MasukSeketika itu, Acha menegakkan punggungnya begitu tatapan tajam Elvano masih tertuju padanya hingga beberapa saat kemudian.Cara pria itu memandangnya membuatnya semakin salah tingkah.Jemarinya tanpa sadar saling mencubit di depan tubuh sendiri.“Aku ... haus,” katanya lirih.Namun, begitu kalimat itu keluar, Acha sontak ingin menepuk dahinya.Dari sekian banyak hal yang bisa dikatakan, ia malah terdengar seperti anak kecil yang baru bangun tidur?Tetapi, Elvano sama sekali tidak terlihat memikirkannya sejauh itu.Pria itu hanya bertanya singkat. “Air dingin atau hangat?”“Biasa aja.”Elvano mengangguk pelan. “Oke.”Pria itu menutup setengah laptopnya lalu bangkit dari sofa.Sementara itu, Acha tetap berdiri canggung beberapa detik sebelum memutuskan berjalan mendekat dan duduk di sofa besar yang ada di ruang tengah.Suasana penthouse begitu tenang malam itu. Hanya suara langk
Acha masih mematung di dekat pintu. Ludahnya sesekali ditelan kuat-kuat.Tiba-tiba saja berbagai kemungkinan buruk bermunculan di kepalanya.Bagaimana kalau ada yang tahu dirinya menginap di penthouse Elvano?Bukannya ia melakukan sesuatu yang salah. Hanya saja, namanya pernah diseret-seret dalam kasus perceraian pria itu. Kabar itu memang sudah mulai mereda, tetapi bagaimana kalau kembali muncul karena orang-orang mengetahui mereka tinggal satu atap?Tentu saja semua kabar itu tidak benar.Sayangnya, dunia sering kali tidak peduli pada kebenaran.Orang-orang kadang lebih suka percaya gosip.“Hei.” Suara berat Elvano membuatnya tersentak.Acha refleks mengangkat kepala.Pria itu sudah berdiri beberapa langkah di depannya sambil menatapnya dengan keheranan“Mau berdiri di sana terus?”“Eh?” Acha langsung salah tingkah. “Maaf.”Ia buru-buru melangkah masuk sambil meremas jemarinya sendiri.Di sisi lain, Elvano tidak mengatakan apa-apa lagi. Pria itu kini sudah berada di depan kamar.Ta
Tubuh pria itu tiba-tiba terpental keras ke belakang.Acha bahkan tidak sempat melihat apa yang terjadi. Semuanya berlangsung begitu cepat.Yang ia lihat, pria yang tadi berusaha menerobos masuk ke apartemennya sudah terjatuh keras di lantai koridor.Belum sempat bangkit, seseorang lebih dulu menarik kerah jaketnya.Bugh!Satu pukulan mendarat telak di wajahnya.Bugh!Pukulan kedua menyusul di perutnya tanpa ampun.Acha sontak membekap mulut. Sesaat ia hanya bisa menatap.Sampai akhirnya sosok itu sedikit bergeser dan cahaya koridor jatuh tepat ke wajahnya.Elvano?Ia hampir tak percaya.Sosok yang beberapa menit lalu sempat ia hubungi dalam keadaan panik benar-benar datang, menolongnya.Pria itu pun mengaduh sambil berusaha melindungi wajahnya, sementara Elvano tampak sama sekali tidak berniat berhenti.
Acha segera mengalihkan pandangan. Berusaha meyakinkan diri bahwa dirinya hanya terlalu was was.Mungkin pria itu memang penghuni unit lain di lantai yang sama dengannya dan kebetulan naik di waktu barengan. Meski sudah menyakinkan diri, tetapi Acha tak sepenuhnya bisa tenang. Lift terus bergerak naik.Dia akhirnya berpura-pura membuka ponsel. Namun, sesekali matanya menangkap pantulan pria itu dari dinding lift yang mengkilap.Dan, entah hanya perasaannya atau bukan, Acha merasa pria itu beberapa kali sedang memperhatikannya.Jantungnya mulai berdetak sedikit lebih cepat. Sulit rasanya berpikir positif sekarang.Di detik itu juga, Acha tanpa sadar membuka ruang chat dengan Elvano.Ia sendiri tidak terlalu paham kenapa memilih orang itu. Mungkin karena beberapa menit lalu mereka masih bersama.Atau mungkin karena di antara semua orang yang dikenalnya, hanya Elvano yang terasa paling mungkin bisa dihub
Sekitar hampir tiga jam mereka berada di spa, Acha benar-benar menikmati sesi terakhir hingga selesai.Ia bahkan sudah lupa kapan terakhir kali benar-benar memanjakan dirinya sendiri seperti ini. Belakangan hidupnya terasa terlalu banyak hal yang memenuhi kepala, membuatnya nyaris tak punya ruang untuk bernapas.Namun, sekarang tubuhnya terasa jauh lebih ringan dibanding saat datang tadi. Bahkan, bahunya yang beberapa hari terakhir selalu terasa tegang perlahan mulai mengendur.Begitu melihatnya, Widya tersenyum lebar, tampak sangat puas.“Nah, sekarang baru kelihatan segar.”Acha tertawa kecil. “Memangnya tadi aku kelihatan kusut banget, ya, Mi?”“Banget.”“Mi ….”“Mukanya kayak orang habis ditagih utang.”Deg.Acha nyaris tersedak ludah sendiri. Untung saja, Widya segera tertawa, jelas tidak menyadari kalau ucapannya barusan justru terlalu tepat sasaran.Tak lama kemudian, mereka meninggalkan spa dan melanjutkan ke restoran untuk makan siang.Widya yang memilih tempatnya, tentu sa
Acha masih sempat menatap tak percaya bangunan di hadapannya beberapa detik.Sampai sekarang pun ia belum benar-benar paham kenapa Widya mengajaknya ke tempat yang bahkan satu kursi di ruang tunggunya saja mungkin lebih mahal daripada seluruh isi apartemennya.“Hei.”Acha sedikit tersentak saat suara Elvano terdengar “Masuk sana.” Elvano menunjuk pintu bangunan itu dengan dagu.“Hah?” Acha masih sulit mencerna semua ini.“Kamu sudah ditunggu,” lanjut Elvano.“Saya antar sampai sini. Di dalam isinya perempuan semua.”“Oh.”Acha buru-buru mengangguk, sambil menahan senyum melihat ekspresi tidak nyaman Elvano.Baru saja ia membuka pintu mobil, suara Elvano kembali terdengar.“Happy fun.”Acha menoleh lagi.Pria itu sudah kembali menatap lurus ke depan, seolah tidak merasa ada yang aneh dengan ucapannya barusan.Sementara Acha lagi-lagi hanya bengong.Happy fun? Happy fun apanya?Ia saja sangat deg-degan begini.Namun, pada akhirnya Acha tetap turun dari mobil. Sepanjang berjalan menuju







