Beranda / Romansa / Emily'S Lover / CHAPTER SEVEN

Share

CHAPTER SEVEN

Penulis: Kowalska
last update Terakhir Diperbarui: 2025-09-17 03:40:31

Liam melamar Emily?

Bagaimana bisa? Mereka baru mengenal setengah tahun, bukan? Apakah Liam benar-benar mencintai Emily sampai segitunya? Lucas tidak merasa cemburu—tidak, bukan itu. Hanya saja, ia khawatir sepupunya terlalu terbawa suasana. Kalap dalam semalam dan akhirnya mengambil keputusan yang mungkin akan disesalinya nanti.

Saat mendengar kata-kata Emily barusan, kepala Lucas terasa kosong. Hampir saja dia bertanya, Apa kau yakin? Tapi yang keluar dari mulutnya justru, Selamat, sebelum ia buru-buru pergi, menjauh dari tatapan Emily.

Lucas tidak ingin wajahnya menunjukkan sesuatu yang bisa disalahartikan.

Namun, meski sudah berjalan cukup jauh, pikirannya tetap dipenuhi dengan kata-kata Emily. Ia menyesali keputusannya mendekati bangku taman tadi. Tujuannya hanya ingin menyelamatkan Emily dan teman-temannya dari tatapan orang-orang sekitar yang mulai terganggu oleh teriakan mereka yang histeris. Bahkan, seorang Ms. Huang—profesor mereka—sempat bertanya pada Lucas apakah Emily dan gengnya itu waras atau tidak.

Jadi, seharusnya Lucas datang untuk meredakan situasi. Bukannya malah jadi orang yang perlu diselamatkan.

Langkahnya terhenti tiba-tiba.

Seseorang menarik tangannya dari belakang. Sentuhan itu membuyarkan lamunannya.

“Kau… tidak dengar aku memanggilmu dari tadi?” suara Emily terdengar terengah-engah. Napasnya masih berat, jelas-jelas ia baru saja berlari mengejar Lucas. Langkah kaki pria itu terlalu besar untuknya, wajar saja—tinggi mereka mungkin terpaut lebih dari dua puluh sentimeter.

Lucas menoleh perlahan. “Kau memanggilku? Ada apa, Ms. Mitchell?” tanyanya, nada suaranya netral.

Emily masih berusaha mengatur napas. “Mengapa… kau berbohong?”

Shit!

Lucas menelan ludah. Apa Emily menyadari bahwa ucapannya tadi hanyalah basa-basi?

“B-bohong? Apa maksudmu, Ms. Mitchell?” Lucas berusaha terdengar tenang, tapi ada sedikit kegagapan dalam suaranya.

Emily menatapnya tajam. “Tujuanmu mengunjungiku dua minggu lalu di apartemen Liam. Kau bilang Liam menyuruhmu, tapi nyatanya tidak. Kau berbohong, Lucas. Untuk apa?”

Lucas mengerjapkan mata, otaknya mencoba memproses.

Jadi… maksud Emily bukan soal ucapannya tadi?

Lucas menghela napas dalam hati, sedikit lega. “Kau terlalu banyak berpikir, Ms. Mitchell.” Ia mendesah pelan. “Mungkin saja Liam lupa kalau dia menyuruhku. Untuk apa aku datang kalau tidak disuruh? Lagipula…” Lucas menatap Emily santai. “…memangnya kita berteman?”

Sorot mata Emily berubah. Seperti… kecewa? Tidak yakin?

Lucas memilih untuk tidak memperpanjangnya.

“Kalau kau sudah tidak ada urusan lagi, aku harus pergi. Masih banyak yang harus kulakukan,” katanya datar. Tanpa menunggu reaksi Emily, ia berbalik dan melangkah cepat menjauh.

Kali ini, ia tidak akan berhenti lagi.

***

Langit kelabu menggantung di atas kota, mencerminkan kekacauan yang bergejolak di hati Emily. Hujan turun dengan deras, membasahi jalanan Valencia yang kini berkilauan di bawah lampu-lampu jalan. Udara dingin menusuk kulitnya, namun bukan itu yang membuatnya menggigil. Sejak Liam melamarnya sore itu, pikirannya tak pernah bisa tenang. Apa yang harus ia katakan padanya?

Emily mencintai Liam. Ia tahu itu. Tapi cinta saja tidak cukup untuk membuatnya langsung mengiyakan. Hidup bersama seseorang adalah keputusan besar—dan ia masih belum siap. Ia bahkan belum lulus kuliah. Bagaimana dengan ibunya? Mom-nya pasti akan syok dan menuntut jawaban yang sempurna. Emily bisa membayangkan ibunya menatapnya tajam, menuntut penjelasan yang bahkan Emily sendiri tidak punya. Jika saja ayahnya masih hidup, ia pasti tahu harus berkata apa. Ia pasti bisa memberinya nasihat, menenangkan hatinya yang gelisah ini.

Sambil menghela napas panjang, Emily menyandarkan kepala pada tiang halte, mencoba meredakan pikirannya yang berisik. Di sekelilingnya, orang-orang berlarian mencari perlindungan dari hujan, payung-payung bermunculan seperti jamur setelah hujan. Namun Emily tetap diam di tempat, membiarkan udara dingin mengelus wajahnya.

Tiba-tiba, suara deru mesin mobil terdengar mendekat. Sebuah mobil merah berhenti di hadapannya, roda-rodanya mencipratkan air ke trotoar basah. Kaca jendela di sisi pengemudi perlahan turun, memperlihatkan wajah yang tak asing baginya.

"Emily! Masuklah!" teriak Lucas dari dalam mobilnya, nada suaranya mendesak namun juga penuh kepedulian.

Emily mengerjapkan mata, terkejut melihatnya. "Lucas? Apa yang kau lakukan di sini? Bukankah kau bilang ada urusan di kampus?" tanyanya dengan suara yang sedikit bergetar, antara dingin dan keterkejutan.

Lucas menatapnya tajam. "Itu tidak penting sekarang. Masuklah, aku akan menjelaskan nanti."

Emily ragu sejenak, menatap hujan yang semakin deras. Mungkin... mungkin ia bisa melupakan kebingungannya sebentar saja. Menghindari pertanyaan-pertanyaan yang terus menghantuinya sejak sore itu. Tanpa berpikir lebih jauh, ia membuka pintu dan duduk di kursi penumpang Tesla Roadster milik Lucas. Hangatnya udara dari dalam mobil menyelimuti tubuhnya yang menggigil, namun hatinya masih tetap dingin, penuh dengan pertanyaan yang belum terjawab.

Keadaan di dalam mobil begitu hening hingga Emily bisa mendengar suara gesekan kain dari kemeja Lucas saat ia menggerakkan tangannya di kemudi. Emily duduk memandangi jendela dengan tatapan kosong. Tidak ada lagu, tidak ada obrolan, hanya keheningan menyelimuti mereka.

“Kau tidak bertanya aku membawamu ke mana?” ucap Lucas, suaranya memecah keheningan yang berat.

“Bukankah kau akan menjelaskannya? Aku masih menunggu penjelasanmu itu,” balas Emily dengan nada datar, matanya masih terpaku pada kaca jendela yang dipenuhi bulir-bulir hujan.

“Liam bilang kau sulit dihubungi. Dia meneleponmu sejak pagi, tapi kau tidak menjawabnya.”

Sesaat itu pun Emily merogoh tasnya, mencari ponsel yang ia abaikan sejak pagi tadi. Saat menemukannya, layar ponselnya hitam pekat. Mati. Baterainya habis.

“Ponselku mati. What’s going on?” tanyanya seraya menoleh ke arah Lucas, ekspresi cemas mulai terpancar di wajahnya.

Lucas yang sejak tadi fokus menyetir, melirik sekilas ke arahnya sebelum kembali menatap jalan.

“Mr. Harris tiba-tiba jatuh sakit, dan Liam membutuhkanmu untuk menemaninya saat ini.”

Emily terdiam. Pikirannya kosong sejenak. Mr. Harris… sakit?

Liam pasti panik. Ia tahu betapa pentingnya sosok Mr. Harris bagi Liam. Tanpa menunggu lebih lama, Emily menegakkan tubuhnya, kepalanya dipenuhi kekhawatiran yang baru. Sepanjang jalan, ia hanya bisa berdoa dalam hati—berharap bahwa Liam baik-baik saja.

***

Suasana di ruang ICU begitu mencekam. Cahaya putih keperakan dari lampu rumah sakit terasa dingin, memantulkan bayangan suram di lantai yang mengkilap. Emily berdiri di ambang pintu, dadanya terasa sesak saat melihat pemandangan di depannya.

Liam sedang memeluk ibunya—Mrs. Harris—yang menangis tersedu-sedu di ruang tunggu. Tubuhnya gemetar dalam dekapan putranya, seolah mencoba mencari kekuatan di tengah duka yang mendadak menghantam. Emily menoleh ke sisi lain, dan di balik kaca besar itu, ia melihat Mr. Harris yang terbaring lemah, tubuhnya dipenuhi kabel dan selang, mesin-mesin medis berdetak pelan, seakan-akan mereka pun berjuang untuk tetap membuatnya bertahan.

Pemandangan itu membangkitkan kenangan pahit dalam benaknya. Empat tahun lalu, ia pernah berada di posisi ini dengan ibunya—berdiri di luar ruang ICU, menatap sang daddy yang juga bertarung dengan mesin-mesin sialan itu. Ia tahu betul perasaan ketidakberdayaan yang melumpuhkan. Dan pada akhirnya, mesin-mesin itu tetap gagal menyelamatkannya.

Emily menggeleng cepat, mengusir bayangan itu. Ia meneguhkan hati, lalu berlari menghampiri Liam. Ia bisa melihat bagaimana lelaki itu berusaha sekuat tenaga untuk tetap tegar, menahan tangisnya demi sang ibu.

“Cam…” panggil Emily dengan suara pelan.

Camilla, mommy Liam, yang duduk di sudut ruangan dengan wajah basah oleh air mata, langsung berdiri dan memeluknya erat. Tangisnya semakin kencang di bahu Emily.

“Cam, it's okay... Everything is gonna be okay,” bisik Emily, mengusap punggung Camilla dengan lembut.

“I don’t know, Em” suara Camilla terdengar putus asa. “He... just fell in front of me, and I didn’t know what to do. We were just talking, but everything happened so fast...”

Suaranya bergetar, penuh kepanikan dan kesedihan yang membuncah. Emily mendengar setiap kata dengan hati yang ikut pedih. Ia tahu bagaimana rasanya. Ketika segalanya berjalan normal—dan dalam sekejap, dunia seperti merenggut segalanya darimu.

Camilla mulai menyalahkan dirinya sendiri, menangisi kemungkinan-kemungkinan yang tak bisa diubah. Emily hanya bisa terus memeluknya, mencoba menenangkan dengan kehangatan yang bisa ia berikan.

Waktu terasa berjalan lambat.

Tanpa mereka sadari, ruang tunggu itu kini hanya menyisakan mereka berdua—dua hati yang sama-sama pernah merasakan bagaimana rasanya berada di ambang kehilangan.

***

“You okay?”

Lucas menyodorkan sebatang rokok ke arah Liam, mencoba menawarkan sesuatu—apa pun—yang bisa sedikit menenangkan sepupunya itu.

Liam tidak langsung merespons. Ia hanya duduk di bangku besi rooftop rumah sakit, menundukkan kepala, sikunya bertumpu pada lutut, dan jemarinya saling bertaut. Dari ketinggian itu, matahari sore menggantung rendah di ufuk barat, menyinari langit dengan semburat jingga keemasan yang perlahan memudar.

“You can cry in front of me, Liam,” ujar Lucas, mencoba mencairkan suasana, meski hatinya sendiri terasa berat melihat sepupunya dalam keadaan seperti ini.

Sejujurnya, Lucas tidak tahu harus berbuat apa. Liam selalu menjadi sosok kuat di keluarganya, seseorang yang jarang menunjukkan kelemahan. Namun sore ini, di bawah cahaya matahari yang mulai melemah, jelas terlihat bahwa Liam sedang berusaha keras menahan segalanya.

Liam akhirnya terkekeh pelan. Suara tawanya hambar, lebih mirip napas yang tertahan terlalu lama. “Not today, Luke,” jawabnya, sebelum menerima rokok yang disodorkan Lucas dan menyalakannya.

Keheningan menyelimuti mereka, hanya ditemani tiupan angin sore yang membawa udara dingin dari ketinggian dan asap rokok yang perlahan larut dalam cahaya senja. Liam menarik napas panjang sebelum kembali bersuara, kali ini pelan, nyaris berbisik.

“Aku kira... Daddy mendapat serangan jantungnya karena aku melamar Emily.”

Lucas, yang baru saja hendak menyalakan rokoknya, terhenti seketika. Ia menoleh, menatap Liam dengan ekspresi sulit dibaca.

Itu terdengar gila. Namun melihat sorot mata Liam yang dipenuhi rasa bersalah, Lucas tahu sepupunya benar-benar percaya akan hal itu.

Lucas menghela napas, menggeleng cepat. “Itu cuma perasaanmu saja. Apa salahnya melamar Emily?”

Liam terdiam sejenak, lalu menoleh dengan raut penuh tanya. “Kau... tidak terkejut aku melamar Emily?”

“Emily sudah mengatakannya padaku hari ini.”

Liam mengangguk pelan, menggaruk tengkuknya dengan gelisah. “Padamu? Aku tidak tahu kalian sedekat itu.”

Lucas spontan menoleh. “Sebenarnya aku hanya mendengar pembicaraannya dengan teman-temannya di kampus.”

Liam kembali mengangguk singkat. “Apakah yang kulakukan ini salah? Bahkan... aku merasa Emily menghindariku setelah aku melamarnya.”

Lucas hanya melirik dari sudut matanya, tak langsung menjawab.

“Aku hanya mencintainya. Aku ingin menghabiskan waktuku bersamanya. Itu saja.” Liam menunduk, menatap rokok di tangannya yang kini hanya setengah terbakar. “Apakah itu berlebihan, Luke? Kau dosennya, kan? Apakah dia tidak mengatakan sesuatu kepadamu?”

Lucas tertawa kecil, menggeleng. “Aku dosennya, Liam. Bukan pembaca isi hatinya.”

Liam ikut tertawa kecil, meski matanya masih menyimpan kegelisahan.

Mereka terus berbicara, bertukar pikiran tanpa benar-benar mencari jawaban. Langit di atas mereka kian berubah, jingga senja berganti perlahan dengan biru gelap malam, seolah menegaskan bahwa waktu tak bisa berhenti.

Lucas dan Liam saling berpandangan.

“Harusnya kita kembali ke dalam,” ujar Lucas akhirnya.

Liam membuang sisa rokoknya dan menginjaknya dengan ujung sepatu. “Yeah... Mom dan Emily pasti masih menunggu.”

Tanpa berkata-kata lagi, keduanya bangkit, berjalan meninggalkan rooftop—turun kembali ke dunia yang penuh ketidakpastian.

***

“Liam melamarmu, bukan?”

Suara Cam memecah keheningan yang menggantung di antara mereka. Isakan tangisnya sudah mereda, meski matanya masih sembab. Lucas tadi membawa Liam keluar, memberi mereka ruang untuk berbicara berdua.

Emily terdiam, gelagapan, tidak tahu harus menjawab apa.

Cam tersenyum kecil melihat ekspresi Emily yang jelas kebingungan. “Tenang saja, aku tidak akan memaksamu menerima atau menolak lamaran anakku,” katanya dengan nada bercanda, berusaha membuat suasana lebih ringan.

Wajah Emily langsung memerah, membuat Cam tertawa kecil.

“Aku... aku masih belum tahu,” akhirnya Emily berbisik, menundukkan kepala. “Aku mencintainya, sungguh. Tapi aku juga takut mengecewakannya.”

Cam menghela napas, lalu meraih tangan Emily, menggenggamnya erat di atas pangkuannya. Sentuhannya hangat, menenangkan.

“Liam sangat-sangat mencintaimu, Emily.” Suaranya lembut, penuh keyakinan. “Sejak pertama kali dia mengenalmu, dia langsung menceritakanmu padaku. Kalian bertemu di summer camp tahun lalu, bukan? Sejak saat itu, dia tidak pernah berhenti membicarakanmu. Dia memperhatikan segala hal kecil tentangmu—caramu tertawa, caramu bertanya tentang hal-hal sepele yang bahkan dia sendiri tidak tahu jawabannya, bahkan saat kau menangis hanya karena melihat anak kucing terlantar di jalan.”

Emily tersenyum samar, membayangkan Liam menceritakan semua itu kepada ibunya.

“Tapi,” lanjut Cam, “hal yang paling dia sukai darimu adalah tawamu. Katanya, tawamu bisa menularkan kebahagiaan untuk orang lain.”

Emily tersipu, pipinya semakin memanas. “Liam melebih-lebihkan.”

Mereka tertawa bersama, sejenak melupakan kecemasan masing-masing. Cam merogoh tas kecilnya, yang berlabel Chanel, lalu mengeluarkan ponselnya.

“Lihat ini,” katanya sambil menjulurkan layar ponselnya ke arah Emily.

Di sana, terpampang foto Emily saat ia tengah berjongkok di pinggir jalan, menatap seekor anak kucing dengan mata berkaca-kaca.

Emily menutup wajahnya dengan kedua tangan, tertawa kecil. “Ya Tuhan... dia bahkan mengirim foto ini padamu?”

Cam tertawa, mengangguk. “Tentu saja. Dia bilang, dia ingin aku tahu betapa berharganya gadis yang dia cintai.”

Emily menggeleng, masih tersenyum. Hatinya terasa hangat.

“Aku suka saat Liam begitu sabar menghadapi sifat kekanakanku,” katanya pelan. “Jujur saja, aku lebih childish daripada dia. Tapi dia selalu melihatnya sebagai sesuatu yang istimewa, sesuatu yang bahkan aku sendiri tidak sadari.”

Cam tidak langsung menjawab. Tatapannya kini tertuju pada kasur tempat suaminya terbaring, dikelilingi mesin-mesin medis yang berbunyi pelan namun terasa begitu menusuk.

Emily ikut memandang ke arah Mr. Harris, lalu berbisik, “Aku belum mengenalnya dengan baik, Cam. Aku tidak ingin dia hanya tahu aku dari cerita orang lain.”

Keheningan kembali menyelimuti ruangan. Cam tiba-tiba membeku, menelan ludah dengan sulit. Suaranya bergetar saat akhirnya berkata, “Aku... aku tidak tahu apakah dia akan bangun lagi atau tidak, Em.” Matanya kembali berkaca-kaca.

Emily menggenggam tangan Cam lebih erat, berusaha menyalurkan kekuatan yang bahkan dirinya sendiri tidak yakin ia miliki.

“Dia pasti bangun kembali, Cam,” suaranya lirih, namun penuh keyakinan. “Pasti.”

***

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Emily'S Lover   CHAPTER SEVENTY FOUR

    Lucas berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya. Sial. Bukan begini seharusnya malam ini berakhir. Bukan dengan kesalahpahaman lagi. Bukan dengan Emily yang kembali menjauh.Dia ingin menjelaskan semuanya. Tentang siapa dirinya. Tentang apa yang selama ini dia rasakan.Lucas mengacak rambutnya yang masih setengah basah, frustrasi. Lalu tanpa pikir panjang lagi, ia melangkah keluar—menuju kamar Emily. Jantungnya berdegup kencang. Keberanian yang tadi dikumpulkannya pelan-pelan menguap begitu saja saat ia tiba di depan pintu kamar itu.Ia menarik napas dalam-dalam. Dia harus melakukannya. Dia tidak bisa lagi pura-pura baik-baik saja. Lima hari tanpa Emily sudah cukup menyiksanya. Dia merasa gila. Merana. Dan setelah apa yang terjadi siang tadi—setelah Emily menciumnya—apakah dia akan mampu bertahan kalau gadis itu mengabaikannya lagi?Lucas mengangkat tangannya, bersiap mengetuk. Tapi sebelum jarinya sempat menyentuh pintu, daun pintu itu terbuka pelan. Emily berdiri di sana, mengucek ke

  • Emily'S Lover   CHAPTER SEVENTY THREE

    Deru mesin mobil berpadu dengan irama rintik hujan yang membasahi jalanan kota Chicago malam itu. Lucas menepati janjinya—ia benar-benar menjemput Emily dan Alex malam ini, seperti yang ia ucapkan siang tadi.Namun suasana di dalam mobil terasa terlalu senyap. Alex sudah tertidur di kursi belakang, dan entah mengapa, atmosfer di antara Emily dan Lucas dipenuhi keheningan yang canggung. Tak ada percakapan, hanya pikiran masing-masing yang sibuk memutar tanya.Apa sebenarnya hubungan mereka sekarang? Apakah wajar, atau bahkan mungkin, untuk memulai sesuatu yang dulu bahkan belum sempat benar-benar dimulai? Lucas menyimpan seribu pertanyaan dalam benaknya, sementara Emily hanya diam, menatap lampu-lampu kota yang memantul di kaca jendela.Hingga akhirnya, Lucas memecah keheningan.“Kamu sudah makan malam, Em?”Emily sedikit terkejut, lalu mengangguk pelan. “Sudah.”Lucas mengangguk kecil. “Oke. Aku pikir kalian belum makan… mungkin aku akan pesan makanan setelah sampai dirumah.”Emily be

  • Emily'S Lover   CHAPTER SEVENTY TWO

    “Tempat pensil? Check. Botol minum? Check. Snack? Check. Oke, Alex, sepertinya tasmu sudah lengkap,” ucap Emily sambil memeriksa isi tas putranya satu per satu. Nadanya lembut, penuh perhatian.Alex hanya mengangguk kecil, tanda setuju. Ia baru saja hendak berbalik menghampiri Anna yang sudah menunggu, ketika Emily tiba-tiba menarik lengannya pelan.“Kau melupakan sesuatu,” ujar Emily, matanya menatap Alex penuh makna.Anak itu terkekeh kecil. “I’m sorry, Mom. Aku lupa,” ucapnya cepat, lalu mengecup dahi Emily, diikuti ciuman di pipi kanan dan kiri ibunya. Senyum Emily langsung merekah lebar. Ia berdiri dari posisi berlututnya, menatap kepergian Alex ke playground dengan perasaan hangat yang tak bisa dijelaskan.Hari ini adalah hari kelima. Lima hari sejak Lucas terakhir kali mengantar dan menjemput Alex. Lima hari juga sejak pria itu bahkan tidak mengirim satu pesan pun—tak ada kabar, tak ada penjelasan. Kosong. Emily mencoba bertahan dengan prinsipnya. Ia menolak meladeni sikap keka

  • Emily'S Lover   CHAPTER SEVENTY ONE

    Lucas membuka matanya perlahan. Kelopak matanya terasa berat, kepalanya berdenyut hebat. Pening itu seolah mengguncang dari dalam. Ia baru menyadari, semalaman ia tidak benar-benar tertidur—rasa bersalah membebani pikirannya tanpa henti.Bayangan wajah Emily tidak pernah pergi dari benaknya. Ia ingin meminta maaf. Tapi sepanjang malam, ia hanya bisa mendengar isak tangis Emily dari kamar sebelah. Dan ketika tangisan itu akhirnya reda, gadis itu sudah terlelap, tenggelam dalam kelelahan emosionalnya.Lucas menyumpahi dirinya sendiri. Kata-katanya semalam, ekspresi dinginnya—semuanya begitu bodoh. Ia tidak bisa berhenti memikirkannya, hingga akhirnya ia menyerah dan memilih menghabiskan malam bersama sebotol whisky, berharap mabuk bisa membius rasa sesalnya. Nyatanya, yang tersisa pagi ini hanyalah pening dan rasa muak terhadap dirinya sendiri.Ia mendesah pelan dan perlahan duduk di tepi ranjang. Kakinya menyentuh lantai dingin, lalu ia mencoba berdiri. Namun seketika itu juga, seluruh

  • Emily'S Lover   CHAPTER SEVENTY

    Alex menarik tangan Emily dengan semangat yang begitu menggebu. Langkah kecilnya terasa ringan, seolah tak sabar menunjukkan sesuatu yang sudah lama ingin ia bagi. Hari ini, mimpinya terwujud: ibunya akan tinggal di rumah Lucas walaupun hanya akhir pekan. Sudah sejak minggu lalu Alex berharap hal ini terjadi. Ia menyukai kamar pribadinya yang disiapkan Lucas—tapi kamar sebesar itu, tanpa kehadiran Emily, terasa hampa dan menyedihkan.Beberapa malam lalu, ketika Emily menemaninya tidur, sang ibu sempat berbisik bahwa ia akan mencoba tinggal selama akhir pekan di rumah Lucas. Bagi Alex, itu seperti jawaban dari doanya setiap malam.“Pelan-pelan, Alex. Mommy bisa jatuh kalau kamu menarik mommy sekuat itu,” ucap Emily sambil tersenyum melihat antusiasme putranya.“Ayo Mom, cepat! Aku mau tunjukkan kamarku!”Dari belakang, terdengar suara Lucas yang baru saja masuk sambil mengangkat beberapa koper milik Emily. “Alex, jangan tarik Mommy seperti itu. Pergilah dulu ke kamar, ada hadiah yang m

  • Emily'S Lover   CHAPTER SIXTY NINE

    Emily melambaikan tangan, mengantar kepergian Lucas dan Alex dengan senyum tenang. Sudah seminggu terakhir Lucas rutin menjemput dan mengantar Alex dari rumahnya ke playground. Tak ada drama, tak ada pertengkaran, dan tak ada agenda tersembunyi—murni hanya antar-jemput.Tak disangka, sakit mereka berdua tempo hari justru membawa perubahan. Bolehkah Emily merasa sedikit bersyukur atas kejadian itu? Setidaknya, dua laki-laki dalam hidupnya kini mulai menyadari betapa egoisnya mereka selama ini.Ia menarik napas panjang, lalu mulai berjalan menyusuri halaman rumah. Matanya menyapu deretan tanaman hias, memeriksa satu per satu apakah ada yang rusak atau butuh perhatian. Langkahnya kemudian membawanya ke halaman samping, melewati pagar depan. Di sana, ia baru menyadari satu hal: mainan-mainan Alex masih berserakan, belum dibereskan sejak kemarin. Beberapa bungkus es krim kosong dan sampah kecil lain ikut berserakan di sekitar area bermain.Emily mendesah pelan, sedikit jengkel. Sudah bisa

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status