แชร์

Bab 118

ผู้เขียน: Kharamiza
last update วันที่เผยแพร่: 2026-03-15 23:40:56
^^ Trigger warning! ^^

Elvano tak menjawab. Ia hanya berdiri diam beberapa detik, lalu perlahan menurunkan gelasnya ke meja.

Tangannya terangkat ke arah lengan Tiara yang masih melingkar di pinggangnya. Namun, alih-alih membalas pelukan itu, ia justru melepaskannya, membuat Tiara terlihat menahan kesal.

Tanpa menoleh, ia sontak berujar dingin, “Langsung katakan saja. Ada perlu apa kamu ke sini?”

“Aku mau minta maaf,” kata Tiara akhirnya.

Kini ia berdiri di belakang Elvano, suaranya melembu
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Eratnya Pelukan Tuan Presdir Malam Itu   Bab 246

    Acha belum mengatakan apa-apa, tetapi matanya sudah berkaca-kaca saat memandangi Elvano di hadapannya.“Acha, saya tahu awal hubungan kita memang rumit. Tanpa sadar, kita memulainya ketika saya masih menjadi suami orang lain.”Tatapan Elvano tak beralih dari wajah wanita itu.“Tapi semakin lama saya mengenal kamu, semakin saya yakin bahwa perasaan ini bukan sekadar ketertarikan sesaat. Saya sungguh-sungguh mencintai kamu.”Elvano berhenti sejenak. Rahangnya mengeras tipis sebelum ia kembali bersuara.“Dan sekarang, saya takut kehilangan kamu.”Acha menunduk tanpa menjawab. Jemarinya saling bertaut di depan tubuh, berusaha menahan perasaan yang sejak tadi berdesakan di dadanya.Sementara itu, sorot mata Elvano tetap lurus dan mantap, seolah tak ada lagi yang ingin ia sembunyikan.Detik berikutnya, pria itu merogoh saku jasnya, lalu mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna biru tua itu.Elvano tiba-tiba berlutut di hadapannya.Pemandangan itu membuat mata Acha sontak membelalak. Tubuhny

  • Eratnya Pelukan Tuan Presdir Malam Itu   Bab 245

    Di hadapannya bukan sekadar sebuah apartemen kosong. Ruangan itu telah ditata dengan begitu berbeda.Meja makan untuk dua orang berada di dekat jendela. Lilin-lilin kecil menghiasi permukaannya, sementara rangkaian bunga diletakkan tepat di tengah meja. Cahaya lampu yang temaram membuat seluruh ruangan terasa lebih hangat.Bahkan di salah satu sisi meja, sudah tersedia dua gelas dan sebotol minuman yang belum dibuka.Acha menahan napas.Dalam beberapa detik, ia hanya mampu berdiri di tempatnya, menatap semua yang ada di hadapannya tanpa tahu harus berkata apa.Elvano berdiri di sampingnya.Pria itu juga tidak berbicara sama sekali. Ia hanya memperhatikan Acha dari samping, seolah tidak ingin melewatkan sedikit pun perubahan ekspresi di wajah wanita itu.“El ....” Suara Acha akhirnya terdengar pelan. “Kamu sengaja nyiapin semua ini?”Elvano mengangguk. “Ya.”“Buat saya?”Kali ini, Elvano kembali mengangguk. “Buat kamu.”Acha kembali melihat meja di hadapannya. Jantungnya berdegup sedik

  • Eratnya Pelukan Tuan Presdir Malam Itu   Bab 244

    Elvano mengulurkan tangan ke arah Acha, meski wanita itu hanya menatap tangan tersebut dengan tatapan heran.Setelah beberapa saat terdiam, seolah mempertimbangkan ajakan Elvano, Acha akhirnya menerima uluran tangan itu.Jemari Elvano langsung menggenggam tangan Acha dengan erat, meski tidak memaksa. Seakan pria itu sengaja memberinya kesempatan untuk menarik tangan kapan saja jika berubah pikiran.Mereka akhirnya berjalan keluar dari penthouse bersama.Begitu pintu utama gedung terbuka di lantai bawah, Acha langsung melihat seseorang yang sudah berdiri di parkiran depan.“Dina?”Tampaknya, sahabatnya itu sudah datang untuk menjemputnya.Dina yang sejak tadi memainkan ponsel di dekat mobil seketika mengangkat kepala begitu melihat mereka. Matanya sempat berpindah dari Acha ke Elvano yang masih menggenggam tangan wanita itu.Acha spontan melirik tangan mereka.Elvano tampaknya juga menyadarinya, tetapi alih-alih melepaskan, pria itu justru tetap menggenggam tangan Acha.Berbeda dengan

  • Eratnya Pelukan Tuan Presdir Malam Itu   Bab 243

    “Saya juga bukan sengaja pulang bareng dia,” ungkap Elvano. Nada suaranya tetap tenang. “Hanya kebetulan.”Mata Acha sontak menyipit tajam.Kebetulan lagi?Sialnya, pernyataan Elvano itu malah membuat dadanya jadi tak nyaman rasanya.“Dua hari sebelum saya ke Surabaya, Omanya meninggal,” lanjut Elvano. “Dimakamkan di sana karena kota kelahiran omanya memang di sana. Kebetulan, saat saya hendak kembali ke Jakarta, Nadine juga akan pulang.”Acha yang semula hendak kembali memalingkan wajah akhirnya terdiam.Ia menatap Elvano penuh, seolah masih butuh penjelasan lebih banyak lagi.“Kami berada dalam penerbangan yang sama.”“Saya memang ada urusan bisnis di Surabaya,” lanjut Elvano. “Nadine juga harus ke sana untuk pemakaman omanya, tapi kita nggak ketemu, selain ketika di akan pulang.”Acha masih menatapnya penuh selidik.“Sampai ikut ke kantor juga itu kebetulan?”“Taksinya terkena macet karena ada kecelakaan beruntun waktu itu. Jadi saya tawarkan tumpangan.”Acha tertawa hambar sambil

  • Eratnya Pelukan Tuan Presdir Malam Itu   Bab 242

    Keduanya kini duduk berhadapan di dekat jendela penthouse.Acha menyilangkan tangan di depan dada. Salah satu kakinya bertumpu di atas kaki yang lain, sementara pandangannya sengaja diarahkan ke luar jendela. Ia tidak ingin terus menatap Elvano.Entah kenapa, melihat pria itu justru membuat dadanya semakin sesak.Ia sudah mengatakan akan mendengarkan. Jadi sekarang, ia hanya perlu mendengar.Di sofa tak jauh darinya, Elvano duduk dengan kedua tangan saling menggamit di atas paha. Beberapa detik berlalu tanpa suara. Pria itu tampak seperti sedang menyusun kalimat yang paling tepat untuk menjelaskan semuanya.Sampai akhirnya suara Elvano memecah keheningan di antara mereka.“Pertama, soal saya menjemput Nadine di bandara.”Acha menoleh sejenak, kemudian kembali menatap suasana malam di balik jendela.“Saya nggak akan mengelak.” Elvano menarik napas pelan. “Setelah mengantarmu pulang dari gala dinner malam itu, saya memang pergi untuk menjemput Nadine.”Acha menatapnya beberapa detik. Ia

  • Eratnya Pelukan Tuan Presdir Malam Itu   Bab 241

    Acha masih menatap Elvano dengan tatapan tak percaya.Beberapa detik lalu pria itu tiba-tiba menciumnya tanpa izin, dan sekarang dengan santainya mengatakan bahwa dirinya tidak diizinkan pergi.Sebenarnya apa yang diinginkan pria ini darinya?“Nggak mengizinkan?” ulang Acha. Suaranya bergetar, nyaris tidak terdengar.Elvano masih menatapnya lekat. “Iya.”Acha terdiam beberapa detik, seolah sedang memastikan bahwa dia tidak salah dengar, sebelum sebuah tawa pendek lolos dari bibirnya.Bukan karena lucu, tetapi ia sudah terlalu lelah untuk tahu harus merespons seperti apa.“El, kamu ini sudah gila, ya?”Rahang Elvano mengeras. Dia belum menjawab ketika Acha kembali bicara.“Kamu nggak seharusnya melakukan ini!” Acha menunjuk bibirnya sendiri. Matanya mulai memerah. “Kamu mencium saya tanpa izin, lalu sekarang kamu malah bilang saya nggak boleh pergi?”“Acha, dengarkan saya.”“Saya sudah terlalu sering mendengarkanmu, El!”Acha mendorong dada Elvano hingga mundur satu langkah.Tangannya

  • Eratnya Pelukan Tuan Presdir Malam Itu   Bab 6

    Acha dan Elvano sama-sama tersentak saat suara Raka memecah ketegangan di antara mereka. Elvano melangkah mundur dengan perlahan. Wajahnya datar dan tenang, seakan kejadian tadi tidak berarti apa-apa untuknya. Sangat berkebalikan dengan Acha yang jantungnya berdegup kencang dan wajahnya yang tiba-

  • Eratnya Pelukan Tuan Presdir Malam Itu   Bab 5

    Hari itu, untungnya berakhir tanpa banyak drama. Namun, rasa lelah tetap mengendap di dada Acha, seperti beban yang tiada habisnya. Sejak tiba di kantor pukul 07.30 pagi hingga pulang menjelang 17.30, ia nyaris tak benar-benar berhenti bergerak. Selain jeda makan siang yang singkat, waktunya habi

  • Eratnya Pelukan Tuan Presdir Malam Itu   Bab 4

    Melihat Elvano akhirnya meletakkan ponselnya di atas meja, Acha menarik napas kecil sebelum mengetuk pintu. “Masuk.”Suara Elvano terdengar datar seperti biasa.Acha melangkah masuk dan menghampiri meja kerja pria itu. Berkas yang sedari tadi ia pegang segera diletakkan di hadapan Elvano. “Pak, i

  • Eratnya Pelukan Tuan Presdir Malam Itu   Bab 3

    Cukup lama Acha menatap layar ponselnya setelah membaca email itu. Kalimat yang tertulis di sana terasa tak masuk di akalnya.Ia menjatuhkan tubuh ke sofa, bersandar lemas. Alih-alih bahagia, yang muncul pertama kali justru perasaan aneh. Harga dirinya seperti diinjak-injak saat interview tadi. Nam

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status