LOGINKurir itu datang menjelang sore, bukan dari jalur yang biasa digunakan orang yang berurusan dengan Eclipse Blood. Cara berjalannya orang yang tidak terbiasa membawa pesan seperti ini dan sangat ingin segera selesai. Ia menyerahkan gulungan kertas kecil ke Orin, mengambil pembayaran yang sudah disiapkan, dan pergi tanpa menunggu balasan.Orin membacanya sendiri dulu sebelum bicara ke yang lain.Pasukan kecil Asterion masuk ke wilayah Sagehold dalam kelompok-kelompok yang berpencar. Tidak ada bendera, tidak ada identitas resmi, tidak ada catatan di pos perbatasan karena mereka masuk lewat jalur yang tidak tercatat. Tapi cara mereka bergerak, jadwal rotasi dan pola patroli yang dilaporkan oleh tiga sumber berbeda di tiga titik berbeda, menunjukkan orang-orang terlatih dengan tujuan yang jelas. Bukan pasukan yang sedang patroli rutin. Pasukan yang sedang mencari.Di beberapa titik yang mereka lewati setelah masuk ke Sagehold, simbol yang sama ditemukan kembali. Bukan di kertas yang ditemp
Tiga tahun setelah bergabung dengan Eclipse Blood, Leo pamit dengan kalimat yang singkat: ada urusan lama yang perlu diselesaikan. Orin mengangguk. Piscessa tidak bertanya. Kembar belum ada waktu itu. Leo pergi.Ia tidak menjelaskan lebih dari itu dan Orin memang tidak memintanya. Sudah terlalu lama mereka bekerja bersama untuk tidak saling mengerti bahwa ada hal-hal yang tidak perlu dibagi sebelum waktunya.Asterion lebih besar dari yang Leo ingat. Terakhir ia menginjakkan kaki di kota pusatnya ia masih belasan tahun, masih cukup kecil untuk tidak meninggalkan jejak yang diingat siapapun. Sekarang ia datang sebagai pedagang bumbu dari Reedfall, lengkap dengan identitas yang disiapkan selama dua bulan, surat dagang palsu dari tangan kenalan lama yang Leo bayar cukup mahal. Nama di surat itu bukan namanya.Kota pusatnya berdiri di atas dataran tinggi yang dikelilingi tembok dari batu gelap. Di setiap menara ada penjaga, di setiap perempatan ada patroli dengan jad
Mereka duduk di ruang utama markas. Bukan pagi yang khusus, matahari belum sepenuhnya naik dan lampu minyak masih menyala di dua sudut ruangan. Geminio duduk dengan kaki naik ke peti kayu, Geminia menyikutnya sampai ia menurunkannya. Leo ada di kursi yang biasa ia pakai, tangan di atas meja, tidak memegang apa-apa.Orin yang mulai. "Cerita dari awal."Leo mengangguk. Ia mengambil napas pelan, bukan napas yang dramatis, lebih seperti seseorang yang sedang memilih dari mana mulainya."Aku besar di pinggiran Asterion." Suaranya biasa saja, tidak lebih berat dari ketika ia bicara tentang hal-hal lain. "Ada pasangan tua yang menampungku waktu kecil. Bukan keluarga darah. Mereka punya ladang kecil di luar kota, tanaman sayur dan sedikit ternak. Orang biasa. Enric dan Maren namanya. Enric punya kebiasaan makan terlalu lambat dan Maren yang selalu marah karena itu, tapi marahnya tidak pernah sampai kemana-mana. Selesai makan mereka baik-baik lagi. Setiap hari seperti itu."Geminia tidak berko
Leo tidak tidur malam itu.Ia duduk di sudut ruangan dengan kertas itu di tangan, sendirian, sementara yang lain masih terlelap di posisi masing-masing. Geminio tidur di kursinya dengan kaki menjulur ke lantai, sepatunya masih terpasang. Geminia meringkuk di kasur tipis di sudut dengan selimut setengah jatuh ke lantai. Piscessa di pojok lain, punggung bersandar ke peti kayu, kepala sedikit miring. Semuanya lelah dengan cara yang tidak perlu dijelaskan.Api di tengah ruangan sudah padam. Tinggal bara yang sesekali berpendar merah kalau ada angin masuk dari celah ventilasi. Baunya seperti kayu terbakar dan logam lembap, bau yang sudah begitu familiar sampai Leo kadang tidak menyadarinya lagi.Kertas itu tipis, sudah sedikit kusut di lipatannya karena terlalu sering diambil dan disimpan sejak Piscessa menemukannya di pasar Rowanthar. Simbol di pojok kanan bawahnya tidak berubah mau dilihat dari sudut manapun. Lingkaran yang memotong dirinya sendiri. Garis lurus tepat di tengah, bersih da
Mereka sampai di Rowanthar di hari ketiga.Perjalanan dari Eryndel berjalan tanpa masalah. Jalur yang mereka pilih lebih jauh dari jalur konvoi Harven, memutar sedikit ke utara, tapi lebih sepi dan lebih mudah diawasi. Tidak ada yang banyak bicara sepanjang jalan. Geminia berjalan dengan sisi tulang rusuknya yang masih sesekali berdenyut, tapi tidak mengeluh. Cukup.Rowanthar lebih besar dari Sagehold.Jalannya lebih lebar, gedung-gedungnya lebih tinggi, pasarnya lebih ramai. Tembok batu di sekelilingnya kokoh, menara penjaganya tinggi, dan di atas gerbang utama bendera kerajaan berkibar tenang diterpa angin sore.Harven menyibak tirai keretanya begitu gerbang mulai terlihat. Untuk pertama kalinya sejak mereka meninggalkan Sagehold, ketegangan di wajahnya menghilang. Ia menghela napas panjang.Orin tidak menatap gerbang. Ia menatap orang-orang yang berlalu lalang di luar tembok, pedagang kecil yang menata gerobak, anak-anak yang berlarian, perempuan tua yang menjemur kain. Semuanya ber
Permintaan itu datang dua hari setelah malam yang tenang di markas. Hanya pesan pendek lewat jalur biasa. Orin membaca satu kali. "Berangkat besok pagi."Mereka tiba di Sagehold menjelang siang. Geminia berjalan dengan langkah sedikit lebih hati-hati, sisi tulang rusuknya masih sesekali mengingatkan keberadaannya.Sagehold terasa berbeda. Penjaga di gerbang memeriksa setiap kereta dua kali. Pasar mulai sepi sebelum tengah hari. Terlalu banyak prajurit bergerak dengan langkah yang terlalu tergesa untuk patroli rutin."Ada yang aneh," gumam Orin ke Leo."Aku juga ngerasa."Di belakang mereka, Geminio mencolek pundak Geminia, menunjuk ke prajurit muda yang berdiri kaku di depan gedung batu."Kasian banget. Kayak patung.""Mukanya kaku. Kayak baru makan emping sekarung."Mereka menepi di bawah kanopi warung kecil dekat alun-alun. Di seberang jalan, dua pria tua berbicara cukup keras untuk terdengar ke sini."...sudah tiga hari pasukannya keluar ke arah barat. Belum balik semua.""Katanya







