Beranda / Romansa / Emily'S Lover / CHAPTER EIGHT

Share

CHAPTER EIGHT

Penulis: Kowalska
last update Terakhir Diperbarui: 2025-09-20 19:14:05

Lucas menghentikan mobilnya tepat di depan apartemen Emily. Gedungnya tidak besar, tapi tampak nyaman, dengan cahaya lampu dari beberapa jendela yang masih menyala di malam yang semakin larut.

Liam memutuskan untuk mengantar ibunya pulang, sementara Emily diantar oleh Lucas. Saat Lucas melirik ke sebelah kanan, ia mendapati Emily tertidur dengan kepala sedikit miring, memeluk tote bag-nya erat-erat. Napasnya teratur, wajahnya terlihat begitu damai—sebuah ketenangan yang langka setelah hari panjang yang penuh emosi ini.

Lucas ragu. Ia tidak sampai hati membangunkannya.

Lima menit berlalu. Sepuluh menit. Dua puluh menit. Emily masih terlelap, tubuhnya hampir tidak bergerak. Lucas mulai curiga bahwa jika dibiarkan, Emily mungkin akan tidur sampai pagi di dalam mobilnya.

Dengan hati-hati, ia menyentuh pundaknya, mencoba membangunkannya tanpa mengagetkannya. Kalau saja ia tahu Emily tinggal di lantai berapa, mungkin ia sudah membopongnya masuk ke dalam apartemen.

"Em... kita sudah sampai,” bisiknya lembut.

Kelopak mata Emily perlahan bergerak, lalu terbuka dengan sayup. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya, mencoba mengumpulkan kesadarannya yang masih tersisa.

“Kita sudah sampai sejak tadi?” tanyanya sambil mengucek matanya.

Lucas tersenyum tipis. “Tidak, kita baru saja tiba.” Ia bersandar di kursinya, menatap Emily dengan ekspresi menggoda. “Bangunlah, atau kau mau aku menggendongmu?”

Emily mendengus pelan, sebuah senyum kecil terukir di wajahnya—senyum yang jelas dipaksakan.

“Dalam mimpimu, Mr. Morrow.”

Lucas menatapnya lebih lama. Ada sesuatu yang tidak beres. Senyum Emily tidak seperti biasanya. Ada bayangan lelah di matanya, sesuatu yang tidak bisa disembunyikannya meski ia berusaha keras.

“Em... are you okay?” tanyanya, suaranya lebih lembut dari biasanya.

Emily langsung mengangguk cepat. Terlalu cepat. “Of course, Luke.”

Lucas tidak yakin. Tapi sebelum ia sempat mengatakan sesuatu lagi, Emily sudah meraih gagang pintu. “Terima kasih sudah mengantarku,” katanya, suaranya terdengar tergesa-gesa.

Lalu begitu saja, ia keluar dari mobil, menutup pintu tanpa menoleh ke belakang, melangkah cepat menuju pintu masuk apartemennya.

Lucas hanya bisa menatap kepergiannya dalam diam, mengikuti sosoknya yang semakin menjauh, hingga akhirnya menghilang di balik gedung.

Ada sesuatu yang mengganggu hatinya yang mengatakan gadis itu tidak baik-baik saja.

***

Emily keluar dari mobil dengan tergesa-gesa. Ia tidak bisa berlama-lama di ruang yang sama dengan Lucas. Ia harus segera pergi. Semakin lama ia berduaan dengannya, semakin berbahaya rasanya—terutama untuk jantungnya.

Sejak Lucas pertama kali mengunjungi apartemennya, Emily merasa tubuhnya tidak pernah bekerja dengan benar saat berada di dekat pria itu. Jantungnya selalu berdetak tidak karuan, pikirannya berantakan.

Ingat Em, pria itu pemain wanita!

Bahkan dalam seminggu, Lucas bisa berganti-ganti wanita seakan itu adalah hal paling alami di dunia. Bagi Lucas Morrow, bersikap lembut dan penuh perhatian pada perempuan bukanlah sesuatu yang sulit—bukan karena ia tulus, tapi karena itu sudah jadi bagian dari permainannya.

Emily harus tetap mengendalikan situasi.

Ia menghela napas dalam, mencoba menenangkan dirinya, lalu berjalan menuju pintu masuk apartemennya. Dalam perjalanannya, ia sempat menyapa satpam yang berjaga malam itu.

"Selamat malam, Mr. Orland," sapanya dengan senyum kecil.

"Selamat malam, Emily," sahut pria paruh baya itu ramah. Matanya melirik sekilas ke arah jalan. "Apakah itu mobil baru Liam?"

Emily menoleh ke belakang, melihat Tesla yang masih terparkir di depan gedung. Jendelanya gelap, tapi ia tahu Lucas masih ada di dalam sana.

"Oh, bukan," jawabnya cepat. "Itu temanku."

"Ah, pantas saja. Kukira dia akan ikut masuk, tapi sepertinya dia hanya menunggu di luar."

Emily mengernyit, rasa penasaran menggigit pikirannya. "Tunggu... sudah berapa lama mobil itu ada di sana?" tanyanya hati-hati.

Mr. Orland berpikir sejenak. "Hmm, mungkin sekitar 30 menit atau lebih? Aku tidak begitu ingat pasti. Kau bisa bertanya langsung pada temanmu, bukan?"

Emily membeku sejenak. Tiga puluh menit lebih...?

Lucas bilang mereka baru saja sampai. Tapi kenyataannya, ia sudah ada di sana jauh sebelum membangunkan Emily. Pria itu kembali berbohong padanya.

Emily merapatkan mantel di tubuhnya, mencoba mengabaikan rasa aneh yang menjalari dadanya. Ia tidak ingin mencari tahu. Tidak ingin menggali lebih dalam.

Tidak. Demi kenyamanan hatinya, ia akan pura-pura tidak tahu.

***

Emily menjatuhkan tubuhnya ke kasur begitu ia tiba di apartemennya. Seluruh tubuhnya terasa lelah, bukan hanya karena aktivitas hari ini, tetapi juga karena emosinya terkuras habis sejak pagi.

Dengan gerakan lamban, ia meraih ponselnya yang sudah mati seharian dan menyambungkannya ke pengisi daya di samping tempat tidur. Begitu layar menyala, berbagai notifikasi mulai berdatangan—SMS, email, dan puluhan panggilan tak terjawab.

54 missed calls from Liam.

Emily menelan ludah. Ada perasaan bersalah yang menyelusup ke dalam dadanya. Ia membuka aplikasi pesan dan mulai mengetik.

Emily: Kabari aku saat kau sudah sampai rumah. I miss you, Liam.

Setelah menekan tombol kirim, ia kembali menatap layar ponselnya, tapi balasan dari Liam tak kunjung datang. Apakah dia sudah tidur? Batin Emily mulai bertanya-tanya.

Emily menghela napas dan membuka kontaknya. Matanya tertuju pada satu nama yang sudah lama tidak ia hubungi: Eleanor Wilton Mitchell.

Ibunya.

Dengan sedikit ragu, ia menekan ikon panggilan. Nada sambung berbunyi. Sekali. Dua kali. Tiga kali.

Tidak ada jawaban. Tentu saja. Ibunya selalu sibuk.

Sejak kematian ayahnya, Eleanor semakin mengubur diri dalam pekerjaannya. Sebagai dokter bedah ternama di Arizona, waktunya hampir selalu dihabiskan di rumah sakit. Emily sudah terbiasa dengan itu. Sudah terlalu sering menerima pesan suara sebagai ganti percakapan. Itu juga salah satu alasan mengapa ia memilih meninggalkan rumah dan berkuliah di California.

Jauh dari kenangan. Jauh dari rumah yang terasa semakin kosong.

Emily menatap layar ponselnya yang tetap sunyi. Liam pun masih belum membalas pesannya.

Apa yang harus ia lakukan?

Rasa tidak enak mulai menggerogoti hatinya. Apakah seharusnya ia menemani Liam saja hari ini? Apakah ia salah karena pergi? Tapi... apa yang harus ia katakan jika Liam kembali menyinggung soal lamarannya?

Pikiran itu membuat kepalanya semakin penuh.

"Aargh!" Emily mengacak rambutnya, frustrasi.

Mungkin mandi air hangat bisa sedikit menenangkan pikirannya.

Emily menanggalkan pakaiannya satu per satu dan memasuki shower room. Air hangat mengalir membasahi tubuhnya, mencoba meredakan kelelahan yang menggerogoti setiap inci dirinya. Badannya begitu lelah, bahkan untuk sekadar berteriak pun rasanya tak sanggup.

Saat ia masih menikmati aktivitasnya, suara pintu apartemennya terdengar terbuka.

Emily sontak mematikan keran shower, mencoba memastikan pendengarannya. Namun, belum sampai satu detik ia menghentikan air, pintu kamar mandinya terbuka.

Di sanalah Liam berdiri—dengan wajah lebam, luka memar menghiasi kulitnya.

Tanpa berpikir panjang, Emily keluar dari shower room, air masih menetes dari tubuhnya.

"Liam?! Apa yang terjadi?" tangannya refleks menyentuh wajah Liam yang babak belur, matanya mulai berkaca-kaca.

Liam hanya terkekeh pelan, meskipun jelas sekali ia menahan rasa sakit. "Kudengar kau merindukanku. Jadi aku langsung ke sini. Aku tahu kau menghindariku selama dua minggu ini, Em."

Emily menggigit bibirnya, rasa bersalah menyelimutinya. "Liam... siapa yang melakukan ini padamu? Kenapa wajahmu seperti ini?" suaranya bergetar, air matanya tak terbendung. Tanpa ragu, ia memeluk Liam erat—bahkan ia lupa bahwa tubuhnya masih basah, masih telanjang.

Namun, Liam tak peduli. Ia hanya membalas pelukan Emily, memeluknya seakan tak ingin melepaskannya lagi.

"Aku benar-benar mencintaimu, Em." Suaranya terdengar serak. "Kupikir, sepertinya aku tak bisa hidup tanpamu." Ia mengecup puncak kepala Emily, membiarkan dirinya tenggelam dalam kehangatan yang hanya bisa diberikan Emily.

Emily mencengkeram punggung Liam lebih erat. "Bagaimana kalau aku mengecewakanmu nanti? Bagaimana kalau aku mempermalukanmu? Jujur saja, kita berbeda, Liam. Kau tahu, Ibuku hanya seorang dokter, sementara keluargamu? Kau mungkin bisa membeli seluruh rumah di Valencia jika kau mau."

Liam terkekeh pelan. "Kalau itu bisa membuatmu menerimaku, aku akan beli seluruh rumah itu, Em." Ia mengangkat wajah Emily, menatap langsung ke dalam matanya. "Tapi bukan itu yang aku inginkan. Aku hanya ingin kamu, Emily."

Emily tersedu. "Berjanjilah kau tidak akan meninggalkanku jika suatu hari aku mengacau."

Liam mengusap pipinya yang basah, lalu tersenyum lembut. "Aku janji."

Dan saat itu, ia memberikan ciuman terhangat, terlembut, dan termanis yang pernah dirasakan Emily.

Ketika mereka saling menatap, Emily mengambil napas dalam, lalu berkata dengan suara lirih, "Lamarlah aku lagi kalau begitu, Liam."

Liam menatapnya dengan mata membelalak. "Apa yang kamu katakan? Babe, are you serious?"

Pipi Emily memerah. "Aku tidak akan mengulanginya lagi."

Liam tertawa pelan, masih tak percaya dengan yang baru saja ia dengar. Namun, dalam hitungan detik, ia berbalik dan berlari ke ruang tamu. Emily menatapnya bingung, hingga ia melihat Liam kembali dengan kotak beludru merah di tangannya.

Emily tertegun. Liam benar-benar menyiapkan semuanya.

Dengan satu gerakan, Liam membuka kotak itu, memperlihatkan cincin berlian yang begitu indah.

Liam berlutut di hadapannya, menatapnya penuh cinta. "Emily Grace Mitchell, will you marry me?"

Emily menatap cincin di jarinya—sudah melingkar sempurna di sana. Ia tertawa kecil sambil menghapus air matanya.

"Oh, Mr. Harris... aku sudah memakainya. Tentu saja aku mau."

Malam itu menjadi malam yang tak terlupakan untuk Liam dan Emily.

***

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Emily'S Lover   CHAPTER SEVENTY FOUR

    Lucas berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya. Sial. Bukan begini seharusnya malam ini berakhir. Bukan dengan kesalahpahaman lagi. Bukan dengan Emily yang kembali menjauh.Dia ingin menjelaskan semuanya. Tentang siapa dirinya. Tentang apa yang selama ini dia rasakan.Lucas mengacak rambutnya yang masih setengah basah, frustrasi. Lalu tanpa pikir panjang lagi, ia melangkah keluar—menuju kamar Emily. Jantungnya berdegup kencang. Keberanian yang tadi dikumpulkannya pelan-pelan menguap begitu saja saat ia tiba di depan pintu kamar itu.Ia menarik napas dalam-dalam. Dia harus melakukannya. Dia tidak bisa lagi pura-pura baik-baik saja. Lima hari tanpa Emily sudah cukup menyiksanya. Dia merasa gila. Merana. Dan setelah apa yang terjadi siang tadi—setelah Emily menciumnya—apakah dia akan mampu bertahan kalau gadis itu mengabaikannya lagi?Lucas mengangkat tangannya, bersiap mengetuk. Tapi sebelum jarinya sempat menyentuh pintu, daun pintu itu terbuka pelan. Emily berdiri di sana, mengucek ke

  • Emily'S Lover   CHAPTER SEVENTY THREE

    Deru mesin mobil berpadu dengan irama rintik hujan yang membasahi jalanan kota Chicago malam itu. Lucas menepati janjinya—ia benar-benar menjemput Emily dan Alex malam ini, seperti yang ia ucapkan siang tadi.Namun suasana di dalam mobil terasa terlalu senyap. Alex sudah tertidur di kursi belakang, dan entah mengapa, atmosfer di antara Emily dan Lucas dipenuhi keheningan yang canggung. Tak ada percakapan, hanya pikiran masing-masing yang sibuk memutar tanya.Apa sebenarnya hubungan mereka sekarang? Apakah wajar, atau bahkan mungkin, untuk memulai sesuatu yang dulu bahkan belum sempat benar-benar dimulai? Lucas menyimpan seribu pertanyaan dalam benaknya, sementara Emily hanya diam, menatap lampu-lampu kota yang memantul di kaca jendela.Hingga akhirnya, Lucas memecah keheningan.“Kamu sudah makan malam, Em?”Emily sedikit terkejut, lalu mengangguk pelan. “Sudah.”Lucas mengangguk kecil. “Oke. Aku pikir kalian belum makan… mungkin aku akan pesan makanan setelah sampai dirumah.”Emily be

  • Emily'S Lover   CHAPTER SEVENTY TWO

    “Tempat pensil? Check. Botol minum? Check. Snack? Check. Oke, Alex, sepertinya tasmu sudah lengkap,” ucap Emily sambil memeriksa isi tas putranya satu per satu. Nadanya lembut, penuh perhatian.Alex hanya mengangguk kecil, tanda setuju. Ia baru saja hendak berbalik menghampiri Anna yang sudah menunggu, ketika Emily tiba-tiba menarik lengannya pelan.“Kau melupakan sesuatu,” ujar Emily, matanya menatap Alex penuh makna.Anak itu terkekeh kecil. “I’m sorry, Mom. Aku lupa,” ucapnya cepat, lalu mengecup dahi Emily, diikuti ciuman di pipi kanan dan kiri ibunya. Senyum Emily langsung merekah lebar. Ia berdiri dari posisi berlututnya, menatap kepergian Alex ke playground dengan perasaan hangat yang tak bisa dijelaskan.Hari ini adalah hari kelima. Lima hari sejak Lucas terakhir kali mengantar dan menjemput Alex. Lima hari juga sejak pria itu bahkan tidak mengirim satu pesan pun—tak ada kabar, tak ada penjelasan. Kosong. Emily mencoba bertahan dengan prinsipnya. Ia menolak meladeni sikap keka

  • Emily'S Lover   CHAPTER SEVENTY ONE

    Lucas membuka matanya perlahan. Kelopak matanya terasa berat, kepalanya berdenyut hebat. Pening itu seolah mengguncang dari dalam. Ia baru menyadari, semalaman ia tidak benar-benar tertidur—rasa bersalah membebani pikirannya tanpa henti.Bayangan wajah Emily tidak pernah pergi dari benaknya. Ia ingin meminta maaf. Tapi sepanjang malam, ia hanya bisa mendengar isak tangis Emily dari kamar sebelah. Dan ketika tangisan itu akhirnya reda, gadis itu sudah terlelap, tenggelam dalam kelelahan emosionalnya.Lucas menyumpahi dirinya sendiri. Kata-katanya semalam, ekspresi dinginnya—semuanya begitu bodoh. Ia tidak bisa berhenti memikirkannya, hingga akhirnya ia menyerah dan memilih menghabiskan malam bersama sebotol whisky, berharap mabuk bisa membius rasa sesalnya. Nyatanya, yang tersisa pagi ini hanyalah pening dan rasa muak terhadap dirinya sendiri.Ia mendesah pelan dan perlahan duduk di tepi ranjang. Kakinya menyentuh lantai dingin, lalu ia mencoba berdiri. Namun seketika itu juga, seluruh

  • Emily'S Lover   CHAPTER SEVENTY

    Alex menarik tangan Emily dengan semangat yang begitu menggebu. Langkah kecilnya terasa ringan, seolah tak sabar menunjukkan sesuatu yang sudah lama ingin ia bagi. Hari ini, mimpinya terwujud: ibunya akan tinggal di rumah Lucas walaupun hanya akhir pekan. Sudah sejak minggu lalu Alex berharap hal ini terjadi. Ia menyukai kamar pribadinya yang disiapkan Lucas—tapi kamar sebesar itu, tanpa kehadiran Emily, terasa hampa dan menyedihkan.Beberapa malam lalu, ketika Emily menemaninya tidur, sang ibu sempat berbisik bahwa ia akan mencoba tinggal selama akhir pekan di rumah Lucas. Bagi Alex, itu seperti jawaban dari doanya setiap malam.“Pelan-pelan, Alex. Mommy bisa jatuh kalau kamu menarik mommy sekuat itu,” ucap Emily sambil tersenyum melihat antusiasme putranya.“Ayo Mom, cepat! Aku mau tunjukkan kamarku!”Dari belakang, terdengar suara Lucas yang baru saja masuk sambil mengangkat beberapa koper milik Emily. “Alex, jangan tarik Mommy seperti itu. Pergilah dulu ke kamar, ada hadiah yang m

  • Emily'S Lover   CHAPTER SIXTY NINE

    Emily melambaikan tangan, mengantar kepergian Lucas dan Alex dengan senyum tenang. Sudah seminggu terakhir Lucas rutin menjemput dan mengantar Alex dari rumahnya ke playground. Tak ada drama, tak ada pertengkaran, dan tak ada agenda tersembunyi—murni hanya antar-jemput.Tak disangka, sakit mereka berdua tempo hari justru membawa perubahan. Bolehkah Emily merasa sedikit bersyukur atas kejadian itu? Setidaknya, dua laki-laki dalam hidupnya kini mulai menyadari betapa egoisnya mereka selama ini.Ia menarik napas panjang, lalu mulai berjalan menyusuri halaman rumah. Matanya menyapu deretan tanaman hias, memeriksa satu per satu apakah ada yang rusak atau butuh perhatian. Langkahnya kemudian membawanya ke halaman samping, melewati pagar depan. Di sana, ia baru menyadari satu hal: mainan-mainan Alex masih berserakan, belum dibereskan sejak kemarin. Beberapa bungkus es krim kosong dan sampah kecil lain ikut berserakan di sekitar area bermain.Emily mendesah pelan, sedikit jengkel. Sudah bisa

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status