan diri. Meski hatinya sangat kesal, ia tetap tak sanggup menyakiti adiknya s
“Bang, please dengerin, Bang. Kalau gue hamil anak Sagara gimana, Bang? Gue subur hari ini! Gimana kalau anak gue nanti tahu, bila yang bunuh Daddy-nya adalah ... uncle-nya sendiri?”Sejenak, Clayton memutar badannya. Tangannya yang mengepal makin kencang. “Lo subur?”“Ya! Abang mau anakku lahir tanpa ayah, Bang? Abang mau ….”“Cukup, Ra! Diam!”Dunia seolah berhenti berputar. Clayton membeku di ambang pintu. Bahunya menegang hebat, dan kepalan tangannya di dalam saku celana bergetar. Kalimat “hamil anak Sagara” menghantam logikanya seperti gada besi. Jika benar ada benih Sagara yang tumbuh di rahim Ara, maka membunuh Sagara sekarang adalah tindakan yang paling ceroboh.Clayton sudah kehilangan akal sehatnya. Ia menyugar rambutnya dengan kasar, wajahnya memerah karena perpaduan antara frustrasi, syok, dan kemarahan yang mencapai titik didih. Baginya, setiap pilihan yang ada sekarang terasa salah, namun ego da
“Apa ini karma buat gue karena gue juga sering mainin perempuan? Adik gue jadi dimainin cowok, dan kini … shit! ... gue nyesel! Andai waktu bisa diulang!” batinnya menjerit pedih.Selama ini ia merasa menjadi pemenang setiap kali menaklukkan wanita, namun kini ia sadar betapa hinanya posisi itu ketika ia melihat adik kandungnya sendiri yang menjadi korban. Ia tak pantas disebut kakak!“Pakai baju lo yang bener,” ucap Clayton tanpa melihat wajah Ara, suaranya kini terdengar parau dan kehilangan tenaga. “Kita pulang sekarang sebelum gue bener-bener berubah pikiran dan bunuh dia di depan mata lo.”Ara hanya mengangguk patuh, meski hatinya masih berkecamuk. Namun, saat Clayton mulai melangkah lebar mengajaknya turun melalui tangga, Ara seketika meringis dan menghentikan langkahnya. Rasa perih di area intinya terasa semakin tajam dan menyengat setiap kali ia mencoba menggerakkan kakinya secara vertikal. Mustahil baginya untuk menuruni puluhan anak tan
“Bang, gue gak seburuk itu!” ucap Ara lirih. Dengan tubuh yang masih gemetar, ia mencoba berjongkok di dekat Clayton, berusaha meraih tangan kakaknya untuk meminta maaf. Sayangnya, Clayton segera menepis tangan itu dengan kasar, menolak mentah-mentah untuk disentuh oleh adiknya sendiri. “Gak usah sentuh gue!” Lalu, Clayton memberikan tatapan sengit pada sang adik. “Gak seburuk itu gimana? Lo mungkin lebih buruk dari pelacur! Pelacur dibayar jasanya! Sementara lo? Dinikmatin gratisan!” bentak Clayton dengan nada menghina yang luar biasa dalam. “Gue gak ngerti, Ra. Lo yang cerdas, bisa-bisanya tidur sama Gara yang … gak jelas masa depannya! Lo sadar gak sih? Dia itu predator buas, kelas kakap, dan lo mau aja disentuh! Ini gila! Lo gila, dan buat gue gila! Ini kalo Papi tahu, lo bakalan abis di tangan beliau. Bayangin, anak cewek kesayangannya menyerahkan diri gitu aja sama buaya darat. Gak mikir ke sana lo, hah?”
Clayton berjalan mendekat dengan aura yang sangat mengintimidasi. Ia menatap adiknya tepat di mata dan bertanya dengan suara rendah yang bergetar karena emosi yang meluap. “Sejauh apa hubungan lo dan Gara, hah? Jawab gue, Ra! Lo punya hubungan apa sama Gara!” Kini, kedua telapak tangan Clayton mengguncang bahu adiknya dengan keras. Di dalam hati, ia ingin sekali menyangkal kenyataan pahit ini. Ia ingin percaya bahwa semua baik-baik saja. Tapi melihat adiknya berada di dalam kamar pria yang paling ia benci dan dalam kondisi berantakan, ia hampir tak sanggup membayangkan apa yang baru saja erjadi. Sementara itu, Ara hanya menunduk dan gemetar hebat. Ia tak berani mendongak saat guncangan di badannya terasa makin kasar. Clayton tahu adiknya mungkin berbuat salah, tapi jika sampai Sagara merampas harga diri Ara, ia benar-benar tidak terima. Sagara sudah keterlaluan!
“Ck! Ini kalo gak minum, gak bakalan dapet ide! Ah, untung gue ada wine di rumah! Coba kalo gak? Bisa stress gue!” Sagara berpikir, ia butuh sesuatu untuk mendinginkan kepalanya. Sesampainya di dapur, ia membuka lemari pendingin, mengambil sebotol wine dan menuangkannya ke gelas dengan tangan yang sedikit gemetar. Glek ... glek … Cairan merah itu melewati kerongkongannya, namun rasa tenang yang ia cari tak kunjung datang. Justru, keheningan rumahnya mendadak pecah oleh suara denting bel pintu depan dan suara kunci yang diputar. Cklek! Jantung Sagara seolah merosot ke perut. Ia mematung di tempat, memegang gelas wine-nya erat-hal-erat. “Heh? Itu siapa? Maling? Masa iya jam segini? Gak masuk akal! Gak biasanya ada tamu atau … ayah dan bunda ke sini tanpa kabar? Mampus! Jangan-jangan itu ayah atau ... Tuan Arnold! Ya, dia bisa aja cari Ara hari ini, ‘kan? Ya ampun! OMG! Aaargh! Mat







