Share

Bab 5

Author: Jasmine Flower
“Nggak ada seorang pun yang akan ambil perusahaanmu dari kamu,” kata Daniel. “Kita cuma mau Ibu terima kenyataan kalau Grup Limanto bukan lagi kerajaan pribadimu.”

Aku menatapnya tanpa membantah. Daniel masih percaya kalau Grup Limanto adalah satu-satunya yang aku miliki. Dia sama sekali nggak tahu kalau jauh sebelum Citra Limanto pernah ada, Citra Muryani telah bangun sebuah kerajaan yang jauh lebih besar daripada perusahaan yang selama ini dikenal publik ini.

Lukas buka berkas lainnya.

Logo Perusahaan Induk Vivali muncul di layar, dan suasana di ruang konferensi seketika berubah.

“Keluarga Vivali lagi cari mitra jangka panjang di Armena,” kata Lukas. “Mereka siap investasikan 32 triliun dalam usaha patungan dengan Grup Limanto yang mencakup bidang logistik Eurosia dan layanan kesehatan swasta.”

Beberapa direktur langsung duduk lebih tegak di kursi mereka. Perusahaan Induk Vivali menguasai pelabuhan, rumah sakit swasta, serta jaringan transportasi di seluruh Eurosia Selatan. Jika kerja sama ini berhasil, Grup Limanto bisa bangun pijakan besar di pasar Eurosia hanya dalam beberapa tahun.

“Perwakilan Vivali akan tiba di Nevasa malam ini,” kata Daniel. “Mereka sudah tegaskan kalau Grup Limanto harus punya kepemimpinan yang stabil dan bersatu.”

Dia kembali dorong perjanjian itu ke arahku.

“Kalau kamu tanda tangani, dewan direksi akan secara resmi kasih wewenang ke kita berempat untuk pimpin negosiasi.”

Aku menatap halaman terakhir. Sebuah bolpoin sudah diletakkan tepat di samping kolom tanda tangan.

“Dan kalau aku menolak?”

Matthew tampilkan catatan keuangan proyek pembangunan di Boswati.

“Pembayaran pertama untuk pembangunan harus disetujui paling lambat besok sore. Keempat divisi utama harus kasih persetujuan sebelum dana dapat dicairkan.”

Nico lanjutkan, “Kita juga telah tangguhkan akses ke jaringan keamanan keluarga dan hubungan kita dengan para pemasok. Jika proyek ini alami pelanggaran kontrak, tanggung jawabnya bukan ke kita.”

Mereka telah atur semuanya dengan sangat hati-hati. Jika aku tolak tandatangani, proyek pembangunan Boswati akan terhenti, dan para pemegang saham akan salahkan seluruh kerugian itu ke aku. Jika aku tanda tangani, mereka akan gunakan kerja sama senilai 32 triliun rupiah itu untuk rebut kendali penuh atas Grup Limanto.

Daniel bersandar di kursinya.

“Kemarin kamu bilang kekuasaan bisa direbut kembali. Tapi perusahaan bukanlah rumah, dan bukan pula sekumpulan kartu kredit.”

Tatapannya tetap terkunci padaku, tenang dan penuh keyakinan bahwa kemenangan sudah ada di tangannya.

“Para karyawan, pemasok, dan direktur di gedung ini akan akui orang-orang yang benar-benar mampu jaga perusahaan ini tetap berjalan.”

Aku ambil bolpoin itu.

Senyum akhirnya muncul di wajah Daniel.

“Kamu buat pilihan yang tepat.”

“Kompetisinya Elena gimana?” tanyaku.

Lukas dan Daniel saling bertukar pandang.

“Sabrina sudah wakili sekolah di babak penyisihan, jika gantikan dia sekarang mustahil. Tapi, kita bisa minta dia terima kasih ke Elena dalam pidato penerimaannya karena telah sumbangkan sebagian ide awal.”

“Kalian curi proposal Elena, terus solusi kalian adalah kasih dia satu kalimat ucapan terima kasih?”

“Nggak ada alasan untuk gambarkan itu seperti itu.” Matthew mengernyit. “Ini adalah redistribusi sumber daya secara kooperatif.”

Daniel membalik perjanjian itu hingga ke halaman terakhir.

“Begitu kamu tanda tangani ini, konflik ini berakhir. Selama Elena berhenti targetkan Sabrina, kita tetap akan anggap dia sebagai saudara perempuan kita.”

Aku menatap keempat anak laki-laki yang telah aku besarkan. Ketika mereka ambil kamar Elena, mereka sebut itu sebagai pemanfaatan yang wajar atas sumber daya yang nggak terpakai. Ketika mereka ambil proposalnya, mereka berdalih kalau mereka sedang kasih kesempatan ke orang yang lebih membutuhkan.

Sekarang mereka sedang bersiap ambil Grup Limanto dari aku, tetapi mereka masih bersikeras kalau ini bukan pengkhianatan. Mereka hanya sebut itu sebagai manajemen yang lebih profesional.

Aku letakkan kembali bolpoin itu di atas meja.

“Aku nggak akan tanda tangani itu.”

Senyum di wajah Daniel lenyap. Suara gumaman pelan segera menyebar di sepanjang meja konferensi.

Direktur tertua bicara dengan suara berat dan serius, “Citra, aku sangat sarankan agar kamu pertimbangkan konsekuensinya. Dewan sudah punya cukup suara. Kalau kamu nggak mau kerja sama, kita akan adakan pemungutan suara resmi untuk tangguhkan wewenang kamu dan copot kamu dari kendali.”

“Kalau begitu, lakukan pemungutan suara.”

Tangan terangkat satu demi satu.

Sekretaris hitung itu dengan cepat.

“Usulan disetujui. Terhitung mulai saat ini, Citra Limanto ditangguhkan dari seluruh wewenangnya sebagai anggota dewan dan dicopot dari kendali langsung atas keamanan perusahaan, Yayasan Limanto, serta manajemen eksekutif.”

Nico kasih isyarat ke para petugas keamanan perusahaan yang berdiri di dekat pintu.

“Antar Nyonya Citra keluar. Sisa rapat ini menyangkut urusan perusahaan yang bersifat rahasia.”

Dua petugas keamanan dekati aku, tetapi nggak satu pun dari mereka berani sentuh aku.

Daniel dengan tenang rapikan kembali perjanjian kerja sama itu.

“Ibu, aku nggak ingin buat keadaan ini lebih buruk dari yang seharusnya. Pulang saja. Setelah kerja sama dengan Vivali berhasil diamankan, kita bisa bicarakan peran apa yang masih akan kita izinkan untuk kamu pertahankan.”

Aku tetap duduk di kursiku.

“Anthony.”

Jawaban segera terdengar dari balik pintu ruang konferensi.

“Ya, Nyonya Citra.”

Ekspresi Nico berubah. Dia berbalik tajam ke arah para petugas keamanan perusahaan.

“Siapa yang izinkan orang luar masuk ke lantai eksekutif?”

Aku keluarkan HP dan periksa laporan audit yang baru saja tiba. Selama tiga tahun terakhir, tujuh belas perusahaan terkait telah muncul dalam berbagai proyek yang ada di bawah kendali keempat anak angkatku. Lebih dari 1,28 triliun rupiah nggak dapat dipertanggungjawabkan dengan benar. Penerima manfaat terakhir dari salah satu perusahaan tersebut adalah ibu Sabrina.

Aku letakkan HP-ku di atas meja konferensi.

“Kalian cuma pecat tim keamanan yang dipekerjakan oleh Grup Limanto,” kataku sambil berbalik menghadap pintu yang masih tertutup. “Sekarang biarkan orang-orangku masuk.”

Pintu terbuka. Anthony masuk bersama tim keamanan pribadiku, kepala bagian hukum Grup Limanto, serta para penyelidik forensik yang telah habiskan sepanjang malam melacak setiap rekening yang selama ini diyakini oleh anak-anakku berhasil mereka sembunyikan. Empat kotak bukti yang telah disegel diletakkan di hadapanku. Masing-masing kotak cantumkan nama 4 bersaudara Limanto, divisi yang ada di bawah kendalinya, serta jumlah uang yang telah menghilang selama ada di bawah wewenangnya. Keyakinan di wajah mereka langsung lenyap seketika.

Barulah mereka paham, ketika mereka sibuk persiapkan cara untuk usir aku dari perusahaan yang aku bangun, aku justru sedang persiapkan sebuah kasus untuk menjerat mereka berempat.

Anthony letakkan tangannya di atas kotak pertama dan menatapku.

“Dari mana Nyonya Citra Muryani mau mulai?”

Ruangan itu mendadak sunyi. Anak-anakku kenal Citra Limanto.

Aku putar kotak itu hingga nama Daniel menghadap tepat ke arahnya.

“Mulai dari anak yang kira dia sudah berhasil ambil kursiku.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Empat Putra Angkatku Mengkhianati Putriku   Bab 11

    Delapan belas bulan kemudian, audit terhadap Grup Limanto dan seluruh penyelidikan kriminal akhirnya berakhir. Dari 1,488 triliun transaksi mencurigakan, lebih dari 960 miliar berhasil dikembalikan. Sementara kerugian yang tersisa akan terus dikejar melalui penyitaan aset-aset terkait dan tuntutan ganti rugi secara perdata.Dihadapkan pada email, rekaman percakapan, serta catatan transaksi bank, keempat bersaudara itu nggak mampu lagi pertahankan satu cerita yang sama. Daniel akui telah setujui kontrak-kontrak yang mengandung penipuan, tetapi berdalih kalau Matthew-lah yang bertanggung jawab periksa pembayaran. Matthew serahkan instruksi tertulis dari Daniel dan bersikeras kalau dia telah beberapa kali sampaikan keberatannya. Lukas salahkan ibu Sabrina, sementara Nico serahkan daftar pemasok lengkap sebagai imbalan atas pencabutan salah satu dakwaan terhadapnya.Dulu, mereka percaya kalau selama mereka tetap bersatu, mereka bisa kendalikan segala sesuatu yang berkaitan dengan nama Lima

  • Empat Putra Angkatku Mengkhianati Putriku   Bab 10

    Aku kembalikan pernyataan kerja sama Sabrina ke Helen.“Lanjutkan penyelidikan. Setiap rupiah yang masih bisa dikembalikan harus dikembalikan, dan masing-masing dari mereka harus pertanggungjawabkan setiap dokumen yang telah mereka tanda tangani.”Aku nggak perlu gunakan koneksi lamaku untuk permalukan mereka. Hukum, kontrak yang mereka buat sendiri, serta bukti-bukti yang mereka ciptakan dengan tangan mereka sendiri sudah cukup untuk selesaikan perhitungan ini.…Keesokan harinya, Elena tampil di babak final Kompetisi Kewirausahaan Pelajar Nasional. Untuk hindari konflik kepentingan, panitia ganti dua orang juri yang punya hubungan bisnis dengan Grup Limanto. Elena nggak terima bantuan apa pun dari Yayasan Limanto, dan baik Marco maupun siapa pun dari perusahaan nggak hubungi para juri untuk bantu dia.Di hadapan tujuh juri independen, Elena jelaskan biaya operasional klinik, kebutuhan tenaga kerja, cakupan asuransi, serta rencana pendanaannya. Setiap angka yang dia sampaikan berasal

  • Empat Putra Angkatku Mengkhianati Putriku   Bab 9

    Begitu pembangunan proyek Boswati kembali berjalan normal, keempat bersaudara itu kehilangan kartu tawar terakhir yang masih mereka miliki. Para pemasok nggak ikut pergi bersama mereka, dewan direksi sama sekali nggak berniat kembalikan posisi mereka, dan Keluarga Vivali juga nggak menarik diri dari kerja sama itu. Sementara itu, para auditor independen terus temukan masalah baru setiap harinya.Dua minggu kemudian, ibu Sabrina, Rebecca, terima surat panggilan resmi dari pengadilan, sementara Sabrina sendiri diskors dari sekolah. Barulah dia sadar kalau keempat bersaudara itu sudah nggak punya kuasa untuk lindungi dia. Ketika Daniel kembali ke apartemen mereka di Rusika sore itu, Sabrina lagi beres-beres.Dua koper sudah penuh dengan pakaian dan dokumen, sementara kalung yang pernah diberikan Lukas ke dia diletakkan begitu saja di atas meja.“Kamu mau pergi ke mana?” tanya Daniel.“Ke hotel.”Lukas kernyitkan keningnya.“Rekeningmu juga lagi diperiksa. Kita sudah siapkan pengacara untu

  • Empat Putra Angkatku Mengkhianati Putriku   Bab 8

    Penyelidikan itu terus berlangsung selama tiga minggu. Hasil audit ternyata jauh lebih buruk daripada yang aku perkirakan. Selama tiga tahun terakhir, keempat saudara itu telah pindahkan lebih dari 1,28 triliun melalui tujuh belas perusahaan yang saling terafiliasi, dan sedikitnya 416 miliar di antaranya nggak bisa dikaitkan dengan layanan sah apa pun.Konsultan Bisnis Strategis Hidayat telah terima 192 miliar dari Yayasan Limanto. Lebih dari setengah uang itu pada akhirnya masuk ke rekening yang dikendalikan oleh ibu Sabrina.Daniel setujui proyek-proyek itu. Matthew lewati prosedur pemeriksaan keuangan yang biasanya diwajibkan. Lukas gunakan departemen hubungan masyarakat untuk sembunyikan hubungan di antara perusahaan-perusahaan itu, sementara Nico tambahkan perusahaan-perusahaan cangkang ke dalam daftar pemasok yang telah disetujui. Masing-masing saudara kendalikan tahapan yang berbeda dalam proses itu, ciptakan rantai persetujuan yang sengaja dirancang untuk hindari pengawasan nor

  • Empat Putra Angkatku Mengkhianati Putriku   Bab 7

    Aku menatap keempat putra angkatku.“Kalian sudah berhari-hari bersikeras kalau Grup Limanto harus dikelola oleh para profesional. Kalau gitu, kita bisa mulai dengan audit pekerjaan kalian.”Nico tekan kedua tangannya ke atas meja konferensi.“Ibu, kamu pakai penyelidikan ini untuk hukum kita.”“Kalau seluruh rekening bersih, audit ini nggak akan ubah hasil apa pun.”Suara Daniel berubah dingin.“Ibu beneran pikir dengan menonaktifkan akses sistem kita, ibu bisa ambil alih proyek pembangunan Boswati dan kerja sama dengan Vivali?”“Aku belum umumkan kalau kalian bakal diskors.”Sebagian ketegangan di wajah Daniel menghilang.Aku noleh ke Helen.“Sekarang kamu boleh umumkan.”Helen keluarkan empat surat pemberitahuan resmi.“Berdasarkan klausul integritas dalam kontrak eksekutif kalian, Daniel Limanto, Lukas Limanto, Matthew Limanto, dan Nico Limanto ditangguhkan dari jabatan masing-masing, terhitung mulai saat ini, sambil tunggu hasil audit independen.”“Selama masa penangguhan, kalian

  • Empat Putra Angkatku Mengkhianati Putriku   Bab 6

    Daniel jadi orang pertama yang berhasil kembali kuasai dirinya. Dia melirik para pengacara dan penyelidik yang berdiri di belakang Anthony, lalu berbalik menghadap petugas keamanan Grup Limanto yang ada di sisi meja konferensi.“Dewan baru saja berikan suara untuk cabut wewenang Citra atas seluruh personel perusahaan. Segera keluarkan orang-orang luar ini dari gedung.”Nggak satu pun petugas keamanan bergerak. Helen Suteja, kepala bagian hukum Grup Limanto, melangkah maju dan letakkan sebuah dokumen di hadapan Daniel.“Mereka bukan karyawan Grup Limanto, dan Nyonya Citra nggak bawa mereka ke sini berdasarkan wewenangnya sebagai direktur.”“Kalau gitu, kenapa mereka diizinkan masuk ke gedung?”“Karena Dana Perwakilan Induk Limanto masih merupakan pemegang saham tunggal terbesar perusahaan, dan Citra Limanto masih jadi satu-satunya walinya. Perjanjian yang kalian coba paksa untuk dia tanda tangani nggak pernah berlaku.”Helen buka dokumen kedua.“Yang lebih penting, komite audit independ

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status