Share

Bab 3

Penulis: Kharamiza
last update Tanggal publikasi: 2025-12-31 10:37:41

Cukup lama Acha menatap layar ponselnya setelah membaca email itu. Kalimat yang tertulis di sana terasa tak masuk di akalnya.

Ia menjatuhkan tubuh ke sofa, bersandar lemas. Alih-alih bahagia, yang muncul pertama kali justru perasaan aneh. Harga dirinya seperti diinjak-injak saat interview tadi. Namun, ia justru dinyatakan diterima. 

“Apa maksudnya?” Acha menggumam lirih.

Ia menggigit bibir kala mengingat kembali tatapan dingin Elvano dan pertanyaan-pertanyaan yang membuatnya merasa direndahkan. Tentu saja, ia tersinggung. Siapa pun pasti akan merasa begitu.

Kalaupun itu caranya menguji mental, menurutnya tetap keterlaluan, tetapi ia terlalu butuh pekerjaan ini untuk berspekulasi terlalu jauh.

“Ah, lupakan interview aneh itu,” katanya pelan, mencoba menenangkan diri.

Malam itu, Acha hampir tidak tidur nyenyak. Bayang-bayang kejadian hari ini datang silih berganti, hingga sekadar menarik napas pun terasa begitu berat.

Keesokan paginya, ia berdiri di depan cermin. Wajahnya tampak lebih segar, meski sisa kantuk masih terasa di pelupuknya.

Blus putih, rok hitam, rambut diikat rapi. Ia memastikan penampilannya pantas untuk hari pertama bekerja.

Beberapa detik, ia berdiri di depan gedung Alvarion Group sebelum akhirnya melangkah masuk. Bangunan tinggi itu sama megahnya seperti kemarin. Bedanya, hari ini ia tidak datang sebagai pelamar, melainkan sebagai bagian dari dalamnya.

Acha nenarik napas pelan. Hari pertama kerja selalu membuat siapa pun gugup. Namun, ia memaksa diri agar tetap tenang.

Lift membawanya ke lantai eksekutif. 

Begitu pintu terbuka, suasana langsung berubah. Sunyi, dan kesunyian itu justru menekan Acha lebih lebih dari yang ia duga.

“Pagi.”

Suara Raka membuat Acha spontan menoleh. Pria tersebut juga yang menyambutnya sebelum masuk ke ruang interview kemarin. Kini, asisten pribadi Elvano berdiri tak jauh darinya.

“Pagi, Pak Raka,” balas Acha cepat.

“Ikut saya,” ujar Raka singkat, “kita briefing dulu.”

Acha mengangguk dan mengikuti langkah Raka yang cepat.

“Meja kamu di luar ruangan Pak Elvano,” jelas Raka sambil berjalan. “Akses email, jadwal rapat, dan dokumen sudah disiapkan. Kamu bisa tanya saya kalau ada yang kurang jelas.”

“Baik, Pak.”

“Dan, satu lagi ….” Raka berhenti sejenak, menoleh kepada Acha. “Pak Elvano tidak suka kesalahan.”

“Saya mengerti.”

Acha langsung duduk, membuka komputer, dan mulai memeriksa jadwal hari itu.

Belum lima menit menyesuaikan diri, pintu ruangan presdir terbuka.

Elvano keluar. Aura pria itu tetap sama dinginnya seperti kemarin. Tanpa sadar, Acha meluruskan punggung, jantungnya berdegup lebih cepat seolah keberadaan Elvano menebar hawa dingin di seluruh ruangan. 

“Buatkan saya kopi,” titah Elvano tajam, seolah tidak memberi ruang untuk membantah.

Acha menelan ludah, berusaha menenangkan diri. Membuat kopi seharusnya mudah, ia sudah terbiasa membuatnya untuk atasan sebelumnya, tetapi karena Elvano yang memerintah, jadi semua terasa berbeda.

Baru saja Acha ingin beranjak, suara Elvano terdengar lagi. “Satu sendok gula. Aduk dari kanan ke kiri. Gunakan cangkir nomor tiga.”

Acha mengangguk, gegas menuju pantry. Namun, langkahnya kembali terhenti tatkala ada perintah tambahan dari atasannya itu.

“Pastikan sendok tidak menyentuh sisi gelas lebih dari dua kali.”

Dalam diam, Acha menarik napas panjang, menahan diri agar tak menunjukkan kekesalannya. Instruksi itu terlalu rinci untuk sebuah tugas sesederhana membuat kopi.

Tiba di pantry, ia menatap lemari, menghitung cangkir, memastikan sudah sesuai arahan sambil mengulang perintah pria itu di dalam kepalanya. 

‘Satu sendok gula. Aduk dari kanan ke kiri. Kanan ke kiri.’

Acha menggenggam sendok, menatap kopi yang sudah tersaji di hadapannya. Tepat ketika akan mulai mengaduk, gerakannya langsung terhenti. Mendadak, ia merasa ragu.

‘Tadi, dia bilang kanan ke kiri atau kiri ke kanan?’ pikirnya.

Acha yang kebingungan pada akhirnya memilih mengikuti kata hati. Menggerakkan sendok dari kiri ke kanan, berharap Elvano tidak akan menyadari andai saja adukannya keliru.

Setelah itu, Acha membawa kopi ke meja Elvano. Namun, baru saja diletakkan, pria itu menatapnya tajam sambil berkata, “Saya bilang kanan ke kiri. Ganti!”

Acha sontak terdiam. Tidak menyangka adukannya benar-benar salah arah. Dan, yang lebih menyebalkannya lagi karena Elvano mengetahui dengan mudahnya.

Meski kesal setengah mati, Acha mengambil cangkir dan kembali ke pantry. 

“Ya ampun, padahal diaduk dari sisi mana saja nggak akan mengubah rasa,” gerutu Acha meluapkan kekesalannya.

Ia jadi teringat dengan atasan sebelumnya, yang selalu santai dan membiarkan stafnya bekerja tanpa tekanan berlebihan. Bandingkan dengan Elvano, sikapnya yang dingin dan kaku malah membuat Acha merasa konyol sendiri karena hal sepele seperti ini saja bisa terasa begitu menegangkan.

Terpaksa, Acha menyiapkan kopi baru, mengikuti keinginan Elvano sehati-hati mungkin agar tak melakukan kesalahan lagi. Ketika akhirnya, ia meletakkan cangkir di meja atasannya itu, ia mengira misi sudah selesai.

Akan tetapi, Elvano malah berdiri dan meninggalkan kopi tanpa menyentuhnya sedikit pun.

“Kita mulai meeting sekarang,” ucapnya datar, lalu langsung melangkah keluar ruangan.

Acha menatap cangkir kopi dengan nanar. Napasnya tersengal. Tangannya mengepal tanpa sadar.

Ia telah mengikuti prosedur pembuatan kopi yang baginya di luar nalar, tetapi usaha kerasnya sama sekali tidak diapresiasi. Namun, jangankan protes, membuka mulut pun ia tak mampu. Hanya bisa menghela napas pasrah dan segera menyiapkan diri ikut Elvano meeting.

‘Kalau begini terus, bisa-bisa baru sebulan udah resign,’ cecarnya dalam hati.

Selama meeting, Acha nyaris tak bisa bernapas. Diskusi berjalan cepat dan penuh instruksi, memaksa ia mencatat semua bagian pentingnya.

Belum sempat bernapas lega setelah meeting, ia sudah harus mengikuti jadwal makan siang Elvano dengan klien di restoran. 

Tiga bulan berlalu, Acha mulai terbiasa. Ia sudah hapal membuat kopi sesuai selera Elvano hingga mengikuti ritme kerja atasannya yang padat dan menyita tenaga, meski setiap kali Elvano menatapnya, terkadang ia masih cukup tegang.

Acha membuka pintu ruangan Elvano dengan berkas di tangan pagi itu, tetapi langkahnya sontak terhenti ketika mendengar Elvano sedang menelepon.

 “Tiara, nanti kita bicarakan, aku sedang sibuk.”

Acha tahu, itu adalah Tiara Adiguna, istri Elvano, sehingga ia memilih menunggu di ambang pintu hingga pria itu selesai dengan urusannya.

Namun, meski hanya berdiri di sana, entah mengapa Acha merasa suasana di ruangan itu tampak berbeda setelah telepon berakhir.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Eratnya Pelukan Tuan Presdir Malam Itu   Bab 219

    Entah apa masalah pria itu sampai hampir dua jam setelah waktu yang seharusnya mereka gunakan untuk makan malam bersama, baru dia datang ke kantor untuk menjemputnya.Tatapan Acha masih tertahan pada pesan pertama sebelum perlahan turun ke pesan berikutnya.[Elvano: Kamu sudah pulang, ya?]Acha masih diam.Barangkali setelah datang ke kantor dan tidak menemukan dirinya di sana, Elvano mulai mencarinya.Matanya kembali menyapu pesan Elvano yang lain.[Elvano: Saya minta maaf, Acha.][Elvano: Tolong kabari saya kalau sudah membaca pesan saya.]Acha menggigit bibir bawahnya.Entah kenapa, membaca pesan-pesan itu membuat dadanya sedikit lebih lega. Setidaknya, Elvano mencarinya.Itu saja sudah cukup, kan?Berarti pria itu masih merasa bersalah setelah membuatnya menunggu selama itu.Namun, rasa lega tersebut hanya bertahan beberapa detik sebelum kembali ditekan Acha. Bagaimanapun juga, ia tidak bisa mengabaikan satu fakta yang sejak semalam terus berputar di kepalanya.Elvano tidak datang

  • Eratnya Pelukan Tuan Presdir Malam Itu   Bab 218

    Esther juga terlihat tak kalah terkejut dengan keberadaan Acha. Namun, keterkejutan itu hanya berlangsung sesaat sebelum ekspresinya kembali normal.Ia segera menghampiri Acha sambil tersenyum.“Kak Acha lembur, ya? Baru pulang jam segini?” tanyanya sopan.Acha mengangguk kikuk. “Iya.”Tidak mungkin juga ia mengatakan kalau sebenarnya ia sedang menunggu Elvano menjemputnya.Apalagi setelah pria itu tidak muncul dan ponselnya bahkan tidak aktif.Mengingatnya saja membuat Acha merasa malu sendiri, seperti hanya dirinya yang terlalu berharap di sini.“Oh.” Esther mengangguk kecil.Beberapa detik berlalu. Acha hanya meliriknya. Ada sesuatu dari wajah Esther yang membuatnya sedikit penasaran.“Kamu sendiri bukannya sudah pulang dari tadi?” tanyanya dengan kening mengerut tipis. “Kenapa masih di sini?”Esther sempat terdiam. Matanya bergerak cepat ke arah gedung, seolah mencari sesuatu, sebelum kembali menatap Acha.“Oh, itu ... ada barang yang ketinggalan, Kak,” katanya sambil menunjuk ke

  • Eratnya Pelukan Tuan Presdir Malam Itu   Bab 217

    Acha menatap foto itu di ponselnya sekali lagi. Dadanya yang sudah terasa tak nyaman sejak tadi semakin sesak.Hanya saja, ia seperti masih menolak fakta. Toh, itu rasanya tidak mungkin.Mungkin saja orang ini sengaja mengirim foto untuk membuatnya salah paham pada Elvano. Foto bisa diambil kapan saja, bukan? Bahkan dua orang yang terlihat sedang makan malam bersama belum tentu memang sengaja bertemu untuk makan malam. Siapa tahu mereka hanya kebetulan bertemu.Acha menarik napas panjang. Tentu saja ia tidak boleh langsung percaya begitu saja, kan.Dengan ibu jari yang sedikit kaku, Acha keluar dari ruang percakapan itu, kemudian beralih ke kontak Elvano.Ia ingin memastikan sendiri.Segera saja, ia menekan tombol panggilan.Namun, beberapa detik berlalu. Tak ada tanda-tanda panggilan tersambung sampai akhirnya terputus sendiri.Kening Acha pun mengerut tipis. Seolah tak ingin menyerah, ia mencoba sekali lagi. Namun, nihil. Acha menurunkan ponselnya perlahan.“Dia ke mana, sih, sebe

  • Eratnya Pelukan Tuan Presdir Malam Itu   Bab 216

    Jempol Acha masih menggantung di atas layar. Ia menunggu beberapa detik, berharap tanda centang itu berubah. Namun, layar ponselnya tetap sama. Ah, tapi bisa jadi sinyal Elvano sedang bermasalah. Atau mungkin pria itu masih sibuk bersama klien. Acha akhirnya memasukkan ponselnya ke dalam tas. Ia bangkit dari sofa, lalu berjalan beberapa langkah mendekati pintu kaca. Dari sana, halaman depan gedung terlihat cukup jelas. Beberapa kendaraan masih berlalu-lalang, tetapi tak satu pun yang ia kenal. Acha kembali duduk di sofa. Setelah lima menit berlalu, ia lagi-lagi bangkit. Kali ini, ia berdiri lebih dekat dengan pintu, bahkan sempat menjulurkan leher untuk melihat ke arah jalan. Tetap tidak ada tanda-tanda Elvano segera datang. Acha mengembuskan napas panjang. Jam di pergelangan tangannya bahkan sudah menunjukkan hampir pukul sepuluh malam. “Elvano ke mana, sih?” tanyanya dengan nada yang mulai kesal sambil meraih ponselnya. Sayangnya, masih tak ada pesan ataupun panggi

  • Eratnya Pelukan Tuan Presdir Malam Itu   Bab 215

    Butuh beberapa detik bagi Acha untuk mencerna apa yang baru saja terjadi. Kedua tangannya spontan bertumpu di dada pria itu agar tubuhnya tidak semakin menekan.Jarak wajah mereka yang dekat membuat Acha bisa melihat garis rahang Elvano dengan jelas, bahkan embusan napas pria itu sesekali menyapu wajahnya.Jantung Acha mendadak berdegup tidak karuan.Ini tidak bisa dibiarkan.Ia buru-buru mengangkat tubuhnya, hendak menyingkir. Namun, baru saja lututnya bergeser, tangan Elvano sudah lebih dulu melingkar di pinggangnya.“Eh?”Dalam satu gerakan, Elvano memutar tubuh Acha hingga kini punggungnya justru menyentuh kasur.Pria itu berada tepat di atasnya.Acha sontak membeku. Tarikan napasnya bahkan seperti tertahan di tenggorokan.“El … kamu mau ngapain?” tanyanya dengan suara bergetar.Alih-alih menjawab, pria itu justru mengangkat tangannya, lalu menyentuh pipi Acha dengan ibu jarinya.Acha sampai menelan ludahnya kuat-kuat saat Elvano menyentuh pipinya.“Saya suka dibangunkan seperti i

  • Eratnya Pelukan Tuan Presdir Malam Itu   Bab 214

    Acha menekan beberapa angka pada panel pintu penthouse. Begitu terdengar bunyi bip, pintu akhirnya terbuka. Ia masuk dengan langkah lelah, lalu menutup pintu di belakangnya dengan gerakan pelan. Sepatu hak tingginya segera dilepas dan dirapikan ke rak di dekat pintu. “Huh, capek banget hari ini,” gumamnya sambil mengembuskan napas panjang. Lampu ruang tengah dinyalakan, sebelum ia berjalan menuju kamar sambil sesekali menarik ujung gaunnya yang masih menyisakan noda merah. Ah, rasanya setiap kali bertemu sang mantan, selalu saja ada kesialan yang dialaminya. Hari ini, ia bahkan nyaris dipermalukan di depan umum hanya gara-gara tunangan Rafael cemburu buta padanya. Padahal amit-amit. Untung saja ada Elvano yang membelanya. Tanpa membuang waktu, Acha segera berganti pakaian, membersihkan wajah, lalu merebahkan tubuhnya di kasur. Niatnya hanya satu. Tentu saja ingin istirahat dengan tenang setelah hari yang sial ini. Paling tidak, tidur nyenyak karena besok masih harus beker

  • Eratnya Pelukan Tuan Presdir Malam Itu   Bab 6

    Acha dan Elvano sama-sama tersentak saat suara Raka memecah ketegangan di antara mereka. Elvano melangkah mundur dengan perlahan. Wajahnya datar dan tenang, seakan kejadian tadi tidak berarti apa-apa untuknya. Sangat berkebalikan dengan Acha yang jantungnya berdegup kencang dan wajahnya yang tiba-

  • Eratnya Pelukan Tuan Presdir Malam Itu   Bab 5

    Hari itu, untungnya berakhir tanpa banyak drama. Namun, rasa lelah tetap mengendap di dada Acha, seperti beban yang tiada habisnya. Sejak tiba di kantor pukul 07.30 pagi hingga pulang menjelang 17.30, ia nyaris tak benar-benar berhenti bergerak. Selain jeda makan siang yang singkat, waktunya habi

  • Eratnya Pelukan Tuan Presdir Malam Itu   Bab 2

    Jantungnya berdetak lebih kencang. Pertanyaan itu, benar-benar konyol! Ia menahan rasa kesal yang sudah naik ke ubun-ubun, berusaha tetap tenang di hadapan tatapan dingin Elvano. Sambil menahan napas yang hampir tersengal, Acha menjawab tegas, “Maaf, saya rasa pertanyaan ini tidak relevan dengan p

  • Eratnya Pelukan Tuan Presdir Malam Itu   Bab 4

    Melihat Elvano akhirnya meletakkan ponselnya di atas meja, Acha menarik napas kecil sebelum mengetuk pintu. “Masuk.”Suara Elvano terdengar datar seperti biasa.Acha melangkah masuk dan menghampiri meja kerja pria itu. Berkas yang sedari tadi ia pegang segera diletakkan di hadapan Elvano. “Pak, i

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status