Home / Romansa / Enak Banget, Kak! / 02 - Salah Paham

Share

02 - Salah Paham

Author: Kaitani_H
last update Last Updated: 2025-12-18 16:02:10

“KYAAA!”

Aria menutup matanya menggunakan tangan, tubuh kecilnya berbalik dan memunggungi pria yang sedang membenarkan posisi handuknya.

Pria itu adalah Rexan Sagara, anak kedua di keluarga Putra. Dia menatap punggung Aria dengan tatapan tidak terbaca. Otaknya bertanya, tapi tidak berhasil menemukan jawabannya.

“M-maafkan aku, aku tidak tahu—”

“Keluar.” Nada suaranya yang tegas dan jelas itu membuat Aria takut dan memutuskan untuk pergi secepat mungkin dari sana.

Aria berjalan lurus—nyaris berlari—masih dengan mata tertutup. Alhasil, dia menabrak tembok di depannya hingga jatuh dengan keadaan mengenaskan.

Rexan yang melihat peristiwa itu pun dibuat melotot kaget dan secara refleks dia mendekati Aria lalu bertanya bagaimana keadaannya. “Kamu baik-baik saja?”

Aria mengangguk “Aku baik-baik saja,” jawabnya, walau mulutnya meringis menahan perih di jidatnya.

Rexan tersenyum tipis mengingat kelakuan Aria tadi. “Seharusnya kamu tidak perlu menutup mata lagi kalau kamu sudah balik badan, bukan?”

Aria terdiam. “Oh, iya, benar juga, kenapa aku terus menutup mataku sejak tadi?”

Aria menyingkirkan tangannya, lalu mulai membuka mata, dan wajah tampan Rexan langsung terpampang di manik cokelatnya. Gadis berusia awal sembilan belas tahun itu mengerjap dan menelan ludah melihat betapa tampannya sosok di depannya.

“Keluar dulu, tunggu aku di ruang tamu, aku akan mengobati lukamu.” Aria masih diam sampai Rexan menyentil keningnya yang memar. “Keluar,” perintahnya lagi untuk yang ketiga kalinya.

Aria terkesiap, dia bangun dan langsung pergi dengan ringisan di keningnya yang baru saja disentil oleh Rexan.

Rexan melihat punggung Aria yang menghilang. Dia menatap ruang yang hendak dia jadikan kamar sementara, lalu menemukan sebuah koper besar berwarna putih yang belum dikeluarkan isinya.

“Apa gadis itu akan tinggal di sini?”

Rexan mengabaikannya dan segera memakai pakaian.

Beberapa menit menunggu, akhirnya Rexan muncul dengan penampilan yang jauh lebih rapi dari harapannya. Dengan kemeja putih, celana hitam, dan sebuah kacamata berbingkai tipis yang menghias wajah tampannya, Rexan terlihat tampan, dewasa, dan sangat bisa diandalkan.

“Tunjukkan lukanya padaku,” perintahnya langsung ketika sampai di hadapan Aria. Dia berjongkok tanpa ragu di depan gadis yang beberapa saat lalu baru ditemuinya.

Aria menyibak rambut bagian depannya dengan patuh dan menunjukkan bekas memar di keningnya. “M-maaf, aku tidak tahu kalau kakak ada di kamar itu!”

Rexan yang sedang melihat luka memarnya langsung mengernyit samar. “Kakak?”

Aria mengangguk, wajah polosnya sama sekali tidak terlihat dibuat-buat ketika bicara, “Bukankah kakak akan menjadi salah satu saudaraku?”

Rexan terdiam. Jadi, Papa benar-benar menikah lagi? Dia menatap Aria dengan tatapan yang intens. Dan gadis manis ini akan menjadi adik tiriku? Rexan terdiam, tampak menimang-nimang. Tidak buruk.

“Siapa namamu?”

“Aria.”

“Usia?”

“Sembilan belas tahun.”

Rexan langsung menyipit. Untuk gadis usia sembilan belas tahun, bukankah dia terlalu kecil dan kurus? Apa dia mengalami malnutrisi sebelumnya?

“Nama kakak siapa?” Aria memiringkan kepala. Ekspresi wajahnya terlihat lucu dan menggemaskan yang membuat Rexan tersenyum padanya.

“Rexan Sagara, panggil saja Rexan.” Rexan berdiri. “Aku ambilkan es batu untuk mengompres bekas lukamu itu, jangan pergi ke mana-mana!”

Aria hanya mengangguk dan diam saja di sana ketika Rexan pergi mengambil es batu secara langsung alih-alih menyuruh pelayan rumah yang melakukannya.

Elvi dan Adikara pulang tepat ketika Rexan sedang mengompres kening Aria, sebelum lukanya berubah jadi memar. Adikara yang melihatnya sontak berlari mendekat dan menarik telinga Rexan bak seorang ayah yang sedang menghardik putranya.

“Apa yang sudah kamu lakukan pada adikmu, hah?!”

Aria melongo, Elvi juga sama. Mereka kaget melihat Adikara ternyata seekspresif itu pada putranya.

Sedangkan Rexan meringis. Dia melepaskan tangan Adikara dan menatapnya tajam. “Aku tidak melakukan apa pun padanya!”

“Oh, ya?”

“Apa wajahku ini terlihat seperti orang-orang yang suka melukai wanita?”

“Memangnya tidak begitu?” Adikara mendesis. “Tempo hari, kudengar kamu baru saja membuat anak gadis orang menangis.”

Rexan terkesiap, dia langsung mengingat-ingat anak gadis mana yang sudah dia buat menangis tempo hari?

“Minggu lalu dan bulan lalu juga, kamu membuat anak gadis orang menangis, kan?” desis Adikara.

Rexan akhirnya bisa mengingat apa maksud ucapan ayahnya. “Apa boleh buat, kan?”

Elvi terlihat syok. “Apa yang sudah kamu lakukan pada mereka?”

“Kak, aku pikir kakak orang baik, tapi ternyata—”

“Tunggu … tunggu, sepertinya kalian salah paham!” Rexan mengacak-acak rambutnya frustrasi.

“Salah paham apalagi? Laporan yang datang padaku sangat banyak sekali tentangmu yang suka membuat anak gadis orang menangis selama ini!”

Rexan langsung melotot tajam. “Siapa yang melapor soal itu pada Papa?”

“Kamu tidak perlu tahu.”

Rexan mendengkus sebal. “Bukannya sengaja, aku hanya terpaksa membuat mereka menangis saja.”

Aria memiringkan kepalanya lucu. “Maksudnya?”

Rexan menghela napas berat. “Mereka menyukaiku dan memaksaku untuk menerima perasaan mereka. Aku tidak mau, jadi ya ….”

“Kakak sengaja menyakiti mereka untuk menolak cinta mereka?” Aria menatap Rexan dengan tatapan tidak percaya.

“Mau bagaimana lagi, kan?” Rexan meringis.

“Kenapa kamu tidak pilih saja salah satu di antara mereka? Bukankah kamu belum punya pacar? Kakakmu juga sama saja! Apalagi adikmu! Kapan aku bisa punya cucu kalau kalian semua betah melajang sampai tua, begitu?”

“Mas!” tegur Elvi lembut sambil mengelus lengan atas suaminya. “Jangan memaksa mereka mencari pasangan seperti itu, karena hubungan yang didasari paksaan tidak akan pernah berakhir baik.”

“Maafkan aku, Elvi. Aku hanya gemas pada kelakuan mereka berempat selama ini.” Adikara tersenyum masam.

Elvi tersenyum lembut, dia menatap laki-laki dewasa yang akan menjadi putranya dengan tatapan teduh. “Halo, nama Tante Elvira, tante akan menjadi ibu tirimu mulai hari ini!”

Rexan mengangguk. Dia merasa tidak asing dengan wanita ini, tapi dia tidak bisa mengingatnya dengan baik. “Rexan Sagara Putra, panggil saja Rexan, Mama.”

Panggilan itu diam-diam menyentil Aria yang masih memanggil Adikara dengan panggilan om alih-alih papa seperti seharusnya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Enak Banget, Kak!   28 - Tawa

    "Aria udah siuman, kan?" tanya Revan begitu panggilan mereka tersambung."Iya, dia udah siuman.""Syukur kalau gitu!" Revan mengembuskan napas lega. "Aslinya gue mau nungguin Aria sampai sadar, tapi gue masih harus ngajar. Rencana awalnya gue mau nganter Aria ke tempat lo aja tadi. Malah jadinya kayak gini.""Hmm," gumam Rexan, sama sekali tidak bersemangat."Lo nggak apa-apa?" Revan sepertinya menyadari ada yang berbeda dari kembarannya. "Ada masalah?"Rexan tersenyum masam. "Dikit.""Ada apa?" tanya Revan serius.Rexan langsung teringat ucapan Alicia sebelum pergi meninggalkan ruangannya. "Ini hanya saran saya, tapi jangan mengungkit soal visum dan bully di depan Aria untuk sementara waktu, karena otaknya masih belum mampu menerima beban seberat itu."Rexan mengembuskan napas kasar. "Untuk sementara waktu, jangan dekati Aria dulu.""Hah?""Jangan bahas soal bully, visum, dan lain-lainnya," lanjut Rexan, sekali lagi mengembuskan napas berat."Kenapa? Lo tahu pasti, gue butuh bukti it

  • Enak Banget, Kak!   27 - Privasi

    "Maaf, saya tidak tahu kalau ada dokter di sini."Alicia mendengkus pelan. "Walaupun Anda tidak tahu, tapi harusnya Anda masih mengetuk pintu lebih dulu sebelum masuk ke ruangan ini kan, Dokter Rexan?"Rexan hanya bisa menelan ludahnya susah payah. Dia merasa tidak berkutik di depan dokter yang namanya cukup terkenal di kota ini.Nama Alicia Zeallyn memang dikenal sebagai seorang psikiater muda yang berbakat. Reputasinya berasal dari kecerdasan akademisnya yang dibuktikan oleh kemampuan medis, serta dukungan keluarga yang tidak main-main.Walaupun sifatnya tidak terlalu hangat, tapi Alicia memiliki kepribadian yang kuat, tenang, elegan, juga bermartabat.Rexan awalnya ingin meminta Alicia menjadi psikiater Aria karena reputasinya. Namun, setelah berhadapan langsung dengannya, Rexan harus memikirkannya ulang."Maaf, saya terlalu panik tadi sampai tidak menyadari ada dokter yang sedang menangani.""Saya tidak menyangka, orang seperti Dokter Rexan ternyata bisa mendapat serangan panik ju

  • Enak Banget, Kak!   26 - Alicia

    Mengingat bagaimana sifat Adikara soal uang, Killian yakin ayahnya sudah menyiapkan uang bulanan untuk Aria. Namun kenapa, Aria belum menerima uang yang harusnya sudah berada di tangannya?Killian : Di mana uang bulanan Aria?Adikara : Apa yang ingin kamu lakukan?Killian berdecak pelan. Rubah tua itu pasti berpikir jika dia akan menggunakan uang Aria untuk kepentingannya sendiri. Padahal, dia tidak membutuhkan uang itu sama sekali.Killian : Aria belum menerima uang bulanannya sedikit pun. Apa papa sengaja membuatnya miskin seperti itu?Adikara : Apa maksudmu? Jelas-jelas semuanya sudah papa atur sebelum pergi bulan madu.Killian : Faktanya, Aria memang belum mendapat uang bulanan sepeser pun dari papa.Adikara : Bagaimana bisa begitu?Killian : Bagaimana aku bisa tahu?Killian mendengkus kesal. Kalau dia tahu, dia tidak akan menanyakannya langsung pada rubah tua sialan ini!Adikara : Kalau begitu, coba kamu temui asisten pribadi papa di kantor. Papa menyerahkan semua urusan itu pada

  • Enak Banget, Kak!   25 - Visum

    Claudia menatap pemandangan di depannya dengan tatapan tajam, wajahnya memerah, kedua tangannya mengepal.Dia membenci apa yang ada di hadapannya, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Setelah dia dan kedua temannya dipanggil oleh Kaprodi dan diminta membuat klarifikasi formal tentang kasus mereka yang membully mahasiswa lain.Claudia langsung menemukan siapa orang yang sudah melaporkannya ke dosen, karena Claudia hanya pernah merundung satu orang selama beberapa bulan terakhir."Gue nggak nyangka, anak miskin itu rupanya berani juga!" desisnya pelan.Dalam klarifikasinya, Claudia menyangkal semuanya. Walaupun dosen sudah menyimpan barang buktinya, tapi semua itu hanya barang bukti dari masa lalu dan Claudia beralasan kalau dia sudah berubah sekarang.Oleh sebab itu, dalam waktu dekat ini dia tidak boleh gegabah dan menunjukkan banyak celah. Masalahnya, anak miskin itu sepertinya sengaja ingin membuatnya kembali berulah."Tunggu gue lepas dari pengawasan ini dan lo bakal abis di tangan

  • Enak Banget, Kak!   24 - Uang Jajan

    "K-kak!" cicit Aria pelan.Suaranya terdengar bergetar, kepalanya menunduk, memandangi tangan kanannya yang mulai dingin tapi masih bertautan dengan tangan kiri Killian.Killian yang mendengar panggilan Aria itu langsung menghentikan langkah kakinya. Kepalanya menoleh ke samping, menatap Aria yang wajahnya terlihat pucat."Kenapa?" Killian menatapnya lurus, tatap matanya begitu fokus yang menunjukkan jika dia tengah serius.Aria menelan ludahnya susah payah, keringat dingin mulai menetes pelan menuruni dahinya. "Apa Kak Killian tadi dengar sesuatu?"Sejenak, Killian terdiam. "Denger apa?"Aria menggelengkan kepalanya cepat. "Enggak, enggak, enggak ada apa-apa." Gadis itu meringis, tapi di dalam hati, dia kegirangan setengah mati, jika memang Killian tidak mendengar apa pun dari mulutnya tadi.Killian yang melihat itu menyeringai tipis. Dia menarik tangan Aria ke salah satu sudut lorong yang sepi, lalu mengurung tubuh adik tirinya itu ke tembok yang ada di belakangnya.Kejadiannya begi

  • Enak Banget, Kak!   23 - Titik Balik

    Saat itulah suara Killian terngiang-ngiang di kepalanya. Aria mengepalkan kedua tangannya kuat, membulatkan tekadnya, sebelum mulai mengangkat kepala, dan balas menatap mereka.'Kalau lo cuma diem aja kayak gini, lo cuma bakal ngerepotin gue sama Revan.'Tidak. Aria tidak boleh merepotkan kedua kakak tirinya lagi. Mereka sudah berbaik hati membantunya untuk melepaskan diri dari jerat Claudia dan antek-anteknya.Aria tidak boleh terus seperti ini. Dia harus berubah. Dia harus menjadi lebih kuat dan lebih berani agar dia tidak mudah ditindas lagi.Aria harus menjadi jauh lebih kuat lagi. Dengan begitu, usaha kakak tirinya tidak akan berakhir sia-sia begitu saja.BRAKKK"Jawab berengsek! Lo kagak tuli, kan?"Aria memejamkan matanya, menarik napasnya panjang, lalu mengingat baik-baik bagaimana ekspresi wajah Killian selama ini.Aria meniru ekspresi Killian. Dia mengikutinya. Dengan wajah datar dan tatapan yang terlihat meremehkan, dia membalas tatapan Elina."Dari sisi mana kamu melihatku

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status