Share

Bab 117

Author: Kharamiza
last update Petsa ng paglalathala: 2026-03-15 23:40:48

Elvano menarik napas panjang, sebelum ponsel itu dimasukkan kembali ke saku jas tanpa membalas pesan itu lagi, seolah jika terus meladeni sang kakak, obrolan itu tidak akan pernah menemukan ujungnya.

Mobil terus melaju menembus lalu lintas malam.

Beberapa menit berlalu dalam keheningan yang cukup panjang, sebelum Elvano tiba-tiba membuka suara.

“Rencana outing tim yang waktu itu sempat tertunda.”
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter
Mga Comments (2)
goodnovel comment avatar
Kharamiza
nggak ya kak, silakan dicek lagii~
goodnovel comment avatar
Dinlea
babnya samaan lg ya kk
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • Eratnya Pelukan Tuan Presdir Malam Itu   Bab 237

    Raka tampak masih menunggu jawaban, tetapi Elvano hanya berdiri diam di tempatnya. Tatapannya tetap tertuju pada pintu masuk restoran, seolah masih berharap seseorang akan muncul dari sana.Beberapa detik kemudian, ia akhirnya menggeleng pelan.“Saya masih mau di sini.”“Pak?”“Kalau Acha datang setelah saya pergi, bagaimana?”Raka terdiam, seperti langsung kehilangan kata-kata untuk membalas.Elvano kembali melihat ke arah pintu masuk.“Kalau dia datang dan saya nggak ada, itu berarti saya mengulang kesalahan yang sama.”Raka hanya bisa menghela napas berat. Memberikan saran apa pun sepertinya tidak akan ada yang berguna sekarang. “Baik, Pak.”Waktu terus berjalan.Jam bahkan sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, tetapi Elvano masih mondar-mandir dari meja ke jendela.Sesekali ia duduk, lalu kembali berdiri beberapa menit kemudian.Kotak cincin yang sejak tadi berada di atas meja pun sudah beberapa kali berpindah tempat.Raka sendiri memilih duduk di kursi lain sambil memperhatikan

  • Eratnya Pelukan Tuan Presdir Malam Itu   Bab 236

    Sementara itu, di lain tempat, Elvano sudah tiba di restoran yang telah ia persiapkan sejak beberapa hari lalu.Berbeda dari biasanya, wajah pria itu terlihat lebih ringan. Bahkan ada senyum tipis yang sesekali muncul tanpa ia sadari.Malam ini seharusnya menjadi malam yang bahagia.Toh, Elvano sudah menyewa seluruh lantai restoran tersebut agar tidak ada orang lain yang mengganggu rencananya. Meja makan telah ditata dengan dekorasi romantis. Di atasnya terdapat rangkaian bunga yang tentunya juga sudah disiapkan sesuai perintahnya.Semuanya sudah tertata dengan sempurna.Tinggal menunggu Acha datang.Sayangnya, menit berganti menit, wanita itu tak kunjung menampakkan batang hidungnya.Senyum di wajah Elvano pun perlahan menghilang saat pria itu sesekali melirik jam tangannya. Sudah pukul delapan lewat tiga puluh menit. Restoran yang dipilihnya sengaja tidak terlalu jauh dari tempat Acha berada. Seharusnya wanita itu sudah datang sekarang, kan?Elvano mengambil ponsel dari atas meja,

  • Eratnya Pelukan Tuan Presdir Malam Itu   Bab 235

    Acha sempat meremas pahanya sendiri ketika pertanyaan itu terlontar begitu tiba-tiba dari mulut Elvano. Ia belum menangkap maksud pria itu menanyakan kegiatannya. Bibir bawahnya digigit pelan sebelum akhirnya Acha menggeleng. “Nggak ada, Pak,” katanya kemudian. “Kenapa?” Elvano menatapnya beberapa saat. “Makan malam sama saya,” ujar pria itu. Acha terdiam. Ajakan sederhana itu entah kenapa membuat dadanya kembali berdebar. “Makan malam?” tanyanya, nyaris tak percaya. “Iya,” jawab Elvano singkat. “Kita makan malam untuk mengganti hari kemarin yang batal.” Acha tidak segera menjawab. Ada sesuatu yang terasa aneh di dadanya mendengar kalimat itu. Bukan hanya karena Elvano tiba-tiba mengajaknya makan malam, tetapi juga karena pria itu masih mengingat malam yang gagal mereka habiskan bersama. Bukankah Acha sudah berusaha melupakan kejadian itu? Lantas, kenapa sekarang Elvano justru mengungkitnya lagi? “Saya sudah pesan tempat di salah satu restoran,” ucap Elvano lagi. “Nanti sa

  • Eratnya Pelukan Tuan Presdir Malam Itu   Bab 234

    Acha baru saja membuka dan meletakkan makanan kiriman Elvano ketika terdengar suara seseorang menekan PIN apartemen dari luar.Tak lama kemudian, pintu terbuka. Dina dan Celine masuk sambil membawa beberapa kantong makanan.“Eh, kamu habis GoFood, Cha?” tanya Dina begitu melihat makanan di atas meja.Acha menggeleng kecil.“Nggak. Ini dikirimin Elvano,” katanya.Langkah Celine yang hendak meletakkan kantong bawaannya di meja langsung berhenti.“Elvano?” Ia memastikan.“Iya.”Dina yang sudah duduk di dekat Acha sambil mengeluarkan beberapa kotak makanan dari kantong ikut menoleh.“Loh, perhatian sekali dia.”Alih-alih ikut memuji, Celine malah mendengkus. “Halah. Pasti ada maunya itu orang.”Dina mengernyit bingung. “Maksudnya?”“Ya, apalagi?” Celine menghempaskan tubuhnya ke sofa sedikit lebih keras dari seharusnya. “Udah bikin Acha sakit hati, sekarang ngirim makanan. Biar apa? Biar Acha nggak benar-benar ninggalin dia. Toh, dia pasti sudah sadar Acha mulai ngejauh, kan?”“Cel .…”“B

  • Eratnya Pelukan Tuan Presdir Malam Itu   Bab 233

    Setelah menerima informasi yang sebenarnya tidak perlu ia ketahui itu, Acha malah jadi kepikiran soal Elvano.Apa yang sebenarnya terjadi pada pria itu?Rasa penasaran tersebut belum juga hilang ketika Acha segera keluar dari kamar. Ia memilih mengalihkan perhatian pada tayangan drama di televisi, berharap pikirannya juga bisa beralih.Sampai beberapa saat kemudian, ponselnya lagi-lagi berbunyi.Tadinya ia refleks melihat notifikasi karena mengira Dina atau Celine yang mengirim pesan untuknya. Ternyata bukan. Dan nama kontak yang terpampang di layar ponselnya membuatnya seketika tertegun.Jarinya sempat menggantung di atas layar sebelum akhirnya membuka pesan dari Elvano tersebut.[Elvano: Acha, bagaimana keadaanmu?]Acha mengerjap pelan.Saat kalimat sederhana itu seolah langsung membuatnya kehilangan kata-kata.Bukankah ia sudah berusaha menjauh dari pria itu? Lantas, kenapa Elvano masih menghubunginya dan menanyakan keadaannya seperti ini?Namun, tanpa sadar ia tetap mengetik bala

  • Eratnya Pelukan Tuan Presdir Malam Itu   Bab 232

    Setelah dirawat semalam penuh, Acha akhirnya diperbolehkan pulang dari rumah sakit keesokan harinya. Demamnya memang sudah turun, meski tubuhnya masih terasa lemas. Setidaknya, kondisinya memang sudah jauh lebih baik dari semalam. Dokter juga menyarankan agar ia banyak beristirahat dan tidak terlalu memaksakan diri untuk bekerja beberapa hari ke depan. Dina sebenarnya ingin menemani Acha pulang, tetapi ada pekerjaan yang benar-benar tidak bisa ditinggalkan. Akhirnya, hanya Celine yang menemani Acha di apartemen Dina. “Kamu istirahat aja,” ujar Celine sambil meletakkan tasnya di atas meja begitu mereka tiba. “Jangan banyak gerak dulu.” Acha yang sudah duduk di sofa hanya mengangguk. Pandangannya kemudian beralih kepada Celine. “Cel.” “Hm?” “Makasih, ya.” Celine yang sedang mengambil air minum menoleh. “Buat apa?” “Karena kalian udah nemenin aku dari kemarin. Kamu sampe rela cuti buat nemenin aku.” “Oh?” Celine malah terkekeh kecil. “Santai, kayak sama siapa aja.

  • Eratnya Pelukan Tuan Presdir Malam Itu   Bab 2

    Jantungnya berdetak lebih kencang. Pertanyaan itu, benar-benar konyol! Ia menahan rasa kesal yang sudah naik ke ubun-ubun, berusaha tetap tenang di hadapan tatapan dingin Elvano. Sambil menahan napas yang hampir tersengal, Acha menjawab tegas, “Maaf, saya rasa pertanyaan ini tidak relevan dengan p

  • Eratnya Pelukan Tuan Presdir Malam Itu   Bab 1

    “Astaga, kenapa macet begini?!” Acha menggerutu sebal saat pengemudi ojeknya menepikan motor. Matanya refleks melirik jam.“Jalan depan ditutup, Mbak,” katanya, “ada truk terguling. Kita harus muter jauh. Kalau nunggu, malah lebih lama.”Acha menegakkan tubuh. Hanya bisa menghela napas panjang, men

  • Eratnya Pelukan Tuan Presdir Malam Itu   Bab 4

    Melihat Elvano akhirnya meletakkan ponselnya di atas meja, Acha menarik napas kecil sebelum mengetuk pintu. “Masuk.”Suara Elvano terdengar datar seperti biasa.Acha melangkah masuk dan menghampiri meja kerja pria itu. Berkas yang sedari tadi ia pegang segera diletakkan di hadapan Elvano. “Pak, i

  • Eratnya Pelukan Tuan Presdir Malam Itu   Bab 3

    Cukup lama Acha menatap layar ponselnya setelah membaca email itu. Kalimat yang tertulis di sana terasa tak masuk di akalnya.Ia menjatuhkan tubuh ke sofa, bersandar lemas. Alih-alih bahagia, yang muncul pertama kali justru perasaan aneh. Harga dirinya seperti diinjak-injak saat interview tadi. Nam

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status