LOGINCukup lama Acha menatap layar ponselnya setelah membaca email itu. Kalimat yang tertulis di sana terasa tak masuk di akalnya.
Ia menjatuhkan tubuh ke sofa, bersandar lemas. Alih-alih bahagia, yang muncul pertama kali justru perasaan aneh. Harga dirinya seperti diinjak-injak saat interview tadi. Namun, ia justru dinyatakan diterima. “Apa maksudnya?” Acha menggumam lirih. Ia menggigit bibir kala mengingat kembali tatapan dingin Elvano dan pertanyaan-pertanyaan yang membuatnya merasa direndahkan. Tentu saja, ia tersinggung. Siapa pun pasti akan merasa begitu. Kalaupun itu caranya menguji mental, menurutnya tetap keterlaluan, tetapi ia terlalu butuh pekerjaan ini untuk berspekulasi terlalu jauh. “Ah, lupakan interview aneh itu,” katanya pelan, mencoba menenangkan diri. Malam itu, Acha hampir tidak tidur nyenyak. Bayang-bayang kejadian hari ini datang silih berganti, hingga sekadar menarik napas pun terasa begitu berat. Keesokan paginya, ia berdiri di depan cermin. Wajahnya tampak lebih segar, meski sisa kantuk masih terasa di pelupuknya. Blus putih, rok hitam, rambut diikat rapi. Ia memastikan penampilannya pantas untuk hari pertama bekerja. Beberapa detik, ia berdiri di depan gedung Alvarion Group sebelum akhirnya melangkah masuk. Bangunan tinggi itu sama megahnya seperti kemarin. Bedanya, hari ini ia tidak datang sebagai pelamar, melainkan sebagai bagian dari dalamnya. Acha nenarik napas pelan. Hari pertama kerja selalu membuat siapa pun gugup. Namun, ia memaksa diri agar tetap tenang. Lift membawanya ke lantai eksekutif. Begitu pintu terbuka, suasana langsung berubah. Sunyi, dan kesunyian itu justru menekan Acha lebih lebih dari yang ia duga. “Pagi.” Suara Raka membuat Acha spontan menoleh. Pria tersebut juga yang menyambutnya sebelum masuk ke ruang interview kemarin. Kini, asisten pribadi Elvano berdiri tak jauh darinya. “Pagi, Pak Raka,” balas Acha cepat. “Ikut saya,” ujar Raka singkat, “kita briefing dulu.” Acha mengangguk dan mengikuti langkah Raka yang cepat. “Meja kamu di luar ruangan Pak Elvano,” jelas Raka sambil berjalan. “Akses email, jadwal rapat, dan dokumen sudah disiapkan. Kamu bisa tanya saya kalau ada yang kurang jelas.” “Baik, Pak.” “Dan, satu lagi ….” Raka berhenti sejenak, menoleh kepada Acha. “Pak Elvano tidak suka kesalahan.” “Saya mengerti.” Acha langsung duduk, membuka komputer, dan mulai memeriksa jadwal hari itu. Belum lima menit menyesuaikan diri, pintu ruangan presdir terbuka. Elvano keluar. Aura pria itu tetap sama dinginnya seperti kemarin. Tanpa sadar, Acha meluruskan punggung, jantungnya berdegup lebih cepat seolah keberadaan Elvano menebar hawa dingin di seluruh ruangan. “Buatkan saya kopi,” titah Elvano tajam, seolah tidak memberi ruang untuk membantah. Acha menelan ludah, berusaha menenangkan diri. Membuat kopi seharusnya mudah, ia sudah terbiasa membuatnya untuk atasan sebelumnya, tetapi karena Elvano yang memerintah, jadi semua terasa berbeda. Baru saja Acha ingin beranjak, suara Elvano terdengar lagi. “Satu sendok gula. Aduk dari kanan ke kiri. Gunakan cangkir nomor tiga.” Acha mengangguk, gegas menuju pantry. Namun, langkahnya kembali terhenti tatkala ada perintah tambahan dari atasannya itu. “Pastikan sendok tidak menyentuh sisi gelas lebih dari dua kali.” Dalam diam, Acha menarik napas panjang, menahan diri agar tak menunjukkan kekesalannya. Instruksi itu terlalu rinci untuk sebuah tugas sesederhana membuat kopi. Tiba di pantry, ia menatap lemari, menghitung cangkir, memastikan sudah sesuai arahan sambil mengulang perintah pria itu di dalam kepalanya. ‘Satu sendok gula. Aduk dari kanan ke kiri. Kanan ke kiri.’ Acha menggenggam sendok, menatap kopi yang sudah tersaji di hadapannya. Tepat ketika akan mulai mengaduk, gerakannya langsung terhenti. Mendadak, ia merasa ragu. ‘Tadi, dia bilang kanan ke kiri atau kiri ke kanan?’ pikirnya. Acha yang kebingungan pada akhirnya memilih mengikuti kata hati. Menggerakkan sendok dari kiri ke kanan, berharap Elvano tidak akan menyadari andai saja adukannya keliru. Setelah itu, Acha membawa kopi ke meja Elvano. Namun, baru saja diletakkan, pria itu menatapnya tajam sambil berkata, “Saya bilang kanan ke kiri. Ganti!” Acha sontak terdiam. Tidak menyangka adukannya benar-benar salah arah. Dan, yang lebih menyebalkannya lagi karena Elvano mengetahui dengan mudahnya. Meski kesal setengah mati, Acha mengambil cangkir dan kembali ke pantry. “Ya ampun, padahal diaduk dari sisi mana saja nggak akan mengubah rasa,” gerutu Acha meluapkan kekesalannya. Ia jadi teringat dengan atasan sebelumnya, yang selalu santai dan membiarkan stafnya bekerja tanpa tekanan berlebihan. Bandingkan dengan Elvano, sikapnya yang dingin dan kaku malah membuat Acha merasa konyol sendiri karena hal sepele seperti ini saja bisa terasa begitu menegangkan. Terpaksa, Acha menyiapkan kopi baru, mengikuti keinginan Elvano sehati-hati mungkin agar tak melakukan kesalahan lagi. Ketika akhirnya, ia meletakkan cangkir di meja atasannya itu, ia mengira misi sudah selesai. Akan tetapi, Elvano malah berdiri dan meninggalkan kopi tanpa menyentuhnya sedikit pun. “Kita mulai meeting sekarang,” ucapnya datar, lalu langsung melangkah keluar ruangan. Acha menatap cangkir kopi dengan nanar. Napasnya tersengal. Tangannya mengepal tanpa sadar. Ia telah mengikuti prosedur pembuatan kopi yang baginya di luar nalar, tetapi usaha kerasnya sama sekali tidak diapresiasi. Namun, jangankan protes, membuka mulut pun ia tak mampu. Hanya bisa menghela napas pasrah dan segera menyiapkan diri ikut Elvano meeting. ‘Kalau begini terus, bisa-bisa baru sebulan udah resign,’ cecarnya dalam hati. Selama meeting, Acha nyaris tak bisa bernapas. Diskusi berjalan cepat dan penuh instruksi, memaksa ia mencatat semua bagian pentingnya. Belum sempat bernapas lega setelah meeting, ia sudah harus mengikuti jadwal makan siang Elvano dengan klien di restoran. Tiga bulan berlalu, Acha mulai terbiasa. Ia sudah hapal membuat kopi sesuai selera Elvano hingga mengikuti ritme kerja atasannya yang padat dan menyita tenaga, meski setiap kali Elvano menatapnya, terkadang ia masih cukup tegang. Acha membuka pintu ruangan Elvano dengan berkas di tangan pagi itu, tetapi langkahnya sontak terhenti ketika mendengar Elvano sedang menelepon. “Tiara, nanti kita bicarakan, aku sedang sibuk.” Acha tahu, itu adalah Tiara Adiguna, istri Elvano, sehingga ia memilih menunggu di ambang pintu hingga pria itu selesai dengan urusannya. Namun, meski hanya berdiri di sana, entah mengapa Acha merasa suasana di ruangan itu tampak berbeda setelah telepon berakhir.Setelah beberapa saat tak mendapat jawaban dari Elvano, Acha baru ingat Raka pergi bersamanya. Tangannya langsung beralih menekan kontak Raka di ponsel. Nada sambung terdengar beberapa kali, tetapi hasilnya sama saja.Acha mencoba lagi, tetapi tetap tak ada jawaban. Ponsel itu seperti sengaja menguji kesabarannya. Pada percobaan ketga, Raka akhirnya menjawab panggilannya.“Halo, ada apa, Acha?” suara Raka terdengar dari seberang.Acha hampir mengembuskan napas terlalu keras. “Maaf, Pak Raka … lagi bareng Pak Elvano?”“Iya. Ini, lagi di jalan.”“Pak Raka, tolong banget …,” ucap Acha cepat. “Bilang sama Pak Elvano kalau Pak Burhan ada di kantor.”Tak ada jawaban langsung, Acha menggenggam ponselnya lebih erat hingga jari-jarinya terasa dingin.Lalu, terdengar suara lain dari balik telepon. Datar dan tanpa basa-basi bertanya, “Ada apa?”Napas Acha tersangkut di tenggorokannya sendiri, ia memejam
Acha menggigit bibirnya, mulutnya kelu, tak tahu harus malu atau kesal. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya, bahkan jemarinya sedikit gemetar saat pura-pura menulis catatan di tablet. ‘Kenapa Pak Elvano bisa nggak ngeh, sih? Jelas-jelas ada bekas lipstikku di sana.’ Elvano meneguk kopi itu hanya sekali, lalu melirik cangkirnya sekilas. Tatapannya yang datar sempat beralih pada Acha sejenak, seolah kepanikan wanita tak ada artinya. “Kamu meletakkannya terlalu dekat,” katanya pelan, hanya untuk mereka berdua. “Saya kira itu milik saya.” Acha menghela napas pasrah. Termasuk bukan salahnya, tetapi ia tetap merasa dirinya yang bersalah. Di mata Elvano, mungkin pasal wanita selalu benar tak pernah berlaku. Acha melirik sekeliling, memastikan tak ada satu pun yang menyadari kejadian barusan. Barulah Acha kembali menunduk, berusaha menenangkan dirinya. Namun, wajahnya tetap memerah. Rapat h
Setelah kepergian Elvano, Acha tetap duduk di lantai kamar hotel beberapa saat, membiarkan dinginnya marmer menyusup ke kulitnya. Napasnya belum sepenuhnya stabil ketika akhirnya ia memaksa diri berdiri. Tas lengan di meja digenggam seadanya saat melangkah gontai keluar kamar hotel, meninggalkan ruangan itu tanpa menoleh lagi. Memasuki lift, Acha sempat melirik ke dinding kaca lift. Bayangan wajahnya tampak pucat, bahkan ia sendiri merasa asing dengan tubuh yang berdiri di sana. Selama perjalanan menuju apartemen, Acha lebih banyak diam, berbicara hanya ketika menyebutkan alamat pada pengemudi taksi. Suasana hatinya terlalu buruk untuk sekadar berbasa-basi. Di tengah kekalutannya, keinginan untuk berhenti bekerja dan menjauh dari Elvano muncul begitu saja. Ia ingin kejadian malam itu tak terus menghantuinya dalam rasa malu dan penyesalan. Acha bersandar sebentar di balik pintu yang tertutup begitu tiba di apartemen. Baru saja ia menghela napas ketika ponselnya berdering, memecah l
Saat terbangun di pagi hari, Acha merasakan ada sesuatu yang aneh menekan perutnya. Sebuah lengan melingkar di pinggangnya. Napasnya tertahan, bahkan sebelum membuka mata, ia sudah menyadari ada yang salah. Ia menatap langit-langit kamar, berusaha mencerna semuanya. Pemandangan itu jelas bukan yang biasa ia lihat setiap pagi. Ketika kesadarannya berangsur penuh, tubuhnya sontak tegang. Udara dingin menusuk, menambah cemas di dadanya. Acha sempat ragu sejenak, sebelum akhirnya mengintip ke bawah selimut dengan hati-hati. Ia tersentak. Refleks, ia bangkit dan bergerak menjauh, tetapi karena terlalu panik, keseimbangannya hilang. Kakinya tak berpijak sempurna di lantai, alhasil ia jatuh terperosok. Kepalanya membentur meja kecil di sana. “Aduh!” ringisnya. Bunyi benturannya pelan, tetapi terdengar nyaring di telinganya sendiri. Hening menyergap. Acha berjongkok di lantai, memeluk selimut yang berhasil ia tarik untuk menutupi tubuhnya yang polos. Jika kejadian semalam
Acha berdiri kaku mendengar ucapan Elvano. Ada sesuatu dalam nada pria itu yang membuat tengkuknya terasa dingin. ‘Tolong?’ batin Acha. Ia tahu Elvano sedang di bawah pengaruh obat. Dengan pengetahuan itu, Acha jadi semakin gelisah. Ia tidak mengerti permintaan tolong seperti apa yang dimaksud Elvano, firasat buruk pun perlahan merayap di kepalanya. “Saya harus ngapain, Pak?” tanyanya pelan. Elvano menarik napas berat. Ia semakin tak tenang ketika genggaman Elvano di pergelangannya belum juga terlepas. Sentuhan itu membuatnya tak nyaman, tetapi ia menahan diri. “Bawa saya ke tempat aman sekarang,” kata Elvano singkat. “Hotel. Yang paling dekat.” Permintaan itu membuat Acha makin gugup. Ini jauh dari rencana awalnya yang hanya berniat menjemput dan memastikan Elvano pulang. Namun, melihat kondisinya yang kian memburuk, Acha juga tidak tega mengabaikan, apalagi sampai meninggalkannya. “Baik, Pak,” jawabnya akhirnya. Meski dadanya masih berdebat, ia tetap membantu Elvano berd
Acha dan Elvano sama-sama tersentak saat suara Raka memecah ketegangan di antara mereka. Elvano melangkah mundur dengan perlahan. Wajahnya datar dan tenang, seakan kejadian tadi tidak berarti apa-apa untuknya. Sangat berkebalikan dengan Acha yang jantungnya berdegup kencang dan wajahnya yang tiba-tiba terasa panas. Raka melangkah mendekat dengan senter di tangannya. “Saya sudah cek panel listrik lantai eksekutif. Sepertinya, ada gangguan di jalur utama. Saya sudah hubungi teknisi gedung, mereka lagi menuju ke sini, Pak.” “Baik,” jawab Elvano singkat, lalu menoleh pada Acha. “Kamu pulang saja. Besok dilanjutkan.” Acha mengangguk cepat. Tanpa berani menatap siapa pun, ia meraih tas dan melangkah tergesa menuju lift. Untungnya, meski lampu padam, lift masih sempat berfungsi dengan daya cadangan, seolah memberinya kesempatan segera menjauh dari hadapan Elvano. Pintu menutup perlahan, dan barulah Acha sadar dadanya masih naik turun tak beraturan. Tiba di apartemen, Acha melempar tas







